Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.
Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.
Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Viona... astaga. Anak ini malah tidur di sini," Rani bergumam sambil menggeleng pelan ketika mendapati Viona tengah meringkuk dengan mata terpejam di atas lantai gudang dengan hanya beralas kardus bekas, padahal sedari tadi ia berusaha mencarinya ke mana-mana.
Rani berjongkok, memandangi wajah Viona. Mata sayu itu memang tengah terpejam, namun gurat wajah lelah tampak terlihat jelas. Andai Bu Siska tidak memintanya memanggil Viona, tentu ia tak akan tega membangunkan gadis yang tengah tertidur lelap itu.
"Viona..." panggil Rani lembut, kedua tangannya menggoyangkan tubuh Viona agar gadis itu terbangun.
Perlahan Viona membuka mata, mengerjap beberapa kali. Sambil menguap dan menggerakan tubuhnya, ia duduk menghadap Rani yang masih berjongkok di depannya.
"Kak Rani... apa Bu Siska mencariku?" tanyanya sembari mengucek mata yang masih terasa lengket. Viona tentu sudah hapal, alasan Rani mencarinya. Jika tidak karena takut membersihkan toilet seorang diri, pasti karena Bu Siska yang mencarinya.
Rani menghela napas, lalu berdiri menatap Viona. "Kamu begadang lagi?" Alih-alih menjawab, Rani malah balik bertanya.
Viona hanya mengangguk, masih dalam posisi duduk bersila, ia merapihkan rambut panjangnya. Dengan hanya bermodal sebuah karet gelang yang ia ambil dari saku celana celana, Viona mengikat tinggi rambutnya.
"Beberapa hari belakangan, aku hanya tidur beberapa jam saja, kak," jawab Viona jujur. Selama beberapa hari, Viona memang hanya tidur beberapa jam saja, ia baru bisa tidur saat sudah memastikan Agam masuk ke dalam kamar, dan bangun sebelum Agam keluar dari kamar. Viona takut, Agam tiba-tiba masuk dan memeriksa kamar yang ditempatinya.
Di pagi hari, saat Agam belum keluar dari kamar, Viona harus lebih dulu bangun untuk membereskan meja makan dan membersihkan ruangan di lantai bawah. Selesai dengan semua itu, Viona bergegas membersihkan diri untuk berangkat bekerja. Ia harus segera pergi sebelum Agam keluar dari kamar atau ia bisa tertangkap basah oleh Agam.
Rani menggeleng pelan. "Sudah kubilang, kamu bekerja di sini saja, jangan bekerja di tempat lain juga. Kalau begini terus kamu bisa... "
"Aku baik-baik saja, kak," potong Viona. Sengaja memotong serentetan kalimat Rani. Jika Viona tidak cepat memotongnya, Rani akan semakin panjang mengoceh. "Sebaiknya, kita cepat menemui Bu Siska... atau wanita cantik itu akan langsung berubah menjadi singa jika kita sampai terlambat menemuinya."
Kali ini Rani mengangguk, mengiyakan ucapan Viona. Mereka memang harus segera menemui Bu Siska sebelum atasannya itu merasa kesal dan memberi pekerjaan tambahan pada mereka.
****
"Viona... kamu antarkan troli ini ke ruangan Tuan Agam," ucap Bu Siska sambil menunjuk pada sebuah troli berisi makanan dan minuman yang sudah disiapkan pegawai lain.
Viona terdiam, menelan ludahnya susah payah saat menatap troli yang ditunjuk oleh atasannya. Dari banyaknya ruangan di tempatnya bekerja, kenapa ia malah mendapat tugas mengantarkan troli itu ke ruangan pria yang susah payah ia hindari.
"Rani, hari ini kamu yang bertugas membersihkan ruangan Tuan Hyun," titah Bu Siska beralih menatap wajah Rani yang tentu saja langsung disambut binar bahagia. "Sepertinya, hari ini Tuan Hyun akan menghabiskan lebih banyak waktu di ruangan Tuan Agam, jadi kamu punya cukup banyak waktu untuk membersihkan ruangannya," imbuh Bu Siska.
Wajah Rani yang sempat berbinar mendadak kembali lesu saat Bu Siska mengatakan Hyun sedang tidak berada di ruangannya. Padahal tadi ia begitu bersemangat karena berkesempatan bertemu dengan pria tampan yang menjadi idolanya saat ini.
"Ingat, jangan ada setitik noda atau debu pun yang masih tertinggal! Tuan Hyun sama halnya dengan Tuan Agam yang sangat teliti soal kebersihan," peringat Bu Siska.
