Berawal dari kesalahan Mike dan Sandra yang menyebabkan Sandra harus hamil di luar nikah. Mike pun di usir dari rumah. Lalu Mike membawa Sandra kabur dari rumah orang tua Sandra dan menikah tanpa restu orangtua. Lalu papa Mike berusaha membuat hidup mereka menderita agar Mike meninggalkan Sandra dan balik padanya.
Suatu saat Sandra kontraksi. Tak satu pun warga mau menolong mereka. Mike hanya menemukan gerobak dan membawa Sandra dalam kondisi hujan ke rumah sakit. Mike meminta tolong pada pihak rumah sakit untuk menolong Sandra dengan kekuatan terakhirnya lalu Mike pun pingsan. Lalu keduanya langsung di tangani. Mike pun meninggal. Sandra melahirkan bayi laki-laki yang lucu.
Mengetahui anaknya meninggal, Pak Anwar pun mengambil mayatnya Mike beserta anak mereka. Sandra yang masih lemah tidak dapat mengejar Pak Anwar dan terjatuh.
“Jangan Ambil Anakku” Ucap Sandra saat dia terjatuh .
Bagaimanakah nasib Sandra dan anaknya? Apakah Sandra masih bisa bertemu dengan anaknya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Jenius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Keputusan Pak Riko (Part 1)
Melihat Sandra diam tanpa berkata apapun, bu Mira pun mengusap kepala Sandra lagi. Bu Mira tahu saat ini pasti Sandra overthinking dan berpikir yang aneh-aneh tentang apa yang akan dikatakan Pak Riko papanya Sandra pada dirinya.
“Sandra.. Kamu kenapa? Kenapa kamu diam saja? Kamu takut ya bicara sama papa?” Spontan Sandra pun yang dari tadi melihat mamanya mendongak dan melihat ke arah mamanya.
“Hmmm… Nggak kok ma?” Sandra menutupinya pada mamanya.
“Kamu yakin nggak takut?” Tanya bu Mira meyakinkan.
“Hmm.. Iya ma. Masak sih seorang anak takut sama papanya? Mama ini ada-ada saja sih?” Sandra tersenyum kaku mendengar perkataan anaknya tersebut.
“Kalau gitu ayok kita keluar dan menemui papa sekarang.” Ajak Bu Mira.
“Ayo ma.” Sandra menghela nafas panjang sebelum berdiri dan menemui papanya itu. Dia ingin menetralkan perasaan gugup nya saat ini.
Bu Mira pun menggandeng tangan Sandra agar mereka sama-sama keluar dari kamar Sandra dan menemui Pak Riko papanya Sandra. Bu Mira merasakan dinginnya tangan Sandra saat dia menggandeng tangan anaknya itu.
“Santai Sandra. Jangan gugup gitu..!!” Pinta Bu Mira.
“Sandra nggak gugup kok ma.” Sandra masih berusaha menutupi perasaannya.
“Nggak gugup kamu bilang? Trus kenapa dong ini tangan kamu sedingin es batu kalau kamu bilang kamu nggak gugup atau takut?” Bu Mira bertanya dengan lembut.
“Bawaan janin kali ma” Sandra pun menjawabnya asal.
“Hahaha.. Kamu ini nggak cantik bohongnya.” Bu Mira geli mendengar jawaban Sandra saat ini.
“Siapa yang bohong sih ma? Sandra kan berkata jujur ma.”
“Masak sih? Kok mama nggak merasa kamu jujur. Mama malah merasa kamu itu lagi berusaha menutupi perasaan yang sedang kamu rasakan sekarang.” Tebak Bu Mira.
“Iya loh ma.” Sandra berusaha meyakinkan lagi.
“Iya. Iya. Mama percaya deh. Mama cuma pesan sama kamu. Apapun yang nanti di bilang oleh papa kamu nanti kamu harus diam saja ya. Jangan melawan. Ikuti saja maunya papa. Ingat saja apapun yang papa sudah putuskan nanti semuanya hanya demi kebaikan dan masa depan kamu nantinya ya.” Nasehat bu Mira.
“Lihat nanti ya ma. Kalau kira-kira keputusan papa sesuai dengan rencana Sandra dan Mike minimal melenceng sedikit tapi masih bisa diterima akal sehat Sandra, maka Sandra akan menyetujuinya. Namun kalau nanti semua yang papa bilang bertentangan dengan Sandra. Maka Sandra nggak akan bisa menerimanya. Dan Sandra mau papa jangan memaksakan kehendaknya pada Sandra seperti biasa dia lakukan ma.” Pinta Sandra.
“Hmm.. Terserah kalian deh. Kalian berdua sama-sama keras kepala. Mama jadi bingung melihat kalian berdua.” Bu Mira hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Mama belain Sandra dong ma. Sekali ini saja..!! Please..!!” Sandra pun memohon pada bu Mira.
“Nggak bisa Sandra. Kali ini kesalahan kamu serius dan sangat fatal. Kalau mama membela kamu itu artinya mama membela yang salah Sandra.”
“Tapi ma..!! Apa salahnya sih kalau Sandra menikah dengan Mike? Harusnya kan papa dan mama bersyukur Mike mau mempertanggungjawabkan perbuatannya sama Sandra ma. Dan harusnya kalian menyetujui saja permintaan Mike untuk menikahi Sandra. Apa susahnya sih ma?” Sandra terus mendesak mamanya itu.
“Ya. Mama memang bersyukur karena Mike mau bertanggung jawab sama kamu. Tapi mama akan lebih bersyukur lagi kalau Mike tidak melakukan hal itu pada kamu sehingga masalah ini tidak akan pernah terjadi.” Ucap Bu Mira.
“Tapi kan ma semua sudah terjadi dan nggak bisa diulang lagi ke keadaan semula.”
“Kamu benar. Keadaan memang nggak bisa diulangi lagi seperti semula. Tapi kan masih bisa diperbaiki selagi masih bisa Sandra. Dari pada terjadi penyesalan seumur hidup pada kamu nantinya.” Nasehat bu Mira.
“Tapi ma..!!”
“Sudah. Kita nggak usah berdebat di sini. Nggak ada gunanya. Kita dengar saja nanti apa yang diputuskan oleh papa kamu ya. Makanya sekarang lebih baik kamu menyimpan tenaga kamu untuk menghadapi papa kamu saja. Kita bentar lagi sampai ke ruang tamu tempat papa kamu menunggu kita.”
“Iya ma. Sandra sudah tahu.”
Melihat mamanya bersikeras seperti itu, Sandra tahu kalau kali ini mamanya sama sekali nggak dapat membantunya. Sandra hanya bisa mempersiapkan hati dan pikirannya untuk menghadapi papanya saat ini.
Bu Mira dan Sandra pun akhirnya sampai di ruang tamu tersebut. Mereka melihat Pak Riko duduk dengan kaki menyilang dan tangan dilipatkan di dadanya sedang memandang ke arah mereka.
“Duduk Sandra..!!” Titah Pak Riko pada anaknya itu.
“Baik pa..!!” Sandra pun langsung duduk dan mengikuti perintah papanya itu.
Sesaat Pak Riko hanya diam dan melihat putri kesayangannya tersebut. Ada perasaan sedih dan kasihan yang dirasakan Pak Riko pada Sandra. Biar gimana pun memang yang paling menderita dalam masalah ini adalah Sandra. Namun Pak Riko nggak bisa berkata apapun lagi. Memang kali ini adalah kesalahan anaknya sendiri. Kalau tadinya Sandra tidak melakukan hal itu, mungkin nasib Sandra tidak akan semenderita ini.
“Ada apa pa? Kata mama tadi papa mau ngomong sama Sandra. Mau ngomong apa pa?’ Tanya Sandra memulai pembicaraan di tempat itu agar ketegangannya menjadi berkurang.
“Mana Mike? Kenapa dia belum membawa orangtuanya ke sini? Apa dia membatalkan niatnya untuk menikahi kamu?” Tanya Pak Riko to the point.
“Mike sedang mencari pekerjaan pa. Dia sudah cuti kuliah agar bisa mulai mencari pekerjaan untuk dapat menikahi Sandra.” Jawab Sandra jujur sama seperti apa yang dikatakan Mike pada Sandra.
“Cari kerja? Memangnya kerjaan apa dan bagaimana yang bisa di dapat orang yang tidak lulus kuliah? Paling juga jadi buruh panggul atau tukang bangunan? Mau dikasi makan apa kamu dan anak kalian itu nanti?” Pak Riko meremehkan Mike.
“Yang penting kan Mike sudah berusaha pa. Dimana-mana kan nggak ada sih pa yang sekali bekerja langsung jadi kaya raya. Atau langsung mendapatkan pekerjaan yang bagus dan gaji tinggi. Semuanya kan bertahap pa. Papa harus menghargai dan memaklumi usahanya. Jangan meremehkan dia seperti itu.” Bela Sandra.
“Papa nggak meremehkan Mike. Papa hanya mengatakan kenyataan supaya kalian sadar memutuskan menikah di usia muda tanpa modal apa-apa itu berat Sandra. Apalagi kalian langsung akan memiliki anak. Papa yakin mengurus hidup kalian saja nanti kalian akan kewalahan. Kalian kan terbiasa hidup enak. Apa saja bisa langsung kalian dapatkan dari orangtua masing-masing. Gimana kalian bisa menyesuaikan diri dengan keadaan miskin dan nggak punya apa-apa Sandra. Coba kamu pikirkan ulang deh.” Pak Riko menjelaskan.
“Apanya sih yang harus dipikirkan lagi pa. Bukannya semuanya sudah jelas. Sandra dan Mike memutuskan untuk menikah dan mempertahankan anak ini pa. Dan nggak ada kompromi.” Kata Sandra tegas.
“Kamu yakin dengan keputusan kamu itu dan nggak akan menyesalinya sama sekali?” Pak Riko menyipitkan matanya melihat ke arah Sandra.
“Nggak pa. Sandra yakin dengan keputusan Sandra pa. Dan Sandra percaya sama Mike. Dia pasti akan berusaha menjadi kepala keluarga yang baik untuk Sandra dan calon anak kami pa.”
“Baiklah kalau itu mau kamu. Panggil Mike besok datang ke rumah dan suruh dia membawa kedua orangtuanya ke sini untuk melamar kamu secara resmi.” Titah Pak Riko.
“Harus bawa orangtua ya pa?”
“Iya. Kenapa? Orangtuanya nggak setuju kan?” Pak Riko langsung menebaknya.
“Itu.. Itu..” Sandra nggak mampu menjawab apa-apa lagi.
Pak Riko pun tahu apa yang terjadi dan memejamkan matanya. Dia merasa sangat sedih saat ini sampai nggak tahu harus berkata apa lagi.
telat mikir nya, makanya mikir sebelum berbuat
"aku dan teman kamarku"
terima kasih