Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Kolam Ular - Bagian 2
Renard datang sebelum alarm selesai meraung.
Pintu besi terbuka keras menghantam dinding. Momo menoleh, dan untuk pertama kalinya ia melihat wajah Renard kehilangan semua lapisan dingin dalam satu detik.
Ia tidak bertanya.
Tidak memberi perintah.
Tidak menilai.
Ia melompat.
"Tuan!" teriak Albert dari belakang.
Tubuh Renard menghantam air dangkal kolam ular. Ular-ular menyebar dengan gerakan liar. Momo terkesiap. Seekor ular hitam meluncur ke arah kaki Renard, yang lain mengangkat kepala dekat lengannya. Renard tidak mundur. Ia berjalan menuju Momo seolah kolam itu hanya air hujan di jalan.
"Jangan bergerak," katanya.
"Kau gila!"
"Aku bilang jangan bergerak."
Ular pertama menggigit lengan bawah Renard.
Momo menjerit.
Renard hanya mengatupkan rahang. Ia tetap maju. Ular kedua menyerang betisnya. Yang ketiga menyambar dekat pergelangan tangan. Darah bercampur air keruh. Momo merasa lututnya hampir lepas.
Lalu sesuatu bergerak dari sisi kolam.
Ular besar berwarna biru tua, hampir hitam di bawah lampu kuning, muncul dari balik batu. Tubuhnya lebih panjang dari ular lain, kepalanya terangkat anggun. King cobra. Namun berbeda dari yang lain, ular itu tidak menyerang. Ia bergerak di antara Momo dan ular-ular kecil, mendesis rendah, membuat beberapa ular mundur.
Renard berhenti sepersekian detik.
"Misteri," bisiknya.
Momo tidak punya waktu bertanya.
Renard sudah sampai di depannya. Ia meraih pinggang Momo, menariknya ke dada. Tubuhnya panas, basah, dan tegang oleh racun serta adrenalin. Momo mencengkeram bahunya.
"Kau digigit!"
"Diam."
"Renard!"
Ia menatap Momo. Matanya tajam, tetapi di dalamnya ada ketakutan yang membuat suara Momo mati.
"Aku tidak menyelamatkanmu dari laut untuk kehilanganmu di kolam tua."
Renard mengangkat Momo keluar lebih dulu. Albert dan dua pengawal menariknya ke tepi. Momo hampir jatuh, tetapi matanya tetap pada Renard. Pria itu memanjat keluar dengan gerakan lebih lambat dari biasanya. Ketika kakinya menyentuh lantai, tubuhnya goyah.
Anthony datang darurat kurang dari dua puluh menit kemudian.
Di kamar medis, semua bergerak cepat. Antivenom. Infus. Kompres. Anthony mengumpat dalam bahasa yang Momo tidak mengerti. Albert menahan pengawal penyusup di luar, suara pukulan dan interogasi tertahan oleh pintu.
Renard berbaring pucat di ranjang. Empat bekas gigitan terlihat di lengan dan kaki. Ototnya kadang mengejang. Matanya tidak fokus.
Momo duduk di samping ranjang, masih basah, selimut menggantung di bahu. Anthony sempat menyuruhnya keluar. Ia tidak bergerak.
"Dia perlu tenang," kata Anthony.
"Aku juga," jawab Momo.
Anthony menatapnya sebentar, lalu menyerah.
Renard menggigil.
"Rola..." bisiknya.
Momo membeku.
Nama itu dari buku catatan.
"Rola... jangan ke air..."
Tangannya bergerak liar di atas seprai. Momo refleks menangkapnya. Jari Renard menggenggam balik terlalu kuat, hampir menyakitkan.
"Aku tidak bisa..." Suaranya pecah. "Aku tidak bisa menyelamatkan Rola..."
Dada Momo terasa diremas.
Renard yang setengah sadar bukan pria yang berkata "kamu milikku." Ia anak laki-laki di halaman buku yang menggambar kastel dan ingin mengunci orang jahat di luar. Ia pria yang melompat ke kolam ular tanpa menghitung tubuhnya sendiri.
