NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Deru mesin taksi yang membelah jalanan Jakarta terasa lambat. Di kursi belakang, Kirei meremas jemarinya sendiri sampai memucat. Matanya terpaku ke luar jendela, memandangi deretan pohon dan gedung tinggi yang kabur tersapu sisa rintik hujan.

Arka yang duduk di sampingnya tak banyak bicara. Cowok itu menyandarkan kepala ke jok, tapi lengannya yang kokoh bersandar begitu dekat dengan bahu Kirei—kehadiran hening yang diam-diam menjadi penopang agar Kirei tak pecah dalam histeria.

"Tenang, Rei," bisik Arka rendah, memotong sepi di kabin mobil. "Kakek sudah sadar. Itu kabar baik."

Kirei menoleh pelan, menatap garis rahang Arka yang tegas dari samping. "Tapi kalau Kakek sadar... dia pasti menanyakan pernikahan kita, Arka. Dia mau lihat kita benar-benar rukun, bukan cuma sebatas kertas perjanjian tinta merah yang kita buat."

Arka memutar kepala, mengunci pandangannya lurus ke iris mata Kirei yang cemas. Senyum miring yang biasa nangkring di bibirnya menghilang tanpa bekas.

"Ya sudah," cetus Arka tenang. "Tinggal kita kasih lihat apa yang mau Kakek lihat."

"Maksud lo?"

"Di depan Kakek, kita bukan dua orang yang saling benci atau terikat denda," Arka mencondongkan badan, memangkas jarak di antara mereka. "Di depan Kakek... gue suami lo, dan lo istri gue. Simple."

Dada Kirei berdesir hebat. Kata suami yang meluncur santai tapi mantap dari mulut Arka mendadak membikin kepalanya pening. Belum sempat Kirei membalas, taksi berhenti mulus di depan lobi utama Rumah Sakit Medika.

Aroma antiseptik menyengat dan ritme berulang monitor jantung menyambut langkah mereka saat menginjakkan kaki di lorong VIP lantai lima. Hening di lantai ini terasa mahal sekaligus menekan, kontras dengan keriuhan SMA Nusantara yang baru saja mereka tinggalkan.

Di depan kamar 502, dua pria bersetelan jas hitam—pengawal pribadi Keluarga Wijaya—membungkuk hormat begitu melihat Kirei dan Arka.

"Nona Kirei, Tuan Muda Arka," sapa salah satu pengawal sambil membukakan pintu kayu jati tebal. "Tuan Besar sudah menunggu di dalam bersama dokter spesialis."

Kirei meraup napas panjang, mengepalkan tangan di samping rok seragamnya. Sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu, tangan Arka yang hangat dan tegap mendadak menyusup ke sela-sela jemarinya, menggenggam telapak tangan Kirei rapat-rapat.

Kirei mendongak kaget. "Arka?"

"Genggam balik, Rei," bisik Arka tegas tanpa menoleh, matanya lurus menatap pintu yang bergeser terbuka. "Enggak ada pasangan suami istri yang masuk ke kamar orang tua sambil jalan terpisah dua meter."

Kirei menelan ludah. Hangat yang menjalar dari telapak tangan Arka perlahan mengikis rasa dingin di ujung jemarinya. Ia akhirnya membalas, mempererat genggaman itu.

Mereka melangkah masuk.

Di tengah bangsal berukuran luas itu, sosok pria tua berambut putih membayang lemah di balik selimut tebal atas ranjang medis elektrik. Wajah Tuan Wijaya pucat dan tirus, tapi matanya yang tajam sudah terbuka, memancarkan kesadaran utuh. Selang infus dan monitor EKG masih terpasang rapi di sekelilingnya.

"Kirei... Arka..." suara Tuan Wijaya terdengar serak dan serak, tapi sarat akan rindu yang dalam.

"Kakek!"

Pertahanan emosi Kirei runtuh seketika. Ia setengah berlari mendekati ranjang, berlutut di pembaringan lalu memeluk jemari keriput Kakeknya yang bebas dari selang. Air mata yang ia tahan sejak pagi akhirnya pecah, menetes hangat di atas sprei putih.

"Kakek... Kirei kangen banget. Kakek jangan bikin Kirei takut lagi," tangis Kirei tumpah secara alami. Peran Ketua OSIS yang tangguh mendadak menguap, menyisakan seorang cucu perempuan yang amat menyayangi keluarganya.

Tuan Wijaya tersenyum tipis, meraba puncak kepala Kirei dengan jemarinya yang gemetar. "Maafkan Kakek, Cucu Pintar... Kakek cuma... tertidur agak lama."

Pandangan Tuan Wijaya bergulir melewati bahu Kirei, menatap Arka yang berdiri tegap di sisi lain ranjang.

Arka menundukkan kepala sedikit, raut wajahnya berubah amat sopan dan penuh hormat—sikap yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di sekolah. "Gimana keadaan Kakek?"

"Arka..." Tuan Wijaya terbatuk kecil, membuat dokter spesialis di sampingnya cekatan menyesuaikan pasokan oksigen. "Terima kasih... sudah menjaga Kirei selama Kakek tidak ada."

