NovelToon NovelToon
From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: WesternGirl10

Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
​Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
​Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
​Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
​Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 - Travel plans

Akhir bulan November membawa hawa beku yang mulai menusuk tulang di kawasan Hudson Valley. Sisa-sisa daun musim gugur yang berwarna kecokelatan berjatuhan ditiup angin, menandakan bahwa musim dingin tengah bersiap mengambil alih tahta. Udara pagi itu terasa luar biasa dingin, memaksa siapa pun untuk menarik selimut lebih tinggi.

Namun, pagi itu, cahaya matahari bersinar cukup terang. Sinarnya menyusup malu-malu di celah gorden sutra tebal kediaman utama Giovano, melukis siluet hangat di atas lantai pualam kamar utama. Cahaya itu menyambut wajah damai Ashley yang masih setia bergelung di balik selimut goose-down dan bantalnya yang empuk.

Ini adalah sebuah anomali raksasa. Biasanya, di jam krusial seperti ini, wanita itu sudah berdiri tegak di depan cermin, berdandan sempurna dengan power suit kerjanya, siap menaklukkan kerasnya bursa saham dunia bahkan sebelum fajar benar-benar menyingsing di ufuk timur.

Namun, selama beberapa hari terakhir ini, gedung pencakar langit Giotech C&T di pusat kota terpaksa beroperasi dengan kehilangan nakhoda utamanya. Ashley dilarang keras untuk pergi ke kantor karena titah mutlak dari suaminya.

Tentu saja, dalam skenario normal, seorang Ashley Giovano bisa saja nekat melangkah keluar, mendengus sinis, dan mengabaikan larangan Kevin begitu saja. Namun kali ini, Kevin menggunakan senjata pamungkas sebuah bargaining chip yang tidak bisa Ashley bantah: ancaman Kevin untuk drop out dan berhenti kuliah di Universitas Collux jika Ashley terus memaksakan diri bekerja saat kondisi fisiknya melemah.

Kevin tahu betul bahwa pendidikan bisnisnya di kampus bergengsi itu adalah salah satu pilar rencana besar sang istri. Gelar itu adalah syarat utama agar ia bisa memiliki legitimasi untuk membantu mengelola C&T di masa depan seperti yang Ashley rencanakan. Ashley, sang visioner perfeksionis, tentu tidak ingin investasi masa depannya itu hancur sia-sia. Maka, mau tidak mau, dengan gurat wajah cemberut, sang Ratu Es hanya bisa mengalah, mendelegasikan wewenangnya melalui rapat virtual, dan berdiam diri di rumah sambil beristirahat.

Namun, di sisi lain, Kevin sendirilah yang kini justru menjadi pihak yang paling kewalahan. Statusnya sebagai mahasiswa baru yang kebetulan sedang memasuki pekan libur musim gugur sama sekali tidak memberinya kelegaan. Tugas esai makroekonomi yang diberikan profesor sebelum libur justru menggunung.

Belum lagi, ia harus berhadapan dengan Ashley yang suasana hatinya sedang fluktuatif, naik turun dengan kecepatan roller coaster akibat gempuran hormon awal kehamilan. Lingkaran hitam samar mulai membingkai area di bawah mata Kevin, bukti fisik bahwa ia kini sering terjaga di tengah malam buta hanya untuk mengambilkan segelas air minum spesifik bersuhu ruangan, menuruti permintaan aneh istrinya, atau sekadar memijat betis Ashley yang mendadak kram.

Di sela-sela kesibukan ganda itu, pikiran Kevin juga sering kali melayang jauh. Otaknya terlempar pada percakapan emosional melalui telepon dengan ibunya tempo hari. Sejak panggilan itu, Kevin belum sempat menelepon balik, meskipun nada suara ibunya yang serak dan penuh rindu memohonnya untuk pulang berkunjung ke desa terus terngiang layaknya kaset rusak di telinganya.

Masalahnya tidak sesederhana itu. Ia tidak mungkin secara egois meninggalkan Ashley dalam kondisi hamil muda yang masih sangat rentan seperti sekarang. Ia sempat berpikir egois untuk mengajak istrinya, namun sebuah keraguan besar menyelinap dan memukul mundur niatnya. Pertanyaan rasional muncul: Apakah seorang wanita miliarder yang terbiasa tidur di atas kasur impor seharga mobil sport mewah ini sudi menginjakkan kakinya di daerah pedesaan petani yang bahkan untuk menemukan sinyal internet stabil saja sangat sulit?