"Tapi kali ini..." Renard menarik napas patah-patah. "Kali ini aku menyelamatkannya..."
Momo menatap wajahnya.
Jadi selama ini ia melihat siapa?
Dirinya?
Atau bayangan adik perempuan yang gagal ia lindungi?
Rasa sakit itu seharusnya membuat Momo marah. Tetapi yang muncul justru sesuatu yang lembut dan hancur.
Renard makin lemah. Anthony memeriksa pupilnya, memberi instruksi baru. Momo melihat kelopak mata Renard turun.
"Jangan," bisiknya.
Renard tidak merespons.
Momo menggenggam tangannya lebih erat. Di luar, ular biru itu entah di mana. Di dalam, pria yang membuatnya takut terbaring karena memilih tubuhnya sebagai tameng.
Momo menunduk dekat telinganya.
"Jangan mati."
Renard jatuh ke air seperti keputusan yang tidak bisa dibatalkan.
Tidak ada tali. Tidak ada tongkat. Tidak ada rencana yang terlihat. Ia melompat dari tepian atas, mantel hitamnya terbuka, wajahnya begitu pucat sampai Momo sempat berpikir racun gala belum selesai bekerja. Air memercik tinggi. Ular-ular bergerak liar.
"Kamu gila!" Momo berteriak.
"Diam."
"Ada ular!"
"Aku melihat."
"Lalu kenapa masuk?"
Renard berjalan ke arahnya, air sampai pahanya. Satu ular kecil meluncur dekat kakinya. Pengawal di atas berteriak meminta izin menembak, tetapi Albert menahan mereka karena peluru bisa memantul dari kaca dan batu.
Momo mundur. "Jangan mendekat."
"Tidak."
"Renard!"
Ia sampai di depan Momo dan meraih lengannya. "Kau terluka?"
"Aku bilang jangan mendekat!"
"Jawab."
"Belum!"
Baru setelah kata itu keluar, Momo melihat darah di pergelangan Renard. Gigitan pertama. Lalu satu lagi di betis. Ular kecil yang tadi bergerak cepat menghilang di balik batu.
"Kamu digigit."
"Aku tahu."
"Keluar!"
"Bersamamu."
Matanya keras, tetapi napasnya mulai berat. Momo merasakan panik naik, liar, tidak masuk akal. Ia pernah ingin Renard terluka. Ia pernah membayangkan pria itu merasakan takut yang ia berikan kepada orang lain. Tetapi ketika darahnya benar-benar bercampur dengan air kolam, tubuh Momo menolak seluruh kebencian yang seharusnya menyelamatkannya.
Di sisi lain kolam, ular besar berwarna gelap bergerak dari celah batu.
Blue Baron.
Atau Misteri, seperti catatan lama menyebutnya.
Semua orang di atas mendadak sunyi.
Ular itu tidak langsung menyerang. Ia mengangkat kepala, lidahnya keluar masuk, matanya kecil dan hitam. Momo merasakan Renard mendorong tubuhnya ke belakang, menempatkan dirinya di depan.
"Jangan," bisik Momo.
Renard tidak menoleh. "Kalau aku jatuh, lari ke tangga."
"Tidak ada tangga yang aman."
"Cari."
"Berhenti memberi perintah seperti kamu boleh mati!"
Kali ini Renard menatapnya. Dalam mata yang mulai kabur oleh racun, Momo melihat sesuatu yang aneh: bukan perintah, bukan klaim, melainkan rasa bersalah yang begitu tua sampai terlihat seperti kelelahan.
"Rola..." bisiknya.
Momo membeku.
"Aku tidak bisa menyelamatkan Rola."
Tubuh Renard goyah.
"Kali ini aku menyelamatkannya."
Momo tidak tahu apakah dia sedang melihat dirinya atau hantu adiknya. Ia hanya tahu pria besar yang selama ini memenuhi dunia dengan kendali tiba-tiba tampak seperti anak laki-laki yang masih berdiri di depan pintu terkunci.
Blue Baron bergerak.
Bukan menyerang Momo.
