Lonceng di menara yang sudah lama 'tidur' tiba-tiba berdentang di tengah malam. Tepat di hari pertama kedatangan Monica Steward; gadis kota yang baru pindah ke desa tersebut. Ada sebuah legenda yang di percaya penduduk desa mengenai dentang lonceng itu. Legenda yang mengatakan jika lonceng di menara berdentang dua belas kali tepat pukul dua belas tengah malam, menandakan akan adanya hal buruk yang terjadi. Hal buruk seperti apakah itu?
Di waktu lain muncul seorang pemuda asing membantu Monica. Anehnya pemuda yang sama sekali tidak di kenal itu bisa langsung mengetahui nama Monica. Sebuah peristiwa mengerikan perlahan membuka ingatan Monica melalui mimpi-mimpinya. Siapakah pemuda itu? Apa hubungannya dengan Monica?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
Arthur pun mulai bercerita sambil mengenang kembali masa lalu.
..........
Dahulu, Katedral St. Monica adalah tempat tinggal keluarga bangsawan Countess. Bangunan ini dulunya sangat besar dan megah layaknya kastil. Keluarga Countess memiliki seorang putri bernama Monica Countess. Keluarga Countess menyimpan satu rahasia yang tidak pernah diketahui oleh siapapun. Yaitu ibu Monica Countess adalah seorang vampir. Nyonya Countess menjadi vampir setelah melahirkan Monica. Dokter yang merawat Nyonya Countess mengubahnya menjadi vampir untuk menyelamatkan nyawa Nyonya yang sekarat. Monica Countess tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik hati.
Suatu hari di pesta yang diadakan kerabatnya, Monica bertemu dengan seorang pemuda bangsawan. Keduanya langsung jatuh cinta. Seiring waktu mereka berdua menjadi sangat dekat. Banyak waktu yang dihabiskan Monica bersama pemuda itu. Pemuda itu juga berjanji akan menikahi Monica saat ia berusia 18 tahun. Tapi sayang janji itu tidak pernah bisa diwujudkan.
Malam itu, keluarga Countess sedang mengadakan pesta perjamuan. Banyak tamu dari kalangan bangsawan datang menghadiri pesta itu. Malam yang juga telah dinantikan pemuda itu untuk melamar kekasihnya, Monica. Saat itu Monica sedang berdansa dengan pemuda itu. Keduanya nampak sangat bahagia. Sayang, kebahagiaan itu hanya bisa dirasakan sebentar saja.
Tiba-tiba kekacauan yang tak disangka terjadi. Prajurit bayaran datang menyerang kediaman Countess. Mereka mengetahui rahasia Nyonya Countess dan mengincar dirinya. Banyak orang tak bersalah menjadi korban. Tuan Countess maju menghadang musuh. Nyonya Countess juga tak bisa menyembunyikan jati dirinya. Satu per satu musuh jatuh di tangan Nyonya Countess. Pemuda itu juga ikut bertarung sambil melindungi Monica. Lengannya tersayat pedang musuh saat melindungi Monica. Musuh masih terus menyerang. Nyonya Countess menghampiri pemuda itu, menghalau beberapa prajurit yang menyerangnya.
"Lari! Bawa Monica pergi dari sini!" perintahnya.
Pemuda itu pun menuruti kata Nyonya Countess. Dia membawa Monica, berusaha melarikan diri dan bersembunyi di dalam menara. Melihat Monica yang ketakutan, pemuda itu berusaha menenangkannya.
Busur panah api yang ditembakan ke dalam menara mengenai kain gorden sehingga api pun menyala.
Beberapa prajurit mulai masuk dan berhasil menemukan tempat persembunyian pemuda itu dan Monica. Pemuda itu menyuruh Monica bersembunyi di tempat yang terlindungi. Pemuda itu menarik pedangnya melawan para prajurit. Seorang prajurit melihat Monica yang sedang bersembunyi. Saat pemuda itu lengah, prajurit itu menembakkan anak panah ke arah Monica. Monica berteriak saat anak panah itu menancap punggungnya. Pemuda itu langsung menoleh. Dan histeris melihat Monica berlumuran darah. Ia menjadi murka dan menyerang secara membabi-buta. Akhirnya semua prajurit berhasil dikalahkannya. Ia segera memeluk tubuh Monica yang sangat lemah. Pemuda itu menangis dengan begitu sedih.
"Monica ... Maafkan aku tidak bisa melindungimu," isaknya.
Monica mengusap wajah pemuda itu dengan sisa tenaganya. Ia tersenyum kecil pada pemuda itu.
"Kau harus tetap hidup ..." ucap Monica dengan suara parau.
"Tidak, Monica! Ku mohon jangan tinggalkan aku!" pinta pemuda itu sambil terisak.
