Glenca Lysandra, seorang gadis yang terkenal di desanya sebagai penakluk hutan yang tak seorang pun berani memasukinya. Dia lah satu-satunya gadis yang berhasil keluar masuk hutan dalam keadaan selamat, berbeda dengan beberapa orang desa lainnya.
Namun, apa jadinya ketika dia bertemu seorang pemimpin mafia, Ethan Frederick Denaro, di sebuah villa kosong yang terkenal angker di dalam hutan yang ia jelajahi. Pertemuan tak sengaja yang membawanya menyaksikan kekejaman dan transaksi gelap seorang Ethan, juga menjadi awal hidup rumit nya.
Ethan tidak pernah membiarkan saksi mata transaksi terlarang nya hidup. Tapi, Glenca adalah pengecualian. Membawanya ke Mansion dan dijadikan mainan, cukup menghibur dirinya yang penuh dengan keseriusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan Adeline
Glenca keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil. Mendudukkan tubuhnya di kursi meja rias, Glenca memperhatikan pantulan tubuhnya di cermin.
Tangannya terhenti dan beralih menyibak kerah baju tidur yang ia kenakan. Satu tarikan nafas terdengar.
Bekas merah di tulang selangka nya membuatnya teringat akan kejadian beberapa menit lalu, di kamar mandi milik Ethan. Hal paling beruntung dimana ia bisa melepaskan diri dari lelaki itu, dan kabur dari kamar yang penuh nuansa gelap misterius.
"Aku tidak bisa bayangkan seperti apa nasibku jika saja aku gagal kabur dari kamar Ethan."
Lagi Glenca menarik nafasnya. Kembali ia mengeringkan rambut, lalu bergegas menaiki ranjang dan tertidur.
Dan di tengah lelapnya, pintu kamarnya yang terkunci tiba-tiba terbuka. Ethan masuk tanpa menimbulkan suara. Mengunci rapat pintu, lalu ikut berbaring bersama Glenca di atas ranjang gadis itu.
"Mon adorable lapin, ne t'attends pas à pouvoir t'échapper."
Tersenyum tipis, Ethan kemudian menarik Glenca dalam pelukannya, lalu ikut memejamkan mata.
***
Glenca terbangun sambil meregangkan tubuh. Malam ini tidurnya terasa sangat nyenyak dan nyaman. Sangat berbeda dengan malam-malam sebelumnya.
Glenca kemudian beranjak turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi untuk bersiap memulai aktivitas rutinnya.
Setelah mandi dan mengenakan baju khusus pelayan Mansion, Glenca segera keluar kamar dan mulai bekerja.
"Kau terlihat sangat segar, dan semakin cantik." Anna mengacungkan dua jempolnya pada Glenca. Dia tersenyum lebar.
"Aku tertidur sangat nyenyak semalam. Jadi, aku jauh semakin bersemangat. Tapi, kau juga terlihat sangat cantik."
"Jadi, selama ini aku tidak cantik?" Anna mengerucutkan bibirnya, berpura-pura sedih.
Glenca terkekeh pelan. Dia lalu merangkul Anna. "Kau selalu cantik. Setiap hari cantik."
Pipi Anna yang sangat putih dan sedikit pucat itu memerah. Dan itu membuat Glenca terkekeh.
"Aku jadi malu." Anna terkikik pelan. Marine yang melihat keduanya dari jarak yang sedikit jauh pun ikut tersenyum, merasa sangat senang melihat keduanya terlihat ceria.
Namun, semuanya hanya sesaat sebelum akhirnya senyum itu hilang digantikan dengan wajah serius dan sedikit tegang. Adeline tiba-tiba muncul dengan raut dingin yang cukup menyeramkan.
"Kalian bekerja, atau bergosip?" Suaranya terdengar dingin menegur.
Glenca dan Anna menunduk diam. Sepertinya Adeline sedang dalam suasana hati yang tidak baik. Mereka tidak boleh memancing emosinya jika tidak ingin di hukum.
"Glenca, ikut saya." Gadis itu berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
Glenca dan Anna saling melempar pandang. Sepertinya akan ada masalah lagi yang menimpa Glenca setelah ini.
"Dia pasti akan marah-marah. Aku minta maaf—"
"Bukan salah mu. Aku harus menemui Nona sekarang."
Anna mengangguk pelan. Glenca segera mendekat ke kamar Adeline dan mengetuk nya sebelum masuk. Desain kamar yang mewah langsung menyambut dan memanjakan mata Glenca. Tapi, bukan itu fokusnya sekarang. Semua fokusnya tertuju pada Adeline yang duduk tenang di sofa kamar.
Tatapan Adeline begitu dingin dan menusuk. Membuatnya bisa merasakan jika gadis itu tengah menyimpan amarah padanya.
Entah apa kesalahan yang ku lakukan lagi sekarang.
"Apa yang kau lakukan semalam?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Adeline.
Glenca tertegun mendengarnya. Dia jadi teringat tentang kejadian semalam. Tiba-tiba ia merasa panik dan menunduk. Setelah sadar ia mengenakan baju pelayan yang menutupi bekas kemerahan buatan Ethan di tulang selangkanya, Glenca baru merasa lega.
"Glenca?"
"Maaf, Nona. Saya tidak melakukan apapun semalam. Saya tidur setelah menyelesaikan semua pekerjaan saya."
