Garis kehidupan setiap orang kadang berliku. Awalnya mungkin sedikit menyimpang, tapi tujuan akhir yang ditentukan Tuhan tidak pernah meleset. Demikianlah yang terjadi dengan kehidupan Darel dan Dara di kisah sebelumnya.
Novel lanjutan ini akan mengisahkan:
》Perjalanan hidup Darel dan Dara selanjutnya bersama kedua anak mereka.
》Begitu juga dengan garis kehidupan Mikha dan Manche yang terhisap dalam lika liku kehidupan cinta Darel dan Dara sebelumnya.
Selamat membaca.
Semoga terhibur. 🙏🤗💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Rasa Hati 4+.
...~•Happy Reading•~...
Kandara terdiam mendengar ucapan Darel yang sangat menyentuh hati dan kesadarannya sebagai seorang ibu dan istri. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu, untuk memperlakukan kedua anaknya dengan perlakuan yang begitu menyentuh. Apa lagi putranya Efraim yang selama ini tidak pernah banyak menuntut. Dia menerima semua yang diberikan padanya, tanpa meminta sesuatu di luar kemampuan Kandara dan Mamanya.
^^^Sekarang dia harus merubah cara berpikir, karena mereka telah memiliki Daddy dan Darel bisa berikan yang mereka butuhkan. 'Darel benar, mereka harus dukung kebisaan anak-anaknya dengan perangkat pendukung yang baik untuk lebih meningkatkan kemampuan mereka.' Kandara berkata dalam hati.^^^
^^^Kandara terdiam dan menundukan kepalanya, tanda dia menerima apa yang dikatakan Darel untuk kemajuan kedua anak mereka.^^^
"Dara, Efra pasti ingin mainkan alat musik yang dia suka dan itu punya dia sendiri, seperti Efri. Bukan memainkan alat musik orang lain. Aku mampu beli itu untuknya." Darel berkata lagi, saat melihat Kandara terdiam.
^^^Darel tidak menceritakan, Efraim mendatanginya dan memeluknya tanpa berkata apapun, saat mengetahui dia telah membeli biola untuk Efrima. Agar Kandara tidak berpikir negatif tentang Efraim, karena Efraim memang tidak meminta itu padanya.^^^
^^^Tetapi seorang ayah yang memiliki anak kembar, pasti mengetahui dan merasakan ada sesuatu yang tersirat dari tindakan atau isyarat tubuh mereka. Walau Darel baru bertemu dengan anak-anaknya, dia bisa merasakan dan mengetahui keinginan anak-anaknya, walau itu tidak diucapkan.^^^
^^^'Mungkin dari kecil mereka sudah terbiasa menerima yang diberikan Mamanya atau Oma mereka, tanpa berani meminta. Sehingga Efraim tiba-tiba datang dan memeluknya setelah mengetahui dia telah beli biola untuk Efrima.' Itu yang ada dalam pikiran Darel, sebagai isyarat dari Efraim, bahwa dia juga mau.^^^
"Aku akan kirim pesan padanya sebelum terbang. Agar Efri tau, aku tidak lupa janjiku untuk membelinya organ. Aku katakan kau akan beli organ yang dia suka saat tiba di Jakarta, supaya dia tidak lama menunggu atau merasa kecewa." Darel menjelaskan, yang dipikirkan untuk Efraim.
Kandara memgangguk mengerti. Dia akan lakukan seperti yang dikatakan Darel, agar tidak timbul perasaan atau pemikiran pada anak-anaknya, Darel lebih sayang Efrima dari pada Efraim.
"Saat tiba di Jakarta dan sebelum kau mulai sibuk bekerja, bawa Efra ke toko musik dan biarkan dia pilih organ yang paling dia suka. Dan ingat, jangan biarkan dia melihat harga organ yang dia pilih. Dia hanya menunjuk organ yang dia mau, lalu kau membayarnya." Darel mengingatkan Kandara dengan serius, karena ingat pengalamannya dengan Efrima. Mereka hampir tidak jadi beli biola, karena Efrima melihat biola yang dia suka harganya sangat mahal dan dia minta tukar dengan yang lain.
"Baiklah... Aku sudah belajar menahan banyak hal untuk urusan anak-anak, jika kau dan Mikha sudah putuskan. Apalagi Daddy dan Mommy sudah putuskan sesuatu untuk mereka, aku angkat tangan." Kandara berkata serius, lalu mengangkat tangannya.
Darel jadi tersenyum melihat reaksi Kandara. "Aku mengijinkan Mikha lakukan itu, karena apa yang dia berikan masih dalam taraf wajar untuk anak-anak seusia Efra dan Efri. Dan kau tidak perlu khawatir dengan anak-anak. Mereka tidak meminta sesuatu yang tidak bermanfaat atau hanya membuang-buang uang. Mereka tetap anak-anak yang baik, seperti yang kau ajarkan." Darel berkata sambil mengelus lengan Kandara.
