Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Kenapa berurutan lagi?
Alex masih berdiri di depan jendela, tangannya terkepal erat di dalam saku celana, rahangnya mengeras hingga terasa nyeri. Kota London terbentang luas di bawahnya, tapi ia tidak melihat apa pun selain bayangan Lauren yang terus berputar di kepalanya, wajah tenang yang dipaksakan, senyum yang menyembunyikan luka yang seharusnya tidak pernah ia rasakan.
"Zara sudah keterlaluan."
Pikiran itu muncul begitu tajam, begitu jelas, hingga Alex hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Selama ini ia selalu memandang pertunangannya dengan Zara sebagai sekadar kesepakatan bisnis, dua keluarga besar yang saling menguntungkan, tanpa pernah ada perasaan yang benar-benar terlibat di dalamnya. Ia tidak pernah peduli apa yang Zara lakukan atau katakan, selama itu tidak mengganggu urusannya.
Tapi sekarang, mendengar bagaimana wanita itu bicara kepada Lauren, seolah gadis itu tidak lebih dari sekadar barang yang bisa dibuang begitu tidak berguna lagi, sesuatu di dalam diri Alex menyala dengan cara yang tidak pernah ia kenali sebelumnya.
"Dia bukan milikmu untuk direndahkan, Zara. Kau bahkan tidak pantas menyebut namanya."
Rahangnya semakin mengeras. Ia teringat kembali setiap detail yang diceritakan Damian, setiap kalimat tajam yang dilontarkan Zara, dan tangannya terkepal semakin erat, kukunya nyaris menusuk telapak tangannya sendiri.
"Berani sekali kau mempermalukannya di depan wajahku sendiri, seolah aku tidak akan tahu."
Pikiran itu membakar lebih tajam dari yang pernah ia rasakan terhadap siapa pun sebelumnya, bahkan terhadap musuh-musuh yang selama ini ia hadapi dengan pistol dan ancaman. Ada sesuatu tentang menyakiti Lauren yang terasa jauh lebih personal, jauh lebih tidak termaafkan, dibanding pengkhianatan bisnis mana pun yang pernah ia hadapi.
"Kau kira dia lemah karena dia sopan. Kau akan menyesal meremehkannya seperti itu."
Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Delapan bulan mengawasi Lauren dari kejauhan, delapan bulan menahan diri untuk tidak mendekat lebih jauh dari yang seharusnya, dan sekarang, dalam hitungan hari sejak gadis itu berada dalam jangkauannya, Alex merasakan sesuatu yang begitu asing, begitu tidak terkendali, hingga ia hampir tidak tahu bagaimana cara menanganinya selain dengan kemarahan yang membakar diam-diam di balik topeng tenangnya.
"Dia milikku untuk dilindungi. Bukan milik siapa pun, apalagi kau, untuk disakiti."
Kata "milikku" itu terasa begitu wajar terlintas di benaknya, begitu alami, hingga Alex tidak bahkan sempat mempertanyakan mengapa ia berpikir seperti itu tentang seseorang yang baru dua hari bekerja untuknya, seseorang yang bahkan belum sepenuhnya ia jelaskan tentang dunia gelap yang ia jalani.
Ia memikirkan Zara, memikirkan pertunangan yang selama ini ia anggap sekadar formalitas, dan untuk pertama kalinya, sesuatu di dalam dirinya mulai mempertanyakan apakah ia masih sanggup menjalani kesepakatan itu sampai akhir, mengetahui bahwa wanita yang akan menjadi istrinya kelak bisa dengan mudah menyakiti seseorang yang begitu berarti baginya, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"Aku harus lebih berhati-hati. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk kau, menghinanya lagi."
Alex menghela napas panjang, mencoba menata kembali topeng ketenangannya yang biasa, meski di dalam dadanya masih menyimpan kobaran yang tidak pernah ia rasakan seintens ini sebelumnya. Ia menekan tombol interkom di mejanya, memanggil Sebastian yang masih menunggu di ruangan sebelah.
Sebastian masuk tak lama kemudian. "Ya, Pak?"
"Suruh Lauren Varles dari divisi administrasi ke ruang kerjaku sebelum dia pulang hari ini," kata Alex, suaranya kembali datar dan terkendali, meski matanya masih menyimpan bara yang belum sepenuhnya padam. "Ada yang perlu kubicarakan dengannya."
