Setelah menyegel Bangsa Yao, bangsa pembawa kerusakan dan kehancuran. Dunia memulai lembaran dari nol kembali. Lambat laun kisah-kisah menjadi sejarah. Sejarah menjadi legenda. Hingga akhirnya dilupakan...
Tentang perjalanan seorang pemuda menuju tahta tertinggi.
***
Pak Tua Shi menangis. Ini adalah air suci. Air yang mampu membuat siapapun mengubah gubuk reyot menjadi halaman immortal.
Airnya mengalir dan meresap ke tanah, terbuang sia-sia.
Ini sangat langka dan ternilai harganya.
Ini tidak ada di dunia ini.
Ini akan menjadi rebutan para bigshot di seluruh dunia.
Ini akan membuat sekte ampas menjadi penguasa semesta.
Untuk mandi .... Hanya untuk mandi ...
Pak Tua Shi pingsan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yuhuu.. Aku Dapat Pelayan
Bibi Hwa kembali masuk ke dalam kedainya dengan langkah berat, cemas. Ia berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi.
"Anak muda! Berhenti!" teriak seorang pria paruh baya dari tepi jalan.
Mao Yu hanya berjarak beberapa langkah dari kedai. Ia tak merespons sama sekali, tetap berjalan acuh tak acuh. Pria itu lantas menghadang tepat di depannya.
"Kubilang berhenti! Apa kau tuli?" Pria paruh baya itu kehilangan kesabaran dan memelototi Mao Yu.
Mao Yu menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Hmm, kukira kau meneriaki orang lain, bukan aku," jawabnya santai.
"Dasar bocah ingusan, kemari kakek akan memberimu pelajaran!" Pria itu melayangkan tinju ke wajah Mao Yu.
Sejak awal, Mao Yu sudah tahu pria ini memiliki niat buruk, tapi ia sama sekali tidak khawatir.
Grasp Soul!
Sebuah kilat perak kecil, sehalus bulu rambut, melintas di mata Mao Yu.
Pria paruh baya itu tiba-tiba menghentikan pukulannya. Ia merasa ada sesuatu yang mencengkeram organ-organ dalamnya. Seluruh tubuhnya bergetar, keringat dingin membasahi pelipisnya. Rasa pusing yang luar biasa membuatnya ambruk, memuntahkan sarapan paginya.
"Kamu... kamu..." Pria itu menatap Mao Yu dengan amarah dan ketakutan yang bercampur aduk.
Grasp Soul!
Serangan kedua kembali dilancarkan Mao Yu.
"Aaaahhh!" teriak pria itu lantang. Ia berguling-guling, memegangi kepala dan mengacak-acak rambutnya. Ia merasakan otaknya dicengkeram kuat. Kali ini, rasa sakitnya jauh lebih menyiksa. Ia memuntahkan arak yang ia minum pagi itu.
"Ampun... ampun..." Pria paruh baya itu menyerah.
Beberapa pejalan kaki yang mendengar teriakan itu mengenali pria itu sebagai Li Hua, seorang kultivator Ranah Kasaya Perak tahap empat. Mereka terkejut melihat Li Hua, yang terkenal suka memukuli orang di gang itu, kini bersujud meminta ampun pada seorang pemuda.
Salah satu pejalan kaki tua tersenyum puas. "Barang siapa berbuat buruk, akan menerima karmanya sendiri," katanya pada cucunya.
Pejalan kaki lain segera menjauh, tidak ingin terlibat.
Di tengah permohonan Li Hua, Mao Yu membenamkan dirinya ke dalam koin tembaga, melihat rune-rune rantai perak yang meliuk-liuk. Setelah menarik kesadarannya kembali, ia membuat mudra sederhana dan merapal mantra.
"Aaaahhhhh!" Li Hua berguling-guling lagi, membersihkan jalan dengan tubuhnya. Rasa sakit di kepalanya tiga kali lipat dari sebelumnya. Setelah sarapan dan araknya habis, kini yang keluar hanya busa.
"Pria tua, bangkit dan beri salam pada leluhurmu!" perintah Mao Yu.
Dengan sempoyongan dan penampilan kacau, Li Hua merangkak dan bersujud di hadapan Mao Yu. Ia tidak bisa menolak. Ada sesuatu yang kuat dari dalam jiwanya yang memerintahkannya untuk patuh mutlak. Mao Yu telah merapal mantra perbudakan jiwa. Ia hanya iseng mencoba, dan ternyata berhasil.
"Oke, leluhur ini menerima salam dan kesetiaanmu," Mao Yu menjawab dengan pose keren. Kepala terangkat, mata melirik ke bawah, kedua tangan di pinggang.
"Jangan pernah sekali-kali melawan leluhur kecilmu. Jika berani, bukan lagi sarapan dan arak yang akan kukuraskan, tapi seluruh organmu!" ancamnya.
Li Hua bergidik.
"Tidak... hamba tidak akan berani menentang leluhur kecil..."
"Bagus! Bangkitlah! Pimpin jalan ke pasar yang barangnya bagus dan ceritakan apa tujuanmu!" Mao Yu ingin tahu siapa Li Hua dan apa yang membuatnya mengganggu orang di kedai bakmi.
Seorang pemuda berjalan riang gembira di belakang seorang pria paruh baya yang berjalan sempoyongan dengan penampilan kacau. Sungguh pemandangan yang ironis. Mereka yang melihat mengira pemuda itu baru saja membeli budak.
Li Hua, yang mendengar bisikan itu, merasa hatinya hancur. Pagi ini, peramal berkata harinya akan penuh berkah, tapi yang ia dapatkan malah petaka. Ia mengutuki peramal itu dalam hati, berjalan tertunduk menahan tangis.
Di sepanjang jalan, Li Hua memperkenalkan dirinya sebagai bawahan seorang tuan muda dari klan terkemuka di kota. Ia ditugaskan untuk menghalangi dan memukuli siapa pun yang hendak pergi ke kedai bakmi Hwa.
"Dulu, tuan muda dan tunangannya sedang berwisata kuliner. Mereka mampir ke Bakmi Hwa, kedai legendaris. Tapi pemilik kedai, Paman Hwa, tidak sengaja menumpahkan teh ke tunangan tuan muda," jelas Li Hua.
"Tuan muda itu marah besar dan dendam. Dia memerintahkan agar tidak ada yang boleh makan di sana."
"Begitukah gaya tuan muda dari klan terkemuka? Siapa tuan muda yang kamu maksud?" tanya Mao Yu, sedikit penasaran.
"Tuan muda ketiga dari Klan Mo, Mo Tian," bisik Li Hua, takut ada yang mendengar.
"Oh, bagus sekali... Namanya Mo Tian," gumam Mao Yu. Ia berhenti melangkah dan menyipitkan matanya.
Li Hua bergidik, bulu kuduknya merinding, merasa firasat buruk akan datang.
koneksi dr 1 plot ke yg lain sangat anu...
lanjouts.
pejalanan mencari kitab suci..?
lanjouts..