Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.
Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."
Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:
*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*
Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.
Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.
*Setiap. Kata.*
Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."
Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.
Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.
Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.
Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Om Tua
"Dimengerti."
Steven menutup panggilan dengan wajah serius, dan malam itu PIK villa kembali terasa seperti benteng.
Namun keesokan harinya, benteng itu diserang oleh seorang kakek berkaus oblong.
Aku sedang turun dari mobil di depan sebuah kopitiam kecil di Kemang ketika pria tua itu tiba-tiba muncul dari sisi jalan, memegang dada, lalu jatuh tepat di depan langkahku.
"Aduh! Kaki saya!"
Aku membeku.
Anto langsung bergerak, tapi Reynard mengangkat tangan, menahannya.
Pria tua itu mengerang berlebihan. Rambutnya putih berantakan, sandal jepitnya beda warna, dan ekspresinya terlalu dramatis untuk orang yang baru jatuh tiga sentimeter dari trotoar.
[Pemindaian.]
[Leo Hartawan.]
[Status: dokter, ahli bela diri, guru Reynard.]
[Catatan: sedang mengetes Host.]
Oh.
Jadi ini bukan korban kecelakaan. Ini ujian masuk keluarga aneh.
Aku berjongkok. "Om, bagian mana yang sakit?"
"Semuanya. Terutama harga diri."
Aku hampir tertawa.
"Kalau harga diri yang sakit, obatnya mahal."
Pria itu membuka satu mata. "Kau tidak panik?"
"Harusnya panik?"
"Biasanya menantu konglomerat langsung teriak."
"Saya masih hemat tenaga."
Ia duduk tiba-tiba, sehat walafiat. "Menarik."
Reynard menghela napas. "Om Leo."
Jadi ini Leo Hartawan.
Om Tua versi resmi.
Leo berdiri sambil menepuk celana. "Istrimu lumayan. Tidak bodoh."
"Terima kasih atas pujian setengah hati," kataku.
Leo tertawa keras. "Aku suka dia."
Kopitiam itu ternyata miliknya. Di dalam, aroma kopi tubruk, roti bakar, dan obat herbal bercampur aneh. Leo membawa kami ke ruang belakang yang lebih mirip klinik kecil daripada ruang makan. Ada lemari obat, alat periksa darah, dan foto lama Reynard muda tanpa topeng yang disimpan terbalik di meja.
Aku pura-pura tidak melihat.
Reynard duduk di kursi pemeriksaan tanpa diminta.
Jadi ini rutin.
Leo mengambil sampel darah, memeriksa suhu, denyut nadi, dan beberapa data yang tidak kupahami. Wajahnya yang tadi penuh candaan perlahan berubah.
Semakin diam.
Semakin berat.
[Data Racun Dingin diperbarui.]
[Kerusakan sistem darah: progresif.]
[Pemicu: stres, kelelahan, suhu rendah, emosi ekstrem.]
Aku menggenggam ujung kursi.
Leo melepas sarung tangan. "Kau makin buruk."
Reynard hanya berkata, "Berapa lama?"
Suara itu terlalu tenang.
Aku tidak suka.
Leo menatapnya lama. "Kalau kau terus bekerja seperti sekarang, dua tahun. Mungkin kurang."
Ia menyalakan monitor kecil dan menunjuk grafik yang bagiku terlihat seperti garis-garis jahat. "Suhu tubuhmu turun terlalu cepat kalau stres. Darahmu menggumpal dalam pola yang tidak normal. Obat yang kuberi hanya menahan gejala. Bukan menyembuhkan."
"Aku masih bisa bekerja," kata Reynard.
Leo memukul meja dengan pena. "Kau selalu bisa bekerja. Itu masalahnya. Kau pikir tubuhmu perusahaan? Kalau rusak tinggal restrukturisasi?"
Ia mengambil botol obat dari lemari. "Ini dosis baru. Tidak boleh telat. Tidak boleh dicampur ramuan siapa pun. Kalau ada yang memberimu herbal keluarga lagi, buang."
Rahang Reynard mengeras.
Aku tahu ia memikirkan Bibi Yanti, Veronica, dan semua racun yang selama ini menyamar sebagai perhatian.
Dua tahun.
Udara hilang dari paru-paruku.
Dua tahun?
Misi Si Kepo tiga tahun.
Kalau dia hanya punya dua tahun, bagaimana mungkin aku menyelesaikan apa pun? Bagaimana mungkin aku membuatnya mencintaiku, menyelamatkan jiwaku, dan menyelamatkan dia sekaligus?
Reynard menoleh sedikit.
Ia mendengarku.
Aku terlalu panik untuk sadar.
"Tidak ada pilihan lain?" tanyaku.
Leo menatapku. Kali ini tidak bercanda. "Ada penanganan untuk memperlambat. Tidak ada obat yang kukenal untuk menyembuhkan total."
[Koreksi: penawar tersedia.]
Panel itu muncul seperti cahaya kecil di ruangan gelap.
[Penawar Racun Dingin ada.]
[Syarat: tujuh bahan utama + tingkat keterikatan target tertentu.]
[Bahan pertama terdeteksi dalam database Host: insulin chain stabilizer dari hadiah sebelumnya.]
Aku hampir berteriak.
Jadi insulin bukan hanya untuk Engkong?
Si Kepo, kau licik sekali.
Panel lain menyusul, kecil dan cepat.
[Kesesuaian bahan pertama: 12 persen.]