"Kau yakin?" Adeline menatap menyelidik. Membuat Glenca mulai merasa gugup. Beruntung rasa gugupnya tidak begitu kentara. "Kau tidak meyambut Ethan semalam."
"Aku tidak tahu jika semalam Tuan kembali ke Mansion."
Adeline beranjak dari duduknya dan berjalan santai mendekati Glenca. Ia menatap Glenca dari atas hingga bawah dengan pandangan tak suka.
"Aku tahu, kau semalam berada di lantai tiga—"
"Adeline?"
Ketukan dan panggilan dari luar kamar membuat kalimat Adeline terpotong. Ia dan Glenca sama-sama menoleh ke arah pintu. Suara yang memanggil, mereka mengenali suara itu.
"Ada apa, Eth?" Adeline bertanya malas tanpa membuka pintu. Dia tidak ingin Ethan melihat Adeline yang kelihatan jauh lebih cantik dan segar pagi ini.
"Kau tidak ingin hadiah dariku?"
Adeline mendengus pelan. Namun begitu, ia tetap berjalan dengan kaki yang dihentak-hentak, meluapkan rasa kesalnya.
Dengan kasar ia membuka pintu kamar dan menatap tak suka pada Ethan.
"Kau marah?" Ethan mengusap pelan pipi adiknya.
"Jangan sentuh aku," balasnya menepis tangan Ethan.
Ethan marah? Tentu saja tidak. Adeline itu kesayangannya. Tingkah Adeline yang seperti ini sudah biasa ia hadapi.
"Huh, siapa yang membuatmu kesal? Katakan padaku." Ethan sedikit melirik kan matanya ke arah dalam kamar. Segaris senyum miring yang begitu tipis terukir di bibirnya.
"Kau yang membuatku kesal! Aku ingin bicara padamu. Tapi, berikan dulu hadiah yang kau maksud."
Ethan sangat gemas pada adiknya sekarang. Di saat marah pun dia masih ingat hadiahnya.
"Ini." Ethan memberikan sebuah kartu pada Adeline. Senyum Adeline langsung merekah. Ia menerimanya dengan perasaan senang, lalu melompat ke pelukan Ethan.
"Thanks, aku sudah lama menunggunya."
Ethan tersenyum dan balas memeluk adiknya. "Tapi, kau harus ditemani Lucas dan Martin."
"Ya, aku tidak masalah. Yang terpenting kau mengizinkanku ke sana."
Adeline lalu melepas pelukannya. Ia menatap kartu akses itu dengan binar bahagia. Sudah lama ia menginginkan kartu tersebut. Sudah cukup lama ia menahan diri untuk tidak menyusup ke kapal pesiar itu karena ia tidak pernah mendapat izin dari Ethan.
Namun kali ini, Ethan berbaik hati padanya. Dia tidak perlu menyusup untuk bisa berada disana. Cukup menggunakan kartu akses ini, dia bisa bebas keluar masuk kapal pesiar itu.
"Sekarang kau tidak marah lagi?"
Senyuman Adeline langsung lenyap. "Aku masih marah. Kau harus jelaskan sesuatu padaku."
Adeline berbalik masuk ke kamar di ikuti Ethan di belakangnya. Sejenak Ethan melirik Glenca yang masih berdiri patuh. Setelah itu dia duduk bersama Adeline di sofa.
"Aku melihat Glenca dari lantai tiga semalam."
Ucapan Adeline itu membuat Glenca terkejut. Wajahnya yang tertunduk langsung terangkat menatap Adeline.
"Kenapa? Kau terkejut?"
"Nona—"
"Kau berbohong padaku, Glenca. Kau bilang kau tertidur. Ternyata kau di tempat kakak ku. Apa yang kau lakukan disana? Mau merayu nya?"
"Maaf, Nona. Aku tidak pernah memiliki niat untuk merayu Tuan Ethan."
"Kau pikir aku akan percaya?"
"Percaya atau tidak, itu hak Nona. Tapi, kenyataan nya memang seperti itu." Glenca lalu melirik Ethan yang dengan tenang mendengarkan dirinya dan Adeline. "Nona bisa tanyakan pada Tuan Ethan, dia yang paling tahu apa yang terjadi semalam."
"Kalau begitu, aku permisi." Glenca menundukkan sedikit kepalanya lalu berbalik keluar dari kamar tersebut.
Adeline yang tak sabar langsung menyerang Ethan dengan pertanyaan yang menggebu.
"Apa maksudnya?"
"Kau ingin tahu?"
"Ya. Jangan katakan kalau kau ingin bermain-main dengannya."
"Hm."
"Eth? Kau waras? Bagaimana mungkin kau dengannya?"
"Itu bisa terjadi. Lagi pula aku hanya main-main."
"Jika Katty tahu, dia pasti sangat kesal."
"Kau pikir aku peduli?" Sahut Ethan santai. Adeline sudah menebak, lelaki itu pasti mengatakan hal tersebut. Dan tanpa Ethan maupun Adelin ketahui, Glenca mendengar percakapan mereka dari balik pintu yang tak tertutup rapat.
Pria brengsek! Batin Glenca.
terimakasih ❤️
untung aja glecha bisa kabur 😄
ini glencha beneran mau kabur ?? aduh pasti klo ethan tau bisa ngamuk nih😂🤔