Sebastian sedikit terkejut mendengar instruksi yang tidak biasa itu, tapi terlalu profesional untuk bertanya lebih jauh. "Baik, Pak. Akan saya sampaikan lewat divisinya."
Alex mengangguk sekali, kembali menatap kota di luar jendela, menunggu dengan kesabaran yang mulai terasa asing baginya sendiri.
*******
Baru saja Lauren mulai fokus mengetik ulang laporan yang tertunda, seorang staf dari divisi sekretariat mendekati mejanya, memberi isyarat sopan agar Lauren berhenti sejenak.
"Lauren? Pak Sebastian minta kau ke ruang kerja Pak Alex di lantai tiga puluh delapan sebelum jam pulang," kata staf itu, tersenyum formal sebelum berlalu, tidak memberi penjelasan lebih jauh selain itu.
Lauren duduk terpaku sejenak, jarinya berhenti di atas keyboard.
"Kenapa lagi sekarang?" pikirnya, dahinya berkerut. "Aku baru saja duduk. Kenapa harus berurutan begini, tidak bisa diselang-seling dengan hari lain saja?"
Ia melirik jam di sudut layar komputernya, menghitung berapa jam lagi sampai waktu pulang, mencoba mencari alasan untuk menunda meski tahu betul menunda panggilan semacam ini bukan pilihan yang bijak.
"Ada apa lagi ini? Apa soal pekerjaan? Atau ada masalah dengan salah satu dokumen yang kuurus?"
Ia mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang masuk akal, apa pun yang berhubungan dengan pekerjaan administratifnya, sengaja menjauhkan pikirannya dari bayangan meja makan lantai empat puluh dan kalimat-kalimat tajam Zara yang sempat menghantuinya sepanjang siang. Ia sudah cukup lelah memikirkan itu, dan sekarang ada urusan lain yang harus ia hadapi, urusan yang entah kenapa terasa jauh lebih menegangkan justru karena datangnya langsung dari atasannya sendiri.
Lauren berdiri perlahan, merapikan blazernya, mencoba menenangkan diri sebisa mungkin sebelum melangkah menuju lift.
Della yang sempat melirik dari meja sebelah hanya mengangkat alis, tapi tidak sempat bertanya apa-apa karena Lauren sudah lebih dulu melangkah pergi, tidak ingin memberi ruang untuk pertanyaan lain yang harus ia jawab dengan kebohongan lagi.
Di dalam lift, sendirian, Lauren menatap pantulan dirinya di pintu logam mengilap, mencoba menebak-nebak apa yang menantinya kali ini.
Berbeda dari panggilan tak terduga hari pertama kerja yang berujung makan malam di kediaman pribadi Alex, kali ini terasa lebih formal, lebih resmi, dipanggil langsung lewat sekretarisnya sendiri.
"Mungkin memang cuma urusan kerja," pikirnya, mencoba meyakinkan diri sendiri, meski jauh di dalam hatinya ia tahu betul, tidak ada satu pun hal yang berhubungan dengan Alex yang benar-benar terasa sesederhana itu.
Lift berhenti di lantai tiga puluh delapan. Pintu terbuka, menampilkan lorong sunyi yang mulai terasa familiar baginya, meski kegugupan yang menyertainya setiap kali melangkah ke lantai ini tidak pernah benar-benar hilang.
Sebastian sudah menunggu di depan pintu ruang kerja Alex, membukakannya begitu melihat Lauren mendekat. "Silakan masuk, Pak Alex sudah menunggu."
Lauren melangkah masuk dengan jantung berdebar, mendapati Alex berdiri di dekat jendela, punggungnya membelakangi pintu, sosoknya diterangi cahaya senja yang mulai memudar di luar sana. Pintu tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan mereka berdua sendirian.
"Kau memanggilku?" tanya Lauren, suaranya dijaga tenang meski hatinya masih dipenuhi tanda tanya.
Alex berbalik perlahan, matanya yang biru menatap lurus ke arah Lauren, dan untuk sesaat, Lauren melihat sesuatu di balik tatapan itu yang jarang sekali ia lihat sebelumnya, sesuatu yang jauh lebih intens dari ketenangan dingin yang biasa Alex tunjukkan.
"Aku dengar soal makan siangmu dengan Zara," kata Alex langsung, tanpa basa-basi.
Lauren membeku sejenak, tidak menyangka topik itu yang akan dibahas. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Itu tidak penting," jawab Alex, melangkah mendekat, tangannya masih terselip di saku celana.