NovelToon NovelToon
Di Bawah Lampu Operasi

Di Bawah Lampu Operasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Starry Light

Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.

Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.

Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.

Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan

Di ruang kerjanya. Devan sedang melihat sketchbook Savira yang jatuh di sofa saat gadis itu tidur di ruangannya kemarin. Jemarinya mengelus setiap guratan pensil, membentuk desain indah dan sempurna.

Ia bisa merasakan, jika setiap coretan pensil itu di buat dengan sepenuh hati dan dedikasi. Devan membuka lembar halaman berikutnya, sampai di halaman terakhir.

Sejenak ia memperhatikan gambar halaman terakhir dengan seksama. Lama. Gaun pengantin. Dengan detail bordir bunga sepatu warna merah. Setiap kelopak diarsir hati-hati, seakan sang pembuat takut, salah satu garis bikin bunga layu.

Devan mencoba memahami dan menyelami hati Savira lewat gambar-gambar indah di sketchbook di tangannya. Lewat guratan pensil yang lebih jujur dari kata-kata.

Apakah keindahan ini yang selama ini Savira kubur dengan gempuran jaga 36 jam? Laporan rekam medis, dan tatapan kosong tiap selesai bedah.

Ia tahu Savira gadis yang pintar. Selalu menjadi yang terbaik selama masa koas hingga sekarang jadi residen. Tapi, Devan tidak melihat binar kebahagiaan atas pencapaian yang terbilang cemerlang di matanya.

Savira hanya terbakar saat menyelamatkan pasien. Sama seperti dirinya dulu. Dunia Devan juga pernah berputar tentang pensil, maket, dan sketsa gedung.

Tapi ia terpaksa mengubur hasrat dan mimpinya menjadi arsitektur. Demi nama keluarga dan ekspektasi orang tua.

Sekarang dunianya hanya berputar tentang darah, pisau bedah, dan stetoskop. Namun sekarang, bersamanya ada Savira. Gadis yang juga jago ngubur mimpinya... Demi jas putih yang sama.

Saat Devan tenggelam dalam pikiran, pintu kayu oak itu terbuka tanpa ada ketukan lebih dulu. Reflek ia menutup sketchbook dengan gerakan tenang dan elegan. Seolah sedang menutup jurnal medis biasa. Padahal ia sedang menutup satu-satunya rahasia.

Matanya menatap datar sosok paruh baya yang masuk tanpa permisi berjalan mendekatinya.

"Papa menelepon dari semalam. Kenapa tidak di angkat?" suara dokter Chandra berat. Marah. Nada orang yang tidak biasa diabaikan.

Devan membuka laci di bawah meja. Pelan. Ia memasukkan sketchbook itu. Rapi. Seakan menyelipkan Savira ke tempat paling aman dari jangkauan siapapun. "Aku sibuk. Pasien VIP." jawabnya empat kata. Datar. Dingin.

Dokter Chandra membuang napas kasar, tapi ia mengangguk paham. "Baiklah. Segera bersiap. Kita berangkat 15 menit lagi." ujarnya.

Dahi Devan berkerut. "Berangkat?" ulangnya. "Kemana? 30 menit lagi aku ada operasi. Bypass triple. Pasien nya...."

"Papa sudah minta dokter Anggara gantiin kamu." Potong dokter Chandra. Tegas. Penuh otoritas yang selama 35 tahun tidak pernah di bantah. "Jangan banyak alasan. Ini demi masa depan rumah sakit kita!"

Tanpa menunggu jawaban. Dokter Chandra keluar dari ruangan Devan setelah mengatakan apa yang ingin ia sampaikan. Dengan langkah mantap, tanpa menoleh sama sekali.

"Sial!" umpat Devan. Tangannya terkepal kuat di bawah meja. Buku jarinya memutih.

"Masa depan rumah sakit..." dengusnya pahit. "...atau masa depan yang sudah rencanakan sejak aku remaja."

Jemarinya mendarat di gagang laci. Tidak dibuka. Hanya disentuh. Di dalamnya ada Savira. Aman. Untuk sekarang.

.....

Ruangan VIP restoran itu sunyi. Sunyi yang mahal. Di meja marmer panjang, beberapa orang duduk tenang. Senyum dipasang rapi di bibir. Seperti manekin showroom. Sekilas biasa saja, tapi itu berlebihan.

Kecuali satu. Devan yang tetap memasang wajah dingin dan datar. Pisau steak di tangannya tidak bergerak. Steak wagyu A5 di piringnya mulai dingin. Sama seperti ekspresinya.

Di depannya, keluarga Pratama juga memasang wajah cerah, kompak dengan putri mereka yang bernama Felicia. Gadis itu tersenyum manis menatap Devan. Matanya berbinar. Kagum. Naksir. Jelas. Tidak ada malu-malu.

