NovelToon NovelToon
NIGHTMARE

NIGHTMARE

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Tamat
Popularitas:430k
Nilai: 4.8
Nama Author: Dewinisme

Slowly Update!!

Berkedok sebagai jaminan hutang ayahnya, Ruma berhasil dijerat menjadi tawanan abadi oleh Rico Dzadakun. Alih-alih menjadikan Ruma salah satu penari striptis di club malam miliknya, Rico justru merasakan jatuh cinta bahkan pada pandangan pertama pada gadis itu.

Sementara dibawah pengawasan Rico Dzadakun, diam-diam Ruma mendamba sebuah aksi balas dendam atas mimpi buruk yang selama ini ia dapatkan dari pebisnis kriminal tersebut.

Ditengah obsesi Rico terhadapnya, akankah Ruma berhasil melancarkan aksi balas dendam yang selama ini ia inginkan? ataukah Ruma justru semakin terjebak dalam jeruji-jeruji cinta yang Rico lilitkan dilehernya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Para buaya darat itu sedang berkumpul membentuk sebuah barisan acak dihadapan Ruma. Bau alkohol merebak membuat siapapun yang tak biasa menciumnya akan merasa mual. Predator-predator **** berdiri mengelilingi panggung setengah lingkaran yang cukup lebar sambil bertepuk tangan meneriaki Ruma agar mulai membuka jubah panjang yang membalut tubuhnya.

Mata Ruma melihat beberapa dari kawanan predator mengacungkan botol minumannya sementara siulan menggoda terdengar menjijikan di telinga Ruma. Untuk beberapa saat, mereka terus memaksa Ruma agar tidak hanya diam berdiri dengan raut wajah ketakutan.

"Menarilah, b*tch!" Seru seorang lelaki dengan lidah yang telah dipengaruhi minuman keras.

Tak berapa lama seruan lain saling susul menyusul. Mereka meneriaki Ruma agar lekas menunjukkan kepandaiannya meliukkan tubuh pada sebuah tiang. Ruma terlalu takut dengan teriak itu, alih-alih membuka jubah panjangnya, Ruma justru berbuat sebaliknya. Dirapatkannya ujung jubah hingga terlipat di bagian ketiaknya yang kecil. Tali yang mengelilingi pinggang rampingnya tetap tak membuatnya merasa aman.

Ruma ingin menangis. Sungguh ingin menangis saat itu juga. Seumur hidupnya, baru kali ini ia mendapat perlakuan yang begitu memalukan. Tiba-tiba Ruma merasa Tuhan tak adil padanya. Melihat mata-mata lapar manusia di bawah sana, membuat Ruma berdiri dengan gelisah. Pandangan matanya menengok pada bagian belakang panggung. Beberapa orang penjaga mengawasinya sejak ia menaiki anak tangga kecil menuju panggung itu.

"Buka jubahmu, Ruma" Aster datang dari belakang memberi intruksi kilat pada Ruma.

Ruma segera menggeleng. Diabaikannya teriakan kesal dari para pengunjung yang ingin menjadi saksi akan kegemulaian tubuhnya.

Aster memelototi Ruma. "Buka jubahmu! Sebelum aku menariknya paksa" desis bercampur geram Aster tak juga membuat Ruma melakukan perintahnya.

Ruma menggeleng kuat. "Aku tidak mau" tolaknya dengan mata mulai berair.

"Buka! Buka! Buka!"

Seruan para pengunjung yang perlahan semakin kencang membuat Nightmare terasa lebih hidup--dan liar. Keengganan Ruma tampak menjadi bahan perbincangan diantara pengunjung itu. Para lelaki merasa tertantang dengan sikap Ruma yang mereka anggap seperti seekor kelinci yang pemalu. Tubuh berbalut jubah itu mengundang seorang lelaki dari barisan terdepan untuk naik ke atas panggung.

Ruma terlalu sibuk dengan perdebatannya bersama Aster. Wanita cantik itu tidak menyadari kehadiran lelaki berpakaian casual dengan jam tangan mewah melingkari pergelangan tangannya tengah mendekatinya perlahan. Tanpa terduga lelaki itu membopong Ruma di pundaknya.

"Aakh!" pekik Ruma dengan bola mata yang nyaris bulat sempurna. "Lepaskan!" pintanya memukul punggung lelaki tersebut.

"Lepaskan!" lelaki itu membeo dengan maksud mengejek Ruma. "Kau membuat kami menunggu terlalu lama, b*tch" ucapnya menatap Ruma yang telah ia turunkan tepat dibawah tiang penari yang berdiri tegak.

Ruma menggigil. Pandangan matanya sudah tidak lagi fokus. Telinganya berdengung mendengar gelak tawa dari para pengunjung yang tampak menikmati ketakutannya.

