Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Ninu ninu ninu.
Suara sirene ambulans memecah ketenangan pagi di Rumah Sakit Medika Utama.
Bukan hanya satu, melainkan lima ambulans datang secara bersamaan memasuki pelataran ruang gawat darurat.
Bima Aditya yang baru saja menyeduh kopi di ruang kepala departemen langsung meletakkan cangkirnya.
Perasaannya mengatakan bahwa ini ada hubungannya dengan peringatan sistem semalam.
Bima segera berlari keluar ruangan dan menuruni tangga menuju lantai dasar.
Sesampainya di UGD, suasana sudah sangat kacau balau seperti kapal pecah.
Suster Nita dan para perawat lain berlarian membawa tabung oksigen dengan wajah panik.
"Dokter Bima, tolong kami!" teriak Suster Nita saat melihat Bima datang.
"Ada puluhan pasien datang dari stasiun kereta api dengan gejala sesak napas akut yang aneh."
Bima segera memakai masker medis ganda dan sarung tangan karet sebelum mendekati ranjang terdekat.
Seorang pria muda terbaring meronta-ronta sambil memegangi dadanya.
Uhuuk uhuuk.
Pria itu membatukkan darah kental berwarna kehitaman yang langsung menodai seprai putih.
Napasnya berbunyi nyaring seperti peluit yang tersumbat air.
Bima menempelkan stetoskop ke dada pasien itu.
Suara detak jantungnya sangat cepat, namun suara paru-parunya terdengar hancur berantakan.
"Sistem, pindai pasien ini sekarang juga," batin Bima tegas.
[Memindai target...]
[Terdeteksi patogen misterius yang menyerang jaringan alveolus paru-paru secara agresif.]
[Peringatan Darurat: Patogen ini menular melalui partikel udara atau airborne.]
Bima langsung membelalakkan matanya ngeri membaca tulisan peringatan dari sistem.
Menular lewat udara adalah cara penyebaran paling mematikan dalam sebuah wabah.
"Suster Nita, tutup semua pintu masuk UGD sekarang juga!" perintah Bima dengan suara bariton yang menggema keras.
"Matikan saluran AC sentral dan nyalakan kipas sirkulasi pembuangan khusus ke luar gedung!"
Semua dokter dan perawat di ruangan itu terkejut mendengar perintah ekstrem Bima.
Dokter Hendra yang baru saja memeriksa pasien lain menoleh dengan dahi berkerut.
"Ada apa, Bima?"
"Kenapa kita harus mengunci UGD di saat pasien terus berdatangan?" tanya Dokter Hendra bingung.
"Ini bukan asma atau pneumonia biasa, Dokter Hendra," jawab Bima cepat sambil terus menekan dada pasiennya.
"Ini adalah wabah penyakit menular lewat udara yang sangat mematikan."
"Jika kita tidak mengisolasi ruangan ini, seluruh pasien dan staf di rumah sakit akan terinfeksi dalam hitungan jam."
Mendengar penjelasan Bima, wajah Dokter Hendra langsung pucat pasi.
"Tutup pintunya dan nyalakan kode karantina merah sekarang!" teriak Dokter Hendra menyetujui perintah Bima.
Para perawat segera berlarian mengunci pintu kaca UGD dan menurunkan tirai isolasi.
Orang-orang di luar pintu kaca mulai menggedor-gedor kebingungan, namun keamanan rumah sakit segera menahan mereka dari luar.
Di dalam UGD, situasi menjadi semakin mencekam.
Tiiiit.
Suara monitor dari ranjang pasien yang ditangani Bima tiba-tiba berbunyi panjang mendatar.
Pria muda yang tadi batuk darah hitam itu kini tubuhnya kaku dan matanya mendelik ke atas.
"Pasien nomor satu henti jantung!" lapor seorang perawat panik.
Bima segera mengambil alat kejut jantung dan menempelkannya ke dada pasien.
Bum.
Tubuh pasien itu tersentak ke atas, namun garis di monitor tetap lurus.
Bima menaikkan dayanya dan memberikan kejutan kedua.
Bum.
Tiiiit.
Garis itu tetap tidak berubah, menandakan nyawa pria itu telah melayang.
Bima meletakkan alat kejut itu dengan tangan sedikit gemetar.
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit sejak pasien itu tiba hingga dia meregang nyawa.
Tingkat kematian yang sangat tidak masuk akal untuk sebuah penyakit pernapasan.
"Dia sudah meninggal, catat waktu kematiannya," ucap Bima dengan nada datar.
Dokter Hendra berjalan mendekati Bima dengan keringat membanjiri dahinya di balik masker.
"Bima, apa sebenarnya penyakit ini?"
"Apakah ini mutasi dari virus flu burung atau semacamnya?" tanya Dokter Hendra penuh ketakutan.
Bima menatap mayat pria muda itu dengan pandangan tajam.
"Saya juga belum tahu, Dokter Hendra."
"Tapi saya harus membedah mayatnya untuk melihat struktur paru-parunya dari dalam."
Dokter Hendra langsung menahan bahu Bima dengan keras.
"Kamu gila, Bima?"
"Jika kamu membedah mayat yang terinfeksi patogen airborne di ruangan ini, virusnya akan menyebar lebih cepat ke udara terbuka."
"Kita butuh ruang operasi bertekanan negatif tingkat tertinggi untuk otopsi semacam ini, dan kita tidak memilikinya."
Bima terdiam membenarkan ucapan seniornya itu.
Melakukan otopsi manual di tengah UGD sama saja dengan meledakkan bom biologis.
Tetapi jika dia tidak tahu struktur virusnya, pasien lain di ruangan ini akan menyusul mati satu per satu.
Tiba-tiba, Bima teringat dengan hadiah yang dia dapatkan dari konferensi kemarin.
Fasilitas Operasi Virtual.
"Sistem, bisakah aku menggunakan fasilitas virtual untuk mengotopsi mayat ini tanpa menyentuh fisiknya?" tanya Bima dalam hati.
[Fasilitas Operasi Virtual siap digunakan.]
[Sistem dapat memindai anatomi jenazah secara sempurna dan memasukkannya ke dalam ruang simulasi pikiran Inang.]
[Waktu di dunia nyata akan melambat secara drastis saat Inang berada di ruang virtual.]
Sebuah senyum kecil muncul di balik masker Bima.
Inilah jawaban yang dia butuhkan saat ini.
"Dokter Hendra, tolong tangani pasien yang lain dan berikan oksigen murni pada mereka."
"Saya butuh waktu lima menit untuk berpikir dan mendiagnosis mayat ini tanpa menyentuhnya," ucap Bima.
Dokter Hendra mengerutkan kening tidak mengerti.
"Berpikir sambil menatap mayat?"
"Baiklah, lakukan apa pun yang harus kamu lakukan, kami akan mencoba menstabilkan yang lain."
Bima berdiri diam di samping ranjang mayat pria muda tersebut.
Dia memejamkan matanya rapat-rapat.
"Sistem, mulai proses pemindaian dan bawa aku masuk ke Fasilitas Operasi Virtual sekarang."