NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Setan

Aku, Kamu, Dan Setan

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Nikahmuda / Mata Batin / Dendam Kesumat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Reina aka dian

Setan itu banyak bentuknya. Tak kasat mata. Mengalir dalam setiap aliran darah manusia-manusia yang penuh dengan amarah, benci dan dendam. Dan inilah yang dialami oleh Marni. Pernikahan yang membuat kehidupannya hancur dan terjun ke dalam lubang penderitaan. Bukan hanya karena kemiskinan yang tak berkesudahan namun perlakuan suami yang tidak beradab. Akankah Marni tetap bertahan ataukah lari mencari kebahagiaan yang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16 Obor Api

Sebuah obor api menyala yang dilemparkan Edo pada Jagat.

Jagat melompat untuk menangkap obor itu dan mengayunkan api itu pada ular-ular yang bertumpuk membuat sebuah lingkaran.

Ssh ssah ssh!

Suara desisan ratusan ular memekakkan telinga.

Sret!

Beberapa ular terlempar saat dipukul dengan obor api yang menyala dengan terangnya. Sedangkan Edo yang melihat ratusan ular itu berpencar pun sontak memanjat pohon yang paling rendah.

Sebuah pemandangan yang sangat2 menakutkan ketika ratusan ular berwarna hitam itu kabur saat dipukul oleh Jagat.

'Sebenarnya apa yang dimiliki orang ini? Sepertinya dia bukan orang biasa,' batin Marni. sembari tubuhnya berlindung di belakang tubuh Jagat.

Sedangkan semua orang yang di dalam tenda menjerit saat melihat bayangan ular yang ada di atas tenda mereka. Apalagi Fajar, teriakannya tentu yang paling keras.

"Ularr ularr!" teriak mereka saat merasakan asa ular-ular yang hinggap di atas tenda mereka.

Edo yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Apa jadinya kalau kamu melihat ini, Jar? Bisa pingsan kamu!" Edo yang sebenarnya dia pun merinding melihat kawanan ular yang terbirit-birit.

Jagat tidak membunuh ular-ular itu, melainkan dia hanya mengusir mereka supaya mereka jangan mengganggunya.

"Kamu terluka, Mar? apa ada yang menggigitmu,?" Jagat yang masih memegang obor nya dan melihat ke arah Marni.

"Tidak sama sekali, " sahut Marni menatap Jagat penuh arti.

"Syukurlah. Sshhh!" Jagat memekik saat merasakan perih di perutnya. Luka yang seharusnya sudah perlahan menutup kini terbuka kembali karena gerakan pengusiran ular tadi.

Sedangkan Edo masih nangkring di atas pohon seperti monyet.

"Hem!!! Maaf, bukan ingin mengganggu. Tapi---" Edo merasa tidak enak.

Jagat dan Marni pun mengalihkan pandangannya. Dia melihat Edo yang sudah pucat.

"Apakah sudah aman jika aku turun?" tanya Edo.

"Astaga! Sedang apa kamu di atas sana?" Jagat mengernyit.

"Aku takut ada ular yang mengejarku! Jadi aku naik ke atas sini,"

Namun Jagat kini tidak menanggapi jawaban Edo, dia mendekat dengan wajah yang terlihat tegang.

"Diam disana," Jagat dengan raut wajah serius.

"Ada apa?"

Marni menggeleng, menyuruh Edo untuk jangan banyak bicara.

'Ada apa? Kenapa sikap mereka begitu aneh?' Edo dalam hatinya.

Melihat obor api di tangan Jagat yang sengaja di tinggikan, sementara pria itu berjalan mendekat padanya. Edo akhirnya menyadari sesuatu.

"Awas!" Jagat menggerakkan satu tangan, menyuruh Edo untuk lompat dari atas dahan pohon, sementara Jagat mengarahkan obor apinya ke arah seekor ular yang membuka mulutnya, sehingga terlihat taring-taring tajamnya yang kemudian ular itu ikut turun bersama dengan Edo.

Sreet!

Obor yang dipegang Jagat mengenai ular yang jatuh dengan mulut yang terbuka lebar, menunjukkan taring dengan bisa yang mematikan.

Sreett!

Ular itu terkapar di tanah yang basah sedangkan Edo bergidig ngeri, bagaimana seandainya jika ular itu menggigitnya. Tentu nyawanya kini menjadi taruhan.

"Bagaimana? Apa kamu tidak apa-apa?"

"Aman... " sahut Edo.

"Terima kasih sudah membawa obor. Itu ide yang sangat berharga. Dengan bantuan itu, hidup kita bisa diperpanjang sampai waktu yang tidak ditentukan, " Jagat yang memberikan salam dengan membungkukkan sedikit kepalanya.

