Karya ini murni dari imajinasi penulis. Tidak ada unsur plagiat.
🌺🌺🌺
Angga Pratama, seorang pengusaha muda yang sukses. Dia terkenal dengan kedinginannya. Mamanya memaksa Angga untuk segera menikah. Jika Angga tidak menikah juga. Maka, Santi akan menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya.
Anastasya, seorang gadis yatim piatu berusia 21 tahun. Ia dibesarkan oleh asisten rumah tangganya. Yang di kenal dengan panggilan Bibi Ratih.
Suatu hari Angga dan Tasya dipertemukan. Namun, bukan pertemuan yang baik seperti pada umumnya.
Penasaran dengan kisah mereka? Jangan lupa favoritkan novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casilla Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-16
Malam pun telah tiba. Tepat pukul 8 malam, Tasya dan Angga masih saja sibuk dengan acara pernikahannya. Tamu yang Santi undang sangat banyak. Itu membuat Tasya dan Angga terus berdiri dan menyalami para tamu yang datang.
"Pegal sekali!" keluhnya. Apalagi saat ini ia tengah memakai sepatu hak tinggi, membuat kakinya terasa sakit.
Nuri dan Alea berjalan mendekati Angga dan Tasya. "Tuan Angga, Tasya, kami akan pulang," ucap Nuri.
"Jangan lupa untuk menceritakan malam pertama kalian padaku!" bisik Nuri pada Tasya.
"Ih Nuri, apa-apaan sih?!" ucap Tasya malu.
"Cie... pipinya merah!" goda Nuri.
Alea menyenggol lengan Nuri. Nuri pun menoleh, "Apa?"
"Nuri, ayo pulang! Ini sudah malam. Sudah seharian kita berada di sini!" ujar Alea sambil berbisik.
"Iya... iya. Tasya, kami pulang ya!" Nuri melambai-lambaikan tangannya ke udara. Sementara tangan satunya lagi, ditarik oleh Alea.
"Malam pertama kita tidak akan istimewa." Kata Angga dengan ekspresi dinginnya.
"Kamu mendengarnya?" tanya Tasya terkejut.
"Tentu saja! Hanya obrolan seperti itu yang bisa membuatmu tersipu malu seperti itu!"
"Aduh... Tuan ganteng, Tasya..." ucap Bunda Mawar yang tiba-tiba menghampiri Angga dan Tasya.
"Eh? Eke harus manggil yey apa ya? Yey kan sudah jadi menantu Ibu Santi. Apa enaknya eke panggil yey Nona?"
"Bunda ini..." lirih Tasya.
"Tasya, eke mau pulang. Eke ambil beberapa makanan. Yey ikhlas kan?" Bunda Mawar memperlihatkan isi tasnya yang penuh dengan beberapa makanan dan buah-buahan.
"Gak papa Bun... ambil aja. Terima kasih untuk hari ini. Berkat Bunda, Tasya bisa menjadi sangat cantik seperti ini!" ucapnya sambil bercanda.
"Percaya diri sekali dia ini!" batin Angga.
"Sama-sama. Eke senang bisa merias wajah yey. Tidak dipoles pun, yey tetap sangat cantik!" pujinya.
***
Akhirnya semua telah selesai. Tasya terbaring lelah di atas tempat tidur yang sudah dihias dengan sangat indah.
"Apa kamu akan tidur dengan pakaian seperti itu?" tanya Angga, melihat Tasya tengah berbaring dengan gaun pengantinnya.
"Tidak. Aku hanya ingin beristirahat dulu. Nanti akan kuganti!" sahutnya.
Angga memutar bola matanya, lalu masuk ke kamar mandi.
Sementara itu, Tasya mulai membersihkan make up yang melekat di wajahnya. Tasya pun mulai membuka resleting gaun yang ia kenakan itu. Tetapi, ia kesulitan untuk membukanya.
"Kenapa susah sekali sih!" keluhnya.
Tiba-tiba ada tangan yang membantunya menurunkan resleting itu.
