NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Gudang tua

Jauh dari gedung kaca megah Nozer Holdings, di sebuah gudang tua di pinggiran kota yang catnya sudah mengelupas di banyak sisi, suasana jauh berbeda dari kemewahan yang biasa mengelilingi Alex.

 Bau debu dan besi berkarat memenuhi udara, hanya diterangi beberapa lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit tinggi.

Alex berdiri di tengah ruangan, mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung, tangannya masih bersih meski suasana di sekelilingnya jauh dari kata bersih. Beberapa pengawal bertubuh besar berjaga di setiap sudut ruangan, senjata terselip rapi di balik jaket mereka, siap bergerak kapan saja atas perintah satu kata dari atasan mereka.

Di tengah ruangan, seorang pria terikat di kursi besi, tubuhnya penuh lebam dan luka, kepalanya tertunduk lemas setelah tiga hari disekap tanpa henti. Napasnya tersengal, wajahnya bengkak di beberapa bagian hingga sulit dikenali.

"Bicara," kata Alex, suaranya dingin, tanpa sedikit pun emosi, melangkah mendekati pria itu dengan langkah tenang yang justru terasa lebih mengancam dibanding bentakan sekalipun.

Pria itu mengerang, mencoba mengangkat kepalanya. "Aku sudah bilang semuanya. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan."

"Sudah bilang semuanya," ulang Alex pelan, seolah mengunyah kata-kata itu satu per satu, lalu tertawa singkat, tanpa humor sedikit pun. "Kau tahu berapa kali aku dengar kalimat itu dari mulut orang-orang yang duduk persis di kursi itu? Dan tahu berapa dari mereka yang masih bisa jalan keluar dari sini dengan kedua kakinya sendiri?"

Pria itu bergetar, tidak berani menjawab.

"Tidak ada," lanjut Alex, jongkok pelan agar sejajar dengan wajah pria itu, matanya yang biru menusuk tajam. "Jadi kusarankan, mulai berhitung ulang apa yang menurutmu sudah kau katakan semuanya."

"Aku bersumpah, aku bertindak sendiri," rintih pria itu, suaranya nyaris tidak terdengar. "Aku hanya butuh uang, keluargaku butuh uang untuk hidup lebih baik."

"Semua orang butuh uang," kata Alex datar, nyaris bosan. "Aku juga butuh uang. Bedanya, aku tidak mencurinya dari perusahaanku sendiri."

Alex mengangkat sebelah alisnya, tidak percaya begitu saja. Ia memberi isyarat kepada salah satu pengawal, yang segera menyerahkan sebuah map berisi data identitas lengkap pria itu, hasil penyelidikan yang sudah dikumpulkan sejak penangkapannya tiga hari lalu.

Alex membuka map itu, membaca sekilas nama dan latar belakang yang tertera di lembar pertama, memastikan tidak ada kejanggalan dalam pengakuan pria itu.

"Kau bekerja di divisi keuangan anak perusahaanku selama berapa lama?" tanya Alex, menutup map itu, suaranya tetap dingin dan datar.

"Dua tahun," jawab pria itu, tubuhnya masih gemetar. "Aku tidak pernah berniat sejauh ini, tapi tekanan utang membuatku nekat."

"Dua tahun," Alex mengulang, nadanya nyaris menghina. "Dua tahun kau makan gaji dari perusahaan yang sama yang kau curi diam-diam. Aku hampir terkesan dengan keberanianmu, kalau saja itu bukan kebodohan yang sama besarnya."

"Alasan tidak pernah jadi pembenaran di duniaku," kata Alex, berdiri tegak kembali, menatap pria itu dari atas dengan sorot mata yang begitu dingin hingga membuat siapa pun yang melihatnya merinding. "Kau mencuri dari perusahaan yang kubangun dengan tanganku sendiri. Itu saja sudah cukup."

