Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Setelah melihat wajah asli Seina yang sudah tidak tertutupi debu dan lumpur, kini Mira kembali menyodorkan roti putih kepada Sora.
Kali ini Seina menerimanya, namun bukan karena lapar. Melainkan karena ia ingin menerima kasih sayang yang diberikan ibu angkatnya.
Namun sebelum menggigit roti itu, Seina memecahnya menjadi dua bagian. Ia mengulurkan separuhnya kepada Arga.
"Kakak, ini untukmu."
Arga tertegun melihat Seina yang tersenyum manis.
"Roti ini memang milik Kakak. Aku sudah senang mendapat setengahnya."
Arga menatap roti itu, lalu bergantian melihat Mira dan Yohan. Ia sebenarnya ingin menerimanya. Namun ayahnya sedang berada di meja makan.
Ia tidak berani bertindak sembarangan.
Melihat putra bungsunya masih ragu, Yohan tersenyum.
"Kalau adikmu memberikannya dengan tulus, terimalah."
Barulah Arga mengambil separuh roti itu. Entah mengapa, rasa kesal yang sejak tadi memenuhi hatinya perlahan menghilang.
'Punya adik perempuan ternyata... tidak seburuk yang kubayangkan.'
Ia teringat salah seorang temannya di desa yang selalu mengeluh karena memiliki adik perempuan yang cengeng dan merepotkan.
Namun Seina berbeda. Adik kecil ini justru membuatnya merasa ingin melindunginya.
Sementara itu, di dapur... Raka dan Damar sedang merebus air untuk memandikan Seina.
Damar memandangi dua butir telur yang ada di tangannya dengan wajah muram.
"Kak..."
"Ada apa lagi?"
Raka memasukkan telur ke dalam panci tanpa mengalihkan pandangan.
Damar menghela napas panjang.
"Kita mengumpulkan telur ini sedikit demi sedikit untuk dijual. Uangnya bisa dipakai membayar sekolah."
"Orang tua kita baru beberapa tahun mengadopsi Arga. Sekarang mereka membawa pulang seorang anak lagi."
Raka langsung menghentikan pekerjaannya, tatapannya berubah tajam.
"Damar." Suara itu terdengar tenang, tetapi cukup membuat adiknya bergidik.
"Jangan pernah mengucapkan kata 'anak angkat' lagi."
Damar terdiam.
"Terutama di depan Arga."
"Mulai hari ini, Seina adalah adik kandung kita." Nada suara Raka tidak keras. Namun justru karena terlalu tenang, Damar tahu kakak sulungnya benar-benar serius.
Raka melanjutkan sambil menatap api di bawah tungku.
"Ibu sudah bertahun-tahun mendambakan seorang anak perempuan."
"Kalau kehadiran Seina bisa membuat Ibu bahagia, apa salahnya kita menambah satu pasang sumpit di rumah?"
Damar menggaruk belakang kepalanya. Ia memang dikenal paling jujur sekaligus paling keras kepala di antara saudara-saudaranya.
Setelah dipikir-pikir, perkataan kakaknya juga masuk akal.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
"Baiklah... aku mengerti."
Raka tersenyum tipis.
"Bagus."
"Airnya sudah matang. Ayo kita bawa keluar."
Ketika keduanya kembali ke ruang makan, seluruh keluarga ternyata belum mulai makan, mereka sedang menunggu.
Raka membawa semangkuk telur rebus hangat lalu meletakkannya di depan Seina.
"Air mandimu sudah siap."
Baru saat itulah ia melihat wajah adik perempuannya dengan jelas. Untuk sesaat, bahkan dirinya ikut terpana.
'Cantik sekali...'
Mira tersenyum hangat.
"Adikmu sebenarnya sudah lapar. Tapi dia bersikeras menunggu kalian berdua kembali supaya bisa makan bersama."
Raka kembali menatap Seina dengan kagum karna anak sekecil itu ternyata sudah begitu mengerti sopan santun.
Kesannya terhadap Seina langsung bertambah baik.
Di sisi lain, Seina diam-diam memperhatikan kakak sulungnya.
Raka tampak berusia sekitar enam belas tahun. Wajahnya tampan dengan senyum lembut yang mampu membuat siapa pun merasa nyaman. Namun hanya Seina yang tahu.
Di balik senyum hangat itu tersembunyi kecerdasan luar biasa.
Di kehidupan sebelumnya, ia pernah dua kali berhadapan dengan Raka dalam urusan bisnis.
Dua-duanya berakhir dengan kekalahannya.
Kini... Orang yang begitu sulit dikalahkan itu justru menjadi kakak kandungnya.
Seina lalu mengalihkan pandangan kepada Damar.
Berbeda dengan Raka, Damar memiliki tubuh jauh lebih tinggi dengan bahu bidang serta sorot mata yang tajam. Pria itu memang terlihat galak.
Saat menyadari Seina sedang menatapnya, Damar tanpa sadar balik melotot dan membuat Seina langsung menundukkan kepala.
Melihat tingkah putra keduanya, Yohan berdeham keras.
"Damar."
Pria itu langsung menegakkan punggungnya.
"Kau belum lapar?"
Damar seketika menyadari kesalahannya. Ia buru-buru menggeleng sambil mengambil mangkuk nasinya, membuat suasana di meja makan dipenuhi tawa kecil keluarga Pratama.
cerita nya juga seru