"Dia putriku, Sofia." Begitu kata Judan ketika banyak perempuan bertanya siapa gadis cilik yang sedang bersamanya. Ia tidak ingin banyak orang tahu bahwa sebenarnya gadis cilik itu adalah keponakannya. Hingga akhirnya ia bertemu Runi, seorang Perawat di rumah sakit tempat ia menghabiskan waktu karena ingin melepas trauma buruk karena kematian kakak laki-lakinya yang tak lain adalah ayah dari gadis cilik itu.
"Dia adalah keponakanku," ungkap Judan akhirnya karena tidak mau perempuan itu salah paham. Ini pertama kalinya ia mau membuka diri pada seorang perempuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
"Ini traktiran? Bukannya aku berhutang padamu soal kejadian di bar itu?" tanya Runi mengingatkan.
"Ya. Hutang itu aku minta di lain waktu. Ini bonus untukmu. Lagipula hutang tidak mesti tentang uang kan? Bisa jadi aku bukan menginginkan uang darimu. Jadi sekarang ikut saja," kata Judan mulai kehilangan kesabaran.
Runi mendengus.
****
Judan benar-benar mengisi troli dengan banyak makanan hingga penuh. Bahkan dia mulai mengisi troli belanja yang kedua.
"Hei, kamu mau mengadakan pesta? Kenapa belanjaan mu banyak sekali?" tanya Runi heran.
"Banyak orang yang tinggal di rumah ku, Run. Kamu pasti belum tahu kalau bangunan belakang di luar rumah inti itu adalah tempat tinggal para pekerja," jelas Judan dengan terus mengisi troli. "Cobalah mulai berkeliling di dalam rumah. Kamu akan tahu isi rumahku."
Runi memang belum tahu seluk beluk isi rumah Judan. Dia tidak punya waktu untuk berkeliling tidak ada gunanya itu. Lagipula tugasnya hanya merawat Sofia, bukan menjadi pekerja sepenuhnya di rumah Judan. Jadi dia tidak perlu harus menjelajahi isi rumah Judan.
"Aku tidak perlu tahu soal itu kan ..." gumam Runi.
"Kamu akan salah masuk ke kamar ku kalau tidak mencoba menghapal seluk beluk rumahku," canda Judan.
"Hei, itu tidak mungkin." Runi mendelik. Judan terkekeh. Pria ini begitu senang menggoda Runi. "Kalau semua troli kamu isi dengan belanjaan untuk orang serumah, bagaimana dengan camilan yang kamu tawarkan untukku?" tagih Runi. Dia ingin mengerjai Judan juga.
"Pilih saja apa yang kamu suka. Aku bisa mengambil troli lain jika kamu membutuhkan tempat yang besar untuk camilan kamu," ujar Judan.
Runi mendengus. Ternyata dia kalah. "Aku bukan anak kecil. Hanya beberapa camilan saja sudah cukup untukku."
Drt, drt. Ponsel Judan bergetar. Ada yang sedang meneleponnya. Pria itu menerima telepon. Runi berpindah rak. Agak menjauh dari tempat Judan berdiri. Dia ingin mengambil beberapa buah untuk camilan. Duk! Tak sengaja lengan Runi menyodok lengan seseorang. "Ah, maaf!" pekik Runi terkejut.
"Runi?" tegur seseorang. Kepala Runi mendongak.
"Oh dokter Ronal." Dia langsung membungkuk sedikit memberi salam. "Maafkan saya Dokter." Meskipun dia sudah meminta maaf, tapi itu belum cukup. Dia merasa harus meminta maaf lagi.
"Tidak apa-apa, Runi." Dokter Ronal tersenyum. "Kamu juga berbelanja?"
"Iya."
"Aku dengar kamu dapat tugas khusus untuk merawat pasien leukemia?" tanya dokter Ronal yang pasti sempat mendengar kabar itu.
"Benar dokter."
"Waktu kamu lebih banyak di luar rumah sakit sepertinya," ujar dokter Ronal.
Runi tersenyum tipis.
"Sayang ..." Suara perempuan terdengar dari rak sebelah. Lalu kemudian muncul di depan mereka dengan cepat. "Sedang apa kamu?" tanya perempuan itu ketika tahu kalau dokter Ronal sedang bersama seorang wanita.
Runi hendak menganggukkan kepala memberi salam ketika dokter Ronal membalikkan badan.
"Aku sedang memilih buah. Ayo, kita pergi. Aku sudah selesai." Dokter Ronal langsung menyambar sembarang buah dan memasukkan ke dalam trolinya. Tangannya mendorong tubuh istrinya untuk menjauh dari lorong itu tanpa pamit pada Runi.
"Run," panggil Judan yang menyusulnya. Runi membalikkan badan. "Sudah selesai mencari buah?"
"Ah, iya." Runi mendekat ke rak buah. Dia mengambil buah anggur hijau satu mika.
"Kenapa hanya satu?" Judan mendekat. Lalu mengambil beberapa mika buah anggur.
"Hei, satu saja sudah cukup Judan." Runi meraih tangan Judan dan memaksanya untuk meletakkan kembali mika buah itu. Alhasil tangan mereka menyatu begitu saja. Judan melirik. Karena lirikan mata ini, Runi ikut melakukan hal yang sama. Dari situ ia sadar bahwa tangannya menggenggam tangan Judan. Akhirnya ia melepaskan tangannya. "Terlalu banyak jika aku hanya makan buah itu sendirian." Runi segera bicara agar mengurangi rasa canggung.
"Aku juga menyukai buah anggur ini. Jadi kalau kamu memang hanya butuh satu mika saja, aku bisa menghabiskannya." Judan berhasil mempengaruhi Runi.
"Oke kalau begitu. Aku jadi tidak merasa bersalah jika ternyata tidak bisa menghabiskannya." Runi lega.
"Iya. Aku tidak akan menyalahkan kamu." Judan berkata dengan sabar.
"Sebaiknya aku memilih buah untuk Sofia. Buah apel dan blueberry baik untuknya." Runi bergegas ke rak buah apel. Ia mengambil plastik buah untuk wadah buah apel yang di pilihnya.
Saat perempuan ini sibuk dengan buah di tangannya, Judan menoleh ke ujung lorong. Dia sempat melihat dokter Ronal tadi. Makanya ia bergegas mendekati Runi.
Bola mata Judan melihat pasangan mesra di sana. Salah satunya dia menemukan dokter Ronal yang pernah ia lihat di rumah sakit. Pria itu tengah bersama perempuan. Di lihat dari gelagatnya, sepertinya mereka adalah suami istri. Bibir Judan menipis. Jadi dia sudah punya istri? hati Judan senang karena saingannya berkurang.
***
Runi membantu bibi di dapur merapikan isi kulkas karena belanjaan Judan begitu banyak. Meskipun ini bukan tanggung jawabnya, Runi yang tinggal di sini merasa perlu mendekat diri juga pada orang-orang rumah ini.
"Aduh, enggak usah Mbak." Bibi melarang Runi membantunya.
"Enggak apa-apa, Bi. Saya ingin membantu."
"Sudah enggak apa-apa saya saja. Saya terbiasa melakukannya." Bibi bermaksud menyuruh Runi pergi. Beliau tahu perempuan ini adalah orang yang dekat dengan majikan mereka.
"Jadi biasanya Judan memang belanja sebanyak ini ya?"
"Tidak Nona. Pak Judan jarang belanja. Semuanya di serahkan pada kita."
"Benarkah?" Runi terkejut. Bibi menganggukkan kepala. "Tapi hari ini dia belanja banyak sekali. Jadi saya pikir memang untuk keperluan orang rumah."
"Di rumah ini memang ada banyak orang yang tinggal, tapi untuk belanja banyak seperti ini, tidak pernah terjadi. Apalagi Pak Judan sendiri yang melakukannya," kata Bu Misna yang masuk ke dalam dapur. Ia meminta bibi di dapur membiarkan Runi melakukannya.
"Sofia masih tidur Bi?" tanya Runi.
"Iya."
"Jadi ini pertama kalinya Judan begitu?" tanya Runi.
"Ya. Beliau cukup sibuk dengan pekerjaan dan menemani nona Sofia. Mungkin belanja sesekali kalau nona ingin jalan-jalan, tapi bukan untuk kebutuhan orang rumah. Beliau selalu mempercayakan semuanya pada kita yang bekerja di rumah ini." Bu Misna menjelaskan. Runi manggut-manggut. "Mungkin karena ada nona perawat yang tinggal di sini, Pak Judan ingin memastikan sendiri bahwa bahan-bahan makanan tersedia dengan lengkap."
"Itu seperti saya makannya banyak saja ya Bi?" gelak Runi.
"Tidak apa-apa, Nona. Karena ini pertama kalinya Pak Judan melakukan hal yang di luar kebiasaannya. Lagipula, Pak Judan terlihat bahagia belakangan ini." Bu Misna membantu Runi meletakkan makanan di tempatnya.
"Apa Judan biasanya tidak bahagia?" tanya Runi berkelakar.
"Bukan. Pak Judan sudah bahagia," ralat Bu Misna.
"Apa karena status punya anak itu, padahal dia belum menikah?"
"Nona tahu?" Bu Misna terkejut.
"Ya. Judan mengatakan pada saya Bi."
"Benarkah Nona?" Bu Misna terkejut. Ini sangat tidak biasanya. Padahal yang beliau tahu, majikannya selalu menutup diri bahwa ia sudah menikah, dimana itu artinya dia tidak ingin di ganggu oleh banyak wanita. Bu Misna menatap Runi dengan tatapan takjub.
..._____...
.. jangan sampai mengacaukan hasil tes DNA