"Tidak! Menyingkir dariku," Ruma meneriaki lelaki yang tadi membopongnya itu ketika lelaki tersebut memegang siku Ruma dengan posesif.

"Hei! kami disini ingin bersenang-senang. Dan kau ada disini untuk menyenangkan kami" ujar Lelaki yang kini hendak membuka tali jubah Ruma.

Ruma melirik pada Aster yang tampak tak peduli di bagian belakang sana. Matanya melirik pula pada para pekerja club lain yang sama tak pedulinya dengan Aster. "Jahat! Mereka semua jahat!" gumam Ruma putus asa.

"Ayolah.. Come on! kau pasti orang baru, bukan?" tanya Lelaki yang masih berusaha membuka tali jubah Ruma. "Sudah lama club ini tidak memberikan kami barang baru" Seringai menjijikan muncul perlahan di wajah lelaki itu.

Ruma semakin takut. Ia merasa semakin kesulitan mempertahankan tali jubahnya. Dengan derai air mata, bibirnya tak berhenti mengucapkan permohonan pilu agar lelaki yang tampak mengerikan itu menghentikan perbuatannya.

Di detik itu Ruma benar-benar menyesali keputusan gegabahnya. Tidak ada seorang pun yang sudi menolongnya disana. Ruma merasa putus asa, matanya kembali mencari dan terus mencari seseorang yang bisa membebaskannya dari atas panggung itu. Sampai pada saat yang tepat, manik Ruma berpendar penuh harap ketika bola matanya menangkap sosok lelaki tegap yang selama seminggu ini selalu mengunjunginya di ruang penahanan.

Lelaki itu berdiri dengan menopangkan sikunya pada meja panjang bartender. Ia sedang menatapnya, tanpa ekspresi. Ruma sekeras mungkin mengeratkan kembali tali jubah yang sudah hampir terbuka. Bola matanya bergetar menatap bola mata lelaki itu. Dengan wajah seputih salju, bibir mungil itu bergumam pelan.

"Tolong"

Hatinya berharap lelaki itu menangkap gumamannya. Sementara lelaki yang masih berjibaku dengan Ruma, menyeringai puas ketika ia telah berhasil membuka bagian kerah jubah satin tersebut. Kilauan kulit mulus bahu Ruma menyegarkan mata liarnya.

"Aakh! Jangan, tolong" Ruma meronta dengan memukul tangan lelaki itu. Suaranya semakin terdengar serak dan memilukan.

"Aku datang kemari unt---"

"Stop" Suara berat Don menghentikan ucapan pengunjung itu.

Ruma bernafas lega. Wanita itu bersyukur karena gumamannya bisa Don tangkap dengan baik.

"Don?! Ah, sial! Kau merusak kesenanganku" Lelaki pengunjung itu mendesah tak suka.

Bola mata tegas Don menatap dengan dingin. "Kau bisa mencari kesenangan yang lain disini"

Dengan ekspresi kecewa pengunjung itu berjongkok menghadap Ruma. Sebelah matanya mengedip menggoda Ruma yang sedang berusaha meredakan tangisannya. "Lain kali kita bertemu lagi, cantik" ucapnya mengangkat dagu Ruma dengan telunjuknya. "Aku suka bola matamu" sambungnya sebelum menegakkan diri kembali dan menatap Don penuh isyarat.

"Yaaahh, baiklah" Lelaki itu menepuk bahu Don. "Tugasku selesai, bukan?" Kali ini ia mengedipkan mata pada Don. Don mengangguk pelan, sebelum akhirnya ia membawa Ruma turun dari atas panggung.

"Kau ambil alih panggung. Katakan pada mereka, Nightmare akan tutup lebih cepat malam ini" perintah Don pada Aster di belakang panggung.

🍁🍁🍁

Don melangkah sambil menarik lengan atas Ruma untuk mengikutinya menaiki tangga. Lelaki itu membawa Ruma kedalam sebuah ruangan yang bersebrangan dengan ruangan dimana ia pernah dikurung seminggu lamanya. Ruma dihinggapi kebimbangan ketika Don membukakan pintu untuknya. Lelaki itu mempersilahkan Ruma masuk, kemudian langsung menutup pintu itu kembali.

Ruma tersentak oleh suara pintu yang tertutup tiba-tiba. Namun kemudian sosok lelaki yang berdiri gagah diantara remang cahaya ruangan membuat Ruma semakin tersentak antara kaget dan curiga.

Rico menatapnya begitu lekat. Ruma memicingkan bola matanya sambil menenangkan diri, sementara Rico melangkah mendekati Ruma dengan seringai penuh kemenangan.

"Kau menghabiskan waktu terlalu lama untuk kembali padaku, Ruma. Aku hampir saja mati karena bosan menunggu"

Suara dalam Rico memantul pada dinding-dinding kedap suara itu. Ruma mundur perlahan, ia hampir tersandung buffet yang berada di salah satu sisi ruang kalau saja tangannya tidak lebih cepat meraba keberadaan buffet tersebut.

"A-aku mohon" ucap Ruma terbata.

Rico menggelengkan kepalanya perlahan, dengan telunjuk yang ia posisikan di permukaan bibirnya. Melalui isyarat mata, Rico minta Ruma untuk diam. "Berhenti membuang waktuku, Ruma" ucapnya. "Kemarilah" Rico mengulurkan tangan pada Ruma yang menatapnya dengan ragu.

Rico memutar bola matanya gemas melihat sikap pembangkang Ruma yang tak kunjung menunjukkan tanda menyerah. "Kemarilah ... atau kau ingin kembali ke atas panggung dan menari disana" ancam Rico menaikkan sebelah alis matanya.

Mendengar hal itu, membuat Ruma terpaksa memberanikan diri meraih uluran tangan Rico yang hangat. Rico langsung menarik Ruma dalam pelukannya begitu jemari halus Ruma bersentuhan dengan jemarinya.

"Aaahh, aku sudah lama menantikan saat-saat seperti ini. Seperti apa rasanya memeluk tubuh mungilmu" bisik Rico tepat di telinga Ruma.

Tubuh Ruma meremang dalam sekejap. Sensasi panas merambat naik seiring eratnya pelukan yang Rico tengah lakukan padanya. Bahkan jarak yang teramat dekat, membuatnya dapat mencium aroma perpaduan grapefruit dan pepper yang sangat segar dari tubuh lelaki itu.

Ruma merasa Rico telah mengecup lehernya. Nafas berat lelaki itu berhembus disana. Hal itu membuat tubuh Ruma menegang. Dan Rico tersenyum kecut ketika menyadari ketegangan Ruma.

"Katakan padaku, Ruma. Setelah apa yang kau alami di panggung sana. Apakah pilihanmu akan berubah?" tanya Rico sambil mengusap lembut tulang belakang Ruma.

Ruma terdiam. Wanita itu tidak sanggup lagi memberikan jawaban apapun mengenai pilihannya. Bagi dirinya kedua pilihan itu sama saja, sama buruknya.

Rico merenggangkan pelukannya. Ia menatap Ruma yang memilih diam daripada menjawab pertanyaannya. "Aku ingin mendengar jawabanmu, Ruma" ujarnya mengangkat wajah tertunduk Ruma agar menatap matanya.

Hening sesaat setelah kedua pasang bola mata itu saling menatap. Ruma sadar untuk saat ini pilihan kedua untuk menjadi wanita Rico adalah pilihan yang harus ia ambil. Demi Tuhan, Ruma tidak bisa membayangkan jika ia bersikeras menjadi penari striptis hanya untuk membuat Rico kesal, hal gila dan kejam apa lagi yang akan ia dapatkan dari para predator **** itu. Ruma mendesah frustasi. Jemarinya saling meremas, sementara benaknya mencoba untuk merangkai jawaban yang ingin Rico dengar.

"A-aku ... Pilihan" ucap Ruma gugup. Rico tersenyum lebar tak sabar ingin mendengar ucapan Ruma. "Pilihan kedua ... Aku memilih menjadi wanitamu" Ruma menarik nafas lega ketika ia berhasil merapalkan kalimat yang begitu sulit untuk ia keluarkan itu.

Ruma berusaha sekeras mungkin supaya tidak menangis di hadapan Rico. Ia tidak percaya akhirnya ia melakukannya. Menyerahkan dirinya menjadi budak dari lelaki brengsek yang tengah menyeringai dengan tampang menjijikan bagi Ruma. Lelaki bajingan yang gemar mencari keuntungan dari keterpurukan orang lain.

Rico memaksa dirinya untuk tetap bersikap tenang dan terkendali meski lonjakan gairah dan kesenangan memacu detak jantungnya untuk berdetak semakin cepat. Keinginannya untuk menjadikan Ruma miliknya tanpa ada lagi drama penolakan berakhir sesuai harapannya. Kini ia bebas melakukan apapun pada wanita cantik itu. Ruma tidak akan lagi bersikap sinis atau bahkan menamparnya seperti tempo hari. Sungguh, tak ada lagi yang lebih penting dari itu.

"Kau tidak akan bisa merubah pilihanmu lagi, Ruma" ucap Rico mengingatkan. "Apa kau mengerti?"

Ruma menggigit bibir bawahnya, dengan raut wajah pasrah wanita itu mengangguk pelan. Rico tak kuasa ingin kembali merengkuh Ruma dalam dekapannya. Ia mendekap Ruma dengan erat, seolah Ruma adalah hartanya yang paling berharga.

