Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.
Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.
Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.
Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Ilmu Delapan Dewi Bunga
“Izinkan aku ikut bergabung, aku kemalaman. Jika aku teruskan perjalanan ke arah sarang Perampok Raja Gagah, bisa-bisa aku bermalam di hutan,” kata Raja Anjas kepada Gujara.
“Kau sedang dalam perjalanan ke sarang Perampok Raja Gagah? Untuk apa?” tanya Gujara cepat.
“Membalas kematian keluargaku di desa yang mereka serang beberapa hari yang lalu. Saat mereka menyerang, aku sedang tidak berada di desa,” jawab Raja Anjas.
“Senggala, kami juga sedang menuju ke sarang para perampok itu,” kata Gadis Cadar Maut.
“Kalian juga ingin menumpas gerombolan itu?” tanya Raja Anjas.
“Benar,” jawab Gujara.
“Wah, kehendak Penguasa Alam kita bertemu. Berarti kita bisa saling membantu,” kata Raja Anjas sambil tertawa. Lalu katanya kepada Gadis Cadar Maut, “Jika tidak salah, bukankah nisanak yang bernama Gadis Cadar Maut?”
“Benar. Kau mengenalku, Senggala?”
“Tidak, hanya sebatas tahu saja, tapi juga bisa dikatakan sebagai pengagum,” kata Raja Anjas seraya tertawa kecil. Lalu katanya kepada Gujara, “Bagaimana dengan Kisanak?”
“Aku Gujara, murid Ki Sombajolo,” jawab Gujara.
“Ki Sombajolo mengenalku. Jika kau nanti kembali kepada gurumu, sampaikan salamku. Katakan saja dari pemuda di Hutan Kabut Hijau, dia pasti ingat,” kata Raja Anjas.
“Paman!” teriak Joko Tingkir yang datang dari kejauhan.
Mereka pun melihat ke arah sumber teriakan. Tampak Joko Tingkir memanggul seekor kambing muda liar. Sementara di belakangnya, Parsuto dengan tertatih-tatih berjalan memikul setumpuk kayu kering.
“Aku dapatkan kambing muda untuk makan malam kita!” kata Tingkir bangga.
“Bagus,” puji Gujara. “Tapi kenapa kau bebankan Parsuto seperti itu, lukanya masih perlu penyembuhan?”
“Tidak apa-apa, Paman. Kondisiku sudah kuat!” sahut Parsuto setelah menurunkan beban di pundaknya.
“Tapi, sepertinya kayu itu masih kurang, sebab perlu kayu juga untuk membakar kambingnya,” kata Gujara.
Tingkir dan Parsuto hanya tersenyum kecut mendengar kata-kata Gujara itu. Artinya, mereka harus pergi lagi mencari kayu kering.
Melihat reaksi kedua anak muda itu, Raja Anjas segera buka suara.
“Biar aku saja yang pergi mencari kayunya, hitung-hitung punya peran untuk makan di malam ini,” kata Raja Anjas, membuat Tingkir dan Parsuto tersenyum ikhlas.
“Terima kasih, Senggala,” ucap Gujara.
Raja Anjas alias Senggala lalu melangkah pergi.
“Paman!” seru Joko memanggil. “Aku ikut!”
“Joko!” panggil Gujara hendak mencegah pemuda itu pergi dengan orang asing.
Namun, Joko sudah berlari menyusul Raja Anjas dan berjalan di sisinya.
“Jangan cemas, anak ini tidak akan hilang jika bersamaku!” teriak Raja Anjas meyakinkan Gujara.
“Paman, siapa orang kaya itu?” tanya Tingkir sambil memandangi kepergian Raja Anjas dan Joko.
“Entahlah,” jawab Gujara.
“Lalu, kenapa Paman biarkan Joko bersama orang asing itu?” tanya Tingkir.
“Tenanglah, Joko tampaknya akrab dengan orang itu,” kilah Gujara. “Ayo kita buat perapian.”
Gujara bersama Tingkir dan Parsuto lalu bekerja membuat api. Dan memang, mereka masih kekurangan kayu.
Sementara itu, Gadis Cadar Maut memilih bersama adiknya yang masih memendam marah dan kekesalan. Mereka duduk bersama agak menjauh dari tempat Gujara membuat api.
“Bagaimana Kakak bisa memilih bersama orang-orang menyebalkan itu?” protes Tembangi.
“Kita membutuhkan tenaga mereka untuk menumpas kelompok perampok itu. Jika hanya mengandalkan apa yang kita miliki, kita akan kesulitan. Atau, bisa jadi kita akan gagal. Aku rasa, masalahmu hanya dengan Joko, kenapa semuanya kau permasalahkan?” kata Cadar Maut.