"Hujan sudah berhenti. Sebaiknya kita tidak membuang waktu untuk mencari salah satu teman kalian," kata Jagat.

.

.

Tidak ada kata maaf atau pun terima kasih yang terucap dari bibir Genta.

"Seharusnya kamu meminta maaf atas sikapmu terhadap dia tapi tidak. Jangankan minta maaf, berterima kasih pun tidak, karena sikap sombong sombongmu itu," uap Edo pada Genta.

Namun yang disindir seakan budeg ( tidak mendengar), Genta tidak menghiraukan ucapan Edo padanya.

Jarak pandang semaki membaik, kabut perlahan mulai hilang. Dan Jagat berpesan kalau biar saja tenda ditinggal seperti itu, karena mereka tidak boleh membawa banyak barang untuk naik ke atas.

Mereka hanya boleh membawa makanan dan minuman saja, karena perjalanan semakin sulit.

"Perhatikan jalannya, jangan sampai tergelincir ke bawahh?!" Jagat setengah teriak.

"Ya!" ucap semuanya, namun tidak dengan Genta. Pria itu hanya diam.

Situasi hutan tanah hutan yang basah membuat pendakian kali ini terlihat sangat sulit.

Apalagi, curug yang akan mereka kunjungi adalah curug yang paling tinggi dan yang paling banyak debit airnya.

Sesampainya di atas. Jagat langsung meneriakkan nama orang yang merupakan orang yang sedang dicarinya.

"Malikkkk! ? " Teriak Jagat yang melihat ke seluruh penjuru.

"Malik kamu dimana Malik?" Edo ikut berteriak, memanggil Malik. Barangkali, Malik itu sampai duluan.

"Firasat ku, dia tidak jauh dari sini" Jagat berucap pada Marni.

Suara mereka menyatukan dengan suara air yang tercipta dari curug.

"Malik keluarga kamu sudah menunggu. Keluarlah! " Sekali lagi teriakan dari Jagat.

"Dimana? Dimana Malik? Kenapa sudah sampai sejauh ini, tidak ada kabar tentang keberadaan Malik. Dia masih hidup atau tidak, semuanya seakan sia-sia jika sampai disini, tidak ada Malik!" ucap Genta.

"Astagaaaa!" Jagat yang melihat sontak terkejut.

"Bantu aku, Mar!" Jagat yang berlari ke tengah curug, dimana air mengalir seperti tumpahan dari langit.

Ternyata Jagat melihat ada satu orang yang tergeletak di salah satu batu yang ada di bawah curug sembilan.

"Dia ada disana!" Jagat kemudian mencoba menyadarkan Malik.

Keempat temannya yang lain masih berada di tempatnya masing-masing.

Mereka takut untuk mendekat...

Sedangkan Jagat dibantu Marni merapat pada pemuda dengan wajah yang sangat pucat.

"Ada air untuk minum? " tanya Jagat saat berhasil membawa Malik ke daratan.

Fajar mengangguk. Dia mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tasnya. Kebetulan dia yang paling sedikit minum sepanjang perjalanan mereka.

"Bagaimana kamu memanggil Malik? Sedangkan tadi aku sama sekali tidak melihat keberadaan orang di semua sudut curug?" tanya Edo.

"Karena aku melihat ada seseorang dengan mata batin, sehingga aku bisa melihat yang tidak bisa kalian lihat, " ucap Jagat sambil mencoba membangunkan Malik dengan menepuk-nepuk pipi Malik agar pemuda itu segera sadar.

1
Ayuk Witanto
masa udah tamat thor
я𝓮𝒾𝓷A↠ͣ ⷦ ͣ𝓭𝓲𝓪𝓷✿: nggk ada pembaca kak
total 1 replies
Ayuk Witanto
marni salah paham
Ayuk Witanto
siapa tuh
Ayuk Witanto
apa juragan Rara itu si jagat ya
Ayuk Witanto
apa kira2 si Rara bisa di percaya
я𝓮𝒾𝓷A↠ͣ ⷦ ͣ𝓭𝓲𝓪𝓷✿: semoga ya...
total 1 replies
Ayuk Witanto
kukira jenar
Ayuk Witanto
apa ini Jenar...pasti nikah sama joko
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
emang minta di musnahkan
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
ya gak semudah itu jagat
Ayuk Witanto
jangan bukain
Ayuk Witanto
ada apa nih
Ayuk Witanto
salah bawa nih
Ayuk Witanto
ngenes si marni
Ayuk Witanto
pantesan gak mau minum
Ayuk Witanto
kok jagat buru2
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
ternyata jahat punya perawangan/khodam
Ayuk Witanto
berarti pantangan untuk Bu konasih itu jarum...jadi susuknya malah menyelakainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!