[Akses penuh memerlukan penggunaan pada pasien asli dan verifikasi efek stabilisasi.]
Berarti hadiah yang kupakai untuk Antonius bukan jalur samping. Itu kunci pertama. Sistem tidak memberiku hadiah acak. Ia seperti menaruh potongan peta di tanganku, lalu menunggu apakah aku cukup sadar untuk menyambungkannya.
Aku menelan ludah.
Kalau begitu setiap misi kecil bisa berarti hidup Reynard.
Setiap gosip memalukan bisa berubah menjadi bahan obat.
Hidupku sekarang benar-benar dikelola oleh mesin kepo yang menukar aib keluarga dengan peluang bertahan hidup.
"Keira?" Reynard memanggil pelan.
Aku tersadar. Leo dan Reynard sama-sama menatapku.
"Maaf." Aku menarik napas. "Aku hanya berpikir... kalau ada satu dokter yang belum menemukan obat, bukan berarti obatnya tidak ada."
Leo mengangkat alis. "Berani juga."
"Saya keras kepala."
"Bagus. Reynard butuh orang keras kepala."
Leo membuka laci lain dan mengeluarkan map tua. Di sampulnya ada noda kopi, coretan tangan, dan label yang sudah hampir pudar.
"Ini catatan selama sepuluh tahun," katanya. "Setiap serangan, setiap obat yang gagal, setiap orang yang pernah menawarkan ramuan ajaib lalu kabur setelah menerima uang."
Aku membalik satu halaman dengan hati-hati. Ada grafik suhu, daftar gejala, bahkan foto bekas luka kecil di pergelangan tangan Reynard. Ia melihatku membaca, lalu menutup map itu dengan dua jari.
"Tidak perlu lihat semua."
"Kalau aku harus membantumu, aku perlu tahu."
Kalimat itu keluar lebih tegas daripada yang kurencanakan.
Reynard diam.
Leo bersiul pelan. "Bagus. Biasanya dia menakuti orang dengan wajah dingin. Kau malah minta data."
"Wajah dingin tidak bisa mengalahkan spreadsheet."
Untuk pertama kalinya sejak pemeriksaan dimulai, Reynard benar-benar tampak ingin tertawa.
Ia lalu menatapku dari atas kacamata. "Tapi keras kepala saja tidak cukup. Kalau kau mau berdiri di samping bocah ini, kau harus tahu satu hal. Dia tidak akan bilang sakit sampai hampir jatuh. Dia tidak akan minta tolong sampai terlambat. Dan dia punya kebiasaan buruk menganggap nyawanya sendiri sebagai aset perusahaan."
"Om Leo," Reynard memperingatkan.
"Diam. Aku sedang memberi instruksi pada orang yang mungkin lebih bisa mengaturmu daripada aku."
Aku menatap Reynard. Pria itu membuang muka, tapi telinganya sedikit memerah.
Di tengah ketakutan, pemandangan itu hampir lucu.
Reynard menatap Leo dengan wajah datar. "Om Leo."
"Apa? Benar." Leo menunjuk dadanya. "Bocah ini kalau dibiarkan akan mati sambil menandatangani laporan keuangan."
Aku menatap Reynard.
Ia tidak membantah.
Itu yang paling membuatku marah.
Dalam perjalanan pulang, mobil sunyi.
Aku menatap jalan, tapi di kepala angka dua tahun berdetak seperti timer.
[Daftar bahan penawar terkunci sebagian.]
[Bahan pertama: stabilizer insulin, tersedia.]
[Bahan berikutnya akan terbuka sesuai progres misi.]
"Dua tahun," gumamku tanpa sadar.
Reynard menoleh.
Aku langsung menutup mulut.
Terlambat.
Ia tidak bertanya dari mana aku tahu rasa takut itu. Ia hanya menekan tombol kecil di panel mobil, menaikkan suhu kabin dua derajat.
"Kau kedinginan?"
"Tidak."
"Tanganmu dingin."
Aku melihat jariku sendiri. Benar. Tanganku menggenggam tali tas sampai buku jari memucat.
Reynard melepas sarung tangan tipis dari jasnya dan meletakkannya di pangkuanku.
"Pakai."
"Aku tidak sakit."
"Aku juga sering mengatakan itu."
Jawaban itu membuatku kalah total.
Aku memakai sarung tangan itu. Ukurannya kebesaran, aromanya samar seperti cedar dan obat antiseptik. Di luar jendela, Jakarta bergerak seperti biasa. Motor menyalip, pedagang kaki lima membuka tenda, orang-orang membeli kopi tanpa tahu ada dua orang di mobil hitam sedang menghitung waktu hidup masing-masing.
Tiba-tiba aku ingin dunia berhenti sebentar.
Tapi dunia tidak berhenti.
Jadi aku juga tidak boleh.
Malam itu, sebelum tidur, panel Si Kepo berkedip lagi.
[Misi prioritas tambahan: selamatkan target.]
[Catatan: target tidak boleh tahu detail sistem.]
[Petunjuk bahan pertama: stabilitas metabolik sudah pernah Host akses melalui insulin.]
[Petunjuk bahan kedua: akan terbuka setelah tingkat kepercayaan target melewati ambang berikutnya.]
Aku menatap kalimat itu sampai mata perih.
Reynard bisa mati dalam dua tahun.
Aku bisa hilang dalam tiga.
Dan di antara dua hitungan mundur itu, kami bahkan belum tahu apa nama perasaan yang mulai tumbuh.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih