NovelToon NovelToon
Skandal Dengan Pacar Bos

Skandal Dengan Pacar Bos

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Tamat
Popularitas:113.7k
Nilai: 5
Nama Author: Gresya Salsabila

"Kau tangan kananku. Apa yang kau lakukan dengan kekasihku?"

"Maaf, Tuan, saya dan Anne saling mencintai. "

Raksa Saskara tak bisa mengelak saat skandalnya diketahui oleh atasan—Nero Morvion. Raksa sadar, segala perbuatan memang ada konsekuensi yang harus diterima, termasuk selingkuh dengan Keanne Syahira Dirgantara—calon tunangan Nero.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar yang Membuat Dilema

'Masih sibuk, nggak?'

Raksa mengirimkan satu pesan untuk Anne, ketika dirinya sudah keluar dari restoran.

'Sudah kelar barusan. Kamu sendiri gimana?'

Raksa menarik napas panjang. Lalu kembali mengirim pesan balasan untuk Anne.

'Kelar juga. Ini aku sudah duduk di mobil, tapi masih diam. Aslinya mau pulang, tapi pengin telfon kamu dulu.'

Kali ini, balasan yang Raksa terima bukan lagi pesan, melainkan panggilan video. Senyum tipis pun langsung terukir di bibir Raksa, bersamaan dengan jemarinya yang menerima panggilan tersebut.

Senyum Raksa kian melebar setelah wajah cantik Anne tampil di layar ponselnya. Wanita itu mengenakan piyama cokelat dengan motif beruang, rambutnya digulung asal-asalan, dan wajahnya polos tanpa make up. Ahh, sangat menggemaskan.

"Yang benar itu pulang dulu, baru telfonan. Jangan telfonan dulu baru pulang. Entar malah kemalaman," ujar Anne.

"Sekarang aja udah malam kok."

"Ish, maksudku nggak gitu. Mulai nyebelin ya, belajar dari mana coba?" Mata Anne sedikit melotot, seolah sedang mengekspresikan rasa kesalnya.

Namun, Raksa hanya menanggapi dengan senyuman.

"Ada masalah penting ya?" tanya Anne beberapa saat kemudian. Meski sebatas panggilan video, tetapi ia bisa menangkap sorot lain dalam tatapan Raksa.

"Sebenarnya ... iya. Bukan masalah besar sih, tapi ... nggak sederhana juga."

Anne mengernyitkan kening. "Masalah apa?"

"Kebersamaan kita di Sanur kemarin, ada yang mengabadikan. Chandra Indradinata, yang tadi ketemuan sama aku."

"Hah? Kamu ... serius? Terus gimana?" tanya Anne dengan raut muka yang agak tegang.

"Dia mengajakku bekerja sama untuk menghancurkan Nero. Jika kutolak, sudah pasti foto itu akan sampai ke tangan Nero," jawab Raksa.

Anne terdiam.

"Kamu tenang saja. Hubungan kita adalah satu-satunya pengkhianatanku kepada Nero. Saat ini aku memang belum tahu apa rencana Chandra, mungkin saja sesuatu yang akan membuat kami mengalami hal-hal sulit. Tapi percayalah, Anne, semua akan baik-baik saja," lanjut Raksa.

"Itu pasti nggak mudah."

"Aku tahu ini nggak mudah, tapi aku akan bekerja keras. Anne, perlu kamu tahu, aku nggak akan membiarkan kamu menyimpan kekhawatiran yang mendalam pada Nero." Raksa menjawab dengan serius.

Mendengar kalimat itu, Anne mengerjap cepat. Namun, bibirnya justru mengatup rapat.

"Jujur, aku cemburu kalau kamu banyak memikirkan dia, apalagi khawatir padanya. Tapi, aku belum punya hak untuk melarang kamu melakukan itu. Sekarang yang bisa kulakukan hanyalah berusaha sekeras mungkin untuk menghapus kesempatan yang ada." Raksa kembali bicara, karena dalam beberapa detik lamanya Anne tetap diam.

Sekarang pun, wanita itu sekadar mengangguk samar. Bibirnya masih membisu, hanya lengkung senyum tipis yang ia tunjukkan, itu pun sekilas saja.

"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Nanti kalau sudah sampai rumah, aku kabari," ucap Raksa seraya mengenakan sabuk pengaman.

"Iya, hati-hati."

Kemudian, sambungan telepon pun terputus. Raksa menyimpan kembali ponselnya dan bersiap melaju meninggalkan area restoran. Sementara di tempat lain, Anne tertegun dan memandang lama ponsel yang masih ada dalam genggamannya.

Banyak hal yang kini benar-benar mengganggu pikiran. Mulai dari bisnis Nero yang akan menghadapi sandungan, juga masalah asmara yang belum jelas muaranya. Ya, tak dipungkiri, kabar barusan membuat dirinya menaruh simpati lagi kepada Nero. Namun, di sisi lain ia juga merasa nyaman dengan Raksa.

"Aku udah memantik api untuk hidupku sendiri," ucap Anne sambil menunduk dan memijit pelipis.

Dalam hitungan hari dia menjalin hubungan dengan Raksa, sudah banyak kesungguhan yang ditunjukkan oleh lelaki itu. Janji yang diucap di Pantai Kuta pada saat senja, sepertinya bukan sekadar janji yang akan terkikis seiring berputarnya detak waktu. Makin ke sini Anne makin yakin bahwa Raksa memang serius, dan mungkin sangat sulit baginya untuk lepas dari lelaki itu. Namun, sulit pula melepas Nero begitu saja. Ahh!

Pada saat Anne masih larut dalam keresahan, ponsel di genggamannya tiba-tiba berdering. Perasaan pun makin tak karuan ketika melihat nama sang penelepon.

"Nero," batin Anne.

Dengan ragu, Anne menerima panggilan tersebut, mendengar lagi suara merdu yang begitu fasih memanggilnya 'sayang'.

"Kamu belum tidur, kan?" tanya Nero.

"Belum. Kamu sendiri, katanya tadi masih banyak kerjaan, kok tiba-tiba nelfon? Memangnya sudah selesai?" Anne balik bertanya.

"Tinggal sedikit, aku lanjutkan besok saja."

"Oh."

"Anne," panggil Nero, setelah saling diam beberapa detik.

"Iya."

"Soal kemarin ... aku minta maaf. Nggak seharusnya aku memaksa kamu menerima hadiah dariku. Kalung itu dari ibu kamu, sudah pasti sangat istimewa. Tapi aku ... malah terkesan merendahkan. Maafin aku ya, Sayang."

Anne tidak langsung menjawab. Sekadar tangannya yang tergerak dan menggenggam liontin kerang yang masih menggantung di leher.

"Nanti, aku akan atur waktu untuk ke tempatmu lagi. Kalung ini aku beli untuk kamu, Sayang, jadi terimalah. Nggak apa-apa meski nggak kamu pakai, cukup disimpan saja. Nanti ... kamu jangan nolak lagi, ya?" sambung Nero dengan suara yang entah mengapa terdengar lebih lembut dari biasanya.

"Hmmm."

Anne hanya bergumam pelan. Dia mendadak teringat dengan malam kemarin, kalung mahal itu ia tolak dan dibawa pulang lagi oleh Nero.

"Aku juga minta maaf, Sayang, baru sempat nelfon sekarang. Tadi siang sangat sibuk," kata Nero.

"Iya, nggak apa-apa."

Di seberang sana, Nero mengembuskan napas kasar. Anne pun mendengarnya, tetapi dia tak banyak bertanya.

"Aku tadi ditawari kerja sama oleh teman lama, tapi ... kutolak." Nero kembali bicara setelah beberapa kali menghela dan mengembuskan napas panjang.

"Kenapa?"

Cukup lama tak ada jawaban. Anne pun menunggunya dengan harap-harap cemas.

"Di sela kesibukanku seharian ini, aku sudah merenung banyak. Dan sekarang aku sadar, keputusanku dalam mengedepankan pekerjaan kemarin sangat fatal. Aku nggak ikut kamu ke Bali, itu membuatmu terluka dan kecewa. Ke depannya, aku akan berusaha berubah, Sayang," ucap Nero, mengungkapkan apa yang ia rasakan saat ini.

Anne tertawa kecil demi menutupi kegugupannya. Lantas ia berkata, "Siapa bilang terluka, aku cuma kesal doang kok. Kamu juga sudah sering kan melihat aku kesal begini?"

"Aku tahu kali ini beda. Tatapan matamu semalam nggak seperti biasanya. Aku nggak tahu apa saja yang terjadi di Bali kemarin, ada desakan dari orang tua atau yang lain. Tapi, aku yakin itu adalah sesuatu yang membuat kamu sangat menyesali ketidakhadiranku. Sayang ... aku benar-benar minta maaf."

Jawaban Nero membuat Anne mematung seketika. Tatapan beda? Apakah sejelas itu perubahan yang ia tunjukkan? Atau karena Nero sangat mengenali dirinya, makanya dengan mudah menangkap sesuatu yang mulai tak sama?

"Anne ... aku sangat mencintaimu kamu."

Seiring dengan berakhirnya kata cinta yang Nero lontarkan, Anne menjauhkan ponsel dari telinganya. Ada sesak yang tiba-tiba menyeruak kuat dalam dadanya, bersamaan dengan perih dan sakit yang menyergap dalam hati, mengingat bahwa suatu saat nanti akan ada hati yang terluka. Entah hati Raksa, hati Nero, hatinya sendiri, atau bahkan ... hati ketiganya.

Terlebih lagi, sekarang pun semua sudah telanjur. Tak ada jalan untuk mundur teratur. Setiap langkah yang akan diambil, serupa mata pisau yang bisa menikam sewaktu-waktu.

Bersambung...

1
neni onet
Nero pasti ga nidurin, dia pasti cuma drama dan akhirnya akan benar2 jatuh cinta 😄
neni onet
jangan bilang Raina diperk*s* sama Nero🫣
neni onet
baru kali ini aku mendukung perselingkuhan, bermainlah yang rapi biar reader ga senam jantung 😄
Erni Fitriana
thot keren karyamy😘😘😘😘
Erni Fitriana
paati topeng y thor raina n nerro
Erni Fitriana
aku percaya sama thor...👍🏾👍🏾👍🏾
Erni Fitriana
walahhhh...kenapa raaa???
Erni Fitriana
apakah brtan bisa dipercaya sa????
Erni Fitriana
raksa..salut abang yg sangat cinta n kasih terhadap adiknya...
Erni Fitriana
poor raina.....author baik banget udah mau bikin buku khususan nero-raina...love u author😘😘😘
Erni Fitriana
nero...pada saat raina sadar n sdh pintar..giliran kamu gantian junhkie baluj ngwjar cinta raina...inhat kata" raimon
Erni Fitriana
😔😔😔😔😔😔berasa sedihnya sape ke reader's saaaaa
Erni Fitriana
neroooooooo😡😡😡
Erni Fitriana
thor ceritamu😘😘😘😘😘😘😘😘
Erni Fitriana
sekecil apa ra???
Erni Fitriana
raina😫
Erni Fitriana
jodoh ditangan author raaa
Erni Fitriana
RAINA SAAAAA....RAINAAAAA
Erni Fitriana
aduh raina😖😖😖😖
Erni Fitriana
aduhhhhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!