"Kau ingat janjimu? Aku pasti akan kembali untukmu ...." Tangan Monica jatuh terkulai dan ia pun pergi untuk selamanya.
"Monica ... Monica ...." Pemuda itu mendekap tubuh Monica dengan erat sambil menangis.
Nyonya Countess berhasil menemukan mereka. Mendapati putrinya yang sudah tiada. Wajahnya nampak sangat terpukul tapi ia tak bisa mengeluarkan air mata. Ia meraih tubuh Monica dalam pelukan pemuda itu.
"Maafkan aku! Aku tidak bisa melindungi Monica. Aku pantas mati!" kata pemuda itu.
Pemuda itu menarik pedangnya hendak bunuh diri tapi Nyonya Countess segera menahannya.
"Jangan bertindak bodoh! Musuh masih ada di depan sana. Jika kau mati sekarang, maka nyawa putriku tidak ada artinya. Jangan mati sia-sia!" katanya.
"Orang yang mereka incar adalah aku. Tapi mereka membunuh orang-orang yang sama sekali tidak bersalah."
Plok.. Plok.. Plok.. Plok...
Suara tepuk tangan di depan pintu membuat Nyonya Countess dan pemuda itu menoleh.
"Aku sangat suka dengan drama perpisahan. Apa kata-kata terakhirnya sudah selesai diucapkan?" tanya Javier Schatten yang pada masa itu merupakan lawan politik Tuan Countess di kerajaan.
"Jadi kau yang berada di balik semua ini?" tanya Nyonya Countess tajam.
"Tidak perlu terkejut begitu. Kau memiliki kehidupan abadi, tapi sayangnya suami dan putrimu justru harus tewas lebih dulu," kata Javier dengan nada mengejek.
"Kau ..." geram Nyonya Countess.
"Kehidupan abadimu sama sekali tidak bisa menolong suami dan putrimu. Sayang sekali!" cemooh Javier lagi.
"Katakan apa maumu sebenarnya!" Nyonya Countess mengacungkan pedang pada Javier.
"Tenanglah, kita bisa bicara baik-baik." Javier menurunkan pedang Nyonya Countess dengan telunjuknya, Nyonya Countess tetap mempertahankan posisi pedangnya.
"Selama ini aku melakukan banyak hal untuk mendapatkan kehidupan abadi. Melakukan ritual persembahan, pengorbanan jiwa, bahkan masih belum cukup untuk mendapatkan seperti yang aku inginkan. Sedangkan dirimu, tanpa melakukan apa-apa kau bisa hidup selamanya. Bahkan kekuatanmu membuatku berdecak kagum. Seorang wanita bangsawan yang lemah lembut menghabisi seluruh prajuritku. Sangat luar biasa!" jelas Javier dengan penuh kekaguman.
"Itulah alasan aku menginginkanmu! Kita bisa bekerjasama. Kau bisa memberiku kekuatan dan keabadian. Dengan begitu kita berdua akan menjadi tidak terkalahkan. Kita akan menaklukkan orang-orang yang menentang kita. Kita ciptakan dunia baru dan aku akan menjadikan dirimu ratu-ku!"
"Cih, jangan harap! Matilah!"
Nyonya Countess langsung menyerang Javier. Javier menarik pedangnya dan melawan. Pemuda itu memperhatikan.
Keduanya nampak sama-sama kuat. Pemuda itu menatap tubuh Monica yang sudah tak bernyawa. Keinginannya untuk membalas dendam muncul. Ia memegang pedangnya dengan erat. Saat Javier nampak lengah, pemuda itu hendak menyerang. Namun rupanya masih ada seorang prajurit yang datang. Akhirnya pemuda itu bertarung melawan prajurit.
Pertarungan Javier dengan Nyonya Countess nampak sengit. Javier terlihat begitu kuat. Pedang yang dipegang Nyonya Countess terlempar oleh sabetan pedang Javier. Meski Javier cukup kuat, tubuh manusia tetap memiliki batas. Pertarungan sang pemuda dengan prajurit itu akhirnya dimenangkan oleh sang pemuda.
Javier kembali menyerang. Nyonya Countess dengan cepat menghindar dari pedang Javier. Ia berpindah ke belakang Javier dan memukul Javier hingga ia terpental.
Javier pun tersungkur dengan darah menetes dari sudut bibirnya. Nyonya Countess perlahan mendekat dengan mata penuh amarah. Ia mengambil pedang yang berada di lantai.
"Aku tidak akan mati semudah ini ..." ucap Javier.
"Benarkah?" tanya Nyonya Countess.
Dengan wajah dingin ia langsung menghunuskan pedang itu ke tubuh Javier.
Javier memuntahkan darah.
"Aku ... tidak akan mati! Jiwaku.... akan bangkit!" ucap Javier dengan suara bergetar.