"Hm... aku bosan sekali, Kevin..." keluhan bernada panjang dan manja itu memecah keheningan ruang tengah mansion.

Saat ini, Ashley sedang berbaring nyaman di atas sofa kulit raksasa buatan Italia. Kepalanya berbantalkan paha Kevin. Sementara Kevin sendiri duduk menyandar, memangku laptop purwarupa Giotech-nya, mengetik draf esai ekonominya dengan sebelah tangan, sementara jemari tangan kirinya yang bebas tak berhenti mengusap helaian rambut panjang nan halus milik istrinya.

Kevin menunduk sejenak, menghentikan ketikannya. Ia menatap wajah Ashley yang tampak jauh lebih polos dan rileks tanpa riasan kosmetik tajam yang biasa ia gunakan ke kantor.

"Mau jalan-jalan ke kebun belakang sebentar? Udara akhir musim gugur sedang sangat bersih hari ini. Menghirup udara segar yang dingin mungkin bagus untuk membersihkan paru-parumu dari aroma antiseptik rumah sakit kemarin," tawar Kevin lembut.

Ashley menggeleng pelan, pipinya bergesekan dengan kain celana kasual Kevin. Ia semakin membenamkan wajahnya di paha suaminya. "Tidak. Anginnya terlalu dingin, aku malas berjalan jauh. Kakiku rasanya sangat berat seperti sedang diikat oleh balok timah."

Mendengar nada rengekan itu, Kevin hanya terkekeh pelan. Jari telunjuk dan ibu jarinya bergerak mencubit pelan ujung hidung mancung Ashley. "Lalu, mau kugendong saja? Aku bisa membawamu berkeliling menelusuri taman belakang seperti tuan putri dari negeri dongeng. Kau tinggal menunjuk bunga mana yang ingin kau lihat."

"Tidak, terima kasih atas tawarannya," sahut Ashley pendek, matanya masih terpejam menikmati belaian di rambutnya. "Jika kau memaksakan diri, aku hanya khawatir tulang punggungmu akan remuk seketika dan kau malah harus dirawat di rumah sakit."

"Hei, tolong jangan meremehkan kekuatan fisik suamimu begitu!" seru Kevin dengan nada pura-pura tersinggung yang dramatis. "Dengar ya, Nyonya Giovano, walaupun aku jarang sekali berolahraga di gym mewahmu itu dan lebih sering menghabiskan waktuku berbaring membaca manga, aku ini memiliki tenaga kuli. Aku cukup kuat untuk menggendongmu seharian penuh tanpa berkeringat."

Ashley akhirnya membuka mata dan memutar bola matanya malas, namun ada kilat geli dan kehangatan yang jelas terpancar di sepasang mata cokelatnya. "Iya, iya, aku sangat tahu soal itu, Tuan Bertenaga Kuli. Aku kan sudah pernah merasakannya sendiri kehebatan tenagamu."

Hening sesaat menyelimuti mereka berdua, ditemani suara denting jarum jam dan detak lambat keyboard Kevin.

Namun, ketenangan itu tiba-tiba pecah. Ashley mendadak bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk tegak menghadap Kevin. Ia menyilangkan kakinya, menatap Kevin dengan wajah menyelidik dan memicing yang tajam, sebuah ekspresi intimidasi yang persis seperti saat ia sedang menginterogasi manajer keuangan yang melakukan kesalahan fatal di ruang rapat direksi.

"Jujur padaku sekarang juga, Kevin Hamilton," tuntut Ashley, suaranya sedikit merendah, menekan setiap suku kata. "Apa kau selama ini diam-diam membohongiku saat kau bilang bahwa aku adalah wanita pertama yang singgah dalam hidupmu? Jawab dengan jujur. Jika ternyata ya, aku jamin aku akan merasa sangat kecewa padamu."

Kevin tertegun kaku. Tangannya yang tadinya melayang di atas keyboard laptop langsung membeku di udara. Otaknya berputar cepat mencari letak kesalahannya.

