NovelToon NovelToon
BENANG PUTUS KARENA CINTA PERTAMA

BENANG PUTUS KARENA CINTA PERTAMA

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Pelakor / Tamat
Popularitas:127.2k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Dhita selalu percaya bahwa pernikahan yang ia bangun dengan Reza adalah rumah yang kokoh—tempat ia menaruh seluruh harapan, kasih sayang, dan kesetiaannya. Namun semua runtuh ketika cinta pertama Reza kembali muncul, menghadirkan bayang-bayang masa lalu yang tak pernah benar-benar padam.

Dalam hitungan hari, Dhita yang selama ini berjuang mempertahankan rumah tangga justru dipaksa menerima kenyataan pahit: Reza menceraikannya demi perempuan yang pernah ia cintai bertahun-tahun lalu. Luka itu dalam, merembes sampai ke bagian hati yang Dhita pikir sudah kebal.

Di tengah serpihan hidup yang berantakan, Dhita harus belajar berdiri lagi—menata hidup tanpa sosok yang selama ini ia sayangi, menghadapi pandangan orang, dan menerima bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan berakhir. Namun Tuhan tak pernah meninggalkan hati yang hancur. Dalam perjalanan menyembuhkan diri, Dhita menemukan kekuatan yang tak pernah ia sadari, serta harapan baru yang perlahan mengetuk pintu hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Lamaran

Pagi itu Dhita sudah tampak cantik. Dia berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya, memastikan penampilannya rapi dan nyaman. Bukan untuk siapa-siapa, hanya untuk dirinya sendiri—untuk awal yang ingin dia tata dengan lebih baik.

Hari ini dia akan berangkat ke ruko bersama Ghio. Sudah dua hari ini para tukang sibuk mengecat, dan Dhita merasa waktunya pas untuk mulai turun tangan langsung. Dia ingin melihat hasilnya, merapikan barang-barang, membayangkan bagaimana ruko itu akan hidup dan bernapas seoerti harapannya.

Tas kecil sudah di pundaknya ketika Ghio datang menjemput. Ada semangat kecil yang menghangat di dadanya. Bukan sekadar membereskan ruko, tapi juga membereskan banyak hal di dalam dirinya.

"Ayo, Kak, kita berangkat.” Ghio mendahului jalan.

"Ayo.” Dhita mengikuti adiknya.

Begitu mereka melangkah keluar, beberapa ibu-ibu yang sedang berbelanja di tukang sayur tampak menoleh. Senyum-senyum ramah terlempar, dan Dhita membalasnya dengan sopan. Namun, keramahan itu tak sepenuhnya bebas dari rasa ingin tahu.

"Sudah cantik, Nak Dhita. Mau ke mana?” Celetuk seorang ibu sambil tersenyum tipis. Lalu, tanpa ragu, dia melanjutkan, “Sudah move on ya? Nggak kelihatan bersedih lagi padahal habis dicerai suami.”

"Iya, jangan terus-terusan bersedih lah.” Timpal yang lain, seolah memberi nasihat. "Hidup kan harus terus berjalan.”

Belum sempat Dhita menjawab, suara lain menyusul, kali ini disertai tawa kecil. “Bentar lagi juga dapat duda kaya, ya, Nak?”

"Atau malah bujangan sekalian.” Sahut yang lain.

"Soalnya Nak Dhita nggak kelihatan kayak janda. Masih kayak gadis.”

Dhita tersenyum. Senyum yang tetap terjaga meski dadanya terasa sedikit sesak. Dia memilih berdamai dengan keadaan. Dia menanggapi dengan tenang, suaranya lembut tapi tegas.

"Doain yang baik-baik aja ya, Bu. Saya cuma mau ke ruko, mau beres-beres.”

Ghio melirik kakaknya, ada rasa kagum sekaligus khawatir. Namun Dhita sudah masuk mobil lebih dulu. Dia tahu, tak semua hal perlu dijelaskan. Kadang, melangkah pergi dengan kepala tegak adalah jawaban terbaik.

***

Di rumah Tari suasana terasa lebih hidup dari biasanya. Sejak pagi orang-orang lalu-lalang, menyiapkan segala keperluan untuk hari penting itu. Hari ini, Tari akan dilamar oleh Reza.

Tari berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Balutan kebaya lembut berpadu dengan riasan wajah yang ditangani oleh MUA langganannya membuat parasnya tampak semakin anggun. Sentuhan akhir di bagian mata dan bibir membuatnya terlihat segar, tapi tetap glamour—persis seperti yang dia inginkan.

Dia menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama. Ada gugup yang terselip, tapi lebih banyak rasa bahagia. Senyum kecil mengembang di bibirnya, senyum puas yang sulit disembunyikan.

