"Apa! Masuk pesantren?"
tanya seorang gadis yang bernama Senja itu pada ayah nya.
"iyah nak,kamu mau kan?"memangnya ayah yakin mau memasukan senja ke pesantren?"katanya seraya mengerutkan keningnya.
betapa bahagia nya sang ayah melihat putri kesayangan nya itu setuju untuk masuk ke pesantran, padahal jika di perhatikan tingkahnya hampir menyerupai anak laki-laki, keras dan sangat nakal. bahkan di sekolah dia dikenal sebagai Queen bar-bar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 17
~Pov Senja
__________________
Dua hari yang cerah sudah terlewatkan, dua hari pula Rya menginap di rumahku. Dia juga sedang libur sekolah sama sepertiku.
Dengan adanya Rya di sini, aku bisa menepis rasa rinduku pada Saida dan Amel, tapi sayangnya Rya meminta izin pulang ke rumahnya hari ini. Apa boleh buat? Mungkin dia rindu kasur empuknya.
Pagi ini aku akan mengantarnya pulang, tapi sebelum itu, aku sudah mengajak Saida dan Amel untuk ketemuan. Aku ingin mengenalkan Rya pada sahabat baruku. Rya sangat senang, begitupun Saida dan Amel.
"Udah siap Beb? Kalau begitu, yuk kita come on!" Dengan semangat aku mengajak Rya berangkat, yang diangguki oleh Rya.
Setelah pamit pada Ayahku tersayang, kami pun langsung berangkat. Motor maticku berjalan lambat membelah jalanan, 'Biar lambat asalkan selamat', begitu kata Ayahku.
Rya bersenandung ria di belakang, sedangkan aku fokus melihat ke depan, karena aku yang bawa motor.
Tidak sampai tiga puluh menit, kami pun tiba di salah satu caffe. Kali ini bukan di caffe biasa langganan aku dan Rya, tapi caffe yang jaraknya tidak jauh dari alamatku juga alamat Saida dan Amel, alias di tengah-tengah. Supaya kami tidak terlalu lelah untuk menjangkaunya.
Saat tiba di sana, kami langsung menduduki meja dan kursi yang masih kosong. Belum ada tanda-tanda kedatangan Saida dan Amel.
Hingga lima menit menunggu, tibalah dua perempuan cantik menghampiri tempat duduk aku dan Rya.
"Assalamu'alaikum." Saida memberi salam.
Aku menjawab salam dan langsung memeluknya, kemudian Amel. Rya tersenyum, lalu aku memperkenalkan mereka satu persatu. Pada akhirnya kami mengobrol begitu asik.
Persis seperti waktu aku pertama kali masuk pesantren, Rya juga tidak butuh waktu lama untuk akrab dengan Saida dan Amel. Diawal perbincangan, mereka nampak langsung akrab dan nyambung dengan pembahasan.
Aku sangat senang melihatnya, semoga Allah menjadikan kami sahabat Sejati, aamiin.
***
Tiga jam lamanya kami berada di caffe itu, aku begitu puas karena rinduku pada Saida dan Amel sudah tersampaikan. Kini saatnya kami berempat beranjak pulang.
Saida dan Amel memang datang berdua, karena mereka bilang jarak rumah mereka tidak terlalu jauh, hanya berselang satu kampung.
Saida dan Amel pun pamit kepadaku dan juga Rya. Mereka mengejar waktu agar bisa shalat zuhur di rumah.
Aku dan Rya juga bersiap-siap untuk pulang. Kutancap gas motor dan kembali berangkat menuju rumah Rya.
Sudah lama aku tidak mengunjungi rumahnya, aku kangen sama Mamanya Rya, kangen masakannya dan juga kangen kasih sayangnya. Mamanya Rya begitu lembut saat bertutur kata, dia juga memintaku untuk memanggilnya 'Mama.'
Andai Bunda masih ada, pasti sifatnya sama seperti Mamanya Rya.
"Assalamu'alaikum, Mam. Rya pulang, nih!" Rya mengucapkan salam dan juga memanggil Mamanya.
"Waalaikumussalam, sebentar, Nak!"
Mamanya menjawab dari dalam rumah, lalu membukakan pintu.
Rya menyalami Mamanya lalu aku juga melakukan hal yang sama.
"Senja, ya Allah. Sudah 3 hari pulang, baru sekarang, ya, kerumah Mama. Memang ngga kangen, gitu?" Mamanya Rya memelukku menyalurkan getaran Rindu.
"Maaf, Ma. Senja juga kangen," jawabku yang masih berada di pelukannya.
"Ayo masuk, Mama sudah masakin makanan kesukaan Mama, eh, maksudnya kesukaan kalian. Hahaha ..." Mamanya Rya persis seperti Ayah, suka sekali bercanda.
Kami pun masuk ke dalam. "Om Riyan, mana Ma?" tanyaku yang tidak melihat tanda-tanda Papanya Rya yang bernama Riyan. Aku tidak memanggilnya Papa meskipun Om Riyan memintanya, bukan apa-apa, hanya saja aku masih punya Ayah yang begitu mencintaiku, jadi biarkan aku memiliki satu Ayah.
Om Riyan sangat baik, dia juga sudah menganggapku seperti putrinya sendiri.
"Om Riyan akhir-akhir ini sangat sibuk, separuh waktunya habis untuk mengurus pekerjaan." Mama menjawab sambil menyiapkan piring di meja makan.
"Oh, Ayahku juga sibuk belakangan ini," sambungku.
Kami menyantap dengan nikmat makanan yang dimasak oleh Mama. Setelah itu aku dan Rya membantu Mama membereskan piring kotor.
***
"Beb, gimana kejelasan hubungan kamu sama Fajar?" Rya asik dengan laptopnya dan bertanya padaku tanpa menoleh.
"Gimana apanya? Dari kemarin dia nggak ada kabar." Aku menjawab sambil membereskan kamarnya yang sedikit berantakan.
Lalu Rya melompat dari kasurnya menghampiriku.
"Cieee ... yang nungguin kabar dari Fajar. Hahaha ... mulai cinta, ya?" Rya, bukannya ngasih pencerahan, malah menggodaku.
"Bukan begitu, tapi Fajar itu, nggak bertanggung jawab banget jadi laki-laki. Masa, tiba-tiba lamar, Terus tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi. Itu maksudnya apa coba?" jawabku sambil memutar bola mataku malas.
"Mungkin dia sibuk," Rya kembali ke kasurnya dan berkutik kembali dengan laptop, entah apa yang dia lakukan dengan benda itu? Sampai senyum-senyum tidak jelas.
"Ah, semua orang kok jadi sibuk, sih? Heran aku." Aku selesai mengemasi kamarnya Rya.
"Entah, aku mandi duluan, ya." Rya yang kini menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Aku hanya menjawab 'Eum' sebagai tanda iya.
***
"Senja pulang dulu, ya, Ma, Rya." Aku menyalami tangan Mama dan berpamitan pulang pada Rya. Sudah sore, pasti Ayah sudah pulang dari kantornya.
"Iya, salam buat Ayahmu, ya. Hati-hati di jalan, ya, sayang." Aku tersenyum mendengar nasihat Mamanya Rya dan berbalik arah menuju tempat parkiran motorku.
***
Kembali aku mengendarai motorku dengan pelan menuju rumah. Baru setengah perjalanan, tiba-tiba terdengar nada dering handphone dari dalam tasku.
Aku menghentikan motorku sejenak ke tepi, untuk mengangkat telfon yang entah dari siapa.
Tapi ternyata bukan gawaiku yang berbunyi, melainkan handphone milik Rya yang tadi dititipkan kepadaku saat di caffe. Aku lupa mengembalikannya.
Tertera di sana satu nama yang membuatku membulatkan mata. Apalagi kalau bukan Fajar.
'Fajar? Kenapa dia malah menelpon Rya, bukannya aku?' Aku berdialog sendiri dalam hati.
Kugeser tombol terima, untuk menjawab panggilan.
[Halo! Aku ke rumah kamu, ya! Jangan kemana-mana! Sebentar lagi aku sampai.] Suara Fajar terdengar begitu semangat saat meminta Rya untuk menunggu kedatangannya.
Aku baru saja ingin mengeluarkan suara, tapi Fajar malah mematikan panggilan secara sepihak.
"Ih, nyebelin banget, sih!" gerutuku kesal sama tingkahnya Fajar.
Kumasukkan benda pipih itu kembali ke dalam tas, sembari memutar balik arah ke rumah Rya, karena ingin mengembalikan handphonenya dan juga ingin tau apa maksud Fajar datang ke rumah Rya.
Begitu sampai di depan rumahnya, aku melihat pemandangan yang tak biasa dan tak terduga.
Terlihat dengan jelas di teras rumah Rya, Fajar sedang memeluk Rya dengan erat. Rya pun membalas pelukannya.
Mereka terlihat senang, Fajar bahkan memejamkan matanya menikmati pelukan yang mungkin terasa nyaman.
Dadaku sesak, untuk bernapas saja aku merasa sedikit susah. Apa aku tidak salah lihat? Sebenarnya apa hubungan Fajar sama Rya. Mereka terlihat begitu akrab.
Kemarin Rya memintaku membuka hati untuk Fajar, dan aku setuju meski belum mengatakan padanya.
Namun, yang kulihat ini sungguh tidak bisa diterima oleh logikaku. Jika Rya menyukai Fajar, lalu kenapa dia tidak memberitahuku dan jika Fajar menyukai Rya, kenapa malah melamarku.
Batinku terus dihantam beribu pertanyaan, dengan langkah gontai aku mundur, lebih baik aku pulang saja dari pada menyaksikan drama mereka.
Saat aku berbalik, tidak sengaja aku menginjak botol plastik dan mengeluarkan suara.
'Ah, sial. Mereka melihat keberadaanku.' Batinku mengumpat kesal.
"Senja!"
~Bersambung