Menikah dengan teman sendiri? Tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Dulu kami saling bermusuhan. Em, no! Bukan bermusuhan. Lebih tepatnya berteman, bersahabat, tapi jarang sekali kita bisa akur.
Dan sekarang kami harus terlibat dalam suatu pernikahan.
Tidakk!!
Rumah tangga yang bagaimana yang akan kami jalani nanti?
Apa rasa sayang sebagai teman bisa berganti menjadi rasa sayang sebagai suami?
Tolong! Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi!
Katakan padaku ini tidak nyata!
- Carissa Amalina -
Harus tinggal satu atap dengan perempuan yang bawel dan cerewet tak pernah terbayangkan olehku.
Kami berteman sejak kecil. Walaupun tidak bermusuhan tapi juga jarang akur.
Kami lebih banyak berdebat, tak ada yang mau mengalah. Apa jadinya kalau dikumpulkan didalam satu rumah?
- Raka Putra Wibawa -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TTM 16
Raka dan Rissa berbaring bersebelahan. Keduanya sama-sama menatap langit-langit kamar sembari mengatur napas yang terengah-engah. Selimut tebal menutupi tubuh keduanya.
Raka mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap Rissa. Ia memeluk dan menarik pinggang Rissa sehingga kini tak ada lagi jarak diantara mereka.
"Kamu capek, ya?" Tanya Raka setelah mengecup pelipis Rissa.
Rissa tersenyum lemah sambil memejamkan matanya. Ia lelah luar biasa. Namun ia tak ingin membuat Raka merasa bersalah. "Sedikit," jawabnya di sambut kekehan pelan dari Raka.
"Rissa..."
"Ya?"
"Hari Sabtu bisa kosongkan jadwal?" Tanya Raka hati-hati. Masalahnya, Rissa tak pernah bisa diganggu kalau soal pekerjaan.
"Kenapa? Ada apa?" Rissa penasaran. Mata yang tadinya terpejam karena kelelahan kini terbuka lebar.
"Bapak mau meresmikan cabang yang di Semarang."
"Loh, udah mau diresmikan? Kayaknya kemarin kamu baru mau ngecek, ya?"
Raka tertawa pelan. "Iya. Dan aku harus datang. Karena bagaimanapun juga aku yang akan mengurus usaha Bapak. Bapak juga minta kamu datang kalau kamu bisa. Sebenarnya acaranya Minggu pagi. Tapi kita harus berangkat hari Sabtu karena aku juga harus mengecek persiapan disana."
"Raka..." Rissa menghembuskan napas pelan. "Aku nggak janji, ya. Kamu tahu, kan, bagaimana pekerjaan aku? Ini bukan masa cuti aku. Jadi aku bisa di telpon kapan saja kalau lagi darurat."
Rissa begitu merasa bersalah karena ia tak bisa datang di acara penting keluarga Raka. Apalagi hal itu juga menyangkut kehidupan masa depan keduanya.
Sebagai anak satu-satunya, sudah pasti Raka-lah yang akan meneruskan usaha milik ayahnya yang sudah meluas itu.
Bagaimanapun juga Raka pasti membutuhkan ia disampingnya. Menemani Raka dari awal untuk kesuksesannya.
Tapi Rissa juga tak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Ia bekerja di bawah pimpinan pemerintah. Ia tak bisa seenaknya begitu saja meninggalkan pekerjaannya. Apalagi pekerjaannya berhubungan dengan nyawa seseorang.
Raka menghembuskan napas tak kentara. Namun Raka tak bisa menutupi raut wajahnya yang terlihat kecewa. Ia tahu Rissa pasti lebih memilih pekerjaannya.
Kini bergantian Rissa yang memeluk Raka dari samping. Raka sudah berpindah posisi menjadi berbaring. Berusaha agar wajah kecewanya tak terlihat oleh Rissa.
"Aku usahain, insyaallah. Semoga dokter Kana bisa diajak tukar jadwal," ucap Rissa cepat-cepat. Takut kalau Raka marah.
"Kalau nggak bisa jangan dipaksa." Raka tersenyum maklum.
"Aku usahain, kok." Rissa berusaha meyakinkan.
"Oke. Makasih, ya?"
Raka mengecup kening Rissa.
Dalam hati Rissa merasa khawatir kalau ia tak bisa mengusahakan agar ia bisa datang.
***
Setelah dari ruang pemeriksaan USG, Rissa berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit untuk mencari dokter Kana yang katanya sedang berada di kantin rumah sakit.
Sejak pagi ia sudah berusaha menemui dokter Kana. Namun karena ia harus segera melakukan operasi, ia mengurungkan niatnya terlebih dahulu.
"Dokter Kana!" Serunya saat melihat dokter Kana keluar dari kantin.
Dokter Kana menoleh. "Ya dokter Rissa?"
"Saya cari dokter Rissa dari tadi," ucap Rissa sambil mengatur napasnya yang sedikit tersengal.