"Itu sudah jadi tanggung jawab saya, Kakek," sahut Arka lugas tanpa ragu sedikit pun.

Mata Tuan Wijaya tertuju pada tautan tangan Arka dan Kirei yang masih belum terlepas. Ukiran senyum lega mengembang di wajah tuanya yang penuh kerutan.

"Kakek dengar... dari orang-orang Kakek," bisik Tuan Wijaya, matanya menyipit menatap mereka berdua bergantian. "Kalian berdua tinggal di rumah minimalis perumahan barat, kan? Bagaimana... kehidupan kalian? Apa Arka nakal, Kirei?"

Kirei membeku. Lidahnya mendadak kelu. Memori tentang adu mulut, aturan sembilan belas poin, denda tinta merah, sampai drama jebakan di ruang OSIS berputar liar di kepalanya.

Sebelum Kirei sempat bersuara, ibu jari Arka bergerak pelan mengusap punggung tangan Kirei. Cowok itu angkat bicara dengan nada yang luar biasa lembut.

"Kirei istri yang sangat baik, Kakek," ucap Arka. Matanya menatap Kirei dengan pendar yang begitu hangat, sukses bikin dada Kirei bergemuruh hebat. "Dia selalu memastikan rumah rapi. Walaupun saya kadang bikin dia jengkel... dia tetap merawat saya dengan sabar."

Kirei mendongak, menatap Arka tak percaya. Sejak kapan cowok ugal-ugalan ini jago berakting manis begini?

Tuan Wijaya terkekeh pelan, dadanya naik turun. "Baguslah... Kakek tenang dengarnya. Kakek cuma mau... kalian berdua saling menjaga. Karena... rahasia di balik pernikahan ini... bukan cuma soal saham perusahaan."

Kalimat Tuan Wijaya serta-merta mengubah atmosfer kamar VIP tersebut.

Kirei menyipitkan mata. "Maksud Kakek? Rahasia apa?"

Tuan Wijaya menghela napas berat, pandangannya menerawang ke jendela besar yang memamerkan langit Jakarta yang kelabu.

"Kakek terpaksa menikahkan kalian secara rahasia... bukan cuma buat menyelamatkan aset Om Wijaya," bisik Tuan Wijaya dengan nada yang mendadak serius dan sarat ketakutan tersembunyi. "Ada seseorang di luar sana... musuh lama keluarga kita... yang sedang mengincar hak waris tunggal Kirei. Dan satu-satunya cara melindungi Kirei dari hukum waris musuh itu... adalah statusnya sebagai istri sah dari Arka."

Darah Kirei serasa membeku seketika.

Kening Arka berkerut dalam, genggamannya pada tangan Kirei otomatis makin mengetat. "Siapa orang itu, Kakek?"

Tuan Wijaya hendak membuka suara, tapi mendadak monitor jantung di samping tempat tidur raung-raung tak teratur. Bip! Bip! Bip!

Dada Tuan Wijaya kempas-kempis drastis, dadanya sesak dan matanya terpejam menahan cengkeraman sakit.

"Tuan Besar!" dokter spesialis bergegas maju, mendorong pelan tubuh Kirei dan Arka agar menjauh dari ranjang. "Detak jantungnya melonjak drastis! Pasien butuh penanganan darurat sekarang! Harap keluarga menunggu di luar!"

Dua perawat cekatan menutup tirai pembatas. Arka menarik Kirei keluar kamar sebelum pintu jati tebal itu kembali terkunci dari dalam.

Di lorong rumah sakit yang dingin dan sepi, Kirei berdiri terpaku. Tangannya yang meremas kain rok abu-abu gemetar hebat. Bisikan Kakeknya terus bergema memecah kepalanya—hak waris tunggal... musuh lama... melindungi Kirei.

Arka memegang kedua bahu Kirei, memutar tubuh cewek itu agar berhadapan dengannya.

"Rei, lihat gue," tegur Arka tegas, mengunci pandangannya ke mata Kirei yang diliputi kebingungan dan ketakutan mendalam. "Enggak usah dipikirkan sekarang. Yang penting Kakek ditangani dokter dulu."

"Tapi Arka..." suara Kirei tersangkut di tenggorokan, "pernikahan kita... ternyata bukan cuma formalitas buat membantu Kakek. Ada orang yang mau mencelakakan gue..."

Arka menatap Kirei lama. Tanpa memedulikan tempat, Arka menarik tubuh Kirei ke dalam pelukannya, merengkuh kepala cewek itu dan menyandarkannya di dada bidangnya. Aroma citrus dan detak jantung Arka yang tenang terasa melingkupi, membentengi Kirei dari ketakutan yang menggerogoti.

"Enggak bakal ada yang bisa menyentuh lo, Kirei," bisik Arka di dekat telinganya, menyebarkan janji mutlak yang tak tergoyahkan. "Gue enggak peduli siapa musuh keluarga lo... selama lo ada di dekat gue, enggak bakal ada satu orang pun yang bisa melukai istri gue."

Di dalam dekapan hangat Arka, Kirei memejamkan mata erat-erat. Benang-benang takdir pernikahan kontrak mereka kini terurai menjadi simpul yang jauh lebih rumit, berbahaya, dan memikat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!