"Ahk!" pekik Tasya, secara refleks ia mengambil sepatu hak tinggi yang tadi ia kenakan, lalu melemparnya ke arah Angga.
"Aw, ****!" umpat Angga, mengaduh kesakitan. Sepatu yang dilempar Tasya tepat mengenai kepalanya.
"K-kamu!"
"Dasar istri durhaka! Baru sehari menjadi istri sudah seperti ini!" bentak Angga.
"Ma-maaf. A-aku tidak tahu itu kamu!"
Angga menarik nafas kasar, lalu mengambil sepatu hak tinggi yang tadi dilemparkan oleh Tasya.
"Apa kau tahu rasanya? Lihat kepalaku!" Angga menunjuk kepalanya yang sedikit benjol.
Matanya menatap sepatu itu, lalu Angga tersenyum tipis, "Ukuran kakimu hanya 36?" Angga mulai tertawa, "Hahaha... kau ini benar-benar kecil!" Angga tertawa cekikikan.
"Selain tubuhmu pendek, ternyata kakimu juga sangatlah kecil!" sambungnya, Angga tak bisa berhenti tertawa.
Sementara itu, Tasya mengepalkan tangannya. Menahan rasa kesal di hatinya. Lalu Tasya pergi ke kamar mandi begitu saja.
"Meladeni orang seperti dia memang tidak akan ada habisnya! Tadi dia marah, sekarang malah tertawa! Dasar suami aneh!" batin Tasya.
Tasya menutup pintu kamar mandi itu dengan sangat kencang. Hingga membuat Angga tersadar dari tawanya yang tak henti-henti.
"Apa dia marah?" tanya Angga dalam hati.
Angga pun mulai berbaring di atas tempat tidurnya. "Aku tidak menyangka telah menikahinya..."
Di dalam kamar mandi, Tasya terus saja mengumpati Angga yang sekarang ini telah menjadi suaminya.
"Suami galak! Suami tidak punya perasaan! Bisa-bisanya dia meledekku seperti itu!" umpatnya.
Setengah jam telah berlalu. Kini Tasya keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk.
"A-apa dia sudah tidur?" gumamnya.
Perlahan-lahan Tasya berjalan menuju lemari pakaian. "Ya ampun!" Tasya menelan salivanya.
"Ke-kenapa aku lupa kalau aku tidak membawa pakaian?" Tasya hanya melihat beberapa pakaian milik Angga saja.
***
Pagi pun telah tiba. Selesai melaksanakan solat subuh, Tasya bergegas ke dapur.
"Tasya? Kamu sudah bangun Nak?" tanya Santi yang sedari tadi memang sudah berada di dapur.
"Angga sudah bangun?" sambungnya.
"Belum Ma, dia masih tidur." Jawabnya.
"Lho... Tasya, bangunin dong. Dia kan sudah menjadi suamimu. Oh ya? Bagaimana dengan malam tadi?" goda Santi.
"It-itu..." Tasya berpikir sejenak untuk mencari alasan. "Ah ya! Tasya akan membangunkannya Ma!" Tasya berputar arah dan langsung berlari kecil menuju kamarnya.
Santi menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah Tasya. "Tasya, pakai baju yang ada di kursi itu! Mama lupa, semalam tidak mengantarkannya ke kamarmu!" teriak Santi, lalu ia tertawa kecil.
"Baik Ma!" sahutnya.
"Kalau Angga melihat Tasya memakai pakaiannya, bagaimana jadinya ya?!" gumam Santi sambil senyum-senyum.
"Bangun! Ba-bangun!" Tasya menggoyang-goyangkan tubuh Angga.
"Sudah pagi, ayo bangun!"
"Hmm... lima menit lagi!" lirih Angga.
"Dasar menyebalkan!" umpat Tasya.
"Bangunnn!!!" teriak Tasya di dekat telinga Angga.
"Hei kau!" bentaknya. Angga mengusap telinganya yang berdengung.
"Arrghhh!!!" Angga menatap tajam wajah Tasya. Lalu tatapannya beralih pada pakaian yang dikenakan oleh Tasya.
"Kau memakai pakaianku?!" ucap Angga sambil berteriak.
"A-aku lupa, tidak membawa pakaianku. Jadi terpaksa aku meminjam pakaianmu!" Tasya tersenyum-senyum sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
Angga mengusap wajahnya gusar, "Meminjam? Kau bahkan tidak izin dulu padaku!"
"Hehehe..." Tasya hanya bisa tersenyum, seperti orang yang tidak bersalah.
Ia melihat ke arah jam weker, "Ini baru jam setengah lima. Tidak perlu membangunkanku seperti itu lagi!" Angga menghela nafasnya kasar.
"Tunggu!" Angga memejamkan matanya dan kembali melihat ke arah jam. "Jam setengah lima?" pekiknya.
Angga langsung terburu-buru ke kamar mandi.
"Kenapa kamu tidak membangunkanku dari tadi?!" gerutu Angga di dalam kamar mandi.
"Dasar menyebalkan! Tadi dia bilang 'tidak perlu membangunkanku seperti itu' lalu dia bilang ' kenapa kamu tidak membangunkanku' dasar suami tukang marah!" ejeknya.
***
Mereka bertiga kini telah berada di ruang makan. Tasya membantu Santi menyiapkan sarapan.
"Angga, lihat istrimu ini! Kamu sangat beruntung Nak!" seru Santi.
"Beruntung dari mananya," gumam Angga pelan.
Santi melihat beberapa makanan yang dibuat oleh Tasya. "Wah Tasya, masakanmu pasti sangat lezat. Angga, kamu wajib mencicipi makanan buatan Tasya!" ujar Santi.
"Tidak. Aku ingin makan ini saja!" Angga mulai menyantap sayur asam kesukaannya.
"Bagaimana? Enak tidak?" tanya Santi bersemangat.
Sementara Tasya hanya tersenyum melihat Angga yang memakan lahap sayur buatannya.
"Ini enak Ma. Seperti biasanya, masakan Mama yang terbaik!" serunya.
"Pasti enaklah, itu kan buatan istrimu!" celetuk Santi.
"Apa?!" Angga menggebrak meja makan. "Jadi, ini bukan Mama yang buat?"
"Mama hanya memasak nasi," jawabnya tenang.
"Pantas saja sayur ini ada rasa asam-asamnya!" ledeknya.
Santi dan Tasya tersenyum, "Nak, yang namanya sayur asam pastilah rasanya asam. Bukan pahit!" Santi pun tertawa dengan kelakuan anaknya itu.
Begitupula dengan Tasya, ia menahan tawanya. "Dasar suami konyol!"
"Ayo dimakan lagi! Mama tahu, kamu sangat suka sayur itu."
"Tidak. Angga sudah kenyang. Lagipula makan sayur asam pagi-pagi seperti ini tidak baik untukku. Apalagi buatannya, pasti ada apa-apanya!"
Tasya langsung cemberut mendengar perkataan Angga.
"Angga, tidak baik berbicara seperti itu! Habiskan, nanti mubazir!" kata Santi.
Angga menghela nafasnya, "Baik Ma..." lirihnya pasrah.
Angga kembali memakan sayur itu, tatapannya tidak lepas dari Tasya. Ia terus saja memandangi Tasya dengan pandangan kesal.
Tasya merasa tidak nyaman karena terus diperhatikan oleh Angga. Ia segera menghabiskan makanannya dengan cepat.
"Ma, Tasya sudah selesai," Tasya beranjak dari tempat duduknya.
"Lho? Nambah lagi nasinya Nak!"
"Tasya sudah kenyang Ma..." ucapnya sambil tersenyum.
Santi mengangguk-angguk, "Nak, kamu nambah ya?" tanyanya pada Angga.
"Hmm... Angga juga sudah kenyang Ma. Angga mau ke kantor dulu. Sudah telat nih!" ucap Angga beralasan.
Santi mengeryit, "Kamu ini pengantin baru. Kamu tidak boleh bekerja!"
***
Happy reading 🥰
.... payyyaahhhhh dahhh😤😤😤😤😤😤