Arfan Malik Adyatma di hadapkan dengan sebuah kenyataan atas kepergian sang Ayah dan perusahaan milik keluarganya yang harus collap. Di usia 23 tahun dia harus mengemban tanggung jawab untuk Bunda dan adiknya serta memperjuangkan perusahaan agar tetap menjadi milik keluarganya.
Di tengah kepelikan cobaan yang dia hadapi, seseorang yang mengaku sahabat sang Ayah mengulurkan tangan bersedia membantu dia menyelesaikan kuliah dan memperjuangkan perusahaan milik sang Ayah namun dengan persyaratan yang membuat dirinya galau untuk menerimanya.
Keputusan apa yang akan Arfan ambil, berjuang dengan tangannya sendiri atau menerima bantuan dari sahabat Ayahnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deutzyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17
Mobil yang di kendarai oleh Arfan sudah terparkir di carport rumah, dia keluar dari mobil dengan menenteng plastik berisi martabak untuk istrinya. Tadi setelah pulang kuliah, dia jadi berkunjung ke kantor Dad. Sesuai janji Dad sebelum Arfan dan Nasha menikah, hari ini Dad berhasil mewujudkannya. Dad langsung meminta Arfan memegang penuh perusahaan itu, Arfan merasa bangga namun ada rasa takut Arfan tidak bisa menjalankan dengan baik seperti sang Ayah dulu.
“ Assalamu’alaikum..” ucap Arfan saat masuk ke dalam. Di sana ada Mom dan Nasha sedang sibuk membuka paperbag berisi tas-tas branded.
“ Wa’alaikumsalam sayang..” jawab Nasha.
“ Kamu jadi ke kantor Dad..?” tanya Mom.
“ Jadi Mom, ini aku baru dari sana.. ini sayang martabak kamu.” Arfan meletakkan kantong itu di atas meja.
“ Eve, minta maid hidangin di piring.” Ucap Nasha masih fokus membuka paperbag itu satu per satu.
“ Sayang, kamu ke atas sana.. suami kamu cape itu.” Ucap Mom menghentikan gerakan tangan Nasha.
“ Kamu mau ke kamar..?” tanya Nasha menoleh ke arah Arfan.
“ Iya sayang, kamu mau ikut atau masih mau di sini?”
“ Aku ikut..” Nasha mengulurkan tangannya, “ Nanti semuanya taruh di lemari tas ya Eve.”
“ Kata Eve, tadi kamu muntah.” Arfan dan Nasha berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka.
“ Iya, aku lagi makan salad tiba-tiba mual.. anak kamu kayanya nggak suka sama salad padahal akunya suka banget.”
Arfan hanya tersenyum, ucapan ‘ anak kamu’ dari mulut istrinya membuat hatinya menghangat. “ Anak kita sayang..” ralat Arfan.
“ Iya, emang anak kamu soalnya dia sama kaya kamu nggak suka salad.”
“ Terus apa yang nggak bikin mual..?”
“ Sejauh ini masih masakan Bunda, tapi aku kasihan Bunda jadi harus masak tiap hari.”
“ Bunda juga nggak keberatan apalagi buat cucunya.”
Ceklek..
“ Kamu tunggu di sini dulu ya, aku mau mandi dulu.”
Arfan masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Nasha masuk ke walk in closet mengambilkan baju untuk Arfan. Setelahnya Arfan menghampiri Nasha, ada yang harus di sampaikan kepada istrinya itu.
“ Sayang, ada yang mau aku kasih tau ke kamu..” ucap Arfan.
“ Apa..?”
“ Daddy berhasil hidupin lagi perusahaan milik Ayah dan sekarang perusahaan itu aku yang pegang sesuai permintaan Dad..” Terang Arfan.
“ Bagus dong sayang.. Bunda pasti senang kalau dengar kabar ini.”
“ Iya, tapi bukan itu masalahnya.”
“ Terus masalahnya apa..?” Nasha dapat melihat gurat tegang di wajah suaminya itu.
“ Dad bilang kalau aku yang urus semua tanggung jawab perusahaan itu.. kamu kan tau kalau aku belum berpengalaman, café aja aku masih di bantu sama Fattan apalagi perusahaan Ayah bukan perusahaan kecil.”
“ Apa yang kamu takutin..? kamu bisa tanya dan belajar sama Dad, aku juga percaya kamu bisa pegang tanggung jawab untuk perusahaan tersebut.”
“ Aku takut nantinya waktu aku sama kamu jadi berkurang karena banyak yang harus aku urus.”
Nasha tersenyum, “ tenang aja kalau kamu sibuk, aku bisa datangin kamu tiap hari.. aku sama baby akan temanin kamu.”
“ Aku nggak mau kamu cape sayang, nggak baik buat kesehatan kamu.” Tolak Arfan.
“ Yaudah berarti kamu harus pintar ngatur waktu agar adil ke semuanya.”
“ Akan aku usahakan..”
Nasha memeluk tubuh Arfan, “ Aku sayang banget sama kamu..” Arfan tersenyum dan membalas pelukan istrinya itu.
“ Oiya, ada hal penting satu lagi..”
“ Apa tuh..?”
“ Mulai bulan ini, nafkah buat kamu udah sepenuhnya dari aku.. jadi kamu udah nggak boleh terima uang bulanan lagi dari Dad.”
“ Lho sayang, emang kenapa kalau Dad masih mau kirim uang bulanan untuk aku?”
“ Setelah kita menikah, semua kebutuhan kamu termasuk nafkah sudah menjadi tanggungan aku.. sebelumnya aku izinin Dad masih tetap kirim bulanan buat kamu juga karena permintaan Dad, tapi saat ini biar aku aja ya.”
“ Ini murni karena Dad yang minta atau permintaan kamu?”
“ Ini semua kemauan aku, jadi ridho ya terima nafkah dari aku meskipun nggak sebesar uang bulanan dari Dad.”
“ Iya sayang, tapi kan lumayan kalau Dad masih kirim uang bulanan buat aku.” Lirih Nasha.
Arfan terkekeh, “ kamu kan bisa gunain uang dari aku buat beli kebutuhan kamu.”
“ Iya sih..”
“ Kamu nggak keberatan kan kalau gaji aku di bagi juga buat Bunda dan Abila..?” Nasha menggelengkan kepalanya.
“ Doain juga, sebelum anak kita lahir.. aku udah bisa beli rumah buat kita tinggal nanti.”
“ Aku bisa minta Dad kalau emang kita mau punya rumah.”
Arfan menggelengkan kepalanya, “ kita harus mulai belajar untuk mandiri dan mengaturnya sendiri sayang.”
“ Kamu mau kan dampingin aku buat bangun satu per satu istana kecil kita..?”
“ Aku mau sayang..” ucap Nasha sambil memeluk Arfan, “ aku emang nggak salah buat nerima kamu jadi suami aku.”
^^^
Dalam kehidupan rumah tangga tidak akan selalu berjalan mulus, akan ada ujian dan cobaan untuk bisa saling menguatkan satu sama lain, urusan ekonomi, kebutuhan biologis, kepercayaan dan komunikasi yang baik juga di perlukan agar semua bisa berjalan selaras dan seimbang.
Arfan memang sudah di tuntut untuk bisa mengatur semuanya dengan baik, selain sibuk dengan kegiatan kuliah, dia juga harus berbagi waktu untuk mengurus café dan perusahaan. Di tambah waktunya dengan sang istri, Nasha yang sedang hamil terkandang meminta perhatian lebih dari Arfan, sifat manjanya semakin menjadi, belum lagi kemauan ngidamnya. Arfan dengan sabar menemani dan memenuhi keinginan istri dan anaknya itu.
Dari awal kehamilan Nasha sampai masuk bulan ke empat, indra penciumannya menjadi sangat peka. Dia akan mual jika indra penciumannya sudah berulah, bahkan bau nasi saja kadang membuatnya mual. Terkadang setiap dia mulai bisa makan dengan nikmat tak lama setelah itu dia mual hebat dan semua yang sudah dia makan harus terbuang lagi.
Dia sudah bisa memakan makanan selain buatan Bunda namun jika tidak sesuai dengan perutnya, makanan itu akan keluar lagi.
Semalam Nasha harus di larikan ke rumah sakit karena tubuhnya sudah sangat lemah karena mual hebat. Obat mual yang di berikan oleh dokter tidak bisa mengendalikan mual yang Nasha alami.
“ Nak, jangan buat Mama mu mual-mual lagi.. Papa semakin khawatir sama kalian.” ucap Arfan sambil mengusap perut istrinya itu.
“ Iya Papa, ade nggak akan buat Mama mual lagi..” jawab Nasha dengan lirih.
“ Aku sedih liat kamu kaya gini sayang.”
Nasha membelai wajah suaminya itu, “ Aku gapapa sayang, aku nikmatin banget momen hamil ini.. karena nggak semua wanita bisa merasakan seperti yang aku alami saat ini.”
“ Makasih sayang.. sekarang kamu istirahat biar badan kamu nggak lemes lagi.”
Nasha pun akhirnya tertidur di tambah usapan di kepalanya membuatnya semakin lelap. Arfan tidak jadi memberitahukan istrinya itu bahwa besok dia harus keluar kota, dia akan meminta sekretarisnya untuk pergi mewakili dirinya dan perusahaan. Saat ini Nasha dan anaknya jauh lebih penting dari apapun.
TBC..!!
penasaran aku