Tanpa sepatah kata pun lagi, Alex mengeluarkan pistol dari balik jaketnya, gerakannya begitu tenang dan terlatih, seolah benda itu hanya perpanjangan alami dari tangannya sendiri.

Ia melangkah mendekat, menempelkan ujung larasnya tepat di dahi pria yang masih terikat itu, dingin dan tanpa ampun.

Pria itu tersentak, tubuhnya gemetar hebat, air mata bercampur darah mengalir di pipinya yang bengkak. "Tunggu... tunggu dulu, kumohon! Aku janji akan kembalikan semuanya, aku bersumpah!"

"Kau seharusnya memikirkan itu sebelum mengambil apa yang bukan hakmu," kata Alex, suaranya begitu tenang hingga terdengar jauh lebih mengerikan dibanding teriakan sekalipun, matanya yang biru menatap lurus tanpa berkedip.

Pria itu terisak, tidak lagi punya kekuatan untuk membantah atau memohon lebih jauh, hanya bisa menunggu keputusan yang sepenuhnya berada di luar kendalinya.

Alex menjauhkan pistolnya perlahan, memasukkannya kembali ke balik jaket, ekspresinya kembali datar seolah tidak pernah menodongkan senjata sedetik yang lalu.

 Ketenangan itu, kontras total dengan ancaman yang baru saja ia lontarkan, justru membuatnya terasa jauh lebih berbahaya dari pria mana pun yang pernah ditemui siapa pun di ruangan itu.

Ia berbalik, melangkah menjauh dari pria yang masih terikat itu, memberi isyarat kepada Damian yang berdiri di dekat pintu untuk mendekat.

"Selesaikan urusan ini malam ini juga," kata Alex pelan, suaranya nyaris berbisik. "Lacak semua orang yang terlibat, jangan ada yang lolos."

Damian mengangguk sekali, tidak bertanya lebih jauh, sudah terlatih untuk tidak pernah mempertanyakan perintah yang keluar dari mulut atasannya.

Alex melangkah keluar dari gudang tua itu, meninggalkan pria malang itu masih terikat di kursi, pikirannya sudah beralih sepenuhnya ke urusan lain yang jauh lebih penting baginya hari ini, ke sosok seorang gadis yang mungkin saat ini sedang duduk di ruang eksekutif lantai empat puluh, berhadapan dengan seseorang yang sama sekali tidak bisa ia kendalikan.

****

Waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Lauren baru saja menyelesaikan input data terakhirnya ketika ia sadar jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima puluh.

Ia meregangkan tubuhnya sejenak, masih duduk di kursi kerjanya, tangannya terangkat ke atas kepala, punggungnya sedikit pegal setelah berjam-jam menatap layar tanpa jeda.

"Sudah siap?" tanya Della, melirik dari meja sebelah, nadanya penuh perhatian.

"Belum juga, tapi mau tidak mau harus siap," jawab Lauren, mencoba tersenyum meski perutnya terasa penuh kupu-kupu yang tidak nyaman.

Ia berdiri, merapikan blazernya, memeriksa penampilannya sekilas lewat pantulan layar komputer yang sudah dimatikan. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil kartu undangan krem dari laci meja, mengingatkannya sekali lagi ke mana ia harus pergi.

"Semoga baik-baik saja," kata Della, suaranya pelan, seolah tidak ingin terdengar terlalu mencemaskan tapi gagal menyembunyikannya sepenuhnya.

Lauren mengangguk, tidak yakin harus menjawab apa, lalu melangkah menuju deretan lift dengan langkah yang ia paksakan tenang meski dalam hati jantungnya berdegup semakin kencang setiap detik yang berlalu.

Sesampainya di depan lift, ia menekan tombol panggil, menunggu beberapa detik yang terasa jauh lebih lama dari biasanya. Pintu lift terbuka, dan Lauren melangkah masuk sendirian, menekan tombol lantai empat puluh, lalu bersandar sejenak ke dinding lift sambil menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

Lift membawanya naik, melewati lantai demi lantai, hingga akhirnya berhenti di lantai empat puluh, jauh lebih tinggi dari lantai dua puluh dua tempatnya biasa bekerja.

