Pengusir hantu dari zaman kuno yang memilih untuk bunuh diri karena ingin hidup normal ternyata bereinkarnasi ke tubuh seorang Idol terkenal.
Lee Jaehyun pada akhirnya harus menjalani dua kehidupan dengan dua pekerjaan yang berbeda.
Di mata semua orang, dia dikenal sebagai Maknae dari grup Idol terkenal di Korea Selatan bernama MYTH, namun semua berubah ketika terdapat sebuah masalah serius akibat roh jahat yang membuatnya harus kembali berprofesi sebagai Munyeo Naja.
Demi mewujudkan impiannya di kehidupan keduanya yang damai, dia harus kembali berurusan dengan roh jahat. Satu demi satu masalah serius mulai muncul dan misteri yang selama ini tertutup mulai terkuak. Bahkan dia beberapa kali nyaris mati karena terlibat dengan para arwah gentayangan!
Apakah dia bisa mewujudkan keinginannya untuk jadi Idol normal tanpa harus berurusan dengan hantu? Ataukah terpaksa melibatkan semua rekannya dalam bahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayano Kaname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16.
Di pagi hari, tepat hari ketiga setelah Jaehyun kembali dari rumah sakit, mereka mulai bekerja normal.
Di studio, tidak ada hal aneh apapun kecuali Yuno yang pendiam dan terus melihat Chief Han saat dirinya sedang bekerja seperti biasa dan bicara pada produser.
Sementara itu, Jaehyun mengamati sekelilingnya di tengah-tengah syuting.
“Siren, posenya sedikit lebih ke kiri dan tegakkan tubuhmu ya,” ujar fotografer pada Jaehyun sambil memberi arahan.
Jaehyun hanya melakukan apa yang diperintahkan padanya, bagaikan anak polos yang mencoba terlihat manis di hadapan semua orang dewasa.
Sampai kemarin, tidak ada hal aneh. Namun, tidak bisa dipungkiri kalau Jaehyun sedikit curiga pada anggota yang lain.
Yuno yang paling membuatnya cemas karena dia terlihat lebih pendiam dari biasanya. Sejak dirinya kembali setelah bicara dengan Chief Han tidak lama sekembalinya mereka berdua dari membeli senjata dua hari lalu, jelas dia lebih pendiam.
Jaehyun sendiri belum mendapatkan jawaban dari Chief Han mengenai pesannya dua hari lalu. Selama itu, tidak ada pembahasan yang dikatakan oleh Jaehyun. Dia hanya mengatakan bahwa akan segera mengurus semuanya, tapi reaksi Han Yeon masih terlihat normal.
Selesai pemotretan, Jaehyun dipanggil oleh produsernya dan bicara beberapa hal mengenai pekerjaan selanjutnya. Tentunya Chief Han ada di dekatnya dan saat itulah Han Yeon berbisik di telinga Jaehyun.
“Temui aku di luar. Kita bicara berdua di tangga darurat.”
Tidak lama setelah itu, Chief Han keluar dengan alasan ingin ke toilet.
*
*
*
15 menit kemudian, Jaehyun keluar dari studio tanpa diketahui oleh siapapun. Berjalan di lorong menuju tangga darurat, ia melihat Han Yeon yang duduk di salah satu anak tangga sambil merokok.
Jaehyun berkata sambil menutup pintu tangga darurat, “Bukan salahku kalau membuatmu menunggu ya. Produser-nim memberikanku arahan yang membingungkan.”
Sambil menghisap rokoknya sekali dan mematikannya, Chief Han berkata, “Tidak masalah. Aku tau kalau ini tiba-tiba, tapi aku ingin membahas soal chat yang tidak sempat aku balas dua hari lalu.”
“Oh,” Jaehyun memilih untuk berdiri di sebelah anak tangga tempat Chief Han duduk. “Langsung saja, Han Yeon.”
“Apanya?”
“Jadi, kau kenapa?”
“Hah?”
“Jangan coba-coba membohongi dukun ya. Begini-begini, aku ahli membaca raut wajah dan ekspresi orang lain. Kau kenapa?”
