NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##03

Fajar menyingsing di atas cakrawala Kota London dengan pendar keemasan yang dingin, menyusup perlahan melalui celah-celah tirai beludru tebal di kamar pengantin Istana Buckingham.

Cahaya pagi itu jatuh lembut di atas sprei sutra yang masih teratur kaku, membiaskan debu-debu halus yang menari dalam keheningan yang amat pekat.

Di atas sofa kulit di sudut ruangan, Baxeena meringkuk dengan gaun pengantin yang telah lusuh dan kusut, tertidur dalam lelah emosional yang melahap seluruh sisa tenaganya semalaman.

Sebuah bayangan tinggi menjulang menghalangi terpaan sinar matahari yang hinggap di wajah Baxeena.

"Xeena, bangun."

Suara itu datang bagai ketukan datar yang dingin, tidak memiliki ritme kehangatan, namun cukup kuat untuk mengusik lelapnya.

"Kita harus ada di meja makan sebelum seluruh keluarga berkumpul."

Baxeena menggosok matanya perlahan, mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi. "Nghh..., apa sudah pagi?" gumamnya dengan nada manis dan serak khas bangun tidur—sebuah gestur manja yang refleks keluar karena ia mengira tangan halus ibunya yang baru saja membangunkan jiwanya dari lelap.

Namun, hanya dalam sekejap mata, realita menghantamnya bagai godam besi.

Pandangannya langsung fokus pada sosok pria yang berdiri tegap di hadapannya. Alistair berdiri kaku dalam balutan kemeja kasmir abu-abu gelap yang rapi, garis wajahnya sekeras ukiran batu granit.

Kesadaran Baxeena pulih sepenuhnya. Detik itu juga, ekspresi lembut di paras cantiknya lenyap tanpa sisa, digantikan oleh topeng es yang kaku dan tajam.

Baxeena menegakkan duduknya, merapikan gaun kusutnya dengan gerakan canggung namun berusaha tetap anggun. "Apa sudah pagi? Apa waktunya aku harus mandi?" tanyanya dingin, menyapu bersih sisa nada lembut dalam suaranya tadi.

Alistair mengangguk datar, tanpa ada lipatan emosi di matanya. "Mandi dan kita harus turun. Di meja makan nanti... kumohon bersikap baiklah dengan putriku. Soal dia menguncimu semalam—aku akan meminta penasihat kerajaan untuk mendidiknya."

Langkah Baxeena yang hendak menuju pintu kamar mandi mendadak terhenti. Ia memutar sedikit kepalanya, tidak menatap langsung ke arah Alistair, melainkan menembus cermin besar yang memantulkan bayangan mereka berdua.

"Tidak perlu," jawab Baxeena tajam dan sengit. "Aku bisa mengatasinya."

Alistair menatap siluet istrinya dari belakang. Ada jeda sejenak sebelum pria itu kembali bersuara, masih dengan nada rendahnya yang tenang. "Apa kau akan marah jika melihat wajahnya nanti?"

Baxeena mendengus pelan, sebuah tawa sunyi yang sarat akan cemoohan pada nasibnya sendiri.

"Aku hanya membencimu," sahut Baxeena tanpa keraguan sedikit pun, suaranya menusuk hampa. "Dan aku tidak peduli dengan wajah putrimu. Tidak ada kaitannya dengan kebencianku padamu belasan tahun yang lalu. Menyingkir dariku."

Tanpa menunggu balasan, Baxeena melangkah lebar memasuki kamar mandi, menutup pintu jati yang tebal itu hingga terdengar bunyi klik yang mengunci rapat keberadaannya dari sang suami.

***

Keheningan kembali menguasai kamar luas itu. Namun, di luar dugaan, begitu pintu kamar mandi tertutup rapat, ketegangan pada bahu tegap Alistair perlahan meluruh.

Pria yang dikenal sebagai perwira militer tanpa belas kasihan di garis depan itu menghela napas panjang. Garis-garis kaku di wajahnya mengendur. Dan dari bibir yang biasanya rapat dan tak pernah mengumbar emosi itu, terbit sebuah senyuman.

Bukan senyuman sinis atau dingin, melainkan senyuman yang teramat manis, ringan, dan penuh dengan kehangatan tersembunyi—seolah beban berkuintal-kuintal yang meremukkan pundaknya selama bertahun-tahun mendadak diangkat begitu saja.

Perkataan datar dan dingin dari Baxeena tadi justru menjadi penawar bagi dahaga jiwanya yang telah mati rasa selama belasan tahun. Bagi Alistair, amarah Baxeena adalah bukti bahwa wanita itu masih merasakannya; bahwa kehadiran Alistair masih memberi dampak pada dada wanita itu, betapapun bentuknya adalah kebencian.

"Aku merindukanmu... Amore," bisik Alistair amat pelan pada ruangan hampa.

Kata pamungkas dalam bahasa Italia yang dulu sering ia bisikkan di telinga Baxeena saat mereka masih menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai.

Sambil menunggu Baxeena bersiap, Alistair berjalan menuju jendela besar, menatap hamparan taman istana yang mulai dibasahi embun pagi. Ingatan kepalanya berputar mundur ke beberapa minggu lalu, di dalam ruang kerja tertutup milik ibunya, Ratu Lizzeebeeth.

