NovelToon NovelToon
Skenario Semesta Di Jari Manis

Skenario Semesta Di Jari Manis

Status: tamat
Genre:Slice of Life / CEO / Percintaan Konglomerat / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kanaya "Naya" Larasati (24) adalah seorang ilustrator buku anak yang berjiwa bebas, sedikit ceroboh, dan sangat anti pada aturan yang kaku. Hidupnya jungkir balik ketika neneknya yang sedang sakit keras memiliki satu permintaan terakhir: melihat Naya menikah dengan cucu sahabat lamanya.
​Dhandy "Dhan" Abimanyu (29) adalah seorang CEO perusahaan properti yang dingin, gila kerja, gila kebersihan (clean freak), dan hidupnya terjadwal hingga ke menit. Bagi Dhan, pernikahan adalah sebuah kontrak bisnis untuk menenangkan keluarganya agar ia bisa fokus bekerja.
​Ketika dua kutub yang berlawanan ini dipaksa tinggal di bawah satu atap apartemen mewah di Jakarta Selatan, "Perang Dunia Ketiga" pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Jempol Istri Sah dan Infus Masa Lalu

​Pukul 22.00 WIB. Apartemen Dhandy.

​Naya duduk di kursi drafting studio barunya. Tidak ada kuas atau cat di tangannya. Yang ada hanya iPad Pro pemberian Dhandy, setumpuk berkas rekening koran digital di ponsel, dan segelas kopi hitam (kali ini dia butuh kafein, bukan gula).

​Air matanya sudah kering. Rasa sedih karena ditinggal Dhandy menemui Clarissa sudah berubah wujud menjadi bahan bakar kemarahan yang dingin.

​"Oke, Raka. Lo mau main api? Gue punya pemadam kebakaran," gumam Naya.

​Di layar iPad, thread Raka makin menggila.

@Raka_ArtSoul: "Bayangkan, karya seni lo dibuang, cinta lo dikhianati demi tas branded dan mobil mewah. Kapitalisme membunuh romansa."

Retweets: 5.4K. Likes: 12K.

​Komentar-komentar di bawahnya makin liar, bahkan ada yang mulai doxing (menyebar data pribadi) kantor Dhandy.

"Spill inisial suaminya kak! CEO Abimanyu Group ya? Wah, boikot aja perusahaannya!"

​Naya menarik napas panjang. Dia membuka akun Twitter lamanya yang sudah berdebu. Akun dengan username @KanayaArt yang dulu cuma dipakai buat posting gambar kucing.

​Naya mulai mengetik. Jarinya menari lincah di atas layar kaca.

​THREAD: KISAH NYATA DI BALIK "SENIMAN TERSAKITI". (A.k.a: Balasan Buat Mantan yang Lupa Ngaca).

​Tweet 1:

"Halo netizen budiman. Saya Naya, wanita 'materialistis' yang disebut di thread sebelah. Sebelum kalian menghujat suami saya yang bekerja keras 18 jam sehari, mari kita luruskan fakta dengan BUKTI (Receipts attached)."

​Tweet 2:

"Fakta 1: 'Ditinggal demi harta'. Kita putus 6 bulan sebelum saya kenal suami saya. Alasannya? Kamu selingkuh sama backing vocal band kamu di kostan Dago. Ini bukti chat kamu minta maaf dan foto kalian berdua." (Lampiran: Screenshot chat & foto blur tapi jelas).

​Tweet 3:

"Fakta 2: 'Kapitalisme membunuh seni'. Seni butuh modal, Mas. Dan modal itu kamu dapet dari MEMINJAM uang tabungan saya selama 2 tahun pacaran. Total: Rp 15.450.000 untuk beli gitar, servis motor, dan rokok. Belum dibayar sepeser pun sampai hari ini." (Lampiran: Mutasi rekening BCA).

​Tweet 4:

"Fakta 3: Suami saya. Dia memang CEO. Dia kaku kayak robot. Tapi dia TIDAK PERNAH merendahkan orang lain. Dia bekerja keras membangun perusahaannya, menghidupi ribuan karyawan, dan dia bertanggung jawab. Beda sama kamu yang cuma bisa bikin puisi sedih sambil nunggu transferan orang tua."

​Tweet 5 (Penutup):

"Jadi, tolong stop ganggu hidup kami. Saya bahagia bukan karena mobil mewah, tapi karena saya punya partner yang menghargai saya. Sekian dan terima kasih. #Receipts #DramaMantan"

​SEND.

