NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 – Pesanan yang Tidak Bisa Ditolak

Pagi itu dimulai seperti hari-hari sebelumnya.

Warung keluarga Arga mulai ramai sejak matahari belum sepenuhnya naik.

Para pekerja proyek berdatangan untuk membeli sarapan.

Paket hemat masih menjadi pilihan utama.

Beberapa pelanggan tetap juga mulai muncul satu per satu.

Di dapur, ibunya dan Bu Rina bekerja tanpa banyak bicara.

Maya membantu mengemas gorengan sambil sesekali mencatat stok yang keluar.

Sementara Arga berdiri di dekat etalase, memperhatikan alur kerja yang kini terasa jauh lebih teratur dibanding beberapa bulan lalu.

Sistem sederhana yang mereka bangun memang belum sempurna.

Namun hasilnya mulai terlihat.

Kesalahan berkurang.

Pemborosan menurun.

Dan pekerjaan menjadi lebih mudah dikendalikan.

Saat sedang membantu melayani pelanggan, sebuah motor berhenti di depan warung.

Pengendaranya mengenakan seragam kantor berwarna biru tua.

Pria itu turun lalu melihat-lihat isi warung.

Arga belum pernah melihatnya sebelumnya.

"Selamat pagi."

"Pagi."

Pria itu tersenyum ramah.

"Kamu Arga?"

Arga sedikit terkejut.

"Iya."

"Saya dapat nama kamu dari Pak Hendra."

Mendengar nama itu, Arga langsung lebih santai.

Pak Hendra memang beberapa kali memperkenalkan warung mereka kepada orang lain.

"Ada yang bisa saya bantu?"

Pria itu mengangguk.

"Sebenarnya saya ingin membicarakan pesanan."

Kalimat itu langsung menarik perhatian Arga.

Karena selama ini pesanan acara memang menjadi salah satu sumber pemasukan yang cukup baik.

Namun biasanya jumlahnya tidak terlalu besar.

"Pesanan apa?"

Pria itu memperkenalkan diri sebagai Arif.

Ia bekerja di kantor kecamatan.

Minggu depan akan ada pelatihan pegawai selama dua hari.

Pesertanya sekitar seratus orang.

Dan panitia sedang mencari penyedia konsumsi ringan.

Saat mendengar angka itu, Arga langsung terdiam.

Seratus orang.

Jumlah yang jauh lebih besar dibanding pesanan mereka sebelumnya.

"Saya dengar gorengan dan makanan ringan di sini cukup bagus."

Arga tersenyum sopan.

"Terima kasih."

"Tapi saya belum bisa menjanjikan apa-apa."

Arif mengangguk.

"Saya paham."

"Lagipula saya juga masih survei."

Setelah berbincang beberapa menit, pria itu meninggalkan nomor telepon dan pamit.

Namun begitu motornya menghilang dari pandangan, Arga langsung tahu satu hal.

Kalau pesanan itu benar-benar datang, dampaknya akan besar.

Siang harinya, Arga mulai menghitung.

Bukan menghitung keuntungan.

Melainkan kemampuan produksi.

Seratus peserta.

Dua hari.

Berarti dua ratus paket.

Belum termasuk kemungkinan cadangan.

Ia membuka catatan lama.

Pesanan terbesar yang pernah mereka tangani sebelumnya bahkan tidak mencapai setengah jumlah tersebut.

Saat Maya melihatnya kembali tenggelam dalam angka, gadis itu menggeleng.

"Ada apa lagi sekarang?"

Arga menjelaskan situasinya.

Semakin lama mendengar, mata Maya semakin membesar.

"Seratus orang?"

"Iya."

"Itu banyak."

"Itulah masalahnya."

Maya langsung duduk.

Untuk pertama kalinya, ia tidak menganggap Arga terlalu banyak berpikir.

Karena angka itu memang cukup besar.

"Bisa tidak?"

Arga menghela napas.

"Itu yang sedang aku cari tahu."

Sore hari, Arga tidak langsung mencari jawaban.

Sebaliknya, ia mulai mengamati.

Berapa banyak gorengan yang bisa diproduksi dalam satu jam.

Berapa lama waktu pengemasan.

Berapa banyak tenaga yang dibutuhkan.

Semua dicatat.

Semua dihitung.

Dan hasilnya cukup menarik.

Secara teori, mereka mampu.

Tetapi dengan satu syarat.

Semuanya harus berjalan hampir tanpa kesalahan.

Dan dalam dunia nyata, kondisi seperti itu jarang terjadi.

Malam harinya, Arga masih memikirkan hal tersebut ketika sebuah suara terdengar dari belakang.

"Kalau cuma menghitung terus, jawabannya tidak akan muncul."

Maya.

Seperti biasa, membawa dua gelas teh.

Arga menerima satu gelas.

"Lalu menurutmu harus bagaimana?"

"Tes."

"Tes?"

Maya mengangguk.

"Kalau kamu ingin tahu apakah kita mampu, coba saja."

Arga memperhatikan gadis itu.

"Kadang aku heran."

"Apa?"

"Beberapa bulan lalu kamu bahkan tidak suka mencatat."

"Itu fitnah."

"Kamu bilang catatan stok membosankan."

"Itu bukan fitnah."

Mereka berdua tertawa.

Namun ucapan Maya sebenarnya masuk akal.

Daripada terus menebak-nebak, lebih baik mencari cara untuk menguji kemampuan mereka.

Keesokan harinya, kesempatan itu datang lebih cepat dari yang diperkirakan.

Pak Arif kembali ke warung.

Namun kali ini ia tidak datang sendirian.

Bersamanya ada seorang wanita yang ternyata menjadi ketua panitia pelatihan.

Mereka membeli beberapa sampel makanan.

Kemudian mengobrol cukup lama dengan ayah Arga.

Saat Arga ikut bergabung, wanita itu langsung bertanya.

"Kalau misalnya kami membutuhkan seratus paket, apakah kalian sanggup?"

Pertanyaan yang sama.

Namun kali ini jauh lebih nyata.

Karena datang langsung dari calon pelanggan.

Arga tidak menjawab terburu-buru.

Ia mengingat nasihat yang berkali-kali didapat dari Rudi.

Jangan mengambil peluang terlalu besar tanpa perhitungan.

"Kapan acaranya?"

"Minggu depan."

"Waktunya?"

Wanita itu menjelaskan detail acara.

Semakin lama mendengar, semakin banyak informasi yang didapat Arga.

Dan semakin jelas pula bahwa keputusan ini tidak bisa dibuat hanya berdasarkan keberanian.

Setelah berpikir beberapa saat, Arga akhirnya berkata,

"Kami bisa memberikan jawaban dalam dua hari."

Wanita itu tampak puas.

"Baik."

Mereka bertukar nomor telepon.

Lalu pergi.

Begitu tamu itu pergi, Maya langsung menghampiri.

"Kamu tidak langsung bilang sanggup?"

Arga menggeleng.

"Karena aku belum yakin."

"Padahal aku kira kamu akan langsung menerima."

"Itu Arga beberapa bulan lalu."

Jawaban itu membuat Maya tertawa.

Karena memang benar.

Dulu Arga sering terlalu bersemangat setiap melihat peluang baru.

Sekarang ia jauh lebih hati-hati.

Sore harinya, sesuatu yang menarik terjadi.

Rudi datang ke warung untuk mengambil laporan penjualan gorengan yang dititipkan di minimarketnya.

Saat mendengar tentang pesanan seratus paket, pria itu langsung bersiul pelan.

"Itu lumayan besar."

"Iya."

"Mau diambil?"

Arga mengangkat bahu.

"Belum tahu."

Rudi tampak berpikir sejenak.

Kemudian berkata,

"Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan langsung melihat jumlah pesertanya."

"Lalu?"

"Aku akan melihat apa yang bisa dipelajari."

Kalimat itu membuat Arga terdiam.

Rudi melanjutkan.

"Pesanan besar bukan cuma soal keuntungan."

"Kadang itu kesempatan untuk mengetahui batas kemampuan usaha kita."

Arga langsung memahami maksudnya.

Kalau mereka berhasil, mereka mendapatkan keuntungan sekaligus pengalaman.

Kalau gagal...

Setidaknya mereka tahu kelemahan yang harus diperbaiki.

Namun tentu saja kegagalan tetap memiliki harga.

Malam itu, setelah warung tutup, Arga membuka buku catatannya.

Namun kali ini ia tidak membuat daftar panjang.

Ia hanya menulis satu pertanyaan.

Apakah pesanan ini akan membuat usaha kami lebih kuat?

Bukan lebih kaya.

Bukan lebih terkenal.

Lebih kuat.

Karena semakin lama menjalankan usaha, semakin ia menyadari bahwa uang bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Usaha yang kuat bisa menghasilkan uang berkali-kali.

Sedangkan usaha yang rapuh bisa hancur hanya karena satu kesalahan besar.

Angin malam berembus pelan.

Lampu proyek masih terlihat menyala di kejauhan.

Dan untuk pertama kalinya sejak tawaran ruko muncul, Arga menemukan tantangan yang jauh lebih dekat.

Bukan soal masa depan lima tahun lagi.

Bukan soal kawasan baru.

Bukan soal pasar modern.

Melainkan pertanyaan sederhana yang harus dijawab dalam dua hari ke depan.

Apakah warung kecil keluarga mereka benar-benar siap naik ke tingkat berikutnya?

Atau mereka masih terlalu kecil untuk mengambil kesempatan sebesar itu?

Arga menutup buku catatannya perlahan.

Karena apa pun jawabannya nanti, keputusan yang diambil akan menjadi ujian terbesar bagi sistem yang selama ini mereka bangun.

Bersambung...

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!