Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.
Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Tim Keamanan
"Empat," katanya pelan. "Berikutnya... ekspansi."
Pagi hari kesembilan kiamat, kata itu berubah menjadi daftar tugas.
Hendry menempelkan peta besar Cluster Pondok Indah dan area dua kilometer di sekitarnya pada dinding ruang tengah. Garis hijau menandai zona aman. Garis kuning menandai area yang sudah dipatroli tetapi belum stabil. Garis merah menandai rute yang tidak boleh dimasuki tanpa perintah.
Jumlah manusia di villa sudah terlalu banyak untuk diatur dengan teriakan spontan.
Hendry, Bagus, Melati, Mawar, Dewi, tiga orang tua non-combat, Raja, dan Nasi. Semua masih bisa makan dari stoknya, tetapi jika satu gerbang terbuka tanpa jadwal, atau satu orang keluar mencari keluarga tanpa izin, seluruh basis bisa runtuh dari celah kecil.
"Mulai sekarang," kata Hendry, "kita pakai shift."
Bagus memegang spidol. "Shift makan juga, Bos?"
Dewi dari dapur menjawab lebih cepat daripada Hendry. "Iya."
Bagus langsung menurunkan spidol sedikit. "Pertanyaan gue dijawab terlalu dingin."
"Keamanan dulu," kata Hendry. "Makanan setelah itu. Kita butuh orang yang bisa jaga perimeter."
Melati melipat tangan. "Berarti cari petarung?"
"Bukan cuma petarung. Orang yang bisa patuh, melapor, dan tidak panik."
Siang itu, Hendry membawa Bagus, Melati, Raja, dan Nasi keluar dari gerbang barat. Mawar tetap di villa dengan Dewi. Tiga orang tua diberi tugas ringan: isi botol air, sortir kain bersih, dan catat siapa yang keluar-masuk. Itu terlihat kecil, tetapi bagi Hendry, basis dimulai dari catatan.
Area luar cluster lebih kasar daripada dua hari sebelumnya.
Warung dan ruko kecil sudah dijarah. Beberapa rumah kontrakan terbuka tanpa penghuni. Di satu gang, ada tulisan arang di tembok: JANGAN MASUK, ADA YANG GIGIT. Bagus membaca itu dan menghela napas.
"Setidaknya sopan. Mereka kasih peringatan."
"Atau umpan," kata Melati.
"Mbak Mel, hidup lu gelap amat."
"Dunia sudah gelap."
Nasi di bahu Hendry tidak menggeram, hanya menatap ke depan dengan mata sempit. Itu cukup bagi Hendry untuk melanjutkan.
Mereka menemukan pom bensin kecil menjelang sore.
Kanopinya miring. Kaca minimarket pecah. Dua pompa bensin dililit rantai. Di depan pintu kantor, lima orang berdiri dengan alat seadanya: pipa besi, kayu, pisau dapur, dan satu tongkat satpam. Di belakang mereka ada galon air, beberapa kardus mi, dan dua perempuan muda yang terlihat terlalu lelah untuk mengangkat senjata.
Pria yang memegang tongkat satpam berdiri paling depan.
Usianya sekitar tiga puluhan. Kulitnya gelap terbakar matahari, rambut pendek, postur tegak. Seragam satpamnya sudah kotor dan robek di lengan, tetapi ia masih memasang peluit di dada dan senter kecil di pinggang. Matanya tidak liar. Ia menghitung jarak, jumlah, senjata, rute kabur.
Fajar Nugroho.
Belum menjadi Awakener.
Tapi posisi kakinya benar.
"Berhenti di sana," kata Fajar.
Bagus mengangkat tangan. "Santai, Pak. Kita bukan penjarah."
"Penjarah juga biasa mulai dengan kalimat begitu."
Bagus melirik Hendry. "Kok semua orang pakai jawaban yang sama ke kita?"
"Karena masuk akal," kata Hendry.
Fajar menatap Hendry. "Siapa pemimpinnya?"
"Gue."
"Nama?"
"Hendry Wijaya."
Beberapa orang di belakang Fajar saling pandang ketika mendengar nama Wijaya. Di masa damai, nama itu berarti uang. Di hari kesembilan kiamat, nama itu belum berarti keselamatan.
Fajar tidak menunduk. "Tujuan?"
"Perimeter. Rekrutmen. Pertukaran informasi."
