Pythia Andromeda Alexa, terdampar di sebuah pulau dalam dunia paralel. Ia mengalami hilang ingatan sampai kedatangannya dikaitkan sebagai titisan Dewi Yunani karena warna kulit putihnya yang bercahaya. Mereka percaya jika dengan menikahi Pythia bersama sang raja, akan membawa cinta dan kebahagiaan untuk alam semesta.
Pertemuan pertama memberikan kesan menarik saat bermalam bersama di dalam gua, di tengah badai besar, Pythia dan Xavier merasakan kehangatan.
Dapatkah ramalan kebahagiaan itu benar-benar terjadi saat cinta diantara keduanya mulai bersemi? Atau kehancuran yang akan tiba. Lalu bagaimana dengan kehidupan Pythia yang sebelumnya, yang jelas-jelas ia sudah bertunangan? Simak kisahnya yang penuh misteri dan cinta bergelora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meldy ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Tunangannya
Terdengar tangisan yang belum reda dari sejak hari pertama saat Pythia belum kembali setelah dinyatakan hilang saat karamnya kapal. Wanita paruh baya itu sedang ditemani oleh seorang gadis muda yang selama menjadi sahabat terbaik dari Pythia, dan sudah tinggal selama dua tahun bersamanya.
Mama Hera yang terus memandangi sebuah foto kecil milik Pythia, ia berharap agar putri kesayangannya bisa ditemukan dengan selamat. Namun sampai sekarang, belum ada kabar, meskipun setiap harinya berita karamnya kapal masih terus berlangsung.
Tiba-tiba seorang pria datang membawa sebuah kabar terbaru, dia sudah ikut menjaga Mama Hera selaku dari calon ibu mertuanya. Akrab disapa dengan William Fabiano, seorang dokter muda di rumah sakit ternama, dan tunangan Pythia. Namun selama kepergian tunangannya, ia memilih untuk mengundurkan diri.
Kedatangan pria itu biasanya tidak disambut dengan baik karena sebuah kesalahan saat ia memberikan izin kepada Pythia untuk pergi penelitian di atas kapal, sampai membuat Mama Hera masih sangat dendam.
Meskipun begitu, William masih berusaha baik karena ia sangat menyayangi Pythia beserta keluarganya. Ia datang setelah mendapatkan kabar dari pihak pencarian ketika Pythia di temukan sedang berjalan-jalan di tepian laut dalam keadaan baik-baik saja.
Semua orang menatap Pythia dengan rasa kejut, namun wanita itu segera dilarikan ke rumah sakit untuk melakukan pengecekkan. Terlebih orang-orang di dalam kapal bersamanya dulu, ada yang kembali dengan luka-luka dan ada yang sudah meninggal.
William memberikan isyarat kepada Irene—sahabat baik dari Pythia di dunia manusia, untuk mendekat.
"Ada apa, William? Apa kau dapatkan kabar tentang tunanganmu?" tanya Irene karena ia sangat merindukan sahabatnya.
"Pihak rumah sakit baru saja mengabari ku, katanya ada Pythia ditemukan, tapi anehnya dia tidak sengaja di lihat saat berjalan dengan santai di tepi laut. Jadi, aku ingin ke rumah sakit untuk memastikannya dulu. Tapi tolong, jangan dulu beritahukan ini kepada Mama Hera, aku takutnya itu bukan Pythia, nama hanya mirip dengannya," jelas William seperti informasi yang baru ia dengar.
"Baiklah, kalau begitu pergilah dengan hati-hati, William."
"Pasti, tetap jaga Mama Hera di sini."
"Akan aku lakukan, tanpa kau memintanya."
Irene menatap kepergian William sampai menghilang dari pandangannya, namun ia masih merasa heran dengan kabar yang baru saja ia dengar.
"Aneh. Jika memang Pythia kembali, kenapa dia bisa kembali secepat ini?"
***
Berlari dengan cepat saat William tiba di rumah sakit. Ia sangat ingin memastikan tentang kebenaran akan tunangannya itu. Namun saat ia melihat seorang wanita yang sedang terbaring dengan mata terbuka di samping dokter yang tengah memeriksa kesehatannya.
"Semuanya baik-baik saja," bisik Dokter wanita itu kepada seorang suster yang ikut menemaninya di sini. "Apa mungkin mereka sudah salah membawa korban yang tenggelam kapal itu?"
"Katanya wanita itu memang menjadi salah satu korban itu, Dok," sahut Suster.
"Um, apa namamu benar-benar Pythia Andromeda Alexa, Nona?" tanya sang Dokter.
"Ya, itu memang namaku, Dok. Memangnya kenapa? Ada yang aneh denganku?"
"Ah tidak-tidak. Aku hanya ingin tahu saja karena sejak kemarin namamu terus terdengar di semua siara berita. Kalau begitu kau bisa langsung pulang. Nanti seorang pria akan menjemputmu."
"Terima kasih banyak, Dok."
Sejak tadi William sudah mendengar sekaligus melihat dari balik jendela, ia segera berlari masuk setelah sang dokter memastikan nama tunangannya. Memeluk tubuh Pythia dengan erat sembari berkali-kali memberikan kecupan di seluruh permukaan wajahnya.
Hingga membuat dokter dan suster bergerak menjauh demi tidak menggangu sepasang kekasih yang sedang memberikan kerinduan.
"Kau akhirnya kembali, Sayang. Aku senang kau selamat, apa ada luka?" tanya William.
"Tidak ada, aku pun senang karena bisa kembali melihatmu," sahut Pythia sembari tersenyum manis.
"Terima kasih." William kembali membenamkan wajahnya di balik leher Pythia sembari menghirup aroma parfum Pythia yang tercium berbeda dari sebelumnya. "Tunggu sebentar, ya."
Meskipun begitu, William tidak terlalu masalah, namun ia segera melangkah untuk berbicara dengan dokter yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Bagaimana dengan kondisinya, Dok?"
"Kondisinya cukup baik, dan tidak ada satu pun luka yang saya lihat. Cukup berbeda dengan beberapa korban lain yang kita temukan. Tapi meskipun begitu, bisa saja Nona Pythia sudah di rawat oleh orang lain yang menemukannya sebelumnya. Jadi, jangan terlalu cemas yang terpenting sekarang dia sudah kembali, Dokter William."
"Apapun itu aku tidak peduli selama tunanganku kembali dengan selamat. Kalau begitu aku akan membawanya segera pulang, Dok."
"Tentu saja boleh, tapi sebelum itu saya harap agar Dokter William bisa kembali mempertimbangkan untuk masuk kembali menjadi dokter di sini, terlebih Nona Pythia sudah kembali, karena memang kinerja dari Dokter William sangat bagus untuk perkembangan rumah sakit kita."
"Maaf, Dok. Masalah itu akan aku urus nanti, yang terpenting sekarang tolong berikan aku waktu untuk bersama dengan tunanganku dulu. Kalau begitu, kami harus pulang," bantah William dengan sopan.
"Silahkan, Dokter William."
Merangkul mesra tubuh Pythia seperti tidak ingin lepas meskipun sejengkal. Kehadiran Pythia kembali membuat banyak reporter ingin segera mewawancarai dirinya yang kembali dalam keadaan selamat. Namun dengan cepat, William membawa masuk Pythia ke dalam mobilnya.
"Sayang, apa kau kelelahan atau merasa lapar? Jika iya, kita bisa mampir makan dulu di apartemenku setelah membeli makanan. Baru nanti kita akan kembali ke rumahmu, bagaimana kau mau?" ajak William dengan penuh perhatian.
"Aku mau, kebetulan aku sangat lapar."
"Baguslah, Sayang."
Menggenggam erat tangan William dengan sebelah, namun ia tetap fokus untuk mengendarai mobilnya. Kehadiran William membuat Pythia tidak merasakan getaran seperti waktu pertama kalinya bertemu, namun ia terlihat biasa saja, meskipun pria itu begitu merindukannya.
Selama perjalanan, William tidak henti-hentinya mencuri pandang. Namun berbeda dengan Pythia, yang sebaliknya sibuk menatap lurus ke depan dengan pikirannya sendiri.
"Bagaimana keadaan di Kerajaan Royaley? Apa Xavier akan baik-baik saja setelah perpisahan kami? Semoga saja dia bisa menerima keputusan ku untuk berpisah, meskipun maaf jika sempat pamit padamu, Xavier," batin Pythia.
Lamunan wanita itu membuat William merasa penasaran, ia mencoba menyentuh bahu tunangannya sembari bertanya. "Sayang, apa yang sedang kau pikirkan?"
"Hah? Ah ya, aku hanya ... berpikir kalau aku senang bisa kembali dengan baik."
"Aku pun merasakan hal yang sama. Kau tahu, Sayang? Berhari-hari aku mencari mu sampai aku memilih mengundurkan diri dari pekerjaan demi bisa menemukanmu. Tapi mungkin setelah ini, aku akan mencari kerja tentunya sebagai dokter agar nanti setelah kita menikah, kau hanya perlu menungguku pulang tanpa lagi bekerja meskipun setelah kuliahmu selesai," ucap William dengan perkiraan masa depannya yang cerah.
"Jadi, kita akan menikah?" tanya Pythia dengan penuh kebingungan.
"Ya, tentu saja kita akan segera menikah, Sayang. Setelah bertunangan, memangnya apalagi selain dengan pernikahan? Aku ingin hidup berdua denganmu, Pythia. Aku tidak ingin kau pergi lagi dariku, terlebih kita sudah menyiapkan apartemen baru setelah pernikahan. Sekarang kita ke sana."
"Ya, aku pun senang mendengarnya."
"Kalau begitu tunggu sebentar di mobil, ya. Aku akan memesan makanan untuk kita." William segera pamit, namun tidak lupa untuk memberikan sebuah kecupan di kening tunangannya.
Mendengar kata pernikahan, membuat hati Pythia merasa sangat gelisah. "Apa mungkin aku masih tetap menjadi istri dari seorang raja di dalam duniaku ini? Terlebih sebelumnya Xavier telah menikahi ku di dunia paralel miliknya. Lalu bagaimana aku akan menikahi William setelah ini?"
aduh ga sabar sayaa
eh rupanya udah up thor