NovelToon NovelToon
Saat Istriku Setuju Bercerai

Saat Istriku Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Yunus

Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.

Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.

Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.

Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepedulian Gavin

Abu melihat Azalia yang tidak selera makan.

Dengan gerakan lambat, Azalia mengambil sendok dan mencoba menyendok sedikit sup. Dia meniupnya perlahan sebelum menyesapnya. Hangat... Tapi terlalu hambar untuk lidahnya.

Tidak seperti mie instan yang sering ia konsumsi, yang ketika di makan rasanya begitu menggigit dan memberi sensasi nikmat seketika.

Azalia mencoba sesuap nasi dan ikan panggang. Daging ikannya lembut, tetapi rasanya terlalu ringan di lidahnya. Masakan yang lainnya pun sama saja. Lidahnya seolah menolak, otaknya memberi sinyal bahwa makanan ini bukan sesuatu yang biasa ia makan.

Apa yang disajikan di meja makan mewah ini semuanya terasa asing.

Sendoknya berhenti di tengah jalan. Tidak ada dorongan untuk melanjutkan.

Abu, yang menyadari hal itu, akhirnya angkat bicara dengan nada tenang. "Jika makanannya kurang sesuai dengan selera Anda, saya akan meminta pelayan untuk membuatkan sesuatu yang Anda inginkan."

Azalia mengangkat wajah, sedikit terkejut karena Abu bisa menangkap ketidaksukaannya tanpa dia mengatakannya.

Tidak ingin membuat Abu kecewa, Azalia berkata dengan hati-hati, "Abu.. Bisakah aku pergi ke dapur? Aku ingin membuat mie instan saja. Bukannya aku menolak ini, sungguh! Makanannya enak. Tapi aku tidak tahu, aku merasa tidak cocok dengan lidahku. Aku bisa membuatnya sendiri, tidak akan merepotkan kalian."

Abu tidak terlihat kaget, dia hanya mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawabannya.

"Mungkin perlu waktu agar lidah Anda terbiasa, Nyonya. Tetapi makanan ini dibuat untuk kesehatan Anda. Tubuh Anda membutuhkan sesuatu yang lebih bernutrisi dari sekedar mie instan. Tadi pagi saat sarapan dengan Tuan, Anda terlihat menikmatinya."

Azalia diam, menatap makanan di depan matanya.

Benarkah tadi pagi dia menikmatinya?

Apa tadi pagi juga makanan seperti ini?

Tapi ini benar-benar tidak ada rasanya. Bagaimana dia bisa menikmatinya?

Azalia bahkan lupa apa yang ia makan tadi pagi.

Abu masih menunggu, memastikan Azalia melanjutkan makan siangnya. Di saat yang sama, Gavin menghubunginya. Abu melangkah lebih jauh, mengangkat panggilan Gavin di sisi lain.

"Ya, Tuan?"

"Apa Azalia sudah makan siang?"

"Saya sedang menunggunya. Tapi... Sepertinya Nyonya tidak berselera. Dia ingin makan mie instan saja."

"Jangan berikan!" Suara Gavin tiba-tiba meninggi di sana. "Gunakan akalmu! Cari cara, yakinkan dia tanpa memaksanya."

Abu menarik napas berat, melirik di mana Azalia duduk di sana. "Bagaimana jika Anda temani saja? Tadi pagi dia tidak memiliki masalah selera makanan yang kami sajikan, saat Anda ikut makan bersamanya."

Sebenarnya Abu juga takut saat mengatakan itu, khawatir dia mengganggu urusan Gavin. Namun ternyata, Gavin justru mengiyakan dengan cepat.

"Aku akan kembali sekarang."

Sambungan terputus. Kalimat terakhir Gavin didengar dengan jelas oleh Renata yang saat ini datang dari arah belakang sambil membawa nampan dan minuman dingin.

"Kau akan pergi, Gavin?"

Gavin menoleh, melihat nampan yang masih ada di atas tangan Renata. "Ya," jawabnya singkat.

"Tapi... Kau baru saja menginjak rumahku. Kita bahkan belum mengobrol sama sekali."

"Kita akan bicara nanti. Aku harus pulang sekarang."

Tanpa menunggu Renata membalas ucapannya, Gavin mengambil jasnya lagi, buru-buru pergi meninggalkan Renata yang masih berdiri terpaku di ambang pintu halaman belakang.

