Follow Instagram Author @tulisan_bee 😘
Musim satu dan dua sudah tamat ❤️
~ Perjalanan seorang gadis bernama Diandra Lee, dipertemukan dengan dua lelaki luar biasa, Bram Trahwijaya dan Gionard Butcher.
Ketika keduanya sama-sama menawarkan tempat bersandar, sisi mana yang akan Diandra pilih? ~
Terima kasih sudah mampir dan membaca cerita ini, semuanya. Semoga suka 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Airmata Pertama
"Aku tidak ingin menangis. Sungguh tidak." ~Diandra Lee.
.
.
.
Bram keluar dari kamar mandi dengan celana santai selutut dan kaus putihnya. Diandra telah bersandar di bantal dan menghidupkan televisi. Gadis itu memperhatikan siaran televisi yang menggunakan bahasa Thailand, menayangkan acara talkshow. Diandra tak mengerti, namun tetap diperhatikannya. Sesekali dia mengecek ponselnya.
Bram menghampirinya dan duduk di tepi ranjang.
"Kemana kita hari ini?" tanya Bram sambil mengeringkan rambutnya.
"Cek ponselmu. Zea menelepon dari tadi," ujar Diandra, tidak menjawab pertanyaan Bram, namun memberitahu dengan nada datar.
Bram dapat menangkap nada suara Diandra yang berubah dan tatapannya yang kosong pada layar televisi. Bram mengambil ponselnya yang terletak di atas meja, mengeceknya sekilas. Puluhan panggilan dari Zea yang tidak terangkat. Dia melirik Diandra sesaat, namun gadis itu masih terus menatap tanpa ekspresi ke arah televisi.
Bram memutuskan untuk berjalan ke arah pintu dan keluar kamar.
Diandra bangkit dan menuju kamar mandi. Dia membiarkan air mengucur deras ke kepalanya. Tiba-tiba hatinya terasa sakit. Sejumput rasa tidak rela menelusup ke dalam relung hatinya. Baru saja Bram mengecup keningnya beberapa menit yang lalu. Membuat Diandra berfikir lebih, salah, berharap lebih pada hubungannya dengan Bram. Gadis itu mengutuk perasaannya yang semakin lama semakin jelas. Mungkin dia telah diam-diam menaruh rasa pada Bram Trahwijaya.
Diandra tidak menyadari air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya, bergabung bersama air yang terus membasahi tubuhnya.
Kau tidak seharusnya seperti ini, Diandra. Dia bukan milikmu!
***
Bram bersandar di depan pintu hotelnya dan masih memegang ponsel di tangan. Menimang apakah dia akan menelepon Zea kembali atau tidak. Zea sedang berada di luar negeri saat Bram memutuskan untuk pergi ke Thailand bersama Diandra, dan dia tidak memberitahunya tentang perjalanan ini.
Mungkin saja Zea telah kembali ke Indonesia, fikirnya. Mungkin saja Zea menunggunya untuk menelepon, atau menanti kedatangannya ke apartemen gadis itu untuk menghabiskan malam yang panas seperti biasanya.
Bram menghela napas. Biasanya dia akan cepat menghubungi Zea. Namun kali ini hatinya berkata lain. Dia tidak ingin memencet nomor Zea. Tidak sama sekali.
Dia sedang bersama seorang wanita lain, istrinya --Diandra Lee. Dan dia tidak ingin merusak momen kebersamaan mereka, bahkan untuk Zea sekalipun. Bram mematikan ponselnya, menaruhnya ke dalam saku celananya dan kembali masuk ke dalam kamar.
Diandra masih berada dalam kamar mandi ketika Bram kembali masuk. Bram duduk di pinggir ranjang sambil memindahkan channel televisi. Menunggu Diandra selesai. Tidak berapa lama kemudian Diandra keluar dengan pakaian yang sudah lengkap, tinggal handuk kecil di kepalanya untuk mengeringkan rambutnya.
Bram menatapnya lurus. Seperti merasa bersalah, ingin memberikan penjelasan.
"Diandra, soal Zea ...," ucap Bram mulai memberi penjelasan, tertahan.
"Kita kemana hari ini?" potong Diandra cepat. Pertanyaan yang sama, yang tadi ditanyakan Bram padanya.
Diandra tidak mau membahas tentang Zea.
Bram berfikir apakah gadis itu menyimpan amarah padanya, atau sedikit kekesalan dalam hatinya. Namun raut wajah Diandra tidak menampakkan apapun, dia tetap cantik seperti biasanya. Bram tidak mampu menebak apa yang ada dalam fikiran gadis itu.
"Baiklah, ayo kita berwisata candi. Apa kamu mau?" tanya Bram lagi.
Diandra kembali dengan senyumnya.
"Siap. Aku suka candi!" serunya senang.
Wajahnya berbinar. Bram sedikit lega.
Diandra telah mengubur dalam-dalam air mata yang telah jatuh untuk Bram. Dia tahu dia seharusnya tidak menangisi apapun perihal lelaki itu.
"Diandra, sebenarnya sore nanti aku ada janji sama klien, kamu gak apa-apa kita pulang agak cepat hari ini?" kata Bram lagi. Diandra sedang memoles pipinya dengan bedak tipis.
"Okay. Dimana janjiannya?" balas gadis itu.
"Di restoran bawah, hanya ngobrol biasa aja. Kebetulan dia juga lagi disini. Nanti sekalian kita makan malam. Enggak akan lama kok," jawab Bram.
Diandra mengangguk mengerti. Dia sudah siap kali ini dengan kaus dan celana jeans-nya. Dia mengambil tasnya dan berseru riang.
"Thailand, here I come (Thailand, aku datang)!" katanya bersemangat.
Bram menyambutnya dengan senyuman dan bangkit bersamaan menuju pintu keluar.
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Dukung dengan like, vote dan tinggalkan komen ya kak Readers.. Makasih sudah mampir 🙏
AQ mmpir again kesekian kalinya bee😍