Sejak lama Yordan menyimpan rasa pada Amara, namun rasa itu harus dia simpan dalam-dalam dikarenakan ada sesuatu perbedaan mendasar antara mereka.
Sedih dan sakit tentu saja dia rasakan kini. Omong kosong jika, cinta tak harus memiliki, tapi ia sadar, cinta tak boleh memaksakan diri.
Bisakah Yordan menghapus rasa yang selama ini ia simpan ataukah ia akan menyerah sehingga cinta itu akan menemukan jalannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arif dan Yordan
"Penjelasan apa lagi yang ingin Bapak sampaikan. Semua sudah sangat gamblang, tak ada yang perlu Bapak jelaskan lagi." jawab Amara dengan kesal.
Rasa kesal Amara sudah sampai ubun-ubun. Dia sudah tak percaya lagi dengan Arif. Mengajak pergi berduaan, sedangkan ia tahu kalau istrinya sedang bersedih, menunggu putranya sedang sakit.
Ini trik-trik murahan yang biasa digunakan si hidung belang. Meski ia tak menuduh dosennya seperti itu. Tetapi bersikap waspada, itu lebih baik.
Amara berbalik, ingin segera pergi. Meninggalkan pria brengsek yang pernah ia kenal. Namun keinginannya itu segera dicegah oleh Arif.
"Baiklah. Kita bicara di sini saja," kata Arif kemudian.
Mau tak mau, Amara menyetujuinya. Dia hanya berharap, semoga penjelasannya tidak panjang lebar. itu cukup membosankan dan menghabiskan waktu. Bisa-bisa istri pak Arif dan Beatrix curiga. Bisa berabe nanti....
"Baiklah," sahut Amara.
"Saat ini, istriku menderita sakit yang amat berat. Kemungkinan hidup kurang lebih 6 bulan lagi. Untuk itu, dia ingin aku segera menikah lagi. Dia terus mendesak. Sehingga Aku tak tahu lagi harus berbuat apa.
Maka saat pamanmu menyodorkan namamu, Atas persetujuannya, aku terima."
"Aku melihat istri bapak baik-baik saja. Memang nya sakit apa?"
"Tumor otak stadium lanjut."
Amara merenung sejenak. Bukan benar atau tidaknya penjelasan Arif, atau berfikir akan berbaikan lagi dengan Arif. Tapi berfikir, mencari kata-kata yang pas untuk menyudahi ini semua.
Andai semua itu benar, apa untung bagi dirinya. Ia tak akan mampu menyakiti wanita yang begitu sabar, tabah menghadapi cobaan, sangat sayang pada keluarga. Baik pada anak dan suaminya
Yang pasti Amara saat ini, bahwa Arif telah tidak jujur tentang identitasnya sejak awal. Sebenarnya dia siapa. Masih bujang kah atau sudah berkeluarga. Tak ada keterangan. Sehingga dia menyangka Arif masih bujang. ia pun mengambil keputusan yang salah.
Ia bersyukur, Allah membukakan identitas Arif yang sebenarnya sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Sesuatu yang diawali dengan ketidakjujuran, sulit untuk dijalani di masa depan. Apalagi sebuah pernikahan. Dia takkan mentolerir-nya.
"Saya doakan. Semoga istri bapak segera sembuh. Sehingga kalian dapat menjalankan biduk rumah tangga dengan damai."
"Jadi??"
Amara tak menjawab, ia pun melangkah pergi meninggalkan Arif yang tampak sedih dan kecewa. Karena harapannya untuk memperbaiki hubungan mereka, kini telah tertutup.
Awalnya dia mendekati Amara, hanya ingin memenuhi permintaan istrinya. Namun entah mengapa, sejak bertemu dengannya, ia merasa cinta telah menyapanya.
Ia menatap Amara sampai bayangannya menghilang dalam kamar perawatan putranya. Kini dia hanya bisa berkata, " Seandainya dan seandainya."
Seandainya dia bisa jujur sejak awal, mungkin Amara bisa menerima.
Seandainya dia bisa menekan ketakutannya mungkin ia akan bisa jujur.
Seandainya Amara bisa menjadi ibu pengganti bagi Zafa saat Marina tiada, ia pasti bahagia.
Astaghfirullah al adzim...mengapa dia membayangkan yang buruk bagi Marina, istri yang sangat setia dan baik untuk dirinya. Sakit merupakan cobaan. Saat inilah, ia diuji tentang kesetiaan dan janjinya yang terucap di hadapan penghulu sepuluh tahun yang lalu.
Dia pun segera menyusul ke ruang perawatan Zafa. Ia tersenyum penuh kebahagiaan melihat Marina yang dengan penuh ketelatenan menyuapi Zafa.
"Maafkan diriku Marina, telah berbuat khilaf hingga lupa bahwa dirimu juga rapuh dan perlu sandaran untuk menghadapi cobaan yang menimpamu saat ini," bisik hatinya lirih.
Amara melihat Arif masuk, merasa canggung sendiri. Dia pun buru-buru berpamitan. Meski sebenarnya ia ingin bermain dengan Zafa sekali lagi.
"Kenapa terburu-buru pulang?" tanya Marina
"Nggak apa-apa, Kak. Biar Zafa bisa segera istirahat dan cepat sembuh. Bukankah begitu jagoan," kata Amara dengan canda dan wajah yang ceria. Tangannya yang usil, mendaratkan dua cubitan sayang pada pipi Zafa yang tembem kaya bakpao.
"Tapi, besok kakak Amara ke sini lagi ya..." kata Zafa dengan sedikit merajuk.
