NovelToon NovelToon
Dewa Alkemis Sembilan Benua

Dewa Alkemis Sembilan Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.

Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.

500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.

Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.

Mereka salah besar.

Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.

Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.

Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:

Menagih darah dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Janji Satu Bulan

Gudang Pusaka Keluarga Lin terasa dingin dan lembap. Bau apak herbal busuk menyengat hidung. Rak-rak kayunya sebagian besar kosong melompong.

Lin Xuan berdiri di tengah ruangan, tangan bersedekap di belakang punggung. Di belakangnya, Penatua Pertama Lin Zheng dan Penatua Kedua Lin Wu menunduk malu.

"Ini... sisa semuanya, Tuan Muda," lapor Lin Zheng gemetar. "Lin Hai sudah mengosongkan kas dan herbal bagus untuk disetor ke Keluarga Zhao. Yang tersisa hanya herbal cacat, pil gagal, dan beberapa ratus Batu Roh."

Lin Xuan berjalan menyusuri rak, mengambil sebatang Akar Darah Merah yang sudah keriput, energinya tinggal separuh. Di mata alkemis biasa, ini sekadar sampah, bahkan babi spiritual pun enggan menyentuhnya.

Namun bibir Lin Xuan justru melengkung membentuk senyum.

"Lin Hai memang maling bodoh. Ia tak tahu harta sesungguhnya sering bersembunyi di balik yang tampak busuk."

Ia berbalik menghadap kedua penatua serta lima puluh penjaga setia yang menunggu di luar pintu. Sebagian besar dari mereka hanya berkultivasi Tingkat 2 dan 3, tapi terlalu lemah untuk melawan Keluarga Zhao.

"Penatua, tutup pintu gudang. Suruh para penjaga duduk bersila di halaman luar dan bersiap."

"Bersiap untuk apa, Tuan Muda?" tanya Lin Wu bingung.

"Bersiap untuk naik tingkat, malam ini juga."

Kata-kata itu bagai petir di siang bolong.

Sebelum mereka sempat bertanya lebih jauh, Lin Xuan melambaikan tangan kanannya.

WUSSS!

Api biru kehijauan, Teratai Bumi Terdalam, meledak keluar dari telapaknya. Suhu gudang seketika naik, namun anehnya rak-rak kayu tak ikut terbakar. Kendalinya begitu mutlak. Tentu saja ia tak memberitahu bahwa ini Api Surgawi, di mata mereka, ini sekadar "Api Binatang" langka.

Dengan Kekuatan Jiwa, ia mengangkat puluhan herbal busuk dan pil gagal dari rak, melayangkannya di udara.

"Lebur!"

Api biru itu menyebar, melahap semua sampah tersebut. Terdengar desisan keras. Gas racun dan bau busuk seketika terbakar habis oleh api itu.

Esensi murni yang tersisa, hanya setetes dari tiap tanaman, dipaksa menyatu oleh Kekuatan Jiwa Lin Xuan.

Belum sampai setengah batang dupa berlalu, bau busuk gudang lenyap total, digantikan aroma obat yang pekat.

Lin Xuan menarik apinya kembali. Dari udara, jatuhlah puluhan pil merah cerah ke atas nampan kayu. Setiap pil berkilau sempurna, dengan empat hingga lima garis emas melingkar di permukaannya.

"Pil Pembersih Qi Lima Cincin dan Pengumpul Qi Empat Cincin?!" Penatua Pertama berteriak histeris. Lututnya melemas hingga ia terduduk. "Dari sampah... hanya lima menit... Tuan Muda membuat pil yang bahkan Ketua Asosiasi kota pun tak mungkin bisa membuat nya secepat itu?!"

"Berhenti memuji," potong Lin Xuan datar. "Bagikan pil ini ke lima puluh penjaga di luar. Kalian berdua juga makan. Besok pagi, aku tak mau melihat satu pun penjaga Lin di bawah Tingkat 4. Kalian berdua harus menembus Tingkat 7."

Penatua Pertama dan Kedua meneteskan air mata haru. Mereka bersujud mencium lantai gudang berulang kali.

Setelah urusan para penjaga ia serahkan sepenuhnya, Lin Xuan kembali ke kamarnya. Pasukan memang akan meningkat drastis, tapi itu tetap belum cukup untuk meratakan Keluarga Zhao tanpa korban.

Pemimpin klan Zhao, Zhao Wuji, kabarnya sudah mencapai Setengah Langkah ke Pembentukan Fondasi. Kediaman Zhao pun dilindungi formasi yang jauh lebih kuat daripada sekadar perisai Cangkang Kura-kura.

Untuk menjebol pertahanan itu dan membantai para petinggi anggota Klan Zhao dalam semalam, ia butuh daya ledak yang besar.

Ia membutuhkan material untuk Formasi Ledakan Sembilan Istana, teknik perang yang dulu sering ia gunakan untuk meratakan gunung.

"Pasir Petir Api, Raksa Merah, Kayu Besi Seratus Tahun... bahan-bahan mahal, tak ada satupun di Paviliun harta keluarga," gumamnya.

Malam itu juga, ia kembali mengenakan jubah hitam bertudungnya. Menyelinap keluar, mengubah postur tubuhnya, berganti rupa menjadi "Senior Xuan". Tujuannya: Paviliun Seratus Herbal.

Di ruang VIP lantai atas Paviliun Seratus Herbal, suasana begitu tegang. Su Yue'er, gadis pucat pemilik Tubuh Yin Kutub, terbaring lemah di ranjang.

Udara di sekitarnya begitu dingin, sampai-sampai rambut Paman Qin dan Gu Yuan yang berdiri agak jauh pun ikut membeku.

"Nona! Bertahanlah!" Paman Qin mengalirkan Qi apinya untuk menghangatkan tubuh gadis itu, namun energinya seolah ditelan jurang es tanpa dasar.

"Gu Yuan. Bukankah kau bilang Senior itu akan kembali?. Kalau Nona sampai mati malam ini, kupenggal kepalamu!" geram Paman Qin, putus asa.

Gu Yuan gemetar, meremas tangannya sendiri. "S-saya tidak tahu, Tuan Qin. Senior itu datang dan pergi tanpa jejak..."

Tiba-tiba, hawa beku di ruangan itu tertembus oleh kehangatan yang menenangkan. Pintu terbuka tanpa suara. Sesosok berjubah hitam melangkah masuk. Tak seorang pun menyadarinya sampai pintu itu benar-benar terbuka.

"Kalian berisik sekali," ucap suara serak yang tenang dari balik tudung.

"Senior Xuan!" seru Gu Yuan kegirangan, seperti melihat sang penyelamat.

Paman Qin yang tadinya angkuh langsung menyingkir dan membungkuk dalam-dalam. "Senior. Tolong selamatkan Nona muda kami. Hawa dinginnya lepas kendali sejak kami menghentikan Pil Yang Emas!"

Lin Xuan melangkah mendekati ranjang. Wajah Su Yue'er sudah membiru. Setengah sadar, namun matanya yang sayu menatap Lin Xuan dengan secercah harapan.

"Menghentikan racun api secara tiba-tiba membuat Yin yang tertahan meledak.," jelas Lin Xuan datar.

Tanpa meminta izin, ia mengangkat tangan kanannya. Mengeluarkan seutas benang Qi biru kehijauan tipis dari ujung jarinya, melilitkannya ke pergelangan tangan Su Yue'er.

"Benang Denyut Nadi?!" Gu Yuan membelalakkan matanya, hampir pingsan karena kagum. Itu teknik medis legendaris yang konon sudah punah.

Melalui benang itu, Lin Xuan menyalurkan seuntai kecil energi Teratai Bumi Terdalam. Bukan untuk melawan hawa esnya, melainkan dengan cerdik mengarahkan kembali energi es yang mengamuk itu menuju Dantian sang gadis, lalu membentuk segel bunga teratai api untuk menguncinya.

Warna biru di wajah Su Yue'er perlahan memudar, digantikan rona merah sehat. Napasnya kembali teratur. Kehangatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidup mengalir ke sekujur tubuhnya.

Paman Qin dan Gu Yuan menahan napas, menyaksikan keajaiban itu dengan mata kepala sendiri.

Su Yue'er perlahan membuka mata. Ia bangkit duduk, menatap tangannya yang tak lagi memancarkan hawa beku. Ia segera turun dari ranjang dan berlutut di hadapan Lin Xuan.

"Terimakasih Senior, telah menyelamatkan nyawa Yue'er. Yue'er tak akan pernah lupa," ucapnya tulus.

"Jangan buru-buru berterima kasih, Nona kecil" jawab Lin Xuan dingin, sambil menarik kembali benang Qi-nya. "Itu hanya segel sementara. Apiku baru sebatas mengunci Yin-mu di Dantian selama satu bulan. Kalau dalam satu bulan aku tak berhasil membuat Pil Yang Sejati untukmu, segel itu akan pecah dan kau langsung berubah menjadi patung es."

Su Yue'er dan Paman Qin tersentak. Namun memiliki satu bulan hidup normal tanpa penderitaan saja sudah terasa seperti mukjizat bagi mereka.

"Senior," ucap Paman Qin penuh hormat. "Apa pun yang dibutuhkan untuk pil itu, sebutkan saja. Kekayaan Keluarga Su kami di Ibukota..."

"Aku tak peduli kekayaan Ibukota," potong Lin Xuan cepat. Ia melemparkan secarik kertas ke pelukan Gu Yuan. "Aku butuh semua yang tertulis di daftar itu. Malam ini juga. Anggap saja ini biaya konsultasi awal."

Gu Yuan membaca daftar itu dan matanya berkedut. "Pasir Petir Api sebanyak ini? Raksa Merah? Senior, ini material untuk membuat array penghancur... Apa Anda hendak meratakan gunung?"

"Bukan urusanmu. Ada atau tidak?"

"P-punya! Tersimpan di gudang utama, nilainya sekitar sepuluh ribu Batu Roh..."

"Aku yang akan membayarnya!" sela Su Yue'er tanpa ragu. Ia menatap sosok berjubah hitam itu. "Senior Xuan, kalau Anda punya musuh di Kota Awan Merah ini, Anda tak perlu turun tangan sendiri. Paman Qin sudah mencapai Pembentukan Fondasi, ia bisa menyingkirkan siapa pun yang mengganggu Anda malam ini juga."

Tawaran yang menggiurkan. Bila memakai jasa Paman Qin, Keluarga Zhao bisa rata dalam lima menit tanpa setetes keringat pun.

Namun aura dingin justru meledak dari tubuh Lin Xuan, membuat suhu ruangan itu bergetar.

"Naga tak butuh bantuan seekor semut untuk menginjak kotoran," ucapnya dengan keangkuhan mutlak. "Urus saja penyakitmu sendiri. Nanti, saat waktunya tiba, aku akan datang menagih bayaran yang sesungguhnya."

Dengan cincin penyimpanan yang kini berisi material mematikan senilai sepuluh ribu Batu Roh, sosok berjubah hitam itu melangkah pergi, lenyap ditelan bayangan malam.

Su Yue'er menatap pintu yang kini kosong itu dengan mata berbinar penasaran. Pria misterius ini... angkuh, kuat, dan menyimpan rahasia yang tak terduga.

Sementara itu, di bawah langit malam Kota Awan Merah, Lin Xuan melesat kembali menuju kediaman. Di tangannya, tergenggam kunci kematian bagi musuh-musuhnya.

"Keluarga Zhao... panggung eksekusi kalian sudah siap."

1
Arinto Ario Triharyanto
mantap Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll njeduk Thor lanjut terus 💪💪💪💪
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
ini baru mantab Lin Xuan lanjutkan aksimu terus bikin dunia berguncang
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Arinto Ario Triharyanto
mantap nih👍
Rinaldi Sigar
lnjut
Aman Wijaya
mantab pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Aman Wijaya
babat semuanya Lin Xuan biar keluarga Zhao lenyap semua
Aman Wijaya
mantab Lin Xuan habisi aja tuh Lin Hao biar ayahnya stres
Aman Wijaya
api teratai bumi udah ada di tangan Lin Xuan
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos lanjut terus Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
lanjut terus
Aman Wijaya
mantull Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Saifuloh Oting
Thor,,yg membuat cerita ini begitu epic,.... mantap Thor...
Celestial Quill: Terimakasih, gas terus💪💪
total 1 replies
Aman Wijaya
semangat Lin Xuan
Green Boy
Jos ceritanya
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai keluarga ouyang sampai ke akar akarnya panjang tubuh mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!