“Oh, jadi namanya Joko. Dia memang pemuda aneh. Bibir merah seperti pakai gincu, takut didekati perempuan, suka bicara sendiri, dan berpikiran kotor!” gerutu Tembangi.
“Bukankah kau yang mencari masalah dengannya?” tukas sang kakak.
“Kakak bukannya membelaku, malah menyalahkanku!” sungut Tembangi.
“Kau tidak menerima alasan pembelaannya?” tanya Cadar Maut seraya terdengar tertawa kecil.
“Kenapa Kakak malah menertawaiku? Jelas-jelas aku dilecehkan oleh orang mesum dan aneh seperti itu!”
“Menurutku Joko itu tampan, wajar saja jika kau penasaran ingin menjajalnya,” kata Cadar Maut bermaksud menggoda adiknya.
“Aku menantangnya bertarung bukan karena aku tertarik dia, tapi karena aku suntuk tidak ada kerjaan,” kilah Tembangi.
“Tapi, berhasilnya dia menghantam dadamu dengan mata tertutup, jelas menunjukkan tingkat kepandaiannya yang lebih tinggi darimu. Dan aku tidak heran, sebab Joko itu murid orang sakti ternama,” kata Cadar Maut.
“Siapa?” tanya Tembangi cepat.
“Ki Ageng Kunsa Pari, tokoh sakti tua aliran putih yang sulit dicari tandingnya. Jadi, rasanya mustahil jika tokoh putih seperti itu membekali muridnya pikiran kotor seperti tudinganmu itu,” kata Cadar Maut.
“Tapi buktinya, dia memegang dadaku,” kata Tembangi pelan tapi dengan wajah masih merengut.
“Bagaimana rasanya? Hahaha!” tanya Cadar Maut seraya tertawa agak keras.
Sementara itu, Raja Anjas berjalan bersama Joko di dalam keremangan alam yang kian gelap.
“Apakah Paman Senggala pernah punya penyakit sepertiku?” tanya Joko.
“Bukan Paman, Joko, tapi ayah Paman,” jawab Raja Anjas. “Setiap ayah Paman bersentuh kulit dengan perempuan, maka ia akan berubah lemas, gemetar dan tidak berdaya. Tapi dengan cara-cara seperti yang aku ajarkan kepadamu itu, Ayah bisa mengatasi penyakitnya. Hanya saja, penyakit itu hilang setelah bertahun-tahun melatih diri. Salah satu cara yang Ayah lakukan untuk menyembuhkan penyakitnya adalah segera menikah.”
“Menikah? Berarti ayah Paman tidur bersama wanita yang dinikahinya?” tanya Joko heran.
“Benar. Sejak ia punya istri, mau tidak mau ia bersentuhan dengan istrinya. Setiap bersentuhan, Ayah pasti menjadi lemas hingga nyaris pingsan. Namun, Ayah lakukan itu setiap hari. Hingga beberapa tahun kemudian, Ayah menjadi terbiasa dan penyakit itu pun hilang. Jadi, jika kau mau mengikuti cara ayahku, kau harus cepat menikah.”
“Tapi aku masih begitu muda, Paman. Aku masih belum mengerti urusan pernikahan dan hubungan lelaki dan wanita,” kata Joko yang membuat Raja Anjas hanya tertawa. Joko lalu bertanya, “Sebenarnya apa penyebab ayah Paman dan aku memiliki penyakit seperti itu?”
“Itu penyakit keturunan, tapi aku tidak mewarisi penyakit itu. Itu adalah salah satu ciri bahwa Ayah mewarisi kesaktian kakek dan eyang buyut Paman.”
“Kesaktian apa, Paman?” tanya Joko.
“Namanya Delapan Dewi Bunga. Ilmu itu hanya dimiliki oleh keluarga Paman dan tidak bisa dimiliki oleh orang lain,” jawab Raja Anjas.
“Tapi penyakitku tidak mungkin ciri ilmu Delapan Dewi Bunga,” kata Joko seraya tertawa sendiri. “Tapi, Paman, gadis itu jadi begitu marah kepadaku.”
“Sebagai seorang pendekar, pantang punya beban salah kepada orang lain, kecuali kepada musuh. Jangan malu untuk mengatakan kata maaf kepada siapa pun. Kau harus meminta maaf kepada gadis cantik itu,” ujar Raja Anjas.
“Tapi, bagaimana jika dia tidak mau memaafkan aku, Paman?” tanya Joko.
“Kau tidak boleh menyerah. Ucapkan lagi di lain kesempatan. Jika belum berhasil, coba lagi. Sampai ia benar-benar mau memaafkanmu.”
“Ternyata meminta maaf itu tidak mudah juga ya, Paman.” (RH)