Kana tersenyum. "Ada apa dokter Rissa cari saya? Tumben sekali."
Rissa ikut tersenyum mendengar pertanyaan dokter Kana yang usianya empat tahun lebih tua darinya itu. "Dokter, hari Sabtu dokter ada praktek?"
"Kebetulan saya libur. Ada apa, dokter Rissa?"
"Emm.." Rissa terlihat ragu untuk mengutarakan maksudnya menemui Kana.
"Dok?"
"Eh. Itu, dok. Dokter bisa tidak menggantikan saya?"
"Memangnya dokter Rissa mau kemana?"
"Saya ada acara di Semarang, Dok. Acara dengan keluarga suami saya."
Kana tersenyum maklum. "Insyaallah bisa, Dok."
Mata Rissa berbinar bahagia. "Serius, dok?"
Kana mengangguk.
"Terimakasih banyak, dokter."
Kana terkekeh pelan. "Iya, dok, Sama-sama. Saya duluan, ya?" Pamit Kana.
"Iya, dok, iya. Sekali lagi terimakasih, dok."
Rissa melompat-lompat kecil karena rasa bahagianya sampai ia tak sadar kalau ia menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang di dekat kantin rumah sakit.
***
Sabtu pagi menjelang siang, Raka dan Rissa sudah bersiap untuk pergi ke Semarang. Senyum bahagia terukir di bibir Raka. Ia masih tak percaya bahwa Rissa mau mengusahakan agar Rissa bisa menemaninya pergi ke Semarang.
Dengan kecepatan sedang, Raka menjalankan mobilnya meninggalkan komplek perumahan. Raka sengaja membawa mobil sendiri daripada berangkat dengan kedua orangtuanya.
Alasannya sudah pasti karena ia ingin berdua saja dengan Rissa.
Dering ponsel Rissa mengagetkan keduanya yang sedang asyik bercanda.
S. Ida calling...
Membaca nama peneleponnya membuat perasaan Rissa menjadi tak enak.
"Siapa, sayang?"
"Emh... Dari..." Rissa tergagap.
"Dari siapa?"
Rissa menggigit bibir bawahnya. "Dari... Rumah sakit."
Raka menghembuskan napas kecewa. Ia tahu bahwa setelah ini ia tak bisa membawa Rissa ke Semarang.
"Angkat, Ris," ucap Raka setelah menghentikan mobilnya.
Rissa tak banyak bicara. Ia segera mengangkat panggilan di ponselnya.
"Ya, Da?"
"Dokter Rissa. Alhamdulillah dokter segera mengangkat telepon." Suara di seberang terdengar begitu lega.
"Ada yang gawat, Da?"
"Dokter, pasien dokter atas nama Fitri mau melahirkan, dok. Keadaannya buruk. Ketuban sudah pecah, darah yang keluar sudah banyak. Denyut jantung janin melemah."
Wajah Rissa ikut panik membuat Raka mengerutkan keningnya. Sebelum menjawab Ida, Rissa berucap pada Raka. "Raka ke rumah sakit sekarang. Cepat!"
Raka tak sempat bertanya kenapa karena Rissa buru-buru berbicara kembali dengan Ida.
"Dokter Kana kemana, Da?"
"Tiga puluh menit yang lalu beliau ijin karena anaknya demam, dok."
"Dokter Agung?"
"Beliau sedang sudah diruang operasi, dok. Ada dua pasien beliau yang sudah menunggu."
Rissa memijat kepalanya. Pikirannya tak tenang. Antara pasiennya dan juga Raka yang sudah pasti akan kecewa kepadanya.
"Siapkan ruang operasi. Sepuluh menit lagi saya sampai."
"Baik, Dok."
Beruntung perjalanan keduanya belum terlalu jauh. Jadi ia tak membutuhkan waktu lama agar sampai di rumah sakit.
"Raka, aku minta maaf banget. Aku tahu kita cuma bisa berencana, tapi Allah yang menentukan semuanya," ucap Rissa sebelum ia turun dari mobil. Berulang kali ia menciumi tangan Raka karena ia merasa begitu bersalah. Air matanya pun tak dapat ia bendung lagi.
Raka meraih tubuh Rissa untuk ia peluk. "Tenangkan pikiran kamu karena setelah ini kamu harus menyelamatkan nyawa pasien kamu." Raka mencoba menenangkan. Ia mencoba meredam egonya dan meyakinkan bahwa inilah resiko pekerjaan istrinya. Ia tak bisa memaksakan kehendaknya.
"Aku minta maaf. Aku minta maaf, Raka."
"Sudah." Raka melepas pelukannya kemudian mencium kening Rissa memberi semangat. "Waktu kamu nggak banyak."
"Kamu pergi dulu enggak apa-apa. Nanti aku nyusul setelah selesai operasi."
"Enggak. Kamu nggak perlu nyusul aku, Rissa. Cukup doakan aku."
Raka tak ingin Rissa mengendarai mobil seorang diri. Perjalanan terlalu jauh untuk Rissa dan Raka tak ingin Rissa kelelahan.