"Kami tidak punya banyak barang untuk ditukar."
"Gue tidak butuh barang lu."
Hendry mengangkat tangan. Dari Ruang Dimensi, ia mengeluarkan satu dus air mineral, sekantong beras kecil, dua kaleng makanan, dan satu kotak P3K. Barang-barang itu jatuh rapi di aspal antara mereka.
Orang-orang di belakang Fajar menahan napas.
Fajar tidak mengambilnya.
Itu membuat Hendry lebih puas.
"Kalau itu jebakan?" tanya Fajar.
"Lu pintar," kata Hendry. "Makanya gue bicara dengan lu."
Melati hampir tersenyum.
Fajar menatap dus air, lalu Raja, lalu Nasi, lalu kembali ke Hendry. "Apa syaratnya?"
"Gabung ke zona aman gue. Lu jadi kepala keamanan. Tiga orang yang masih kuat ikut jadwal patroli. Dua yang lemah masuk logistik ringan. Makan dibagi, kerja dicatat, keluar-masuk pakai izin. Kalau ada yang mencuri, menyerang anggota, atau membuka gerbang tanpa perintah, gue hukum."
Salah satu pria di belakang Fajar berkata, "Jadi kami jadi bawahan?"
Hendry menatapnya. "Ya."
Jawaban itu memotong semua basa-basi.
Pria itu marah. "Enak banget ngomongnya."
Fajar mengangkat tangan, membuatnya diam.
"Kalau ikut, siapa yang jamin kami tidak dijadikan umpan?"
Hendry menunjuk peta kecil yang ia bawa. "Lu lihat sendiri jalur patrolinya. Orang baru tidak ditaruh depan sampai diuji. Dewi di villa punya dapur. Mawar punya kemampuan penyembuh. Bagus dan Melati petarung utama. Raja patroli malam. Nasi peringatan dini."
Nasi mengeong datar, seolah menganggap perkenalan itu kurang megah.
Fajar akhirnya mengambil satu botol air, membuka tutupnya, lalu menyerahkannya pada perempuan muda di belakang, bukan diminum sendiri.
Hendry melihat itu.
Keputusan selesai.
"Pak Fajar," kata perempuan itu pelan, "kita sudah dua hari cuma minum setengah gelas."
Fajar menutup mata sebentar. Saat membukanya lagi, suaranya tetap stabil.
"Saya ikut. Tapi lima orang ini ikut juga."
"Itu sudah gue bilang."
"Saya perlu lihat tempatnya."
"Lu akan lihat. Bawa barang yang penting. Tinggalkan yang berat."
Fajar mengangguk. "Dua menit."
Ia benar-benar butuh dua menit.
Tidak lebih.
Kardus dipilih. Air dibagi. Orang lemah ditempatkan di tengah. Pipa besi diberi ke orang yang tangannya tidak gemetar. Rute keluar ditentukan tanpa panik.
Bagus berbisik, "Bos, yang ini rapi."
"Karena itu dia kita bawa."
Di tengah perjalanan pulang, radio Hendry berbunyi.
Suara yang masuk agak kasar, bercampur deru mesin.
"Pak Hendry? Ini Yanto. Nomor Bapak masih hidup, berarti Bapak juga masih hidup, ya?"
Hendry menekan tombol. "Posisi?"
"Dekat jalan masuk Pondok Indah. Saya bawa truk kecil. Colt Diesel modif seadanya. Ada tiga drum solar, dongkrak, tali baja, beberapa kunci, sama ban cadangan. Tapi di depan banyak mayat jalan. Kalau Bapak masih butuh sopir, saya butuh pintu masuk yang tidak bikin saya jadi sate."
Bagus langsung tertawa. "Gue suka orang ini."
Hendry menjawab, "Tunggu di jalan servis timur. Jangan bunyikan klakson. Kami jemput."
"Siap, Pak. Klakson saya tahan. Jantung saya belum tentu."
Yanto Pratama datang tiga puluh menit kemudian.
Truk kuning kusam itu masuk lewat jalan servis dengan mesin berat tertahan. Bagian depannya dilapisi besi bekas pagar. Kaca samping ditempeli jaring kawat. Di bak belakang, tiga drum solar diikat tali, bersama kotak alat, ban, selang, dan beberapa jeriken kosong.
Yanto turun dari kabin, topi lusuh di kepala, kausnya penuh oli.
