"Kesalahanku adalah karena aku menerima tawaran itu sehingga aku mulai merasa nyaman dengannya."
Melani Pricillia adalah seorang sekretaris baru di Perusahaan Haditama. Ia baru saja bekerja selama 6 bulan pada perusahaan yang dipimpin oleh seorang pria dingin bernama Revan Haditama.
Sebuah tawaran dilayangkan oleh Revan kepada Melani yang membuat wanita itu tergiur dengan isi dari kontraknya. Sebuah kontrak yang mengharuskan Melani berpura-pura menjadi pacar Revan sebagai alasan Revan agar terhindar dari perjodohan yang telah direncanakan oleh orang tuanya. Namun tidak hanya itu, di luar dugaan Revan pun meminta Melani menjadi istrinya dengan bayaran 1 Miliar.
Bagaimana hubungan Revan dan Melani di akhir kontrak? Akankah cinta dapat tumbuh dan menyatukan keduanya dalam sebuah ikatan hati?
Follow Instagram Author : ekapradita_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara
Selamat membaca!
Melani terlihat melangkah keluar dari kamar dan menuruni anak tangga satu persatu, hingga langkahnya terhenti di ruang tamu.
Sadar akan kehadiran Melani yang baru tiba, Revan terlihat kagum dengan terus menatap lekat penampilan wanita yang sebelumnya terlihat sangat kacau. Namun, kini penampilannya tampak berubah dan terlihat sangat cantik. Bahkan sampai membuat Revan kesulitan menelan salivanya sendiri.
"Ya ampun, Mel. Kamu cantik sekali dengan dress merah itu," batin Revan penuh decak kagum yang tak henti-hentinya menatap Melani yang mulai duduk di sampingnya.
Tak lama kemudian, Diana yang sudah kembali dari warung bertepatan dengan kembalinya Revan ke ruang tamu, kini baru selesai membuatkan segelas kopi untuk Revan dan mulai melangkah keluar dari dapur untuk menghidangkan kopi buatannya yang ia bawa dengan sebuah nampan di tangannya.
Saat langkah kakinya telah tiba di ruang tamu, wanita paruh baya itu dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ya, Diana sungguh tak menyangka akan melihat sosok putrinya tengah duduk di samping Revan dan sudah kelihatan cantik dengan pakaian yang dikenakannya saat ini. "Hei, sayang. Akhirnya kamu mau keluar dari kamar juga dan menemui Tuan Revan. Bagaimana perutmu, sudah tidak sakit lagi 'kan?" tanya Diana setelah menghidangkan segelas kopi di hadapan Revan. "Silakan diminum kopinya, Tuan!"
Revan menanggapinya dengan sebuah anggukan sambil tersenyum manis.
"Sudah baikan kok, Mah. Ini Melani keluar karena ingin berbicara hal serius sama Mama mumpung ada Revan datang ke rumah."
Diana pun segera duduk saling berhadapan dengan Melani dan Revan yang berada di depannya. Pikirannya saat ini begitu penasaran akan hal penting yang hendak Melani bicarakan.
"Memangnya apa yang mau kamu bicarakan sama Mama, Mel?" tanya wanita paruh baya itu dengan wajah yang serius.
Sekilas Melani menatap ke arah Revan, begitu pun dengan Revan hingga pandangan keduanya tanpa sengaja saling bertaut dalam.
Pandangan Melani menyiratkan rasa gugup yang kembali hadir menyelinap masuk dalam pikirannya dan Revan mengerti akan hal itu. Revan pun kini mulai menggerakkan tangan kanannya dan berlabuh di tangan kiri Melani lalu digenggamnya tangan mungil itu dengan begitu erat.
"Biar aku saja yang menjelaskan sama Mama kamu ya, Piya," ujar Revan mengurai keraguan yang tengah menyelimuti diri Melani.
"Lho, kok Tuan Revan panggil Melani Piya sih? Apa itu artinya Piya?" tanya Diana di dalam batinnya yang merasa aneh dengan sebutan itu.
Revan tersenyum menatap wajah Diana, sebisa mungkin ia menepikan rasa gugup yang saat ini bertahta di dalam pikirannya, agar tidak terlihat oleh wanita paruh baya yang saat ini menatap ke arahnya penuh selidik.
