"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"
Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.
Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.
Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dua bulan di dalam château tersembunyi di pedalaman Loire Valley memberikan perlindungan bagi Emma. Namun, malam itu, Paris dan wilayah pinggirannya dihantam oleh badai salju paling ekstrem dalam dekade ini. Angin menderu kasar, melemparkan butiran es tebal ke dinding kaca château, sementara suhu di luar merosot tajam hingga di bawah minus lima derajat Celsius.
Di dalam kamar medis yang hangat, Emma mendadak terbangun dengan sentakan hebat. Usia kandungannya baru saja menyentuh minggu ke-36.
Sebuah sensasi pecah yang aneh terjadi di dalam perut bawahnya, disusul oleh aliran cairan hangat yang membasahi permukaan ranjang. Emma terpaku, matanya melebar dalam kegelapan.
"Ah tidak, belum waktunya," bisik Emma, suaranya bergetar.
Ia mencoba bangkit, namun gelombang rasa sakit yang luar biasa dahsyat langsung memotong napasnya.
"Xavier!"
Pintu kamar segera terbuka. Xavier yang malam itu berjaga di ruang pantau langsung melangkah cepat masuk, diikuti oleh Dr. Chantal yang memang tinggal di château sejak kepindahan mereka.
"Emma? Ada apa?"
Xavier mendekat dan meraih tangan Emma yang seketika mencengkeram jemarinya dengan kekuatan penuh.
"Air ketubanku pecah, Xavier," ringkih Emma.
Butiran keringat dingin mulai bermunculan di keningnya meskipun ruangan itu hangat.
Dr. Chantal dengan cekatan menyingkap selimut dan melakukan pemeriksaan cepat. Wajah dokter senior itu langsung berubah amat serius.
"Pembukaannya sudah lengkap, Mademoiselle Emma. Bayi-bayi ini harus keluar sekarang, tetapi ada masalah besar."
"Masalah apa, Dokter?" tanya Xavier, suaranya tetap tenang meski sorot matanya menajam.
"Detak jantung bayi kedua melambat dan posisinya sungsang. Kakinya berada di bawah," jawab Dr. Chantal sembari menyiapkan peralatan medis darurat.
"Badai salju di luar memutus jalur listrik utama dan generator cadangan kita hanya bertahan beberapa jam. Kita tidak bisa membawa Emma ke rumah sakit pusat Paris dalam kondisi badai lumpuh seperti ini. Persalinan ini harus dilakukan secara normal di sini dan ini sangat bertaruh nyawa."
Emma memandang Xavier dengan tatapan penuh ketakutan.
"Xavier, selamatkan anak-anakku. Jika terjadi sesuatu biarkan aku mati, tapi selamatkan mereka!"
"Jaga bicaramu, Emma!" potong Xavier tegas.
Ia merapatkan tubuhnya di sisi ranjang dan menggenggam kedua tangan Emma dan mengunci pandangan wanita itu dengan sepasang mata elangnya yang kokoh.
"Kamu tidak akan mati dan anak-anakmu akan lahir dengan selamat. Aku akan berada di sini."
"Tapi aku takut, Xavier, sakit sekali," isak Emma saat gelombang kontraksi berikutnya menghantam dan membuat tubuhnya melengkung di atas ranjang.
"Tarik napas, Emma! Lihat aku!" seru Xavier.
"Pria yang menghancurkanmu tidak ada di sini. Kamulah yang memegang kendali atas hidupmu sekarang. Dorong mereka keluar dengan seluruh rasa sakit yang pernah kamu simpan!"
"Mademoiselle Emma, saat saya bilang dorong, ambil napas dalam dan dorong sekuat tenaga!" perintah Dr. Chantal, posisinya sudah bersiap di ujung ranjang.
"Sekarang! Dorong!"
"Arghhh!"
Emma berteriak dan urat-urat di leher dan lengannya menegang hebat. Wajahnya memerah dan seluruh tenaganya dikerahkan untuk mendorong bayi pertama. Cengkeraman tangannya pada telapak tangan Xavier begitu kuat hingga hampir mematahkan jari pria itu, namun Xavier tidak melepaskannya sedikit pun.
Pria itu terus membisikkan kata-kata penguat tepat di samping telinga Emma dan menggantikan sosok ayah dan pelindung yang seharusnya berada di sana.
"Bagus, Emma! Terus! Kepala bayi pertama sudah terlihat!" seru Dr. Chantal memberi semangat.
"Aku tidak kuat, Xavier, aku lelah," rintih Emma dengan napas yang putus-putus.
Keringat dan air mata menyatu di wajahnya yang tirus.
"Kamu adalah Emma Ellis, Flossie. Kamu wanita terkuat yang pernah kutemui," bisik Xavier.
"Satu dorongan lagi demi putra kecilmu. Dorong, Emma!"
Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Emma memejamkan mata rapat-rapat dan memberikan dorongan panjang yang menyakitkan.
Suara tangisan melengking yang pertama pecah dan memotong deru angin badai salju di luar dinding château. Dr. Chantal dengan cepat memotong tali pusat dan menyerahkan bayi laki-laki yang menangis kuat itu kepada perawat.
"Putramu lahir, Emma! Dia tampan dan sangat sehat!" ujar Dr. Chantal.
Namun, senyumnya tidak bertahan lama. "Jangan lengang! Bayi kedua sungsang da dan posisinya semakin menjepit tali pusat. Emma, Anda harus mendorongnya sekarang juga atau dia akan kehabisan oksigen!"
Rasa sakit yang belum sempat reda kembali menghantam dengan intensitas dua kali lipat. Emma mengerang histeris saat Dr. Chantal terpaksa melakukan manuver fisik secara manual untuk memutar posisi kaki bayi di dalam rahimnya.
"Xavier! Sakit! Ini terlalu sakit!" jerit Emma.
Air matanya mengalir deras dan tubuhnya gemetar hebat di ambang batas kesadaran.
Xavier menyeka keringat di dahi Emma dengan jemarinya dan matanya menatap wanita itu dengan kehangatan yang belum pernah dia tunjukkan pada siapa pun.
"Tatap mataku, Emma. Ini adalah rasa sakit terakhir yang harus kamu lalui. Setelah malam ini tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyakitimu lagi. Bawa putrimu keluar ke dunia ini!"
Emma menatap sepasang mata elang Xavier yang tidak goyah sedikit pun di tengah badai. Kata-kata pria itu seolah menyuntikkan energi magis ke dalam aliran darahnya.
Bayangan wajah Alfie yang mencemoohnya dan wajah Willa yang mengusirnya di malam badai, semuanya berputar menjadi bahan bakar kemarahan yang luar biasa.
"Arghhhhhhh!"
Emma berteriak dengan lengkingan panjang dan mengerahkan seluruh sisa hidup dan jiwanya ke dalam satu dorongan terakhir yang memutus seluruh mata rantai penderitaannya di masa lalu.
Ruangan itu mendadak hening sesaat dan hanya menyisakan deru napas Emma yang tersengal-sengal di atas bantal.
Suara tangisan kedua yang lebih cempreng namun tak kalah kuat menggema di dalam kamar medis dan memecah keheningan malam yang membeku.
Dr. Chantal mengangkat bayi perempuan kecil yang jelita dengan air mata haru di matanya.
"Pasangan yang sempurna, Emma. Sepasang anak kembar, laki-laki dan perempuan terlahir dengan selamat dan sangat sehat."