"Astaga, aku sama sekali tidak berbohong, Ash! Sumpah demi Tuhan," sanggah Kevin dengan nada panik namun serius. "Kenapa... kenapa tiba-tiba pikiran absurd itu melintas di kepalamu?"

"Karena kau... karena caramu..." Ashley mendesis, ia menggigit bibir bawahnya saat menyadari topik ini agak vulgar untuk dibahas di ruang tengah yang terang benderang. Wajahnya yang pucat perlahan dihiasi rona merah yang samar. "Ugh, karena kau bersikap seperti seorang ahli yang sudah menaklukkan puluhan wanita! Walaupun kau melakukannya dengan ritme yang sangat lambat dan lembut di malam pertama kita, tetap saja pinggangku rasanya seperti mau patah keesokan paginya! Teknik dan penguasaanmu sama sekali tidak terlihat atau terasa seperti skill dari seorang pemula yang baru pertama kali menyentuh wanita!"

Mendengar tuduhan polos nan menggelikan itu, Kevin terdiam selama tiga detik penuh sebelum akhirnya pertahanannya runtuh. Tawanya meledak keras, bergema memenuhi dinding-dinding tinggi ruang tengah mansion itu. Ia segera menutup laptopnya dan meletakkannya di atas meja kopi agar tidak terjatuh akibat guncangan tawanya.

"Kau tahu, Sayang..." Kevin mengatur napasnya yang terputus-putus, menatap wajah istrinya yang semakin bersemu merah karena malu bercampur kesal. "...kita hidup di abad dua puluh satu. Ada sebuah inovasi teknologi cemerlang bernama internet, digabungkan dengan kekuatan imajinasi visual dari seorang pria dewasa. Tapi serius..." Kevin mencondongkan tubuhnya ke depan, tersenyum jahil, menurunkan nadanya menjadi bisikan sensual. "...terlepas dari rasa pegal di pinggangmu, kau sangat menikmatinya malam itu, kan? Jadi di bagian teknis mana yang membuatmu merasa sangat kecewa?"

Ashley mendengus kesal mendengar godaan frontal itu. Ia melipat kedua tangannya di dada dengan erat, menciptakan benteng pertahanan. "Jangan memelintir perkataanku. Aku sama sekali tidak pernah bilang kalau aku kecewa dengan performamu," jawabnya cepat, berusaha mempertahankan harga dirinya sebagai ratu dominan. "Aku hanya menegaskan bahwa aku akan sangat kecewa jika suamiku ternyata berbohong padaku tentang status aslinya selama ini."

"Ah... aku mengerti sekarang," goda Kevin, senyum nakalnya semakin melebar. Matanya berbinar menahan tawa. "Jadi, intinya kau sedang merasa cemburu pada hantu masa laluku yang sebenarnya tidak pernah eksis itu, hm?"

"Cemburu? Tolong perbaiki kosakatamu. Kata murahan seperti itu tidak pernah tercetak di dalam kamus hidupku," jawab Ashley angkuh, mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Meskipun begitu, rona kemerahan di kedua pipinya yang semakin pekat dengan jujur mengatakan hal yang sebaliknya.

"Ahahaha! Ya ampun, kau ini ternyata sangat lucu kalau pertahananmu sedang goyah dan sedang terbakar cemburu buta begini, Ash. Wajahmu yang sok garang ini malah terlihat persis seperti anak kucing galak yang mangkuk makanannya mau diambil paksa," tawa Kevin kembali meledak.

Merasa harga dirinya diinjak-injak, Ashley langsung meraih sebuah bantal sofa kecil di sampingnya dan melemparnya dengan keras ke wajah Kevin.

"Sudah kubilang aku tidak sedang cemburu, idiot!" bentak Ashley dengan mata mendelik.

Kevin menangkap bantal itu dengan sigap, masih sambil tertawa. "Iya, iya, Yang Mulia Tuan Putri, maafkan hamba. Lagipula, tolong gunakan logika korporatmu yang brilian itu. Kau mau cemburu pada siapa? Manusia tak kasat mata? Aku berani bersumpah, aku benar-benar belum pernah berpacaran apalagi menjalin hubungan dengan wanita mana pun sebelumnya. Jangankan untuk berpacaran, saat masa SMA dulu, disuruh berdiri berdekatan dengan perempuan cantik saja lututku sudah sering gemetar gemeretak."