Pintu lift terbuka, Lauren melangkah keluar dengan hati-hati, mengikuti papan penunjuk kecil yang mengarah ke ruang eksekutif.

 Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya di lorong itu tampak jauh lebih formal, lebih senior, membuatnya semakin merasa seperti tidak pada tempatnya.

Di depan sebuah pintu kaca besar bertuliskan nama Zara Whitmore, seorang resepsionis pribadi duduk di meja kecil, tersenyum ramah begitu melihat Lauren mendekat.

"Kau Lauren, kan?" tanya resepsionis itu.

"Iya, benar," jawab Lauren, suaranya sedikit kaku.

"Silakan duduk dulu, Nona Zara masih ada panggilan telepon. Tidak akan lama."

Lauren duduk di salah satu kursi tunggu berlapis kulit di sudut ruangan, tas kerjanya dipangku di atas lutut, tangannya saling meremas satu sama lain.

Ruang tunggu itu begitu sunyi, hanya diselingi suara samar ketikan resepsionis di meja dan dengung pelan pendingin udara.

Ia menatap ke luar jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota London dari ketinggian, mencoba menenangkan diri, tapi pikirannya terus berputar liar.

Apa alasan sebenarnya di balik undangan ini? Apakah Zara sudah tahu soal pertemuannya dengan Alex semalam? Atau soal sesuatu yang jauh lebih personal?

Ia teringat kata-kata Della tadi pagi, tentang bagaimana Zara bukan orang yang biasa repot-repot mengundang karyawan baru tanpa alasan jelas.

 Semakin ia memikirkannya, semakin banyak kemungkinan buruk yang bermunculan di kepalanya, masing-masing terasa lebih menakutkan dari yang sebelumnya.

Lauren menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri dengan mengatur napasnya perlahan, seperti yang dulu sering ia lakukan setiap kali gugup menghadapi pelanggan sulit di kedai kopi.

Tapi situasi ini terasa jauh berbeda, jauh lebih besar taruhannya dibanding sekadar melayani pesanan kopi yang salah.

Beberapa menit terasa seperti waktu yang jauh lebih panjang dari yang sebenarnya. Lauren sesekali melirik jam di pergelangan tangannya, menghitung detik yang terus berjalan, kegugupannya semakin menumpuk seiring waktu yang berlalu.

Akhirnya, pintu kaca besar itu terbuka. Seorang asisten muncul dari dalam, tersenyum formal ke arah Lauren.

"Lauren, silakan masuk. Nona Zara sudah menunggu."

Lauren berdiri, menarik napas dalam-dalam sekali lagi, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang tersisa, sebelum akhirnya melangkah menuju pintu itu, tidak tahu apa yang akan menantinya di dalam.

Asisten itu memandu Lauren masuk, menyusuri lorong pendek menuju sebuah ruangan bergaya minimalis dengan meja makan kecil untuk dua orang, ditata rapi dengan taplak putih dan bunga segar di tengahnya.

Zara sudah duduk di sana, mengenakan blazer putih yang dipotong sempurna, rambut hitam legamnya disanggul rapi, terlihat begitu anggun sekaligus mengintimidasi dalam waktu bersamaan.

"Duduklah," kata Zara, tersenyum tipis, matanya menyapu Lauren dari ujung kepala hingga ujung sepatu dengan cara yang membuat Lauren merasa sedang dinilai habis-habisan. "Terima kasih sudah mau datang."

"Terima kasih juga atas undangannya, Nona," jawab Lauren sopan, duduk di kursi seberang dengan gerakan hati-hati, mencoba menyembunyikan kegugupannya sebaik mungkin.

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!