"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 16
"Saya terima nikahnya Hanindya,--" Mas Harsa menghentikan lafadz ijab qobulnya lalu menunduk.
"Maaf, bisa diulang?" Penghulu menggelengkan kepala. Sementara diri ini yang bersembunyi di belakang Ibu, seketika menegang. Dapat kulihat, raut masam Mbak Nau yang langsung mengarah padaku.
"Nin, ke belakang sana? Kamu bikin Harsa salah sebut." Ibu berbisik kepadaku.
Sial, bisa-bisanya perkara kesalahan ini dilimpahkan juga kepadaku. Sementara ku lihat, Ibu Mas Harsa menatapku sendu, seolah tak rela jika pada akhirnya yang menikah dengan Mas Harsa adalah Mbak Nau.
"Baik, Bu."
Sekali lagi, ku tatap mereka. Sebenarnya, dibanding meratap 'harusnya aku yang disana, dampingimu dan bukan dia!'. Aku lebih pada ingin acara ini segera selesai dan aku segera pergi. Namun, sepertinya rencana awalku akan berantakan, lebih baik kabur sebelum jadi bulan-bulanan.
Melirik pintu belakang yang sepi, aku ke kamar untuk mengeluarkan koper yang sudah siap dari kemarin, koper yang sengaja ku sembunyikan di kolong ranjang.
"Tante..." seruan Haikal membuatku menegang.
Kepala ini kupaksa menoleh dan mendapat bocah polos itu mengerutkan kening.
"Tante mau kemana?"
Aku berjongkok, "Haikal ke depan aja, ya? Masa Ibu nikahan kamu malah sembunyi, katanya anak sholeh."
"Aku kira Om Harsa nikahnya sama Tante!"
'Lha wong, tidurnya sama Ibumu kok!'
Aku tersenyum lalu mengusap pucuk kepalanya, "itu kan dulu, tapi yang lebih membutuhkan sosok Ayah kan kamu dan calon adikmu!"
"Yaudah aku ke depan ya, Tante."
Aku mengangguk saja, "Nah, gitu kan ganteng. Dampingi Ibumu ya, Nak. Malam ini, kamu harus tidur bertiga sama mereka, bilang aja perayaan Ayah baru." Aku mengedipkan mata, disambut acungan jempol oleh Haikal.
Lolos dari Haikal, aku malah melihat mobil milik Mas Firman berada di ujung gang.
Susah payah aku menyeret koper, sampai ketika bunyi ponsel menggetarkan jiwaku yang sedang bersedih.
"Nin? Bridesmaid buat nikahan Wina kurang satu betewe, kamu ya?"
"Ya, Mbak. Boleh, btw help me, please. Aku butuh seseorang buat jemput aku di Bandung. Bisa nggak?"
Mungkin, aku adalah mantan bawahan yang gak tau diri, kebetulan anak boss Wijaya grup menghubungiku dan aku harus memanfaatkannya bukan?
"Kamu dimana?"
"Ehm, di rumah, Mbak."
"Bisa ke supermall, nggak? Biar nanti sepupu Wina yang angkut."
"Oke, Mbak. Cowok apa cewek?"
"Cowok lah, udah sans aja dulu. Ngopi-ngopi dulu, atau nge-mall cantik. Aku hubungi Wina dulu, ya? Biar dia kontak sepupunya."
"Oke, Mbak. Beres!"
Aku bersyukur, mobil itu kosong, atau Mas Firman sebenarnya ikut datang tapi...
Aku melangkah kembali, mengintip dari jarak jauh. Laki-laki itu ternyata duduk di amben depan sambil merokok. Aman!
Segera aku melambaikan tangan pada taksi yang lewat, keberuntungan masih berpihak padaku!
Taksi yang aku naiki pun melesat ke supermall yang dimaksud oleh Mbak Alina tadi.
Setelah turun dan membayar, aku pun bergegas mencari tempat yang sekiranya aman dan mematikan lokasi-ku.
"Sekelas Mas Firman, mungkin tak akan menemukanku, kan? Kecuali orang-orang yang bisa melakukan segalanya dengan uang!" Aku mengomel sendiri.
Satu cup kopi menemani pagi menjelang siangku di salah satu sudut foodcourt. Suasana mall masih sepi, meski telah buka satu jam yang lalu.
"Iya, hallo?" sahutku kala nomor baru memanggil.
"Aku di depanmu!"
Tubuhku seketika menegang melihat sosok yang berdiri tak jauh dariku sambil menempelkan ponsel di telinga.
"Hanin, ya?" tanyanya menghampiriku.
Laki-laki itu tersenyum manis mengenakan kemeja putih dibalut jass navy dan kaca mata hitam, tangannya terulur ke hadapanku. Namun, diri ini malah terdiam seolah syaraf-syaraf tubuhku sulit digerakkan.