Mendengar kejujuran yang diucapkan tanpa ragu itu, ketegangan di rahang Ashley perlahan mengendur. Ia menatap Kevin dengan tatapan ingin tahu yang sangat dalam, menelisik hingga ke dasar bola mata pria itu untuk mencari kebohongan. Namun, yang ia temukan hanyalah ketulusan yang membosankan.

"Kau? Belum pernah berpacaran? Sekalipun dalam hidupmu? Bahkan tidak pernah merasakan cinta monyet saat kau masih SMA?" tanya Ashley perlahan, seolah memastikan sebuah anomali statistik.

Kevin mengangguk mantap, menepuk dadanya bangga. "Iya. Aku ini menjomblo sejak lahir, fokus pada video game, sampai akhirnya harus menerima takdir terjebak dalam kontrak denganmu."

Mendengar pengakuan absolut itu, Ashley perlahan menyunggingkan senyum sombong yang luar biasa penuh kemenangan dan percaya diri. Ia kembali menyandarkan punggung tegapnya ke bantalan sofa kulit itu dengan postur yang sangat anggun, menyilangkan kakinya seperti seorang ratu yang baru saja memenangkan peperangan besar.

"Yah, kalau sejarahnya begitu, maka kau harus sangat, sangat bersyukur padaku, Kevin," ucap Ashley pongah. "Berkat campur tanganku, kau berhasil melompati dan melewatkan semua fase drama percintaan remaja murahan yang sama sekali tidak berguna dan tidak menghasilkan profit itu, lalu pada akhirnya kau beruntung bisa langsung melompat menikah dengan wanita yang sangat luar biasa sempurna sepertiku."

"Tingkat kepercayaan dirimu benar-benar berada di atas stratosfer ya, Nyonya Giovano yang terhormat," puji Kevin sarkastis, namun ia mendekat, merengkuh pinggang Ashley dan menarik wanita itu agar kembali bersandar lembut ke dalam pelukannya.

"Itu adalah fakta tak terbantahkan, bukan sekadar kepercayaan diri tak berdasar," koreksi Ashley keras kepala. Ia memejamkan matanya yang lelah, menyandarkan sisi telinganya ke dada Kevin, menikmati ritme detak jantung pria itu yang menenangkannya.

Keheningan yang nyaman kembali mengudara selama beberapa saat. Kevin menempelkan dagunya di atas kepala Ashley, pandangannya menerawang ke luar jendela kaca besar yang menampilkan daun-daun berjatuhan.

"Tapi kau tahu, Ash..." suara Kevin memecah hening, kali ini nadanya terdengar jauh lebih serius dan sedikit melankolis. "...terkadang, saat aku bercermin, aku merasa bahwa entitas dirimu itu rasanya terlalu sempurna, terlalu tinggi, dan terlalu jauh di luar jangkauanku. Kadang aku berpikir, di tengah semua kehebatanmu ini, apa kau sama sekali tidak merasa rugi? Tidak merasa merendahkan derajatmu karena harus terikat pernikahan dengan pria rakyat jelata yang serampangan dan hanya punya hobi menonton anime sepertiku?"

Ashley terdiam cukup lama mendengar pertanyaan yang diwarnai insecurity itu. Jemarinya yang ramping bergerak pelan, bermain-main menyusuri dan mengusap kancing kemeja hitam yang dikenakan Kevin.

"Mungkin di bulan-bulan awal pernikahan kontrak kita dulu, pikiranku memang mengarah ke sana," jawab Ashley dengan kejujuran yang brutal namun lembut. "Tapi sekarang... aku sadar akan satu hal. Bahwa ambisiku dan apa yang kau sebut 'kesempurnaan' ini membutuhkan counter-balance, sebuah keseimbangan. Aku butuh seseorang sepertimu yang bisa 'menarikku' kembali menjejak tanah saat aku terlalu mabuk terbang dengan egoku di dunia korporat."

Ashley mendongak sedikit, menatap rahang Kevin. "Jika aku memaksakan diri menikah dengan pria berhati dingin, materialistis, dan sekaku aku, mungkin kami berdua sudah mati muda karena stres pekerjaan atau saling tikam demi memperebutkan kekuasaan sekarang."