"Kakak kan harus sekolah, agar pintar. Kalau sering bolos, nanti dimarahi sama pak dosen galak."
"Hah, dosen galak? Kayak Abi ya Kak?"
Ups...mengapa keceplosan. Kan mereka jadi tahu, kalau aku sedang menyindir Abinya.Amara pun tersenyum tipis.
"Nurut sama Umi dan Abi. Minum obatnya dan segera tidur. Agar cepat sembuh. Ok," ucap Amara singkat namun sarat dengan perintah, membuat Zafa tersenyum dengan penuh kebingungan.
Entah Zafa mengerti atau tidak, Amara tak peduli. Yang penting, ia dapat segera pergi.
"Ok, Kak." jawab Zafa kemudian.
muach...dua kecupan manis mendarat di pipi Zafa. Ia pun segera berpamitan.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam...Terima kasih atas kunjungannya."
Amara pun melangkah pergi bersama Beatrix, meninggalkan mereka yang terlihat damai penuh cinta dalam sebuah keluarga.
🌺
Semoga ini pertemuan terakhir dengan Arif. Dia sudah ingin keluar dan mengubur dalam-dalam perasaan yang pernah singgah di hatinya, meski hanya sesaat.
Sedemikian rumit kehidupan dalam agama barunya. Bagaimana kelak jika dia berada dalam posisi Marina. Bisakah ia merelakan suaminya untuk menikah lagi. Hm... Sepertinya tidak.
Tapi kalau suami selingkuh, gara-gara kekurangan kita, apa tidak lebih menyakitkan?
Ah...mengapa dia jadi kepikiran yang tidak-tidak.
"ya maqollubal qulub. Tsabit qolbi ala dinika wa thoatik."
"Ya Allah, berilah aku suami yang setia dan membimbingku dalam agamamu serta bisa menerima kekuranganku."Doa Amara dari hatinya yang terdalam.
"Beatrix, Minggu ini aku dan keluargaku akan pergi umroh. Absenin ya..."
"Tinggal izin saja kenapa?"
"Ya deh...tapi sama pak Arif, izinin ya...."
"Kamu tadi sudah berjumpa dengan pak Arif. Kenapa nggak ngomong sekalian."
"Tak enak lah. Kan di rumah sakit." kata Amara dengan senyum polosnya.
"Aneh deh kamu," kata Beatrix dengan sedikit kesal.
"Ya, ya, ya," Kata Amara dengan senyum sempurna dan memain-mainkan matanya.
Kalau Amara sudah menampakkan senyum polosnya dan kedipan mata yang berulang, Beatrix sudah tak kuasa lagi untuk meluluskan permintaannya.
"Oke deh. Tapi traktir makan siang di restoran dekat butik Van Cepoon dulu," jawab Beatrix tak mau mengalah. Ia ingat di dekat rumah sakit ini ada restoran terkenal mahal. Ia ingin mencicipi menunya. Siapa tahu cocok dengan lidahnya.
Amara membelalakkan matanya. Tak menyangka akan mendapatkan permintaan yang selama ini senantiasa dihindarinya. Hitung-hitung ngirit, karena hidup di negeri orang.
Tapi saat ini, dia perlu hiburan. Tak ada salahnya bersenang-senang sedikit dengan makan-makan di restoran terkenal. Siapa tahu bisa jadi cerita untuk tulisannya kelak. Hehehe....
"Ok deh." jawabnya kemudian.
Beatrix seketika melonjak kegirangan. Dia hampir tak percaya. Tak biasanya Amara segera setuju dengan permintaan anehnya. Makan makanan mahal dan terkenal.
Biasanya dia kan irit banget. Dia akan berfikir seribu kali sebelum membelanjakan uangnya. Apalagi untuk sekedar makan. Ia akan memilih memasak di rumah daripada harus makan makanan di luar. Mimpi apa dia semalam. Ah, syukuri saja deh...
Alhamdulillah....
"Hai, kok bengong. Ayo!" ajak Amara.
"Eh ya.."
Mereka segera menaiki sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat ke arah tempat yang mereka tuju.
Cukup banyak pengunjungnya juga restoran itu. Untung saja mereka masih mendapatkan meja kosong untuk mereka duduki sambil menikmati hidangan yang ada. Ternyata makanannya cukup enak dan cocok di lidahnya. Beatrix dan Amara pun makan dengan lahap.
Sedang asyik menikmati hidangan, tiba-tiba telpon Amara berdering. Tampak nama Yohana terpampang di layar. Ia segera menghentikan mengunyah makanan.
"Ada apa Nek?"
"Amara, Nenek laper. Belikan makanan ya...sekalian antarkan ke rumah sakit."
"Ya nek.Aku belikan. Tapi aku tak bisa ke rumah sakit. Biar nanti diantar pengantar makanan saja ya..."
"Jangan gitu dong,, Amara.. Kalau bisa , kamu antar ya. Kasihan Yordan, terus nyari kamu."
"Wah, maaf Nek. Sebentar lagi, aku ada kuliah. Bilang maaf ke kak Yordan ya Nek. Lain kali saja aku jenguk dia lagi."
"Ya sudah lah. Aku tunggu Makanannya. Aku sudah laper."
"Ya Nek."
Aku ingin segera pergi menjauh dari rumah sakit. Tapi mengapa ada saja yang mengingatkanku untuk kembali ke sana. Pertemuanku dengan Arif membuatku trauma. Tapi keadaan kak Yordan yang baru saja terbangun dari koma membuatku kepikiran.
aku dah sabar menunggumu ❤️
jangan bosan untuk baca karyaku. ♥️