"Kau dan Mama sudah mendidik mereka dengan sangat baik. Kau lihat Efri, setelah beli biola, dia tidak pernah meminta yang lain lagi. Semua alat musik pelengkap biola itu, aku yang beli sendiri untu melengkapinya. Agar kalau dia mau belajar dan gunakan itu, tidak tanggung-tanggung." Darel menjelaskan lebih lanjut.
"Aku belikan itu bukan untuk pamer, tapi untuk lebih meningkatkan kemampuan bermusik mereka." Darel menjelaskan dengan pelan dan tenang, agar Kandara tidak berpikir anak-anaknya telah berubah setelah bertemu dengannya.
"Yang berikutnya... Mengenai rencana untuk mengundang teman-teman kantor dan keluarga orang tuamu untuk perayaan pernikahan kita." Darel masih ingat kesepakatan mereka untuk adakan pesta kecil untuk teman-teman dan keluarga dekatnya, mengganti acara resepsi pernikahan mereka di Jakarta.
"Kau masih ingat itu? Aku sendiri sudah lupa." Kandara berkata sambil menepuk dahinya dengan wajah tersenyum.
"Aku berusaha mengingat apa yang sudah disepakati atau putuskan. Kau boleh lihat tempat untuk persiapan. Kalau sudah pasti waktuku tiba di Jakarta, baru kau undang semua yang mau diundang." Darel berkata sambil berpikir, apa lagi yang belum dibicarakan dengan Kandara.
"Ahaaa... Mengenai mobil, kau yang mau beli, atau tunggu aku tiba." Darel teringat dengan mobil Kandara yang belum dibeli Kandara, walau Darel sudah katakan itu beberapa kali.
"Darel, kalau mobil, tolong mengerti aku. Jika aku beli mobil baru sesuai dengan kondisimu, teman kantor atau sekitarku akan katakan aku sombong atau pamer setelah nikah denganmu." Kandara berkata demikian, karena melihat mobil sport Darel dan Mikha, juga mobil-mobil orang tuanya.
"Kau berpikir begitu? Jika kau beli mobil yang sama dengan punyamu sekarang, mereka juga akan tetap membicarakanmu. Punya suami mantan idol, hanya bisa beli mobil seperti itu. Apapun yang kau beli, akan tetap jadi pembicaraan."
"Jadi lebih baik, kau tidak pikirkan itu. Yang penting, kau beli karena dibutuhkan. Mobil di rumah akan dipakai untuk antar anak-anak dan Mama. Sedangkan mobilmu untuk menunjang aktivitasmu." Darel berkata serius, sambil berpikir.
"Kalau, tunggu aku tiba di Jakarta dan kita ke showroom mobil bersama anak-anak dan Mama. Kau terima keputusan kami untuk mobil itu." Kandara hanya bisa mengangkat tangan, tanda menerima keputusan Darel.
"Yang berikutnya, ini..." Darel memegang belakang kepala Kandara lalu mencium bi*birnya lama dan dalam. Kandara tersenyum dalam hati, karena tidak menyangka yang dilakukan Derel. Padahal dia sedang serius mendengar yang dikatakannya.
Kandara membalas ci*uman Darel yang telah membuainya dengan sentuhan yang membuat hati dan tubunya makin hangat dan membara. Suasana kamar yang dingin tidak dirasakan oleh hasrat hati dan tubuh yang ingin dipuaskan.
"Darel... Kau sudah kunci pintu?" Tanya Kandara tiba-tiba, mengingat anak-anaknya bisa saja masuk karena merasakan Darel akan pergi.
"Aaah... Daraaa... Dalam situasi begini, kau masih pikirkan pintu?" Darel bertanya sambil melepaskan tubuh Kandara, lalu turun memeriksa pintu kamar dan menguncinya.
Kandara jadi tertawa, lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, saat melihat Darel berjalan ke pintu tanpa menutupi tubuhnya dengan apa pun. Tubuhnya bagaikan patung lilin yang terpahat sempurna.
Kandara masih tertawa dalam selimut, mengingat keadaan Darel. Mendengar Kandara yang sedang tertawa tertahan, Darel yang sudah kembali langsung menyingkirkan selimut dari tubuh Kandara, lalu mengu*kungnya.
"Kau sangaaattt... Membuat kita harus mulai lagi dari nol." Darel tidak meneruskan ucapannya, karena Kandara telah mengangkat kedua jarinya tanda, peace lalu memeluk dan menc*ium bi*bir Darel untuk menenangkannya.
"Kau mau aku tenang? Siap-siap untuk tidak tidur, karena kau harus tanggung jawab dengan menghabiskan malan ini dengan ini..." Darel kembali meng*ulum bi*bir Kandara untuk memanggil has*rat mereka yang sempat surut.
...~•••~...
...~●○♡○●~...
Terimakasih buat authornya..