Kevin tersenyum hangat mendengar jawaban bijak yang tulus dari istrinya itu. Ia merasa batas-batas kecanggungan dan jarak di antara mereka semakin mencair dan menguap ke udara. Ia mengeratkan dekapannya, lalu memutuskan bahwa ini adalah momen emosional yang paling tepat untuk membicarakan hal yang mengganjal di kepalanya selama ini.

"Ash, kau masih ingat beberapa hari lalu saat ibuku tiba-tiba meneleponku?" tanya Kevin hati-hati.

Ashley hanya bergumam kecil, sebuah getaran singkat di dada Kevin sebagai tanda bahwa ia mendengarkan, meskipun memori tentang panggilan yang membuatnya dibakar rasa cemburu hari itu bukanlah memori favoritnya.

"Waktu itu dia menangis dan bilang bahwa dia sangat merindukanku," lanjut Kevin, suaranya sedikit tercekat oleh rindu. "Setahun penuh tanpa kabar dan tidak pernah bertemu atau bertatap muka langsung... itu adalah waktu yang sangat lama bagi perasaan seorang ibu, Ash. Jadi... karena saat ini aku juga sedang dalam masa libur musim gugur dari kampus, aku berniat akan pergi berkunjung ke desa selama beberapa hari untuk menemui dan melihat kondisi mereka."

Seketika itu juga, tubuh Ashley di dalam pelukan Kevin menegang kaku layaknya kayu. Ia mendongak dengan cepat, menatap mata Kevin dengan tatapan horor bercampur ketidakpercayaan yang membara.

"Kau mau pergi? Kau akan dengan tega pergi meninggalkanku sendirian membusuk di mansion raksasa ini dalam kondisiku yang sedang hamil?!" suara Ashley meninggi, siap untuk meledakkan amarahnya.

"Tidak, tidak, tidak... bukan begitu maksudku," Kevin buru-buru menenangkan sebelum singa betina itu mengamuk, ia mengangkat kedua tangannya defensif. "Justru sebaliknya, Ash. Aku ingin bertanya dan menawarkannya padamu. Apa kau... apa kau mau ikut pulang bersamaku ke pedesaan? Bertemu dengan orang tuaku dan melihat tempat kelahiranku secara langsung?"

Ashley terdiam seribu bahasa. Matanya yang tajam mengerjap-ngerjap beberapa kali dengan cepat, seolah sistem di dalam otaknya sedang macet saat mencoba memproses file data dengan format yang sangat asing dan tidak logis.

"Ke pedesaan? Ke rumah masa kecil dan tempat tinggal orang tuamu di Black Dirt Region sana?" ulang Ashley, nada suaranya dipenuhi skeptisisme absolut.

"Iya, tepat sekali. Tapi dengarkan aku, Ash, aku akan sangat mengerti dan tidak akan memaksamu kalau kau menolak," jelas Kevin cepat, memaparkan fakta. "Aku justru hanya sangat takut kalau kau akan tersiksa dan tidak nyaman di sana. Hidup di desa pertanian itu seratus delapan puluh derajat berbeda dari kehidupan metropolis di New York atau mansion Hudson Valley ini, Ash."

Kevin mengambil napas sejenak sebelum membeberkan realitanya. "Di desa kami tidak ada sistem AC sentral yang mengatur suhu di setiap ruangan. Air hangat untuk mandi harus dimasak secara manual di atas kompor gas. Ranjang tidurnya pun pasti terasa keras di punggungmu karena hanya terbuat dari kayu jati tua yang dilapisi kasur tipis, bukan kasur sutra. Apalagi, kau sedang dalam fase awal kehamilan yang rentan dan mudah mual begini. Aku tidak ingin kau merasa stres, kelelahan, lalu berakhir jatuh sakit hanya karena menuruti egoku."

Ashley menatap tajam ke mata Kevin, mengabaikan seluruh daftar kesulitan yang baru saja dibeberkan suaminya. "Memangnya, kau berencana akan tinggal menetap berapa hari di gubuk... maksudku, di rumah orang tuamu itu?" tanyanya dengan nada menelisik khas seorang manajer yang mengevaluasi durasi perjalanan dinas.

"Mungkin dua atau paling lama tiga hari saja. Tidak akan lama. Hanya untuk menghabiskan liburan kampus, melepas rindu, dan yang paling penting... aku ingin memberitahu mereka secara langsung bertatap muka bahwa saat ini kau sedang mengandung cucu pertama mereka."