Jantung Renata kembali berdebar lebih cepat. Kali ini bukan perasaan bahagia karena melihat wajah Gavin seperti 5 menit yang lalu, namun sebuah perasaan sedih dan kecewa yang begitu dalam.

2 tahun. 2 tahun seharusnya sudah cukup menumbuhkan perasaan rindu yang akan sulit dipadamkan. Namun ternyata, Gavin bahkan tidak meluangkan waktu lebih lama untuknya.

Seolah selama ini hanya dia yang kecintaan, sedangkan laki-laki itu tidak!

Seolah perkataan Gavin yang menunggunya pulang dulu adalah kebohongan semata.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Gavin buru-buru melangkah masuk ke penhouse dengan ekspresi tenang.

Di dalam, Abu sudah menunggu. Wajahnya masih menunjukkan ketidakpercayaan, seolah dia meragukan bahwa orang yang sedang berjalan masuk saat ini adalah Gavin.

Abu tidak percaya Gavin akan meninggalkan urusannya begitu ia menelepon tadi.

Gavin tidak bicara apa-apa. Matanya hanya melirik meja makan, di mana hidangan yang disiapkan tetap utuh hampir tak tersentuh.

Dengan gerakan pelan, dia melepas jasnya, menyingsingkan lengan kemejanya, lalu berjalan mendekati kursi di seberang Azalia.

Azalia, yang sejak tadi hanya memandangi makanannya, sedikit terkejut melihat Gavin tiba-tiba ada di sana.

"Gavin? Kau sudah pulang?" wajah Azalia langsung berubah cerah.

"Kau menungguku?"

Azalia mengangguk dengan cepat. "Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu. Sebentar, aku akan mengambilnya."

Azalia hampir berdiri ketika Gavin berkata, "Temani aku makan dulu Azalia, nanti kau bisa menunjukkannya padaku."

"Tapi.... "

Gavin menarik kursinya, duduk tanpa banyak bicara. Matanya tajam, tapi tidak ada tanda kemarahan.

Meski tidak marah, tetap saja melihat ekspresi Gavin yang serius seperti itu membuat Azalia menelan sisa ucapannya.

Azalia menggigit bibirnya. Dia ingin makan, tapi tetap tidak bisa memaksakan diri untuk menyantap makanan di depannya.

Akhirnya, Gavin berbicara. "Kenapa kau tidak makan?"

Suaranya datar, tapi ada sesuatu di balik nada itu. Bukan sekedar pertanyaan. Lebih seperti perintah terselubung.

Azalia menunduk, jari-jarinya bermain dengan ujung sendok. Dia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.

"Aku sudah coba," Keluhnya Lirih. "Tapi aku merasa ini bukan makanan yang biasa aku makan."

Gavin mencermati wajah sendu Azalia.

"Coba lagi."

Azalia menatapnya. Ada ketegasan di wajah Gavin, tapi tidak ada paksaan berlebihan.

Dengan ragu, Azalia akhirnya mengambil sendok dan menyendok sup ayam bening. Dia menyesapnya pelan, mencoba mengunyah, tapi tetap terasa hambar.

Gavin mengawasinya.

Saat Azalia kembali menaruh sendoknya, ekspresi Gavin berubah.

"Kalau ini tidak sesuai seleramu, biar ku suruh mereka untuk memasakkanmu yang lain."

Azalia menggeleng.

"Jangan.. Mereka sudah bekerja keras membuat ini. Lidahku saja yang sudah terbiasa dengan rasa yang kuat. Masakan ini terasa terlalu.. ringan."

Gavin terdiam beberapa saat. Matanya menelusuri wajah Azalia. Wajah yang dulu tidak ia perhatikan terlalu detail.

Sekarang, dengan jarak sedekat ini, Gavin bisa melihat betapa pucatnya Azalia. Betapa ringkih pergelangan tangannya. Betapa pipinya yang dulu sedikit berisik ini terlihat cekung.

Tangan Gavin terangkat ke atas meja, jemarinya bergerak seakan ingin melakukan sesuatu. Menyentuh, mungkin? Tapi dia menariknya kembali sebelum sempat melakukannya.

Akhirnya, ia mengambil sumpit dan meraih sepotong ikan panggang di piringnya sendiri. Dengan santai, dia mulai makan.

Azalia melirik, agak terkejut.

Gavin tidak bicara apa-apa. Dia hanya makan seperti biasa, tidak memaksa, tidak memerintah. Tapi di sela-sela itu, dia menaruh sepotong ikan ke piring Azalia.

"Makan. Pelan-pelan saja." Gavin berkata tanpa melihatnya.

Azalia masih menatapnya, sedikit bingung.

Tapi akhirnya, dia mengangkat sendoknya lagi dan mengambil suapan kecil. Tidak banyak, tapi setidaknya dia mulai makan.

Gavin tetap tidak bicara. Dia hanya duduk di sana, makan dengan tenang, sesekali memberikan makanan di piring Azalia.

Dan tanpa disadari, suasana di meja makan menjadi lebih tenang.

Untuk pertama kalinya sejak lama, Azalia mencoba makan bukan karena terpaksa, tapi karena seseorang menemaninya.

Melihat piring-piring di hadapannya mulai banyak berkurang isinya, senyum tipis muncul di bibir Gavin.

Setidaknya dia berhasil membuat Azalia makan.

1
Kar Genjreng
Renata memang benar dua Pria itu b****k tetapi punya alasan karena ternya istri bukan sedang bersandiwara tetapi memang nyata kalau sedang sakit dan nya lagi wanita itu lah yang sudah menyambung nyewa alvin,,,dengan ginjalnya,,,jadi ya mau bagaimana lagi,,
Rahma Inayah
bodoh nya Marta klu di manfaatin Mahesa demi suami rela kehilangan ank kandung darah daging sendri mending klu Mahesa ayah kandung or setidknya baik PD azalia ni gak .
Vie
ah akhirnya bisa update juga kak... 👍👍👍
Hani Ekawati
Bagus beri pelajaran buat orang orang serakah itu, orang tua yang tidak punya hati nurani terutama Marta. Demi bisa hidup mewah dia sampe menjual putrinya sendiri.
Hani Ekawati
Dasar kamu seorang ibu yang tidak punya hati
Bela Viona
rasakno
Hani Ekawati
Itu si Marta ibu yang tidak punya hati, anaknya sakit tapi tidak peduli sama sekali. Dan Gavin sepertinya sudah ada getar cinta atau hanya sebatas rasa iba.
Setyowati Setyowati
kapokmu kapan mahesa
Vie
yaaa padahal seru ceritanya.... lagi seru2 nya kak... 😭😭😭
Vie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
hadiah yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan.. 🤭🤭🤭
Vie
ya.. ya... ya... dalam mimpi mu kali ya.... 😝😝😝
Vie
ya harusnya kamu lebih berpikir lagi dengan jernih.... walau bagaimanapun dia sudah menikah, dan kalau kamu berada diposisi azalia, apakah kamu akan menerimanya begitu saja. melepaskan suami demi kembali bersama masa lalunya???
Vie
nah gitu dong kamu harus tegas dalam memilih suatu hubungan karena jelas kamu sudah memiliki seorang istri yang sangat mencintaimu, hanya saja kamu yang tidak bersyukur dan malah menyia2kan waktu saat bersamanya....
Vie
sok lah bawa dia berobat sampai sembuh total dan mendapatkan kebahagiaan
Vie
nah kan seperti hati kamu sekarang pada azilia. walau sebenarnya sudah terlambat karena waktu untuknya tidak akan lama lagi. isilah waktu yang tersisa itu dengan semua kebahagiaan untuk azilia....
Vie
bukankah kamu seperti menyindir diri sendiri ya??? 🤭🤭🤭🤭 karena hal itu seperti yang terjadi dalam hidup kamu.... 🤭🤭
Vie
ya siapapun pasti akan sangat hancur bila tau keadaannya seperti ini, terus dia merasa hanya dikasihani setelah apa yang dulu Gavin lakukan padanya.... itu wajar sih.... karena ini menyangkut nyawanya yang mungkin tinggal menunggu waktu akan menjemputnya... 😭😭😭😭
Bela Viona
ntah akan ad keajaiban kesembuhan azalia atau hanya tinggal kenangan tentang Azalia.
kalaupun azalia tinggal kenangan,please thor..tinggal kn lh kenangan Azalia bersama Gavin berupa sosok seorang bayi mungil. anak mereka.
kalau pun ad kerajaan, sembuhkan lh azalia. nth dgn pencangkokan ginjal atau bangun lgi setelah koma..
Bela Viona: aku lagi sedih lho 😭
total 2 replies
Rahma Inayah
mmg ya si Marta GK tau malu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!