Ular itu melingkar di depan mereka, kepala mengarah ke ular-ular kecil lain yang mulai mendekat. Seperti penjaga gelap yang memilih wilayahnya sendiri. Albert berteriak kepada orang di atas untuk menurunkan kait penyelamat. Momo mendengar semua itu seperti dari jauh.
Renard jatuh ke satu lutut.
Momo menangkap wajahnya dengan kedua tangan sebelum ia tenggelam. Kulitnya panas, bibirnya pucat, napasnya patah.
"Renard, lihat aku."
Matanya bergerak, sulit fokus.
"Jangan tidur," katanya. "Kamu dengar? Kamu tidak boleh memaksa masuk ke kolam ular lalu mati di depanku. Itu bukan tindakan romantis. Itu bodoh."
Senyum lemah hampir muncul di bibirnya. "Kau... khawatir."
"Aku marah!"
"Bisa dua-duanya."
Momo ingin menangis karena ia masih sempat mengulang kalimat menyebalkan itu.
Tali akhirnya turun. Albert berteriak instruksi. Momo melilitkan tali ke tubuh Renard dengan tangan gemetar, sementara Blue Baron tetap melingkar di antara mereka dan ular lain.
Saat mereka ditarik naik, Renard kehilangan kesadaran.
Momo menekan wajahnya ke dada pria itu, mencari napas.
"Jangan mati," bisiknya.
Di tepi kolam, Anthony sudah berteriak lewat sambungan video bahkan sebelum Renard benar-benar diletakkan di lantai.
"Jangan biarkan dia tidur. Tekan luka. Hitung napasnya."
Momo berlutut di samping Renard. Gaunnya basah, lututnya berdarah, tetapi seluruh perhatiannya terkunci pada wajah pria itu. Albert mencoba mengambil alih, namun Momo menepis tangannya.
"Aku bisa."
Albert menatapnya sekejap, lalu memberikan kain.
Momo menekan bekas gigitan di lengan Renard. Darah merembes di antara jarinya. Panas tubuh pria itu naik turun tidak stabil. Ia tidak terlihat seperti monster sekarang. Ia terlihat seperti orang yang terlalu sering bertahan sampai tubuhnya tidak tahu kapan harus berhenti.
"Renard," kata Momo. "Dengar aku."
Kelopak matanya bergetar.
"Kalau kamu mati, aku akan sangat marah."
Albert menunduk, mungkin agar tidak memperlihatkan ekspresi.
Momo tidak peduli.
"Kamu tidak boleh mati sebelum menjelaskan semua hal. Lucia. Rola. Sen. Kenapa aku. Kenapa gelang ini. Kenapa kamu selalu membuat semuanya lebih rumit daripada neraka."
Renard tidak menjawab.
Momo menekan lebih keras, air mata akhirnya jatuh dan bercampur dengan air kolam di pipinya. "Kamu dengar? Aku belum selesai membencimu."
Di bawah telapak tangannya, denyut Renard masih ada.
Lemah.
Tetapi ada.
"Jangan mati," bisiknya.
Ketika tandu datang, Renard sempat membuka mata sedikit.
Tatapannya tidak fokus, tetapi menemukan Momo seperti kompas rusak yang tetap menunjuk satu arah.
"Kau..." Suaranya hampir tidak ada. "Tidak digigit?"
Momo tertawa sekali, pecah di tengah. "Kamu hampir mati dan masih memeriksa aku?"
"Jawab."
"Tidak. Aku tidak digigit."
Baru setelah mendengar itu, kelopak mata Renard turun lagi.
Momo ingin memukulnya.
Ia ingin memeluknya.
Dua keinginan itu sama-sama membuatnya takut.
Anthony berteriak agar mereka bergerak lebih cepat. Albert membantu mengangkat tandu. Momo tetap memegang sisi tandu sampai pengawal harus menyesuaikan langkah dengannya. Tidak ada yang menyuruhnya pergi. Mungkin karena wajahnya terlalu liar untuk dibantah.
Di ujung koridor, Momo melihat air dari rambut Renard menetes ke lantai, bercampur darah dan sisa racun.
"Jangan mati," bisiknya.
Kali ini, permohonan itu keluar tanpa paksaan.