​Naya meletakkan iPad-nya. Tangannya gemetar, tapi hatinya puas.

​Dalam hitungan menit, notifikasi meledak.

​@Netizen1: "ANJIRRR PLOT TWIST! Ternyata lakinya yang mokondo!"

@Netizen2: "Gila receipts-nya lengkap banget! Mutasi rekening nggak bisa bohong bos!"

@Netizen3: "Mbak Naya savage! 'Dia kaku kayak robot' wkwk gemes banget belain suaminya."

​Opini publik berbalik arah secepat kilat. Akun Raka mulai diserang balik. Nama baik Dhandy terselamatkan—bukan oleh tim PR perusahaan yang mahal, tapi oleh jempol istrinya yang sedang patah hati.

​Naya menatap layar yang berkedip-kedip itu.

​"Tugas istri selesai, Mas," bisik Naya pada ruang kosong. "Sekarang... Mas lagi ngapain sama dia?"

​Pukul 22.30 WIB. IGD Rumah Sakit Medistra.

​Bau antiseptik yang menyengat membuat perut Dhandy mual. Dia duduk di kursi tunggu plastik yang keras di depan tirai IGD.

​Di balik tirai itu, dokter sedang memeriksa Clarissa. Wanita itu tidak mencoba bunuh diri secara fisik—syukurlah—tapi dia mengalami serangan panik hebat (severe panic attack) dan dehidrasi akibat tidak makan berhari-hari. Dia pingsan di lobi hotel tempat dia menginap saat Dhandy tiba.

​Dhandy memijat pelipisnya. Kepalanya berdenyut nyeri.

​Tirai tersibak. Dokter jaga keluar.

​"Keluarga Bu Clarissa?"

​"Teman," koreksi Dhandy cepat. "Bagaimana kondisinya?"

​"Sudah stabil. Kami sudah berikan sedatif ringan supaya bisa istirahat. Asam lambungnya naik, tapi tidak berbahaya. Dia butuh istirahat dan penanganan psikiater untuk manajemen stresnya."

​"Terima kasih, Dok."

​Dhandy masuk ke balik tirai. Clarissa terbaring dengan infus di tangan kirinya. Wajah cantiknya terlihat tyrus dan pucat. Matanya terbuka sedikit saat melihat Dhandy.

​"Dhan..." panggil Clarissa lemah. Air mata langsung menggenang di sudut matanya. "Jangan pergi..."

​Dhandy berdiri di sisi ranjang, memasukkan kedua tangan ke saku celana. Dia tidak memegang tangan Clarissa. Tiga tahun lalu, mungkin dia akan langsung memeluk wanita ini. Tapi sekarang? Rasanya... kosong.

​Hanya ada rasa kasihan. Tidak ada getaran. Tidak ada keinginan untuk melindungi seperti saat dia melihat Naya sakit demam kemarin.

​"Aku di sini sebentar, Rissa. Sampai asisten kamu datang," kata Dhandy datar.

​"Kenapa kamu nikah, Dhan?" isak Clarissa. "Aku pulang ke Indonesia buat kamu. Karirku di Paris hancur. Aku cuma punya kamu."

​"Kamu meninggalkan aku tiga tahun lalu, Rissa. Kamu memilih Paris," Dhandy mengingatkan, suaranya tenang namun tegas. "Dan aku menikah karena aku memilih untuk melanjutkan hidup."

​"Apa dia lebih cantik dari aku? Apa dia lebih pinter?"

​Dhandy terdiam. Bayangan Naya muncul di kepalanya. Naya yang makan seblak, Naya yang melipat celana dalam bergambar beruang, Naya yang tertawa lepas saat perang bantal.

​"Dia... berbeda," jawab Dhandy. "Dia berisik. Ceroboh. Tapi dia membuat rumahku tidak terasa seperti kuburan."

​Clarissa menangis makin kencang, mencoba meraih tangan Dhandy.

​Dhandy mundur selangkah.

​Tiba-tiba, ponsel Dhandy di saku jas bergetar tanpa henti. Bzzzt. Bzzzt. Bzzzt.

​Dhandy mengambil ponselnya, mengira itu darurat kantor.

​Notifikasi Twitter (X) membanjiri layarnya. Dhandy jarang membuka aplikasi itu, tapi kali ini headline notifikasinya menarik perhatiannya.