"Alhamdulillah, semua rencanaku berjalan lancar. Semoga sampai Hari H.” Gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Sedang mematut-matut diri di depan cermin, gawai Tari tiba-tiba bergetar. Nama Reza—pujaan hatinya—tertera di layar. Senyum Tari spontan mengembang sebelum dia mengangkat panggilan itu.

"Hallo, Sayang. Gimana di sana, sudah siap?” suara Reza terdengar hangat, meski ada getar halus yang tak bisa disembunyikan.

"Siap, Za. Kamu sendiri gimana?” Jawab Tari sambil tetap menatap bayangannya di cermin.

"Ini sudah setengah perjalanan.” Kata Reza. Lalu dia terdiam sejenak, sebelum melanjutkan dengan nada sedikit gugup, “Tar, kamu deg-degan nggak? Kok aku jadi deg-degan gini, ya?”

Tari terkekeh pelan. “Lah, kamu kan bukan yang pertama kali, harusnya aku yang deg-degan.”

Tawa kecil Reza menyusul di seberang sana, bercampur lega.

Reza datang bersama keluarganya. Sikapnya sopan, raut wajahnya datar dengan sedikit tegang. Ada sisa-sisa lelah di matanya, jejak kehidupan yang tidak berjalan mulus setelah perceraiannya dengan Ditha. Ini lamaran kedua, dan semua orang di ruangan itu sadar betul akan hal tersebut.

Tari duduk di samping ibunya. Wajahnya terlihat tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang akan dilamar. Riasannya lembut, senyumnya tipis, terukur. Tidak ada tangan gemetar, tidak ada mata berbinar penuh harap. Dia hanya duduk, menunggu, seolah ini hanyalah satu agenda yang harus dilewati dengan baik.

Ibunya sesekali melirik Tari, memberi isyarat halus agar putrinya tetap tersenyum. Di balik wajah teduhnya, sang ibu menyimpan persetujuan penuh—bukan pada cinta, melainkan pada rencana.

Pembicaraan dibuka oleh perwakilan keluarga Reza. Bahasanya rapi, tapi tidak terlalu panjang. Tidak ada kalimat-kalimat puitis tentang cinta sejati. Yang ada hanya niat baik, keseriusan, dan harapan agar masa lalu tidak menjadi penghalang untuk masa depan.

Ketika tiba gilirannya, Reza berdiri. Dia menarik napas, lalu melangkah ke depan Tari.

"Tari” Ucapnya pelan. Tidak ada getar berlebihan, hanya suara seorang laki-laki yang ingin memulai lagi. “Aku datang dengan niat baik. Aku sadar, masa laluku tidak sederhana. Tapi aku ingin membangun hidup yang lebih tenang ke depannya. Aku ingin kamu menjadi bagian dari hidup itu.”

Dia tidak berbicara tentang cinta yang menggebu. Tidak menyebut janji-janji indah. Hanya tawaran hidup bersama, dengan stabilitas dan tanggung jawab yang dia miliki.

Kotak cincin dibuka. Sederhana, untuk seorang Reza yang kaya raya.

"Kalau kamu bersedia, aku ingin melanjutkan niat ini ke jenjang yang lebih serius.” Lanjut Reza,

Tari menatap cincin itu beberapa detik. Dalam hatinya tidak ada debaran. Yang terlintas justru angka-angka, aset, rumah, usaha, dan jaminan hidup yang tidak akan pernah dia dapatkan jika menunggu cinta yang belum tentu datang.

Dia melirik ibunya. Sang ibu mengangguk pelan, nyaris tak terlihat. Dukungan itu jelas: ambil kesempatan ini.

Tari kembali menatap Reza. Dia tersenyum—senyum yang sudah dia latih dengan baik.

"Ya,” Jawabnya singkat. “Aku bersedia.”

Tidak ada air mata haru. Tidak ada pelukan emosional. Reza menyematkan cincin di jari manis Tari dengan tangan yang sedikit kaku. Tari menerima sentuhan itu tanpa perasaan apa pun selain kepuasan tipis—langkah pertama sudah berhasil.

Doa dipanjatkan. Semua menunduk khusyuk, kecuali Tari yang justru sibuk merapikan perasaannya sendiri. Dia tahu, ini bukan tentang mencintai atau dicintai. Ini tentang bertahan dan menguasai keadaan.

Ibunya tersenyum kecil, puas. Lamaran itu berjalan lancar. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum Tari, tidak tumbuh cinta—melainkan ambisi yang sedang menunggu waktu untuk berkembang.

Lamaran itu sah secara adat, rapi di mata keluarga.

Namun sejak awal, dia dibangun bukan di atas ketulusan, melainkan kepentingan.

Setelah acara lamaran dinyatakan selesai, suasana perlahan mencair. Kursi-kursi yang tadinya tersusun rapi mulai sedikit bergeser, suara obrolan kecil bermunculan di berbagai sudut ruangan. Acara dilanjutkan dengan makan bersama, seperti kebiasaan pada umumnya—tidak istimewa, tapi cukup hangat di permukaan.

Beberapa hidangan rumahan telah tersaji di meja panjang. Lauk-pauk sederhana, hasil masakan katering langganan ibunya Tari. Tidak mewah, tidak juga asal-asalan. Para tamu dipersilakan mengambil sendiri, menciptakan kesan akrab yang disengaja.

Tari duduk di satu meja bersama Reza dan beberapa anggota keluarga. Dia tetap menjaga sikapnya—senyum seperlunya, bicara secukupnya. Tangannya sesekali menyendok makanan, tapi pikirannya tidak benar-benar ada di sana. Dia lebih banyak mendengarkan Reza yang menjawab pertanyaan-pertanyaan ringan dari kerabatnya.

"Kerjanya sekarang lagi fokus di mana, Za?” Tanya salah satu tante Tari.

Reza menjawab dengan tenang, menjelaskan usaha dan rencana ke depan. Tari menyimak sambil mengangguk kecil, mencatat dalam diam. Setiap jawaban Reza justru semakin menguatkan keyakinannya bahwa keputusannya hari ini tidak salah—setidaknya dari sisi keuntungan.

Ibunya Tari sesekali ikut menyela percakapan, tertawa kecil, memancing suasana agar tetap cair. Sesekali dia menatap Tari, memastikan putrinya terlihat pantas dan ‘bahagia’ di mata orang lain. Tari mengerti isyarat itu dan kembali memainkan perannya dengan rapi.

Di sisi lain meja, keluarga Reza juga tampak berusaha menciptakan kesan normal. Tidak ada yang menyinggung masa lalu, apalagi soal Ditha. Nama itu seolah sengaja dikubur dalam-dalam selama acara makan berlangsung. Semua sepakat menjaga suasana tetap aman.

Reza melirik Tari beberapa kali. Ada rasa lega di wajahnya, seolah beban besar telah terangkat. Dia tidak menyadari bahwa ketenangan Tari bukan berasal dari perasaan yang sama, melainkan dari perhitungan yang telah matang.

Makan bersama itu berjalan tanpa kejadian berarti. Tidak ada momen romantis, tidak ada percakapan mendalam. Hanya sendok yang bertemu piring, tawa yang terdengar seperlunya, dan peran-peran yang dijalankan dengan rapi.

Di luar, siang berjalan seperti biasa.

Dan di dalam rumah itu, dua orang baru saja mengikat rencana hidup bersama—masing-masing dengan niat yang sama sekali berbeda.

1
Tutik Sekawan
Luar biasa
shesil
Bab 84 pengulangan dr bab 83. Bab 85 tau² Reza nyari RS
Barra Ayazzio: Kak, terimakasih sudah komen, jadi ketahuan deh. Sy coba posting ulang yg bab 84-nya. 😍😍🙏
total 1 replies
Maria Magdalena
Bene2 cewek sableng si tari.
Maria Magdalena
keluarga kacau nih tari jg cewek jalang yg jd pertanyaan anak siapa nih yg ada dirahim tari?
Rosita Tumbelaka
Bagus yang penting pegang peranan hrs happy end...
Punkpunk 234
Reza atau Rezky thoorr..?!? hmm.. typo ya..!?!
Barra Ayazzio: Maaf, betul typo. Di novel lain nama tokohnya Rezky, masih ke bawa ke novel ini. Skr sdh diperbaiki. Terimakasih koreksinya. 🙏😍
total 1 replies
Punkpunk 234
iyyaa Buk.. aku yg baca aja bukan cm gemes.. sebbelll mah bangeett..😡🤭
Endang Sulistia
keren
Punkpunk 234
mampir thoorr..🙏
Patricia Paulus
Adakah karma hanya wujud dalam novel? Aku dikecewa, dibohongi dan dikhianati, malah sang pelaku mungkin makin bahagian.
Patricia Paulus: #bahagia
total 1 replies
Sari Nilam
nah kan....jadinya senua sia sia
Sari Nilam
gercepin mas semangat
Sari Nilam
🤣🤣🤣🤣 ketawain aja deh ...
Sari Nilam
biarin aja mmg reza lg dibutain matanya ntar juga nyesel.
Sari Nilam
satu kata buat Rosa...ngarep . com..🤣🤣🤣
Sari Nilam
hancur sudah ksmu reza...kebodohanmu karena mencintai wanita licik dan ambisius
Sari Nilam
🤣🤣🤣
Sari Nilam
bohong gak ada yang sempurna...sekali bohonh , pasti bohong lagi seperti candu
Arieee
bagus menguras emosi👍👍👍👍👍👍👍👍
Lee Mba Young
Syukur in Reza. laki bejat ternyata Dr awal. karma tak semanis kurma kn Reza 🤣.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!