Rani mengangguk patuh. "Baik, Bu. Saya pasti akan membuat ruangan Tuan Hyun kinclong tanpa debu," ujarnya penuh semangat. Meski tidak bisa bertemu langsung dengan pemilik ruangan itu, setidaknya ia masih bisa masuk dan merasakan aroma pria tampan itu di dalam ruangannya.
Setelah memberi tugas pada Rani dan Viona, Bu Siska kembali pergi untuk mengecek pekerjaan pegawai lainnya.
Dengan penuh semangat, Rani mulai mendorong troli berisi alat kebersihan keluar dari area belakang, di sampingnya Viona juga mulai mendorong troli berisi makanan. Mereka berdua berjalan beriringan menuju lift yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.
Selama perjalanan menuju lift sampai keduanya berada di dalam lift, Rani tak hentinya berceloteh riang, meski sebelumnya sudah mendengar penjelasan Bu Siska tentang Hyun yang sedang tidak berada di ruangannya, gadis itu masih tetap berharap bisa bertemu Hyun. "Semoga saja, Tuan Oppa tampan itu kembali saat aku sedang membersihkan ruangannya," gumam Rani sambil membayangkan dirinya berduaan di ruangan yang sama dengan Hyun.
Viona yang sedari tadi hanya terdiam, sama sekali tidak menggubris gumaman Rani yang masih terdengar jelas. Gadis itu terlalu sibuk memikirkan hal yang mungkin terjadi saat Agam melihatnya masih bekerja di perusahaan. Viona bahkan membayangkan kalimat pedas yang pasti pria arogan itu muntahkan padanya. "Sudah benar Tuan Hyun memintaku untuk menghindar... Bu Siska malah membuatku bertemu dengan Tuan menyebalkan itu," keluh Viona dalam hati.
Menyadari Viona hanya diam tanpa menanggapi ocehannya, Rani melirik ke arah Viona yang tampak melamun.
"Vio... " panggilnya pelan.
Namun Viona seolah tak mendengar, malah menarik napas panjang, ia seakan tengah mempersiapkan diri sebelum mendengar serentetan kalimat pedas yang akan didengarnya nanti.
Tidak juga mendapat respon, Rani menyenggol lengan Viona, berharap gadis itu berhenti melamun apalagi mereka hampir sampai di lantai yang mereka tuju.
Sentuhan kecil itu akhirnya membuat Viona tersadar. Ia menoleh perlahan dan menatap wajah Rani yang penuh tanya.
"Kamu kenapa, Vio?" tanya Rani pelan. "Dari tadi ngelamun terus. Apa ada yang kamu pikirkan?"
Menghela napas, Viona kembali menekuk wajahnya. Ia menggeleng pelan. "Aku... tidak apa-apa, kak," bohongnya pelan.
Pintu lift terbuka, aroma dingin dari lantai atas menyapa mereka, membuat Viona refleks menegakkan tubuhnya.
Begitu keduanya keluar dari lift, Rani tiba-tiba menghentikan langkah, membuat Viona juga ikut menghentikan langkah. "Ada apa, kak? kenapa berhenti?"
"Ambil ini," ucap Rani sambil menyodorkan troli yang ia dorong kepada Viona. Tanpa menunggu reaksi Viona yang masih terlihat melongo, ia menarik cepat troli milik Viona. "Aku yang akan mengantarkan troli ini ke ruangan Tuan Agam," lanjutnya.
Viona masih menatap Rani dengan raut bingung, belum benar-benar memahami maksudnya.
"Kita tukar tugas. Aku yang mengantar makanan ini ke ruangan Tuan Hyun," jelas Rani.
"T-Ta-tapi, Kak... aku..."
"Pergilah! Aku harus segera mengantar makanan ini ke ruangan Tuan Agam," potong Rani. Tidak ingin mendengar kalimat penolakan Viona, Rani bergegas mendorong troli berisi makanan menuju ruangan Agam. Tadinya Rani memang sangat bersemangat kala mendapat tugas membersihkan ruangan Hyun, namun saat melihat Viona yang tampak murung, Rani pun memilih untuk bertukar tugas dengan Viona. Selain itu, di ruangan Agam ia tentu memiliki kesempatan untuk mencuri pandang mantap wajah tampan Hyun.
Viona yang tidak memiliki kesempatan untuk menolak, akhirnya menuruti Rani. Ia mendorong troli yang sebelumnya didorong lain menuju ruangan Hyun. Dalam benaknya, ia bersyukur memiliki sahabat seperti Rani yang seolah mengerti kegelisahannya.
Setelah mendapat izin dari seorang wanita yang bekerja di meja dekat ruangan Hyun, Viona pun masuk ke dalam ruangan itu. Di sana, ia dibuat terkejut melihat Hyun yang ternyata tengah berada di dalam ruangannya.
"Tuan Hyun, anda..."
"Viona... ah, syukurlah kita bertemu di sini," sela Hyun. Wajahnya tampak terlihat cemas. Ia bergegas berdiri lantas berjalan menghampiri Viona.
"Ada apa, Tuan?"
"Agam berencana memang beberapa CCTV di beberapa sudut apartemennya," papar Hyun sambil menatap cemas wajah Viona.
Viona tampak terkejut. "La-lalu... saya harus bagaimana, Tuan?" tanyanya cemas.
Hyun berbalik badan, wajahnya terlihat gusar. Ia harus segera mencari ide agar Viona bisa tetap aman. Meski baru beberapa kali bertemu, entah mengapa Hyun merasa memiliki perasaan berbeda pada gadis itu.
Kembali berbalik badan, Hyun menatap wajah Viona. "Aku akan mencoba mengulur waktu, aku akan minta Pak Asep agar memasang CCTV itu besok pagi saja," ujar Hyun. "Sebaiknya kamu pulang cepat hari ini. Bereskan barang-barangmu dari sana," imbuh Hyun.
"Tapi Tuan... Saya tidak mungkin pergi dari sana. Saya sudah menandatangani kontrak kerja untuk tetap berada di sana sampai Tuan besar sendiri yang meminta saya untuk pergi." Viona mencoba menjelaskan isi kontrak kerja yang sudah ia sepakati sebelumnya. "Jika saya melanggar kontrak, Tuan besar akan langsung menuntut saya."
Hyun tertegun. Alisnya terangkat tinggi seolah tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. "Apa? oh astaga... Viona, kenapa kamu tidak memberitahuku sejak awal?" Hyun tidak menyangka Tuan besar yang Viona maksud memberikan syarat kontrak yang membuatnya pusing tujuh keliling.
"Kali ini, aku benar-benar dalam masalah," keluh Hyun dalam hati.
*****
Viona pulang ke apartemen satu jam lebih awal dari biasanya. Hyun memintanya untuk segera berkemas, ia diminta pindah untuk sementara waktu. Sementara untuk kesepakatan yang sebelumnya Viona buat, Hyun sendiri yang akan menjelaskan situasinya pada Tuan besar.
Sampai di apartemen, Viona bergegas mengemas kembali barang-barangnya. Sebenarnya ia sudah cukup merasa nyaman tinggal di sana. Namun ia juga khawatir jika Agam sampai memergokinya, karena itu Viona memilih untuk menuruti perintah Hyun, terlebih pria itu berjanji untuk memberinya tempat bernaung sementara.
Viona berjalan sambil menenteng sebuah kardus dan plastik besar berisi barang pribadinya keluar dari dalam kamar, ia berniat untuk segera pergi selesai berkemas tadi. Namun saat melewati meja makan yang terlihat kosong, Viona menghentikan langkahnya. "Tuan Agam pasti akan menahan lapar, jika tidak ada nasi dan lauk yang tersaji di atas sana," gumam Viona sambil menatap meja makan yang tampak kosong. Meski baru beberapa hari tinggal di tempat itu, sedikit banyak Viona tahu tentang kebiasaan Agam yang lebih dulu menyantap makanan di atas meja daripada masuk ke dalam kamar.
Viona meletakkan kardus dan plastik besar yang ditentengnya di sudut ruangan lantas melangkah menuju dapur, bergegas memakai celemek dan mulai menyiapkan bahan yang diambilnya dari dalam lemari pendingin. Viona berencana memasak makan malam terlebih dahulu sebelum pergi.
Satu jam berkutat di dapur, aroma masakan yang baru matang, baru diangkat dari wajan menguar lembut dan menggoda siapapun yang menciumnya. Uap hangatnya perlahan naik, membawa wangi bumbu sederhana namun menggugah selera.
Setelah memindahkan hasil masakannya ke dalam sebuah mangkuk berukuran sedang, Viona hendak meletakkannya di atas meja makan bersama dua menu lainnya yang sudah lebih dulu matang. Namun baru saja berbalik badan, Viona dikejutkan dengan sosok pria bertubuh tinggi yang entah sejak kapan berdiri tidak jauh darinya.
Refleks Viona mundur selangkah, nafasnya tersengal pendek, dadanya naik turun lebih cepat dari seharusnya. Suhu ruangan yang semula hangat mendadak terasa dingin. Mangkuk yang masih dipegangnya bergetar tipis, hampir terlepas dari genggamannya.
Pria itu melangkah mendekat, hingga berdiri tepat di hadapan Viona. "Apa yang kamu lakukan di sini!" bentaknya dengan suara lantang.
******