Widia nyender ke bahu suaminya. Senyumnya makin lebar. "Devan jauh lebih tampan dari yang di foto. Kamu harus tahan banting, Feli. Pria seperti Devan disukai banyak wanita." Kata Widia, ibu Felicia.

Dokter Chandra tertawa pelan. Suara rendah yang biasa dia pakai ngerayain marger rumah sakit. "Nak Feli tidak perlu khawatir. Devan ini orangnya terlalu dingin. Cuek kalau sama perempuan." kata ya bangga.

Ia menegakkan tubuhnya. Melirik Devan dengan senyum lebar. Tapi dalam hatinya menahan kesal. Putranya sama sekali tidak bisa diajak kompromi. Bukannya memasang wajah ramah, tapi malah dingin dan datar.

"Tapi kalau sudah ketemu pawangnya. Dia gak akan berpaling sedikit pun. Sama seperti papanya." sambungannya, lalu menyesap wine mahal yang ada di dalam gelas.

Soraya berdecih pelan, hanya ia sendiri yang mendengar. Perkataan suaminya benar-benar membuatnya muak. Jika bukan karena nama baik keluarga, ia tidak akan duduk satu meja dengan sang suami.

Keluarga Handaru memang terlihat bahagia di depan kamera. Poster keluarga cemara yang ideal dan impian banyak orang. Dokter Chandra yang bijak, Soraya yang anggun tapi sederhana. Dan Devan, seorang dokter muda yang jenius.

Tapi di balik kamera. Tidak ada kehidupan bahagia, hangat, dan harmonis. Semua hanya formalitas. Dingin. Hampa. Seperti museum es. Semua beku, tidak ada yang berani menyentuh lebih dulu.

Semua tahu batasan masing-masing. Selama 37 tahun, pernikahan Soraya dan Chandra berjalan sesuai skenario. Tidak ada improvisasi. Tidak ada jeda.

Kata sempurna adalah motonya, dan itulah yang mereka tunjukkan. Senyum bahagia itu terpatri otomatis saat bertemu kolega atau media.

Di depan kamera. Chandra menggenggam tangan Soraya. Soraya tersenyum, kepala miring 15 derajat ke bahu suaminya. Pose yang sama selama 3 dekade. Tidak pernah meleset 1 derajat pun.

Tapi saat lensa kamera mati. Genggaman tangan itu lepas. Otomatis. Dengan jarak yang sama. Tidak ada cerita 'tanpa sengaja bersentuhan' jarak itu selalu sempurna.

Bahkan Soraya bisa tersenyum lebar saat menangis. Bukan hebat. Bukan karena kuat. Tapi itu praktek yang dipelajari sejak hari pertama menjadi nyonya Handaru.

Soraya belajar mengangkat sudut bibir sementara hatinya remuk. Belajar menelan suara tangis sampai jadi sesak di tenggorokan. Dia latihan menjadi patung porselen yang paling mahal di museum itu.

Indah. Dingin. Elegan. Dan retaknya...tidak ada yang boleh tahu. Atau bingkai keluarga cemara itu akan hancur.

Darma Pratama nyender ke kursi. Senyum pengusaha. Puas. "Papi selalu memilih yang terbaik untuk putri kesayangan papi. Dan Devan..."

Dia melirik ke Devan. Dari ujung ke ujung, menilai. Seperti cek spek mesin yang akan ia beli. "...adalah pilihan yang sempurna." titik. Tidak ada koma. Tidak ada tanya.

Chandra langsung menyambut. Gelas wine n

Di tangannya dia putar pelan. Anggur merahnya muter seperti pusaran. Seperti masa depan Devan yang dia aduk-aduk sesuka hati.

"Setuju." Anggukan Chandra pendek. Tegas. Mata mereka berdua bertemu di atas meja. Deal.

"Jadi, kapan pesta pertunangan itu kita selenggarakan?" Suara Chandra naik. Antusias. Bangga. Seolah mendapat proyek rumah sakit baru.

"Semua orang harus tahu." Gelas wine nya di angkat. "Kalau keluarga Handaru dan keluarga Pratama akan bersatu."

Kling. Suara gelas wine kena meja marmer. Tidak ada yang bertanya pendapat Devan. "Bagaimana menurutmu, Dev?" Tidak ada.

Karena di meja itu. Devan bukan manusia. Dia klausul. Dia aset. Dia 'masa depan rumah sakit' yang sedang dinego.

Sementara itu. Di bawah meja. Tangan Devan kembali mengepal kuat. Dengan ekspresi yang masih datar seperti satu jam yang lalu.

*

*

*

*

*

To be continued

1
Oktafiani Azzahra
alur nya bagus banget
Aryati Ningsih
lanjut Thor ..semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!