"Jadi begini Tante, saya dan Melani ingin memberitahu Tante tentang hubungan kita berdua. Sebenarnya saya dan Melani sudah dekat selama satu tahun ini, setelah cukup lama saling mengenal satu sama lain akhirnya saya memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius lagi dengan Melani. Kami berdua juga sudah membicarakan hal ini pada keluarga besar saya dan semuanya sangat setuju dengan hubungan kita berdua. Kalau menurut Tante bagaimana? Apakah Tante keberatan bila saya menjalin hubungan dengan Melani, Putri Tante yang cantik ini?" tanya Revan walau dengan jantung yang berdetak tak beraturan. Lalu ia mulai melepaskan genggamannya dari tangan Melani kemudian merangkul pundak wanita itu, hingga jarak mereka semakin rapat.
Kedua mata Diana tampak berbinar bahagia mendengar berita baik ini, bahwa Melani ternyata diam-diam menjalin kasih dengan seorang pria dan pria itu adalah atasannya di kantor.
"Mel, apa yang Mama dengar ini benar?" tanya wanita paruh baya itu dengan senyuman semringah.
Melani pun mulai menganggukkan kepalanya walau tampak penuh keraguan.
Diana terdengar mengucap syukur berulang kali karena pada akhirnya Melani dapat menemukan tambatan hatinya, setelah putus dengan Alfian beberapa tahun silam.
"Mama senang mendengarnya, sayang. Kenapa sih selama ini kamu tidak pernah cerita sama Mama? Tapi kamu bahagia 'kan, Mel, dengan hubunganmu bersama Tuan Revan?" tanya Diana meyakinkan.
Melani memaksakan bibirnya untuk membentuk seulas senyuman. "Aku bahagia banget, Mah. Apalagi kalau Mama mau memberi restu untuk hubungan kita berdua."
"Maafkan aku Mah, aku telah membohongimu," batin Melani sangat menyesal dengan apa yang saat ini dilakukannya.
"Tentu Mama memberi restu untuk kalian hubungan berdua, Mama akan selalu berdoa agar kalian berjodoh dan selalu bahagia selamanya." Diana sungguh amat bahagia atas berita yang didengarnya saat ini. Kebahagiaan yang tak dapat diutarakan dengan kata-kata.
"Terima kasih banyak ya, Tante. Saya senang karena Tante mau menerima hubungan kami dengan baik. Kalau begitu, apa orang tua saya besok boleh datang ke sini untuk bertemu dengan Tante sekaligus membahas soal tanggal pernikahan kita berdua?" tanya Revan yang kini dapat bernapas lega karena Diana tak memberikan penolakan apapun tentang sandiwaranya.
"Jadi kamu seserius ini dengan anak Tante, sampai kamu begitu cepat memutuskan untuk menikah dengan Melani, Tuan Revan?" tanya Diana yang semakin kagum akan sikap gantle Revan.
"Tante, mulai sekarang saya minta Tante panggil saya dengan sebutan nama saja ya, cukup Revan tanpa embel-embel di depannya."
Diana segera mengiyakan permintaan Revan dengan menganggukkan kepalanya. "Baik, Nak Revan. Jadi bagaimana dengan pertanyaan Tante yang barusan?"
"Saya sangat serius dengan Melani, Tan. Saya sudah mantap memutuskan untuk segera menikahi Melani agar kami halal. Apa Tante setuju dengan pendapat saya?"
"Tentu Tante setuju banget, semakin cepat kalian menikah akan semakin baik juga untuk hubungan kalian berdua 'kan. Dengan begini Tante jadi tenang kalau Melani sudah ada yang jagain. Sebelumnya Tante mau ucapkan terima kasih ya, karena Nak Revan sudah mau menerima Melani apa adanya. Tante juga punya permintaan sama kamu, tolong jaga dan cintai Melani dengan sepenuh hati, setialah bersama dia selamanya."
Revan tercekat mendengar ucapan Diana yang terdengar begitu tulus, hingga butuh waktu yang cukup lama untuk pria itu mengiyakan keinginan seorang ibu dari wanita yang menjadi pacar pura-puranya. "Saya janji akan menjaga dan mencintai Melani dengan sepenuh hati. Tante jangan khawatirkan masalah itu ya."
"Terima kasih Revan, sekarang Tante sudah tenang. Oh ya, kalau tidak keberatan mulai saat ini kamu panggil saya Mama saja ya, 'kan sebentar lagi kalian akan menikah."
"Baik, Mama."
Hati Melani menangis karena sandiwaranya berhasil membuat sang Mama tersenyum bahagia karena termakan kebohongannya.
"Maafin Melani, Mah. Aku begitu bodoh karena tega membohongi Mama dengan sandiwara seperti ini," batin Melani hingga tanpa terasa bulir-bulir bening mulai menetes dari kedua pelupuk matanya.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️