NovelToon NovelToon
Dua Kali Jatuh Cinta

Dua Kali Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: SAIDA VALE

Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.

Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.

"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Badai di Ruang Lelang

Gedung pusat Baskoro Corp siang itu dipenuhi oleh ketegangan yang pekat. Puluhan wartawan ekonomi dan perwakilan dari berbagai perusahaan raksasa telah berkumpul di aula konferensi utama lantai dua puluh. Hari ini adalah hari penentuan apakah perusahaan yang sempat diguncang isu miring itu akan mendapatkan penyelamat, atau justru jatuh ke dalam jurang kebangkrutan.

Di dalam ruang tunggu VIP, Baskoro berjalan mondar-mandir dengan wajah kusut. Di sebelahnya, Elena terus meremas saputangan dengan cemas.

"Baskoro, apakah kamu yakin semuanya akan lancar?" tanya Elena dengan suara bergetar. "Bagaimana jika investor dari luar tidak ada yang tertarik dengan sepuluh persen saham kita?"

"Diamlah, Elena! Kepalaku sudah mau pecah!" bentak Baskoro kasar, membuat Elena tersentak. Pria itu merapikan jasnya dengan gusar. "Hendra sudah hancur di penjara, tapi untungnya saham simpanan ini masih berharga tinggi. Selama kita mendapatkan suntikan dana segar siang ini, posisi kita akan kembali aman."

Tepat pukul satu siang, pintu aula lelang dibuka. Baskoro dan Elena melangkah masuk, mencoba memasang wajah percaya diri di depan para investor dan kilatan kamera wartawan. Baskoro duduk di podium utama, memimpin jalannya pelelangan saham darurat sebesar sepuluh percent tersebut.

"Selamat siang, para hadirin sekalian. Kita akan membuka penawaran untuk sepuluh persen saham simpanan Baskoro Corp dimulai dari harga dasar seratus miliar rupiah," ucap sang kurator lelang di samping Baskoro.

Satu per satu perusahaan mulai mengangkat papan penawaran mereka.

"Seratus sepuluh miliar dari Mega Artha Group!"

"Seratus dua puluh miliar dari Sinar Mandiri Corp!"

Baskoro mulai tersenyum lega melihat angka yang terus merangkak naik. Namun, senyuman itu tidak bertahan lama ketika sebuah suara bariton yang berat dan penuh wibawa terdengar dari arah pintu masuk aula, memotong jalannya interaksi.

"Dua ratus miliar."

Seluruh orang di dalam ruangan seketika menoleh ke arah sumber suara. Keheningan yang mencekam langsung merayap.

Di ambang pintu, Reynald melangkah masuk dengan aura dominasi yang luar biasa pekat, mengenakan setelan jas hitamnya yang legendaris. Namun, yang paling mengejutkan seluruh hadirin—terutama Baskoro dan Elena—adalah sosok wanita yang menggandeng lengan Reynald dengan begitu anggun.

Chelsea Latief.

Nadia melangkah masuk dengan gaun kerja formal berwarna merah marun gelap dan sepatu hak tinggi yang mengetuk lantai dengan ritme yang konstan dan mengintimidasi. Sorot matanya yang tajam langsung mengunci wajah Baskoro yang seketika berubah pucat pasi.

"T-Tuan Reynald? Nona Chelsea?!" kurator lelang sampai terbata-bata karena terkejut melihat kedatangan penguasa bisnis nomor satu di kota itu.

Baskoro langsung berdiri dari kursinya, menatap Chelsea dengan tatapan penuh dendam sekaligus ketakutan. "Reynald! Apa maksud Anda? Reynald Group sejak awal tidak terdaftar sebagai peserta lelang ini!"

Reynald menghentikan langkahnya di tengah ruangan, lalu menatap Baskoro dengan pandangan meremehkan. "Aku memang bukan peserta lelangnya, Tuan Baskoro. Peserta aslinya adalah tunanganku, pemilik sah dari seluruh aset keluarga Latief."

Nadia melepaskan gandengannya dari Reynald, lalu melangkah maju beberapa tapak ke depan podium. Ia menatap Baskoro dan Elena bergantian dengan senyuman miring yang penuh kemenangan.

"Dua ratus miliar rupiah secara tunai, Tuan Baskoro," ucap Nadia, suaranya terdengar jernih dan bergaung di seluruh penjuru aula. "Apakah ada di antara hadirin di sini yang ingin menawar lebih tinggi dari harga yang saya ajukan?"

Seluruh perwakilan perusahaan lain di dalam ruangan langsung menurunkan papan penawaran mereka dan saling berbisik panik. Menantang Chelsea Latief berarti menantang Reynald Group yang berdiri tegak di belakangnya. Tidak ada satu pun orang yang cukup gila untuk mencari masalah dengan Reynald.

"Chelsea! Apa-apaan kamu?!" bentak Elena, tidak bisa menahan emosinya lagi hingga mengabaikan keberadaan wartawan. "Kamu sengaja ingin menghancurkan kami?!"

Nadia menaikkan sebelah alisnya, menatap Elena dengan pandangan sedingin es. "Menghancurkan kalian? Oh, tidak, Nona Elena. Saya justru sedang menyelamatkan perusahaan ini dari tangan orang-orang yang tidak berkompeten seperti kalian. Kurator... apakah ada penawaran lain?"

Kurator lelang melirik cemas ke arah Baskoro yang kini mengepalkan tangannya hingga gemetar hebat. Karena tidak ada penawaran lain yang masuk, sang kurator terpaksa mengetuk palunya.

Tok! Tok! Tok!

"Sepuluh persen saham simpanan Baskoro Corp secara resmi jatuh ke tangan Nona Chelsea Latief!"

Suara ketukan palu itu terdengar seperti lonceng kematian di telinga Baskoro. Dengan sepuluh persen saham itu, Chelsea bukan lagi sekadar orang luar. Dia sekarang adalah salah satu pemilik saham terbesar yang memiliki hak suara mutlak dan kursi resmi di dalam jajaran dewan direksi perusahaannya sendiri.

Para jurnalis langsung merangsek maju, menghujani Chelsea dengan kilatan lampu kamera dan berbagai pertanyaan. Namun, dengan pengawalan ketat dari Barra dan tim keamanan Reynald, Nadia berhasil melangkah melewati kerumunan tersebut dengan tenang.

Ia berhenti tepat di depan Baskoro yang masih mematung di atas podium. Nadia mencondongkan tubuhnya sedikit, berbisik dengan nada yang teramat dingin di depan wajah mantan kekasihnya itu.

"Ini baru awal, Baskoro," bisik Nadia, matanya berkilat penuh dendam masa lalu yang membara. "Mulai besok, aku akan duduk di ruangan dewan direksi. Dan aku akan memastikan setiap jengkal busuk dari kejahatanmu di perusahaan ini akan kuungkap sampai ke akar-akarnya. Selamat datang di nerakamu yang baru."

Baskoro menatap mata Chelsea yang begitu dekat dengan wajahnya. Untuk kedua kalinya, rasa ngeri yang luar biasa mencengkeram batinnya. Sorot mata itu, keberanian itu, dan taktik kejam itu... sangat persis dengan mendiang Nadia Kirana.

Nadia kemudian berbalik, kembali menggandeng lengan Reynald yang tersenyum miring penuh kepuasan, lalu melangkah keluar dari aula lelang dengan kepala tegak. Di dalam ruangan yang mulai riuh tersebut, Baskoro jatuh terduduk di kursinya dengan tatapan kosong, menyadari bahwa badai kehancurannya telah resmi dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!