Rico merasa tak cukup hanya dengan pelukan. Tatapannya berubah lembut ketika ia melepas kembali Ruma. Tak berselang lama, Rico mengangkat tubuh Ruma ala bridal. Lelaki itu merebahkan tubuh Ruma di sofa dekat kaca besar. Kemudian ia merunduk. Mendekatkan wajahnya pada wajah terkejut Ruma.

"Aku ingin menciummu, Ruma"

Bisikan Rico berpendar menimbulkan rona merah diwajah Ruma. Entah kemarahan atau rasa malu yang menggelayuti hati Ruma kala itu, yang pasti wanita itu sudah tidak bisa lagi menolak Rico.

Ruma memejamkan matanya dengan sangat rapat, sementara bibir panas Rico terus memberi kecupan dan lum*tan di bongkahan bibirnya yang ranum. Lidahnya menyusup memasuki rongga mulut Ruma, bergerak serampangan dengan membelit mesra lidah Ruma yang diam. Rico menggeser ciuman itu, bibirnya dengan serakah mulai menjejaki pipi Ruma, leher Ruma, dan semakin dalam menuju dua bukit Ruma yang masih tertutup jubah.

Sejenak. Rico menatap Ruma dengan pandangan berkabut. Oh Tuhan, Ruma begitu menantang. Bola mata jernih itu seperti menarik Rico untuk tenggelam di dasar samudera terdalam. Sekuat tenaga Rico menggeram ketika ia memutuskan untuk menunda hal paling besar yang ingin ia lakukan bersama Ruma.

Ruma terkesiap ketika tangannya ditarik oleh Rico hingga ia terduduk. Sorot matanya memperhatikan gerak gerik Rico yang memilih berdiri seperti orang gelisah. Lelaki itu membuka dua kancing teratas kemejanya, kemudian meraih ponsel di meja.

"Don, antarkan aku pulang. Ruma akan ikut bersamaku" Nada suara tak sabaran Rico membuat bola mata jernih Ruma terbelalak sempurna.

🍁🍁🍁

1
Ita Listiana
sungguh aq suka banget sama semua novelmu yg tamat yg aq baca, aq suka bahasamu thor, gk bertele" gk kayak drama ikan terbang muter" gk jelas, tapi kenapa yg baca cuma dikit ya?? btw sukses terus buat othor semangat terus buat berkarya. dan novelmu yg ngegantung tolong dilanjutkan dong thor../Drool//Grin/
Greenenly
ya ampun..sangat menyedihkan sekali, aku menangis pilu😭
Made Ayu
Kecewa
Made Ayu
ini sdh kesekian x baca ulang tetep suka 😍
Fe☕
Alur cerita ringan , enak dibaca

bbrp kalimat yg digunakan memabukkan berasa baca karya sastra 👌

mksh Author
tetap semangat berkarya ✒️📱
Cia²
👍👍
sherly
terbaik
sherly
mantull
sherly
part ini paling mengelikan.. asli Thor sampai ngakak pas si Rico ngk mau nyamar malah komplain
sherly
woh
sherly
ini karyamu yg ke 3 yg aku baca Thor dan beneran smuanya bangus pakai banget .. kisah cinta dimana si cowok beneran sayang banget sama pasangannya.. msh blm bisa move on dr sabiel dan Laura, Raka dan raya eh ternyata Rico dan ruma ngk kalah bucin
sherly
keren thor
sherly
seru
sherly
keren banget
sherly
ceritanya bagus, penulisan dan kata2nya luar biasa..
sherly
ngeri ya
sherly
bahasamu Thor sungguh luar biasa
Sang Dewi: terima kasih kaka.. aku baca setiap komen kaka, dan terharu hihi.. makasih banyak sudah mampir 🙏😉
total 1 replies
sherly
ini yg ke 3 karyamu yg aku baca thorr... semoga keren juga seperti yg lain
Hanifah Ifah
rico kamu hrs hati2 jg sm meggy dan ayahnya lucas..... mreka ingin balas dendam
Wanda Sukma
aku yakin ini novel bagus, karna bs dilihat dr pemilihan kosa katanya autor memiliki wawasan luas.
tp aku heran dg algoritma noveltoon ini, knp novel2 receh yg alur ga jelas arahnya mau kemana dan blundet ga masuk akal justru bisa di up, sdngkan novel yg rata2 bagus sprti ini justru ga di up.

krn sblm aku baca aku paasti lihat dulu komen2 jika ada 1 komen yg buruk sdh pasti alurnya emng buruk. tp dikomen ini baik dan menarik jd aku baca.

sejauh ini masih suka sih, semangat thor meski ga trending yg penting ttep berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!