"Aku akan tetap kesana, Raka. Nanti aku ajak Kevin buat ngantar aku kesana."
Kevin adalah saudara sepupu Rissa.
Raka tersenyum senang. "Baik kalau begitu. Kamu hati-hati, ya? Aku tunggu kamu disana."
Setelah berpamitan dengan Raka, Rissa segera turun dari mobil dan berlari menuju ruang operasi. Rissa berharap semoga setelah ini tak ada lagi pasien yang harus ia tangani dan ia bisa segera menyusul Raka yang kini harus segera berangkat karena harus mengurus segala persiapan untuk acara besok.
💕💕💕
Sekali lagi. Manusia hanya bisa berencana. Namun kenyataannya, yang Maha kuasa-lah yang menentukan segalanya.
Rissa pikir setelah pasiennya yang bernama Fitri selesai di tangani, ia bisa langsung pergi ke Semarang menyusul Raka. Namun nyatanya masih ada dua pasien lagi yang menunggu persalinan normal.
Terlebih lagi nomor tak bisa dihubungi sama sekali. Berkali-kali ia mencoba menelepon tapi Raka tak mengangkatnya. Pesan yang ia kirimkan pun tak dibalas oleh Raka.
Rissa berpikir positif. Mungkin saja Raka masih di perjalanan atau bahkan sedang sibuk di sana.
Setelah sholat Maghrib, Rissa dan Kevin berangkat menuju Semarang menggunakan mobil Rissa yang sudah diambil oleh Kevin.
Perjalanan menuju Semarang membutuhkan waktu tiga sampai empat jam. Kurang lebih jam sembilan malam Rissa sudah sampai di Semarang. Semoga tak ada halangan di perjalanan nanti.
"Kenapa nekat nyusul, sih, Mbak? Mas Raka pasti juga paham, kan?" Tanya Kevin.
"Tadinya dia juga melarang, Vin. Tapi Mbak nggak mau dia kecewa."
"Tapi, kan, Mbak Rissa capek?"
"Iya, sih. Makanya ini mau tidur. Kamu hati-hati, ya, nyetirnya."
"Ah, elah..."
Rissa tertawa pelan mendengar adik sepupunya itu menggerutu kesal. Ia memilih memejamkan matanya untuk beristirahat sebentar sebelum bertemu dengan Raka.
***
Pukul sembilan lebih, Rissa dan Kevin sudah memasuki kota Semarang. Kevin segera membangunkan Rissa yang tertidur untuk menanyakan dimana hotel tempat Raka menginap.
"Aku tanya Raka dulu, Vin."
Rissa mengirimkan pesan singkat pada Raka menanyakan dimana letak hotelnya.
Annoying Raka : "Hotel Nirwana nomor 505. Aku tunggu, ya. Aku punya kejutan buat kamu."
Senyuman Rissa terukir sempurna. Ia merasa deg-degan sendiri membaca pesan Raka yang mengatakan bahwa Raka memberinya kejutan.
Rissa memberitahu Kevin tentang nama hotelnya. Kevin segera menjalankan mobilnya menuju hotel Nirwana.
***
"Maaf. Kamar atas nama Raka Putra Wibawa lantai berapa, ya?Nomor 505."
Rissa bertanya pada resepsionis hotel.
"Dengan siapa?" Tanya resepsionis wanita yang bernama Naya.
"Saya Rissa."
"Oh, Ibu Rissa. Silahkan naik ke lantai lima ya, Bu. Ini kunci cadangannya. Tadi beliau berpesan agar menyerahkan kuncinya pada ibu kalau ibu datang."
Rissa tersenyum senang dan menerima kunci tersebut. Ia segera mengucapkan terimakasih pada Naya sebelum akhirnya naik ke lantai lima menuju kamar Raka.
Sebelumnya Rissa juga sudah memesankan kamar untuk Kevin karena Rissa tak mengijinkan Kevin untuk langsung pulang ke Karanganyar.
"Kebetulan banget, Mbak, kamarnya sebelahan sama kamar kalian. Awas aja kalau suara kalian lagi ena-ena sampai kedengaran dari kamarku. Aku yang polos ini nanti jadi ternodai."
Rissa menepuk keras lengan Kevin. "Omongannya, ih, nggak di filter dulu."
Kevin tertawa keras.
Jantung Rissa berdegup kencang saat ia sudah berdiri di depan kamar Raka. Ia menerka-nerka, kira-kira kejutan apa yang telah Raka siapkan untuknya.
Setelah menetralkan degup jantungnya, Rissa menempelkan kartu untuk membuat kunci kamar. Setelah terbuka, ia segera membuka pintu tersebut.
Dan pemandangan di kamar Raka, begitu mengejutkan Rissa. Rissa menatapnya tak percaya. Ia tak bisa berkata-kata.
💕💕💕
usia 27 udah jadi spesialis kandungan .
wah Rissa termasuk jenius nii.