"Kau terlalu banyak bicara! Tadi untuk suamiku dan ini ...." Nyonya Countess menarik pedangnya dari tubuh Javier lalu menusuknya sekali lagi, "untuk putriku!".
"Kau ... pasti ... mati ... di tanganku!" akhirnya Javier pun tewas.
"Bahkan darahmu pun tidak layak untukku!" cibir Nyonya Countess.
Pemuda itu berjalan ke tubuh Monica dan jatuh terduduk.
"Semuanya sudah selesai. Apa yang harus kulakukan sekarang tanpa dirimu, Monica?" katanya.
"Belum. Javier akan bangkit kembali." Nyonya Countess menepuk bahu pemuda itu. Pemuda itu menoleh.
"Dia akan berusaha mengumpulkan kekuatannya lagi. Sampai saat itu tiba, kau-lah yang akan menghadapinya," kata Nyonya Countess.
"Apa maksud Nyo-"
Belum sempat pemuda itu menyelesaikan kalimatnya, Nyonya Countess sudah menancapkan taringnya ke leher sang pemuda. Pemuda itu merasakan kesakitan yang amat sangat. Nyonya Countess melepaskan gigitannya. Ia mundur beberapa langkah. Pemuda itu masih bisa melihat Nyonya Countess dan mendengar suaranya.
"Valois, tetaplah hidup! Apa pun yang terjadi, kau harus tetap hidup. Kelak kau-lah yang akan menghadapi Javier saat ia bangkit kembali," pesan Nyonya Countess.
Penglihatan pemuda itu mulai kabur hingga akhirnya kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Beberapa hari kemudian,
Orang-orang yang tersisa dari keluarga Countess hanyalah beberapa pelayan mereka saja. Kepala pelayan yang sudah sangat mengenal pemuda itu dan mengetahui hubungan baiknya dengan Monica memberikan aset keluarga Countess padanya.
"Ini atas perintah Nyonya Countess. Tuan Countess juga sudah meninggal. Kerabat dari keluarga Countess yang lain sudah meninggalkan kota ini," kata kepala pelayan.
Pemuda itu bersedia menerimanya karena tak ingin kehilangan kenangan bersama kekasihnya di sana.
Kekacauan sudah dibereskan. Korban sisa penyerangan juga sudah di makamkan. Monica di makamkan bersama Tuan Countess di pemakaman keluarga milik pemuda tersebut. Pemuda itu memutuskan meninggalkan kediaman Countess beberapa waktu kepada kepala pelayan yang memilih untuk mengikutinya dan tetap tinggal di rumah itu. Pemuda itu pun pergi untuk mencari informasi tentang vampir dan melatih kekuatan dirinya. Ia tahu Nyonya Countess sudah mengubahnya menjadi vampir. Ia juga harus bersiap untuk kemungkinan kalau Javier akan bangkit kembali.
Setelah bertahun-tahun akhirnya pemuda itu kembali ke kediaman Countess. Kepala pelayan merawat kediaman itu dengan sangat baik. Tapi kastil itu terlalu besar untuk dirinya. Akhirnya bangunan utama pun di bongkar dan diubah menjadi bangunan sederhana seperti sekarang. Sementara menara lonceng di belakang bangunan utama tetap dibiarkan berdiri kokoh tanpa perawatan. Pemuda itu tidak pernah menginjakkan kakinya di sana. Karena tak ingin terus mengingat kejadian mengerikan itu. Ruangan-ruangan rahasia di dalam rumah dan bawah bangunan tetap terjaga seperti sedia kala. Setelah semua pemugaran yang dilakukan selesai, pemuda itu berniat melepaskan kepala pelayan agar ia bisa menikmati hidupnya dengan bebas. Tapi kepala pelayan bersikeras ingin melayani pemuda itu hingga akhir hayatnya. Akhirnya pemuda itu memberikan kehidupan yang lebih panjang kepadanya.
Seiring masa berlalu, berubahnya sistem pemerintahan, kota itu pun tak lepas dari perubahan. Kota yang dulunya ramai perlahan ditinggalkan karena kurang adanya pembangunan. Orang-orang pindah ke kota besar dengan pembangunan yang modern. Kota itu pun bukan lagi di sebut kota melainkan desa kecil yang masih kental dengan bangunan abad pertengahan. Berkat kepala pelayan, bangunan utama kediaman Countess pun perlahan beralih fungsi menjadi sebuah katedral yang akhirnya menjadi satu-satunya Katedral di desa itu. Nama Monica digunakan juga untuk mengenang Monica Countess. Gadis yang paling dicintai pemuda itu hingga saat ini.
bersambung.....
bisa lihat apa aja yg udah terjadi, bahkan yg akan terjadi
i'm really really
Like