Tahun pertama pernikahanku bersama mas Abim kehidupan kami sangat harmonis dan bahagia, manakala diriku sudah mengandung buah hati dari cinta kita.
Tapi siapa sangka, tahun kedua pernikahanku di landa badai yang amat dasyat saat aku melahirkan seorang putri cantik yang justru di benci oleh ibu mertuaku yang menginginkan seorang penerus berjenis kelamin laki-laki.
Siapa sangka, diam-diam suamiku telah menikah dengan mantan sahabatnya. Yang merupakan wanita pilihan ibunya. Dan ibu mertuaku memintaku untuk menerima pernikahan kedua suamiku dan madunya itu.
Apakah yang harus aku lakukan? Bertahan atau melepaskannya? Ikuti kisahku..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AniitaLee_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlakuan Yang Berbeda
“Selamat pagi, ibuuu!!”
“Selamat pagi juga mas Abim dan juga.....”
Mendengar namanya di sapa oleh seorang wanita yang saat ini ingin sekali Abim hindari pun, membuat pria manis itu tersedak makanan yang ia kuyah.
Uhuk! Uhuk!
Dengan gerak cepat, wanita itu pun menyodorkan segelas air putih yang ada di samping pria itu. Begitu halnya dengan Inara sang istri yang reflek menyodorkan gelas miliknya ke arah sang suami.
“Mas Abim, kamu tidak apa-apa mas?”
“Maaf mas Abim, Jenita membuatmu tersedak ya.” ucap lembut wanita itu.
Inara pun mendelik, wanita yang datang tanpa permisi bahkan wanita itu juga belum memperkenalkan diri di hadapannya. Kini nampak berani memberikan perhatian kecil kepada suaminya. Untung saja, usahanya tidak sia-sia karena kini Abim terlihat meraih gelas yang Inara sodorkan itu.
“Terima kasih sayang.” balas Abim ke arah Inara.
Lantas Inara pun tersenyum manis, sedangkan wanita di seberangnya itu hanya tersenyum masam.
“Inara, perkenalkan ini Jenita. Jenita ini adalah putri sahabat ibu. Begitu pula Jenita juga sahabat Abim sedari kecil,” ungkap Bu Retno memperkenalkan siapa wanita berparas kebulean itu di hadapan sang menantu.
Sedangkan Abim pun bernafas lega, setelah jantungnya hampir saja lepas karena tiba-tiba sang ibu mengundang Jenita untuk ke rumah. Sungguh Abim belum siap dengan segala kejujuran yang harus ia akui. Namun mendengar penuturan sang ibu barusan, membuat Abim merasa bahwa ibunya mampu memegang rahasianya sementara hingga waktu itu tiba.
Senyum Inara pun pudar secara perlahan. Karena selama ini Inara tak pernah mendengar nama Jenita di setiap cerita suaminya Abim. Tapi nama itu terdengar tidak begitu asing, bahkan terkesan sangat mirip dengan namanya putrinya Jelita.
Atau jangan-jangan? Akh..Inara tak ingin berprasangka yang aneh-aneh tentang suaminya. Mungkin ini hanya kebetulan saja, dengungnya dalam hati.
“Oh...mbak Inara ya? Perkenalkan nama saya Jenita, mbak Inara begitu cantik pantas saja mas Abim tergila-gila sama mbak Inara,” celetuk Jenita yang dihiasi sindiran halus untuk pria di samping Inara itu.
“Oh..akh! Iya sama kenal ya. Mbak Jenita juga cantik.” sahut Inara kikuk.
Rasanya Inara ingin menghujani segala pertanyaan kepada suaminya Abim. Karena selama ini, suaminya Abim itu tidak sekali pun menceritakan tentang wanita di hadapannya. Apalagi mereka pernah bersahabatan sedari kecil.
“Bu, maaf Abim tidak bisa lama-lama ya karena pagi ini ada meeting.”