Ia melihat Raja.
Raja melihat dia.
Yanto menelan ludah. "Pak, itu anjing Bapak atau komandan lapangan?"
"Dua-duanya," kata Bagus.
Yanto mengangguk pelan. "Baik. Saya akan sopan."
Hendry menunjuk truk. "Masih kuat jalan?"
"Kalau jalannya tidak kebanyakan zombie gemuk, kuat. Rem agak panjang, mesin panas kalau dipaksa, tapi baknya bisa angkut barang atau orang. Solar tiga drum penuh. Saya ambil sebelum gudang dibakar orang."
"Syarat gabung sama seperti yang lain. Kerja, makan, patuh aturan."
Yanto melihat gerbang, orang-orang di dalam, lalu truknya sendiri. "Saya sudah hidup dari jalan, Pak. Aturan yang bikin orang tidak saling makan, saya ikut."
"Mulai sekarang lu pegang kendaraan dan transport."
"Siap, Bos." Ia berhenti, lalu mengangkat alis. "Boleh panggil Bos, kan? Di jalan, orang yang punya solar biasanya Bos."
"Boleh."
Malam itu, ruang tengah villa berubah menjadi pos komando kecil.
Fajar berdiri di depan peta, bukan duduk. Hendry memberinya spidol hitam.
"Empat sudut cluster," kata Hendry. "Butuh patrol."
Fajar melihat peta kurang dari satu menit. "Utara rawan karena rumah besar banyak blind spot. Barat ada akses ruko. Timur lebih bersih tapi terlalu dekat jalan servis. Selatan bekas api, bau masih menarik zombie."
Bagus menepuk pundak Fajar. "Pak Fajar, lu baru datang tapi sudah bikin gue merasa selama ini gue cuma jalan-jalan."
Fajar tidak tersenyum. "Jalan-jalan bersenjata tetap lebih baik daripada diam."
"Mantap. Dingin."
Hendry menetapkan struktur awal malam itu.
Fajar menjadi kepala keamanan. Tiga penyintas yang cukup kuat masuk regu patroli. Dua penyintas lemah membantu Dewi dan Mawar. Yanto memegang kendaraan, solar, perbaikan, dan rute angkut. Bagus tetap pemukul utama. Melati menjadi respons cepat api. Mawar medis. Dewi dapur. Raja patroli malam. Nasi peringatan dini.
Untuk pertama kalinya, villa itu tidak terasa seperti kumpulan orang selamat.
Ia mulai terasa seperti organisasi.
Menjelang tengah malam, Fajar ikut patroli pertama dengan dua orangnya, Bagus, dan Raja. Hendry mengawasi dari atap, siap memakai Void Walk jika ada bahaya.
Patroli itu kembali dua puluh menit lebih cepat dari jadwal.
Fajar tidak berlari, tetapi langkahnya cepat. Wajahnya tetap tenang, hanya matanya lebih keras.
"Laporan, Bos."
Hendry turun dari atap. "Bicara."
"Di jalan barat luar cluster, sekitar lima ratus meter dari ruko, ada roadblock. Mobil dibalik, pagar besi, karung pasir, dan tali paku. Bukan kerja zombie."
Nasi di bahu Mawar langsung menggeram ke arah barat.
Raja juga menoleh.
Fajar melanjutkan, "Di belakang roadblock, saya lihat cahaya kecil dari satu villa besar. Ada penjaga. Minimal tiga puluh orang. Beberapa bawa parang, ada yang pegang senapan angin atau senjata rakitan. Mereka punya pola jaga."
Bagus mengencangkan genggaman pada linggis. "Kelompok manusia."
"Ada satu hal lagi," kata Fajar.
Hendry diam.
"Saya dengar suara dari pengeras kecil. Pria. Dia bicara, lalu dua orang yang sedang berjaga langsung bergerak serempak seperti disuruh tarik tali. Bukan disiplin biasa. Mata mereka kosong beberapa detik."
Udara ruang tengah berubah dingin.
Melati menatap Hendry. "Kontrol?"
Hendry melihat peta.
Lingkaran merah dari malam sebelumnya seolah menunggu disentuh.
Bintang Setiabudi.
Ia mengambil spidol dan menebalkan titik di barat luar cluster.
"Besok," kata Hendry, "kita lihat benteng itu dari dekat."