(REVISI)
Airin masih kelas 3 SMA dan sebentar lagi akan ujian Akhir.
Airin mempunyai kekasih bernama Arga mereka saling mencintai, Hingga suatu saat mereka kepergok melakukan hal yang tak seharusnya.
Sehingga mereka didesak menikah oleh orang tua Airin, Disaat hari pernikahannya tiba Arga malah kabur dan entah kemana.
Bagaimana nasib Airin, setelah ditinggal pergi oleh sang calon suami?
Ini novel pertamaku, jadi mungkin banyak kekurangan dan masih terus belajar. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kak meyla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Setelah Airin naik keatas kamar Daddy. Dia melihat Daddy tertidur, ingin membangunkannya tapi saat menyentuh lengannya kenapa panas sekali batinku. Airin memengang dahi Daddy untuk memastikannya.
"Astaga ternyata Daddy demam, badannya panas banget lagi" batinku
Airin berinisiatif mengompres Daddy. Sehingga dia turun kebawah lagi untuk mengambil air.
"Ehh. Ko Non turun lagi sih, emang makanannya kurang?" Tanya Bibi kepadaku.
"Padahal Bibi udah ngasih porsi jumbo lo," ujar Bibi lagi yang memiliki kekepoan yang tingkat tinggi. Tapi Bibi sama sepertiku sih. hmm beda tipis lahhh kalau bibi 6 aku 10 batinku hahaha...
"Kami belum makan Bi, Airin turun ingin mengambil wadah buat kompres Daddy, Soalnya badan Daddy anget banget," Jawab Airin padanya.
"Udah biar Bibi aja yang ambilin," sambil ingin melangkah. Tapi,,,
"Enggak usah Bi, biar Airin aja!" kataku kepadanya.
"Bibi tolong bikinin teh anget aja ya Bi. Tolong anterin kekamar sekalian."
"Sip Non," ujar Bibi dengan hormat kearahku. Enggak bunda, enggak bibi, Konyol semua. Aku doang yang waras Gumamku.
"Kenapa Non?" ujar Bibi yang mendengarkan gumamku.
"Enggak ko Bi makasih yah." ucapku dengan nyegir.
"Aku naik atas dulu yah, mau kompres Daddy." ujarku lagi pada Bibi. Setelah aku mengambil obat demam buat Daddy.
"Ia Non," ucap Bibi dengan tersenyum.
Airin melangkahkan kakinya untuk naik tangga dan tak terasa sampai dipintu kamar Daddy. Dia masuk kamar Daddy dan mulai mengompresnya. Hingga tiba-tiba ada yang mengetok pintu kamar, Airin melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamar.
Cek Lek...
"Ini Non teh angetnya!"
"Sini aja Bi," sambil aku mengambil nampan dari tangan Bibi.
"Biar aku aja, soalnya Daddy lagi tidur," ucapku lagi padanya.
"Non tolong rawat Tuan yah Non, soalnya dulu kalau tuan sakit, enggak mau dikompres sama Bibi. Cuman minta obat aja sama Bibi terus istirahat." katanya dengan mata berkaca-kaca"
"Bibi sebenarnya kasian sama tuan, kalau sakit gini enggak ada yang rawat Non," sambungnya lagi padaku.
"Apa lagi Tuan udah tua, Tapi sekarang Bibi seneng udah ada Non Airin yg merawat tuan," katanya yang tadi sedih, tapi tiba-tiba terkekeh karena menyebut TUA.
"Bibi istirahat juga udah malam ini." ucapku padanya karena aku kasian, pasti Bibi cape.
"Kasian bibi pasti capek" ujarku padanya lg.
"Ia udah Non, Bibi permisi," ucapnya sambil ingin keluar kamar Daddy.
"Makasih yah Bi." sambil aku tersenyum kearah Bibi.
Setelah Bibi berlalu dari hadapanku. Airin menutup pintu dan masuk kedalam kamar, serta membangunkan Daddy untuk makan terlebih dahulu, sebelum minum obat.
"Dad, bangun Dad!" sambil mengoyangkan lengan Daddy berulang kali untuk membangunkannya.
"Daddy makan dulu yah," Daddy hanya berdehem saja dan kembali memperbaiki posisi tidurnya untuk tidur lagi.
"Dad bangun dong." Daddy mulai mengerjapkan matanya sambil melihat kearahku.
"Sini Airin suapin" ujarku yang ingin segera menyuapinya karna Daddy sudah duduk dikasurnya.
"Daddy enggak laper Rin" ucapnya kepadaku dengan lemas.
"Daddy harus makan dong, terus minum obat yah. Biar cepet sembuh" kataku lagi padanya.
Aku mulai menyuapinya, baru saja suapan kedua Daddy segera memberhentikanku untuk menyuapinya. "Kenapa Dad?"
"Mulut Daddy pahit" ujarnya sambil aku menyodorkan air minum kearah Daddy.
"Daddy harus habisin makanannya, biar Daddy cepet sehat abis itu minum obat,"
"Enggak. Daddy udah kenyang"
"Dad jangan gitu deh, ini juga baru Dua sendok baru masuk, masa udah kenyang" kataku mencoba menyakinkan nya.
"Daddy Enggak ingin muntah kan," kataku lagi yg khawatir.d
Airin hanya melihat Daddy hanya menggelengkan kepalanya saja. Hufff, aku hanya mengela nafas kasar.
Daddy susah banget sih dibujuknya. Udah kaya aku bujuk anak kecil aja deh. Manjanya, masya Allah, batinku.
"Dad"
Hmmm,,,
Dia hanya berdehem dan menoleh kearahku. "Airin sedih kalau Daddy sakit gini" kataku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Daddy makan sedikit lagi yah, terus minum obat" Sambil aku terus membujuknya lagi karena aku tak tega melihat Daddy hanya makan dua sendok saja.
"Baiklah Daddy akan habisin makanannya. Kecuali," ucapnya yang menggantungkan kalimatnya.
"Apa?" ucapku menaikkan sebelah alisku. Mulai bernegosiasi nih dengan Daddy.
"Kamu suapinnya pake mulut kamu. Jangan pake sendok, kalau begitu pasti Daddy abisin makanannya," ucapnya dengan mata berbinar. Bener-bener yah Daddy, gumamku sambil menghela nafas kasar.
Ia ampun Daddy masih sakit aja, tapi tetap mesum aja sih. Kenapa mesumnya enggak ditinggalin dulu kek, abis sembuh baru balik lagi. Batinku nyeleneh. hehe.
"Ia udah kalau Enggak mau. Enggak usah, keluar aja dari kamar Daddy," ucapnya dengan jutek.
"Ia elah Daddy didiemin sebentar aja udah ngambek!" ujarku yang berusaha membujuknya.
"Udah sana keluar,"
Masih sejutek tadi. Ia Allah ini orang tua ko masih kaya bocah. Ampun deh sambil aku terkekeh.
"Kenapa malah ketawa sih" ujarnya yang sekarang malah kesal.
Sabar. Sabar. Sabar. Rin, ngadepin orang tua udah kaya bocah.
"Enggak ko Dad,"
"Sini deh biar Airin suapin keburu dingin ini nasinya, jadi gak enak" ucapku yang mengalah.
"Bener yah, disuapin pake mulut kamu" ucapnya dengan mata berbinar. Ini orang tua cepet banget sih berubah moodnya.
"Ia udah cepetan Dad"
"Tapi Airin enggak tau gimana caranya" ujarku lagi padanya.
"Gini nih," ucapnya sambil memasukkan makanan kemulutnya dan kemudian menciumku dan memasukkan makanannya kedalam mulutku.
"Ayo kunyah, malah kaget," ucapnya lagi.
"Ihh Jijik tau dad," kataku lemas.
"Sekarang gantian." ucapnya lagi sambil menyandarkan kepalanya dibahuku.
"Ia Allah Dad, gimana mau makan kalau kaya gini sih," kataku sebal.
"Oh Ia maaf. Soalnya kalau dekat Airin, bawaannya pengen dimanja terus sih," katanya lagi padaku dengan sok polos.
"Mau makan gak nih?" Tanya Airin dengan kesal.
"Ia mau dong."
"Ko Kamu tambah galak sih Rin, untung Daddy sayang," ucapannya terhenti karna aku langsung menyuapkan nasi kedalam mulutnya melalui mulutku.
"Udah ngocehnya, ayo kunyah." ucapku lagi dengan sebal. Dia hanya terkekeh saja. Setelah makanannya habis, aku pun ingin menyodorkan obat buat Daddy.
"Nih minum Dad,"
"Gitu lagi dong kaya tadi!" katanya dengan manja.
"Enggak yah Dad, aku enggak mau obatnya pahit," kataku yang langsung menolaknya mentah-mentah.
"Ia udah," ujarnya pasrah. Sambil langsung meminum obat demamnya dan Airin langsung mengambilkan air putih untuk Daddy.
Setelah Drama makan dan minum obat selesai. Dia pun masuk kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah selesai Airin ingin merebahkan tubuhnya ke kasur, tapi Tiba-tiba Daddy menahan tanganku.
"Jangan langsung rebahan rin,"
"Kenapa lagi sih dad? udah ngantuk ini!"
"Ia. Airin boleh tidur, tapi buka dulu bajunya, cukup bagian atas aja!" ucapnya yang menurutku mulai konyol.
"Dad, jangan mesum deh, Daddy itu masih sakit yah. Airin juga ngantuk banget ini," kataku dengan muka kesal.
"Kamu tuh yang mesum," katanya yang tidak ingin mengalah.
Airin menuruti saja kemauannya. Dari pada berdebat, Apalagi sekarang sudah mulai larut malam. Setelah membuka baju, dia langsung merebahkan badannya kekasur dan ikut masuk keselimut Daddy.
Tapi Daddy Tiba-tiba bangun dan juga melepas pakaian atasnya, hingga polos sama sepertiku dan merebahkan tubuhnya kembali kekasur. Airin tak mempedulikan apapun yang ingin dilakukan karena dia sangat mengantuk.
Tapi tiba-tiba Daddy menarikku kedalam pelukannya dan memelukku dengan sangat erat
dan menyalurkan kehangatannya kepadaku.
"Kata orang, kalau kita sakit dan meriang cara ini paling ampuh," ucapnya lagi.
Hmmm, Airin hanya berdehem saja membalas ucapannya karena semakin mengantuk saja tapi karena hawa panas ditubuhnya mulai agak terjaga.
"Rin makasih yah, udah hadir dihidup Daddy, memberikan warna yang indah dihidup Daddy."
"Daddy janji, apa pun masalah yang akan menghampiri kita kedepannya, kita harus menghadapinya bersama dan Daddy akan selalu ada untukmu, Walau Arga sekali pun. I LOVE U."
"Itu janji Daddy kepadamu Rin," ucapnya kembali sambil Daddy mencium keningku dengan sangat lama.
Sebenarnya aku udah ngak mau lanjutin ceritanya karena aku kira ngak ada yang bakalan baca. Tapi alhamdulillah ternyata makin kesini ada yang like dan juga koment, sehingga aku makin semangat buat lanjutinnya.
Makasih yah, jangan lupa like dan koment kakak kakak dan bunda-bunda cantik😍😍😍
Ditunggu juga votenya please🙏🙏🙏🙏🙏🙏
rita barunyaaa... tentang nana .
masa gakndijelaskan di awal sm doktet