“Sayang, jangan cemberut ya nanti mas akan ceritakan,” bisik Abim seraya mengecup singkat kening sang istri dengan mesra tepat di hadapan ibu dan juga istri keduanya.
Inara pun mengangguk seraya tersenyum manis. Sedangkan Jenita memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain, untuk meminimalisir rasa cemburu dalam hatinya. Mungkin inilah resiko menjadi istri kedua. Jenita harus pandai menyimpan rasa cemburu itu baik-baik.
“Kamu tenang saja sayang, sebentar lagi kamu bisa bermesraan dengan suamimu Abim. Ibu pastikan itu!” bisik Bu Retno tepat di daun telinga Jenita.
Jenita pun langsung mendongak ke arah ibu mertuanya itu sambil tersenyum.
“Makasih ibu.” balas Jenita lirih. Jenita pun kembali menatap sambil meneliti wanita yang menjadi pemilik hati suaminya saat ini. Jenita ingin tahu, apa yang Inara miliki hingga sulit bagi Abim untuk berpaling kepadanya. Bahkan saat penyatuan kemarin, hanya nama Inara yang terlontar dari bibir suaminya. Dan itu sangat melukai hati Jenita.
“Abim berangkat dulu semua, assalamualaikum!”
“Wa'allaikumsalam!!”
Selepas kepergian Abim, suasana ruang makan itu nampak sunyi dan mencekam. Bu Retno kembali melemparkan tatapan tak suka ke arah Inara.
“Inara!” panggil Bu Retno saat melihat Inara hendak pergi dari ruangan itu.
“Iya bu?”
“Bersihkan makanan di meja ini semuanya, jangan lupa lap mejanya sampai bersih dan cuci semua perabotan kotor, mengerti?!” titah Bu Retno dengan sorot matanya yang tajam.
Inara bergeming, biasanya sang ibu mertua mengerjakan semua pekerjaan itu sendirian. Tapi kali ini, wanita itu meminta tolong kepadanya.
“Ba..baik bu.”
“Bu, biar Jenita bantuin mbak Inara cuci piring ya? Piring kotornya lumayan banyak itu,” ujar Jenita menawarkan diri untuk membantu pekerjaan Inara.
“Jangan Jenita! Nanti jari jemarimu bisa kasar dan terluka. Biarkan saja Inara yang mengerjakannya, toh pekerjaan ini pantas untuknya. Lihat jari lentikmu ini, ibu takut nanti terlepas!” tolak Bu Retno sambil mengelus telapak tangan Jenita yang terlihat cantik berhiaskan cat kuku.
“Benar kata ibu mbak Jenita, biar saya saja. Saya sudah terbiasa kok,” ucap Inara menengahi.
“Tuh kan benar kata ibu, udah mending kita ke taman minum teh sambil cerita-cerita gimana sayang? Sudah lama kita tidak melakukannya bukan? Ibu kangen.”
“Jenita juga ibu. Kalau begitu mbak Inara, kami ke taman dulu ya.” pamit Jenita yang sudah di tarik lengannya oleh Bu Retno. Sedangkan Inara hanya mengangguk.
Inara pun hanya bisa menatap kepergian Jenita dengan ibu mertuanya yang nampak terlihat begitu sangat akur. Sisi lain Inara pun menatap iri ke arah Jenita. Begitu mudah wanita itu mengukir senyum di bibir ibu mertuanya itu.
Sedangkan kepadanya, Bu Retno selalu berkata ketus dan jutek. Tidak ada nada seramah saat berbincang dengan Jenita sahabat suaminya itu.
Bersambung...
Selamat buat Inara dan Indra pny anak kembar dan jelita
DinDut itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
Inara hrs mengusut sampai tuntas
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
klo indra tidak selamat malas lanjut baca nya
DinDut Itu pacarku ngasih iklan
Buk Retno bnr2 pembuat masalah nih
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan