Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Turun Tangan
"Keluarkan surat aslinya, Broto!" desis Supri sambil mencengkeram kasar lengan anak buahnya.
Broto Kancil menelan ludah, memalingkan wajah enggan menatap Seroja. "S-suratnya... tertinggal di rumah, Kang. Aku lupa bawa."
Alasan rendahan itu langsung memicu dengung kasak-kusuk di antara warga. Carik desa yang tadi siap mencoret nama Siti perlahan meletakkan penanya, lalu melirik ragu ke arah Kepala Desa yang dari tadi duduk diam mengamati.
Kepala Desa bukan orang bodoh. Selama ini ia membiarkan Supri berkuasa hanya karena posisi Hardiman di dinas pertanian kabupaten. Tapi hari ini angin berubah arah. Kehadiran Pak Subroto yang membawa pesan tak langsung dari Bupati membalikkan semua perhitungan politiknya. Memihak pada klaim tanpa bukti fisik sama saja menantang apresiasi orang nomor satu di kabupaten.
"Sidang desa ada aturannya, Broto," tegur Kepala Desa dengan suara berat dan netral sambil berdiri dari kursi jatinya. "Tanpa surat segel asli, balai desa tidak punya dasar untuk menyita tanah atau menuntut pembayaran."
"Tapi utang itu nyata, Pak Kades! Mereka cuma mau lari dari kewajiban!" sergah Supri, urat lehernya menonjol menahan amarah.
"Kalau begitu bawa surat aslinya besok atau lusa, Supri," potong Kepala Desa tegas. Ia sadar betul Pak Subroto mengawasi setiap gerak-geriknya. "Sampai bukti itu ada dan terverifikasi di depan pamong praja, tuntutan ini saya nyatakan batal demi hukum. Tanah dan gubuk tetap milik keluarga Hadi Brotojoyo."
Ketukan palu kayu mengunci keputusan itu.
Warga bertepuk tangan pelan, menyoraki kekalahan kelompok Supri yang selama ini kerap meresahkan. Siti menutup mulutnya, menahan isak tangis lega, batu besar yang menindih dadanya tiga hari lamanya seketika hilang. Danu tersenyum lebar, menepuk bahu Seroja bangga. Adik sepupunya ini menang tanpa perlu meneteskan darah setetes pun.
Wajah Supri memerah padam. Ia merasa dipermalukan tepat di depan warga yang selama ini takut padanya. Reputasinya sebagai penguasa gelap desa hancur seketika. Ia menatap Seroja penuh kebencian, mengingat senyum tipis kemenangan gadis itu, lalu berbalik melangkah menghentakkan kaki menuruni pendopo, meninggalkan Broto Kancil yang mematung kaku menahan malu.
Pak Subroto menepuk pundak Seroja, membisikkan selamat sebelum kembali ke jipnya. Sidang bubar, menyisakan jalan lapang bagi keluarga Siti untuk perlahan memulihkan nama baik dari stigma keluarga buangan.
Malam harinya, aroma gurih bawang putih dan cabai merah memenuhi seluruh sudut gubuk reyot itu. Siti memasak nasi hangat dan menumis sawi hijau sisa panen dengan minyak kelapa yang mereka beli minggu lalu. Sudah lama tidak ada tiwul kering berjamur di meja makan; hari ini piring-piring seng mereka terisi makanan yang layak dimakan.
Keluarga kecil itu duduk melingkar di atas amben bambu, diterangi nyala redup lampu teplok minyak tanah. Suasana terasa sangat hangat, berbanding terbalik dengan udara malam pinggir Hutan Jati yang menusuk sampai ke tulang.
Danu menyendok nasi lahap sambil tertawa, menceritakan ulang betapa pucatnya wajah Broto Kancil di pendopo tadi pagi. Bagas yang baru pulang cek bedengan tomat ikut tertawa lepas, menyelipkan godaan soal wajah galak Danu saat mengancam preman itu.
Seroja mengunyah tumis sawi dalam diam. Ia memandangi wajah-wajah ceria di sekelilingnya, dan semua lelah di ototnya seketika terbayar lunas. Kebersamaan hangat seperti inilah yang tidak pernah ia dapatkan di kehidupan korporatnya dulu, sukses tapi hampa.
Nenek Warni meletakkan piringnya. Perempuan 62 tahun itu menatap Seroja dengan mata penuh syukur. Napasnya tak lagi parau; paru-parunya sudah bersih, kembali kuat menghirup udara kehidupan.
Ia bergeser mendekati cucunya, lalu merengkuh bahu Seroja ke dalam pelukan erat. Hangatnya pelukan nenek itu meresap melewati kain lurik, menembus pertahanan logika keras yang selama ini dibangun Kainara.
"Kakekmu pasti tersenyum di alam sana malam ini, Nduk," bisik Nenek Warni, suaranya bergetar tapi jelas. Jemarinya yang keriput membelai rambut hitam Seroja penuh kasih sayang. "Kamu bukan lagi gadis kecil yang selalu ketakutan bersembunyi. Kamu mewarisi ketajaman akal dan keberanian Kakekmu. Kamu pelindung sejati keluarga Brotojoyo."
Siti mengangguk sambil menghapus air mata haru yang menetes. Danu dan Bagas berhenti tertawa, memandang Seroja dengan tatapan penuh hormat.
Seroja membalas pelukan itu tak kalah erat. Matanya berkaca-kaca menahan emosi yang mau meluap. "Kita akan ambil kembali semua kehormatan yang dirampas Hardiman, Nek. Ini baru langkah pertama kita."
Krisis jangka pendek sudah selesai. Ia berhasil menyelamatkan rumah dan menghancurkan taktik kotor Supri. Mulai besok, fokus mereka adalah membangun ekonomi. Bertahan hidup di desa butuh uang sebagai amunisi, dan ia akan mengubah lahan kapur gersang ini menjadi tambang emas pertanian yang tak tertandingi.
Saat kehangatan menyelimuti gubuk Seroja, badai emosi justru berkecamuk di seberang kota.
Di ruang kerja rumah dinas pejabat kabupaten yang megah, Hardiman membanting gagang telepon hitamnya ke badan pesawat dengan keras. Pria 40-an itu mengembuskan napas kasar, berita kekalahan memalukan Supri di balai desa baru saja dilaporkan anak buahnya dari kecamatan.
Rencananya mengusir mantan istri dan anak kandungnya pakai surat utang gagal total. Gadis kecil yang dulu selalu menangis di rumahnya kini berubah menjadi penghalang cerdik yang tak mau mati di tanah gersang itu. Hardiman menyambar gelas kaca di mejanya, menenggak sisa air putih rakus untuk meredam amarah yang membakar tenggorokannya.
Pintu ganda ruang kerja terbuka pelan. Ningrum masuk membawa nampan berisi sepiring buah potong. Istri kedua Hardiman itu bertubuh ramping, kulitnya halus terawat khas wanita kelas atas, mengenakan setelan piyama satin sutra mahal yang berkilau terkena cahaya lampu kristal.
Perempuan awal 30-an itu adalah putri seorang Menteri Sosial di Jakarta. Ia meletakkan nampan di atas meja kayu mahoni, lalu menyilangkan tangan di dada. Ningrum sebenarnya sudah mendengar semua makian Hardiman dari balik pintu. Tatapannya sedingin es, menganalisis kegagalan suaminya tanpa sedikit pun rasa simpati.
"Supri gagal lagi?" tanya Ningrum lugas. Nadanya tidak meninggi marah, tapi setiap kata terasa sangat tajam, mengiris sisa harga diri Hardiman.
Hardiman menelan ludah. "Bocah itu beruntung ada Subroto yang memihaknya, Rum. Kalau tidak ada dia, Supri pasti sudah berhasil menyita gubuk reyot itu pagi ini."
Ningrum mendengus pelan, senyum sinis mengembang di bibir meronanya. Wanita yang terbiasa di lingkungan politisi kelas atas ini tidak mau menerima alasan kegagalan dari bawahan yang tidak becus.
"Keluarga besarku di Jakarta tidak mengirim dana kampanye politikmu cuma buat dengar laporan konyol soal preman desa yang kalah berdebat sama anak 18 tahun, Mas," tegas Ningrum, matanya menuntut penyelesaian nyata.
Ia memiringkan wajah, menatap Hardiman dengan tekanan yang makin berat. "Kalau janda dan putrinya itu terus bikin keributan sampai menarik perhatian pejabat kabupaten, nama baik keluargaku yang akan ikut tercemar. Selesaikan urusan ini secepatnya. Kalau Supri tidak becus membereskan sampah rumah tanggamu yang lama, aku sendiri yang akan turun tangan."