Han Yeon hanya tersenyum sambil menghela napasnya, “Haa~dukun itu berbahaya ya. Apalagi yang memiliki double job sebagai idol terkenal juga.”
“Hei, jangan menghinaku ya! Aku yang bertanya di sini, bukan mau mendengarkanmu menggerutu, Han Yeon!” ucap Jaehyun kesal.
“Maaf, maaf,” sampai di sini, Han Yeon masih sedikit bercanda dan Jaehyun sendiri masih menanggapinya dengan santai. Tapi tidak setelahnya.
Ekspresi Han Yeon berubah, “Yuno…bertanya padaku dua hari lalu.”
“Yuno-hyung?”
“Tepatnya saat kita kembali mencari senjata untukmu dan lain-lainnya itu.”
“Apa yang ditanyakan olehnya?” tanya Jaehyun. Alasan dari pertanyaan ini jelas, karena ia merasakan hal yang mencurigakan. Setidaknya Jaehyun merasakan adanya masalah dari pembukaan cerita Han Yeon itu.
Han Yeon menyadari bahwa berbohong tidak akan menyelesaikan masalah dan lagi, dia bicara dengan dukun sekarang.
“Yuno bertanya soal ruang ganti kalian yang hancur. Sepertinya dia mengetahuinya dari salah satu staff dan tentu saja, dia tidak sengaja mengetahuinya.”
“Bagaimanapun, aku sudah meminta semua orang yang mengetahui hal ini untuk merahasiakannya dari kalian.”
“Jujur saja, aku senang karena sepertinya Yuno tidak memberitau hal ini padamu atau yang lain. Tapi, aku tetap cemas.”
“Hmm~” Jaehyun hanya bisa menanggapinya dengan santai tanpa bertanya. Tidak lama, perhatiannya berubah.
“...”
Sesuatu. Tidak, ada seseorang yang mengawasi mereka. Setidaknya Jaehyun menyadari hal ini. Dia terlihat tenang, namun dia tetap waspada.
Tangannya mulai gemetar, dingin dan giginya mulai menggigit ujung bibirnya.
“Ada seseorang di sini!” pikirnya.
Jantungnya berdetqk tak beraturan. Di tangga darurat ada hawa berat yang membuat perutnya ingin mengeluarkan seluruh isinya, aroma darah yang kental tercium sangat menyengat dan bagian buruknya adalah….hanya dia seorang yang dapat menciumnya.
Sambil melirik ke arah Han Yeon yang terus bicara, Jaehyun mengetahui bahwa pria itu tidak menciumnya.
“Beruntung sekali dia tidak menciumnya.”
Fokusnya mulai hilang dan tidak mendengar cerita Han Yeon sama sekali. Mulai dari sini, fokus Jaehyun hanya untuk mempertahankan ketenangannya dan mencari cara untuk mengetahui dari mana aroma menyengat dan hawa berat yang menyesakkan itu datang.
“...Hyun.”
“Jaehyun!”
Itu adalah suara Han Yeon yang memanggilnya, “Kau dengar ceritaku atau tidak, Jaehyun? Aku memanggilmu dari tadi!”
“...!” perhatian Jaehyun akhirnya kembali dan melihat Han Yeon dengan ekspresi serius seakan semua baik-baik saja, “Dengar. Maaf, aku pikir kau masih mau memberitauku hal lain. Sudah selesai, kan?”
“Sudah.”
“Kalau begitu soal pesanku. Aku serius menyelesaikannya secepat mungkin. Kau mau ambil libur kapan?”
“Hah? Kenapa jadi bertanya soal liburku?”
“Aku ingin kau tidak datang ke studio di saat aku melakukan tugasku.”
“Kenapa?”
“Karena kau mungkin akan terkena masalah.”
“Hah?” Han Yeon terlihat bingung, “Kenapa begitu?”
“Karena makhluk itu akan menargetkan orang yang menjadi manager MYTH. Sementara hanya itu yang aku tau. Kalau kau ada di tempat ini saat aku bekerja, dia akan mengancammu lebih dulu. Itu sudah jelas.”
“Ukh…” Han Yeon terdiam dan berpikir sejenak. Dia melihat ponselnya dan kembali menatap Jaehyun dengan tatapan penuh keraguan, “Kau yakin? Aku tidak harus datang ke sini?”
“Ya kalau mau datang tidak masalah, hanya saja sore hari kau harus langsung pulang.”
“Kalau begitu weekend. Weekend besok aku akan ambil jadwal setengah hari. Bagaimana?”
Jaehyun hanya mengangguk. Sedikit basa-basi dan pembicaraan mengenai bayaran Jaehyun menjadi penutup. Hanya sebuah percakapan kecil yang membuat Han Yeon lebih baik dan meninggalkan tangga darurat untuk kembali bekerja.
“Aku tidak mau dicurigai oleh Yuno dan yang lain lagi,” ujarnya sebelum keluar. “Kau juga harus kembali, Jae.”
“Aku tau. Oh, bagaimana dengan ruang ganti kita? Kapan ruangan itu bisa dipakai lagi?”
“Mungkin dua hari lagi. Sebenarnya besok sudah bisa digunakan, tapi memindahkan sisa barang kalian selama syuting akan melelahkan jadi tunggu dua hari lagi ya.”
“Sampaikan itu pada Shihan-hyung dan yang lain juga agar mereka tidak curiga,” Jaehyun meledeknya.
“Berisik! Sudah, aku duluan ya.”
Han Yeon akhirnya meninggalkan tangga darurat dan kali ini hanya Jaehyun yang sudah siap dengan tangannya. Tiga jari dengan ibu jari, telunjuk dan jari tengah sejajar seakan ingin membuat mantra.
Dia mengamati tangga darurat yang menuju atas dan bawah ruangan. Di ruangan yang terbilang cukup terang karena adanya lampu, suasana mencekam tetap dirasakan olehnya.
Mungkin terdengar aneh, tapi di kakinya sekarang, seakan ada genangan air yang kental dan sensasinya semakin terasa nyata dengan bunyi air yang muncul entah dari mana.
Tik.
Tik.
Tik.
Jaehyun melihat ke bawah kakinya. Matanya menunjukkan keterkejutan karena dia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Darah.
Benar, itu adalah darah. Darah di kakinya, di lantai tempatnya berdiri sekarang. Terasa jelas, begitu kental sampai refleksi bayangannya terlihat di sana.
Itu nyata. Setidaknya di mata Jaehyun saat ini.
Lampu yang menerangi tangga darurat pun akhirnya meredup. Aneh, sungguh aneh. Namun itu nyata.
Jaehyun pun mengangkat kepalanya dan sosok kepala terbalik dengan rambut rumbai ke bawah dan senyum hingga darah yang keluar dari lubang telinga serta matanya berada dekat dengannya.
“...!!!”
Jaehyun jelas terkejut dengan penampakkan itu. Jika orang lain yang melihatnya, mungkin akan langsung jatuh pingsan atau berteriak.
Senyum wanita itu jelas terlihat sangat lebar, mengerikan karena kepalanya terbalik karena berasal dari langit-langit tangga darurat.
Sambil membuka mulutnya, dia berkata dengan suara gemetar.
“Ma…ti…”
Jarak yang begitu dekat dengan wajah Jaehyun, hanya dibatasi oleh napas pemuda itu dan Jaehyun langsung mengarahkan jari tangannya.
“Musnahlah!” teriaknya.
Whoosh.
Suara angin yang terdengar dari sekitarnya membuat lampu-lampu yang ada di tangga darurat terus berkedip beberapa kali sampai akhirnya kembali seperti semula.
Tidak ada darah di lantai, tidak ada wanita atau kepala terbalik di hadapan Jaehyun, namun jarinya berdarah.
Itu nyata. Jaehyun tidak terluka, hanya saja darah itu menempel padanya. Darah milik wanita itu. Aroma amis yang khas seakan darah itu masih baru.
“Sial, ini semakin berbahaya. Siapa dia dan kenapa mengganggu tempat ini?”
kaka dapet ide ceritanya dari mana sihhhh
aku yakin, demon lord sebelah dan mulut terkutuk pasti muji!
/Scream//Scream//Scream/
Agaki-sama.. aku lupa/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/