Hari itu, Alistair siap menerima takdirnya untuk dijodohkan dengan wanita asing manapun demi stabilitas dinasti. Namun, ketika Ratu Lizzeebeeth meletakkan sebuah berkas berstempel emas di atas meja dan menyebut satu nama yang tak pernah absen dari harapan setiap malam...

"Wanita yang akan kau nikahi adalah putri dari Austin Jaxon Valerio-Desmon... Baxeena Valerio Desmon."

Detik itu, Alistair ingat betul bagaimana jantungnya serasa berhenti berdetak.

Dunianya yang hampa dan kelam seketika dihantam badai rasa sedih, haru, dan kebahagiaan luar biasa yang tak tertahankan.

Selama empat belas tahun ia hidup bagai mayat bernyawa yang menjalankan kewajiban—menanggung duka dari sebuah kesalahan fatal di masa muda yang merenggut satu-satunya wanita yang ia puja.

Apakah ini kesempatanku? batin Alistair kala itu dengan dada yang bergemuruh hebat. Apakah Tuhan akhirnya memberiku ruang untuk menebus seluruh dosa dan luka yang kuberikan di hatinya?

Cinta itu tidak pernah hilang. Hidup itu tidak pernah padam. Di balik seragam militer yang kaku dan pangkat pangeran yang membebani, Alistair tetaplah pria muda yang sama—pria yang hatinya sepenuhnya milik Baxeena Valerio Desmon, pujaannya yang tak pernah tergantikan oleh siapa pun di muka bumi ini.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Suara langkah kaki yang mantap memecahkan lamunan Alistair. Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Baxeena yang telah terbalut gaun pagi bergaya klasik berwarna krem lembut dengan potongan yang menutup hingga batas leher. Rambut panjangnya disanggul rapi secara sederhana, namun memancarkan aura keanggunan seorang wanita LA kelas atas yang tak terbantahkan.

"Aku sudah siap," kata Baxeena singkat, sama sekali tidak menatap mata suaminya.

Alistair mengangguk, kembali memasang topeng datarnya yang sempurna. "Ayo turun. Keluarga sudah menunggu di ruang makan utama."

Mereka berjalan bersisian menyusuri koridor-koridor panjang istana yang megah. Dinding-dinding berukir emas dan deretan lukisan leluhur kerajaan seolah memperhatikan setiap jengkal jarak yang sengaja dibuat Baxeena di antara tubuh mereka. Tak ada tangan yang saling menggenggam, tak ada pandangan mata yang saling bertaut.

Ketika pintu ganda ruang makan kerajaan dibukakan oleh dua orang pengawal berseragam lengkap, bau aroma kopi segar, roti panggang, dan masakan khas kerajaan langsung menyergap indra penciuman.

Di ujung meja kayu mahoni yang sangat panjang, Ratu Lizzeebeeth duduk anggun memegang cangkir porselennya.

Di sisinya, duduk kedua orang tua Baxeena yang tampak tersenyum lega melihat kedatangan pengantin baru tersebut. Namun, di sudut meja yang lain, suasana terasa jauh lebih membeku.

Seorang gadis remaja berusia tiga belas tahun duduk mengacak-acak makanan di piringnya dengan garpu. Ia mengenakan gaun seragam sekolah berasrama yang rapi, namun garis wajahnya memancarkan penolakan yang amat keras. Rambutnya yang gelap dan manik matanya yang tajam adalah cetakan sempurna dari Alistair.

Dia adalah Philippa Violet Blackwood—anak tunggal Alistair.

"Selamat pagi, anak-anakku," sapa Ratu Lizzeebeeth hangat, suaranya bergema memenuhi ruang makan yang megah itu. "Duduklah. Kita baru saja hendak memulai sarapan."

Alistair menarikkan kursi untuk Baxeena dengan gerakan yang amat sopan dan terlatih sebagai seorang ksatria kerajaan. Baxeena duduk tanpa mengucapkan terima kasih, mempertahankan tatapan lurusnya ke depan.

Tepat saat Baxeena mendudukkan dirinya, suara dentingan garpu yang dihantamkan ke piring porselen terdengar amat nyaring.

Putri Katherine menegakkan punggungnya, menatap Baxeena dengan pandangan penuh permusuhan yang menyala-nyala.

"Ayah," suara gadis 13 tahun itu memecah keheningan meja makan, bernada tinggi dan menantang. "Kenapa wanita dari Los Angeles ini harus duduk di meja utama keluarga kita?"

1
Asriani Rini
Demoga biolet bisa membedakan mama yg tulus dan mana yg jahat
Rosdianah 🌷: benar kaa
total 1 replies
nayla tsaqif
Tp ttp aja,, kamu punya ank dr jalang itu pak ali,, jadinya jijik liat kamu bekas jalang,, harusnya baxee janda dulu biar bekas orang jg,, biar impas😩
Rosdianah 🌷: nah iya lagi, harusnya dibikin janda dulu ya🤣🤣🤭
total 1 replies
Adiba Azahra
Haloooo kak izin mengikuti dan nyimak yaaa dari awal hahaha 🙏😁👍 semangat terus pokok nya 😍👍
Rosdianah 🌷: okay ka🫶
total 3 replies
Mia Camelia
ehmm rencana apa sih yg di bikin violet dan katrine 🤔🤔🤔
Mia Camelia
violet baru nonggol udah pingin jitak aja🤣🤣🤣🤣
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭
nayla tsaqif
AJ besanan ama mantan nih,,, 😌
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!