Mendengar alasan mulia itu, Ashley terdiam. Ia memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah lampu gantung kristal di langit-langit ruangan sejenak. Di dalam kepalanya, ia menimbang-nimbang dan mengalkulasi dengan cepat antara zona kenyamanan hidup absolut yang ia nikmati di mansion ini, berbenturan dengan rasa ingin tahunya yang mendalam, sebuah obsesi baru untuk melihat dan menyentuh seperti apa lingkungan sosial dan rumah masa kecil yang telah membentuk seorang Kevin Hamilton hingga bisa menjadi pria yang berhati hangat dan luar biasa sabar menghadapinya.

Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi sang CEO untuk mengambil keputusan final. Akhirnya, Ashley menghela napas panjang dan kembali menatap netra Kevin dengan sorot mata yang tak terbantahkan.

"Asal kau tahu saja, Kevin. Kalau kau yang memiliki otak pas-pasan itu saja bisa sanggup bertahan hidup di pelosok sana selama belasan tahun tanpa mati, maka aku rasa aku juga pasti bisa bertahan dan menguasai tempat itu selama dua atau tiga hari," ujar Ashley dengan nada angkuh dan tegas. Ia menegakkan posisi duduknya. "Bawa aku ke sana. Aku tidak mau kau tinggalkan sendirian di mansion ini dengan para pelayan. Aku akan ikut denganmu, tidak peduli seberapa kumuh dan menyedihkan pun kondisi tempatnya."

Kevin menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi, benar-benar terkejut dan tak menyangka dengan keberanian serta respons instan Ashley.

"Kau sungguh-sungguh yakin dengan keputusanmu? Tidak akan merajuk, menangis, atau mengeluh panjang pendek jika tiba-tiba di malam hari ada nyamuk yang menggigit kulitmu, atau jika kau dibangunkan oleh suara kokok ayam yang berisik jam empat pagi?" tantang Kevin memperingatkan konsekuensinya.

Ashley tersenyum sinis, menatap Kevin dengan pandangan merendahkan yang elegan. "Dengar, Kevin. Aku ini adalah Presiden Eksekutif Giotech C&T. Selama hidupku, aku sudah berhasil berhadapan, menghancurkan, dan memecahkan ribuan masalah korporasi yang jauh lebih mematikan dan mengerikan daripada sekadar gangguan seekor serangga nyamuk atau ayam kampung bodoh. Perintahkan Neena untuk menyiapkan koper keberangkatannya sekarang juga. Kita pergi ke desamu besok."

Melihat keteguhan yang tak bisa digoyahkan di wajah istrinya, Kevin tak bisa menahan senyumnya yang mengembang lebar. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Ratu Es yang gila kenyamanan ini akan setuju semudah itu.

"Baiklah kalau itu maumu, Nyonya Besar," kekeh Kevin, mengacak rambut Ashley dengan gemas. "Sebaiknya kau segera bersiap fisik dan mental untuk menghadapi sebuah petualangan liburan musim gugur yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu."

Malam itu, diiringi hawa beku sisa musim gugur, mansion Giovano dilanda kesibukan baru. Kevin mulai membongkar lemari, dengan telaten mengepak beberapa pakaian kasual dan keperluan dasar ke dalam koper sedang. Sementara itu, Ashley hanya duduk bersandar di pinggir ranjang, memperhatikan kesibukan suaminya dalam diam.

Di balik wajah tenangnya, otak Ashley terus berputar dengan cemas, bertanya-tanya apakah ia sebagai wanita sosialita benar-benar mampu survive dan bertahan tidur di tempat asing tanpa fasilitas hotel bintang lima. Namun, mengalahkan rasa takut dan gengsinya, ada secercah perapian hangat di dasar hatinya; sebuah antusiasme aneh karena ia sangat ingin tahu dan melihat dengan mata kepalanya sendiri, seperti apa dunia yang melahirkan pria yang kini menjadi tempatnya berpulang.

1
Bunga
cerita yang indah thor🙏
Seira J.: Terima kasih sudah membaca♡❤️
total 1 replies
Bunga
😍
Bunga
wow😍
Bunga
iistrimu hamil kev😍
Bunga
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!