​Trending Topic: #IstriCEOvsMantanToxic

Trending Topic: Bu Naya

Trending Topic: Abimanyu Group

​Jantung Dhandy mencelos. Ada apa ini?

​Dia membuka tautan yang dikirim oleh Bu Sari via WhatsApp dengan caption: "Pak, Ibu Naya luar biasa. Bapak harus lihat ini."

​Dhandy membaca thread yang dibuat Naya.

​Dia membaca setiap kata.

Dia melihat bukti transfer yang Naya lampirkan.

Dan matanya terpaku pada Tweet nomor 4.

​"Suami saya. Dia memang CEO. Dia kaku kayak robot. Tapi dia TIDAK PERNAH merendahkan orang lain... Dia bertanggung jawab. Beda sama kamu..."

​Dhandy terpaku. Di saat dia meninggalkan Naya sendirian untuk mengurus mantan pacarnya (Clarissa), Naya justru sedang mati-matian membela nama baiknya dari serangan mantan pacarnya (Raka).

​Naya berjuang sendirian. Melawan ribuan orang asing. Demi dia.

​Rasa bersalah menghantam Dhandy seperti truk kontainer.

​Dia melihat Clarissa yang masih menangis manipulatif di ranjang, menuntut perhatiannya. Lalu dia melihat layar ponselnya, membaca tulisan Naya yang penuh keberanian.

​Kontras itu begitu nyata.

​Clarissa adalah masa lalu yang menariknya mundur ke dalam drama dan kesedihan.

Naya adalah masa depan yang berdiri di depannya, melindunginya dengan perisai rapuh namun kokoh.

​"Dhan... kamu denger aku nggak sih?" rengek Clarissa.

​Dhandy memasukkan ponselnya kembali ke saku. Wajahnya berubah. Tatapan kasihan itu hilang, digantikan oleh tatapan dingin dan tegas khas Dhandy Abimanyu.

​"Rissa," panggil Dhandy.

​"Ya?"

​"Saya sudah menghubungi asisten kamu. Dia akan sampai 15 menit lagi. Saya sudah lunasi administrasi rumah sakit untuk malam ini."

​Clarissa terbelalak. "Kamu mau pergi? Tega kamu, Dhan! Aku lagi sakit!"

​"Istri saya menunggu di rumah," kata Dhandy. Suaranya tidak ragu sedikit pun. "Dia sedang menghadapi masalah karena membela saya. Tempat saya bukan di sini. Tempat saya di samping dia."

​"Dhan! Kalau kamu pergi, aku..."

​"Jangan mengancam saya dengan nyawamu lagi, Clarissa," potong Dhandy tajam. Aura CEO-nya keluar, membuat Clarissa menciut. "Itu manipulasi murahan. Hargai dirimu sendiri. Semoga cepat sembuh."

​Tanpa menoleh lagi, Dhandy membalikkan badan dan berjalan keluar IGD dengan langkah lebar. Dia tidak peduli teriakan Clarissa di belakangnya.

​Yang ada di pikirannya cuma satu: Pulang. Naya.

​Pukul 23.45 WIB. Apartemen Dhandy.

​Naya tertidur di sofa ruang tamu dengan posisi meringkuk. iPad-nya masih menyala di meja, menampilkan notifikasi kemenangan. Dia lelah mental.

​Pintu apartemen terbuka pelan.

​Dhandy masuk. Dia melihat Naya yang tertidur di sofa. Hatinya nyeri melihat pemandangan itu. Harusnya Naya tidur nyaman di kasur, bukan menungguinya seperti ini.

​Dhandy melepaskan sepatunya, berjalan mendekat tanpa suara. Dia berlutut di samping sofa, menatap wajah tidur Naya. Ada sisa air mata yang mengering di pipinya.

​Dhandy mengulurkan tangan, mengusap pipi itu pelan.

​"Maaf," bisik Dhandy. "Saya bodoh."

​Naya menggeliat. Matanya mengerjap pelan, lalu terbuka. Dia kaget melihat wajah Dhandy begitu dekat.

​"Mas...?" Naya bangun, duduk tegak. "Udah pulang? Clarissa gimana?"

​Naya berusaha terdengar ketus, tapi suaranya serak.

​"Dia diurus dokter dan asistennya. Bukan urusan saya lagi," jawab Dhandy. Dia tidak menjauh, tetap berlutut di depan Naya, membuat posisi matanya sejajar dengan Naya yang duduk.

​"Oh. Bagus deh," Naya memalingkan wajah. "Mas tau nggak, tadi Raka..."

​"Saya tahu," potong Dhandy. "Saya sudah baca semuanya. Thread kamu. Pembelaan kamu."

​Naya menunduk. "Maaf kalau saya lancang buka aib di medsos. Saya cuma nggak terima Mas dibilang kapitalis jahat. Padahal Mas kan cuma robot yang taat aturan."

​Dhandy tersenyum tipis. Dia meraih tangan Naya, menggenggamnya erat di atas lutut Naya.

​"Terima kasih," ucap Dhandy tulus. Matanya menatap langsung ke manik mata Naya. "Kamu membela saya saat saya justru mengecewakan kamu. Saya suami yang buruk malam ini."

​Naya tertegun. Dhandy mengakui kesalahan? Tanpa berdebat?

​"Mas emang nyebelin," kata Naya, matanya berkaca-kaca lagi. "Saya takut Mas balikan sama dia. Dia cinta pertama Mas, kan?"

​"Dia masa lalu, Naya. Bab yang sudah selesai," Dhandy menegaskan. Dia mengangkat tangan Naya, lalu—untuk pertama kalinya—mencium punggung tangan istrinya itu. Lama. Hangat.

​"Kamu bab saya sekarang. Dan saya tidak berniat menutup buku ini dalam waktu dekat."

​Jantung Naya rasanya mau meledak. Ini beneran Dhandy? Atau dia kesambet hantu rumah sakit?

​"Mas... kontrak kita..." cicit Naya.

​"Persetan dengan kontrak," umpat Dhandy pelan (pelanggaran bahasa kasar pertama!). "Besok saya minta pengacara merevisi beberapa pasal."

​"Pasal apa?"

​"Pasal yang melarang saya untuk..." Dhandy berhenti. Dia mencondongkan wajahnya mendekat.

​Naya menahan napas. Ciuman? Sekarang?

​Dhandy menatap bibir Naya, lalu beralih ke matanya. Dia melihat keraguan dan harapan di sana.

​Namun, Dhandy menahan diri. Dia tidak mau mencium Naya hanya karena terbawa suasana emosional atau rasa bersalah. Naya pantas mendapatkan lebih dari sekadar ciuman pelarian.

​Dhandy mengecup kening Naya. Lembut dan lama.

​"Pasal yang melarang saya untuk memprioritaskan kamu di atas segalanya," bisik Dhandy di kening Naya.

​Naya memejamkan mata, air mata bahagia menetes. Ciuman di kening itu rasanya jauh lebih intim daripada di bibir. Itu janji perlindungan.

​Dhandy menarik diri, lalu berdiri dan mengulurkan tangan.

​"Ayo pindah ke kamar. Badan kamu sakit semua kalau tidur di sofa."

​Naya menyambut tangan itu.

​"Mas," kata Naya saat mereka berjalan ke kamar.

​"Hm?"

​"Clarissa cantik nggak aslinya?"

​Dhandy melirik Naya. "Cantik."

​Naya cemberut.

​"Tapi dia tidak bisa melukis, tidak bisa bikin seblak, dan tidak berani melawan ribuan orang demi saya," lanjut Dhandy. "Jadi secara kalkulasi poin, kamu menang telak."

​Naya tertawa, memukul lengan Dhandy. "Dasar suami kalkulator!"

​Malam itu, mereka tidur dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Clarissa mungkin kembali ke Jakarta, tapi hantu masa lalu itu sudah kehilangan kekuatannya. Karena di penthouse itu, ada ikatan baru yang perlahan menguat, teruji oleh badai Twitter dan drama rumah sakit.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca📖

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
Alissia
ngakak bacanya nay🤣🤣🤣🤣
destiana
ceritanya bagus banget
destiana
lucu banget sih lu nay🤣🤣🤣🤣
Vera Ellen
👍
Septi Lahat
ceritanya indah,,Terima kasih tuk karya nya kak thor,, sukses terus selanjutnya😍😍😍
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
lumayan seru🙂
Riana Zahrah
suka bgt yang gak bertele-tele gini, semoga hidup mu juga gak bertele-tele ya penulis.
ms. S
ceritanya simpel tapi mengena bgt, suasana mendukung bikin suasana hati yg mengggeltik di tiap adegan. suka karena episode nya sedikit tapi bagus bgt. good job. semoga novel ini byk yg baca setelah ini
Pappan Boquet
intinya w suka ceritanya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!