NovelToon NovelToon
Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant

Status: tamat
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Raja Tentara/Dewa Perang / Tamat
Popularitas:93.5k
Nilai: 5
Nama Author: Amelia Tan

Follow Akun Fb : Author A Amelia

BRUUKKK!!
Dhezia berbalik dengan tergesa kemudian menabrak seorang pria berseragam loreng yang sedang menerima telfon di depan toserba. Dan naas nya, ponsel merek Iphone 14 yang digenggam pria berseragam loreng itu pun terlempar ke tengah jalan raya kemudian terlindas oleh mobil picanto yang sedang melaju kencang malam itu.
"Hp saya!!!" teriak pria berseragam loreng itu.
"Arghh!! Picanto sialan!! Dan Kau!!"
Pria itu menatap Dhezia dengan tatapan tajam.
''LAKUKAN APA YANG SAYA PERINTAHKANN!!!"
Pria itu berkata dengan mata tajam dan menyala, membuat Dhezia ketakutan.
******
Dhezia Anastasya, yang sering dipanggil Dhezia, awalnya menjalani studynya dengan beasiswa di luar negeri tepatnya di Los Angeles California barusaja dipulangkan ke Indonesia karena adanya wabah yang menyerang di seluruh belahan dunia, Corona Virus. Dhezia kembali ke kota kelahirannya dan terlibat insiden dengan seorang tentara yang sedang bertugas Covid di kota kelahirannya tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amelia Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Dhezia Menangis

Setelah keluar dari pintu gerbang kawasan balai desa itu, Dhezia berlari sekencang mungkin.

Prok! Prok! Prok! Prok!

Bunyi sepatu Dhezia.

Sama seperti ketika ia berangkat ke Balai Desa tadi, yang membedakannya hanyalah perasaannya saja, Dhezia terlanjur kecewa dengan Allen. Andai saja cowok itu mengatakan jika ia mencintai Dhezia, maka Dhezia mungkin tak akan  sekecewa ini. Sebab, Dhezia menilai perbuatan Allen semata hanya untuk memuaskan nafsunya dan memainkan perasannya.

“Apa yang kamu harapkan dari dia, Zia? Di aitu kaya, punya pangkat dan profesi yang bagus, mana mungkin dia menyukaimu, itu hanya caranya untuk menghukum dan merendahkan harga dirimu.”

Berkali- kali Dhezia merutuki dirinya sendiri sambal terus berlari.

Prok! Prok! Prok! Prok!

Setelah dirasa cukup jauh dari Kawasan Balai Desa, Dhezia memperlambat langkah kakinya, nafasnya tersenggal. Ia mengelus lututnya. Tanpa terasa air matanya menetes membasahi sepatunya. Kemudian ia melanjutkan jalan nya kembali.

"Seperti ini kah rasanya kecewa karena harga  dirimu dipermainkan? Ah lemah sekali kamu Dhezia. Hiks hiks," isak Dhezia dalam tangisnya.

Ditengah ia berjalan kaki, Dhezia melihat ada toko yang masih tutup. Karena ia tak mungkin pulang dalam keadaan yang seperti ini, Dhezia memilih berhenti di depan toko yang masih tutup itu. Dhezia terduduk di depan toko itu, sambil menelungkupkan tangannya menyembunyikan wajahnya yang dihiasi air mata.

Jam menunjukkan pukul 5 pagi, hawa dingin masih sangat terasa menusuk di tulang. Namun, sesaat kemudian tangis Dhezia terhenti. Ia mendongakkan kepalanya, karena suara klakson yang meraung-raung di dekatnya.

Dan benar saja, ketika Dhezia mendongakkan kepalanya, ada tiga orang perempuan  turun dari mobil sedan camry itu. Memakai high heels, celana jeans, dan jaket kulit bertulisan The Eve's girl.

Geng yang beranggotakan Bianca, Cyntia, dan Merta. Dan Bianca sendiri yang merupakan ketua geng itu adalah anak dari Pak Lurah Desa bambu.

Sebenarnya, banyak orang di kampung Dhezia yang sudah tau dengan keberadaan yang itu. Tetapi Dhezia belum mengenal mereka karena ia baru pulang dari Amerika.

Salah satu dari mereka mendekati Dhezia, dan langsung berkata,

"Jangan coba coba deketin Allen! Atau kamu akan tau akibatnya!!" ancam Bianca, cewek ketua geng itu.

Dhezia mencium bau alkohol yang keluar dari bibir gadis itu ketika mengancamnya. Mungkin mereka barusaja minum- minum, mabuk, atau hal semacamnya.

"Siapa kalian?" tanya Dhezia penasaran.

"Wuahh... wah gatau kita nih dia bos," sahut Cyntia yang juga anggota dari The Eve's girl.

"Cewek macam kamu mana pantes deketin Allen! Eeeuuuwwhh....," ledek Cyntia lagi.

Dhezia juga mencium bau alkohol yang sama dari cewek yang barusaja meledeknya itu. Setengah tahun di Amerika cukup membuatnya dengan mudah mengenali orang orang yang terkontaminasi dengan alkohol.

"Kalian tidak lebih baik dariku," jawab Dhezia datar.

Lalu Dhezia melirik cewek ketiga dari geng itu, Merta. Tetangga sebelah rumahnya sendiri. Merta hanya diam tak ikutan meledek Dhezia, tetapi Merta juga memakai jaket The Eve's girl. Dhezia pura pura tidak tau saja jika itu Merta yang ia kenal. Mungkin hampir satu tahun di Amerika membuat Dhezia tidak terlalu lagi mengenal sifat dan watak para tetangganya.

"Berani lo lawan kita hah?! Punya apa lo? Emang punya modal lo buat deketin Allen?" hina Bianca.

Duarr!

Mendengar perkataan Bianca menjadikan Dhezia serasa disambar petir. Memang dari awal itulah masalahnya, perbedaan isi kantong, jika saja Dhezia adalah wanita yang kaya raya, ia pasti akan langsung mengganti Iphone Allen saat ini juga. Dan Allen juga tidak akan mungkin mempermainkan harga dirinya. Dan Allen lah yang membuatnya menangis seperti sekarang ini.

Tetapi bukan Dhezia namanya jika ia hanya diam saja tak melawan perkataan busuk Bianca. Dhezia dengan cepat menyeka air matanya, berusaha tenang dan menjawab perkataan Bianca.

"Dia memang ditakdirkan untukku, meski aku tidak punya apa apa!" tegas Dhezia.

"Berani- Berani lo!" teriak Bianca murka.

Bianca akan menampar Dhezia. Bianca dengan murka mengangkat keatas tangan kanan nya dan hendak mendaratkan telapak tangannya itu ke pipi Dhezia. Tetapi, dengan sigap Dhezia menangkis tangan Bianca, sehingga tangan Bianca tertahan dan tidak jadi menamparnya.

"Pastikan diri lo udah penuh persiapan kalo mau lawan gue," hina Dhezia pada mereka.

Dhezia kemudian berlalu meninggalkan mereka yang masih berdiri geram penuh dengan api di raut wajah mereka.

***

Pembelajaran berharga dirinya ketika melihat Brielle cekcok dengan Nicole di Amerika kini bermanfaat juga di Indonesia. Dhezia bisa dengan mudah mengalahkan perkataan Bianca si ketua geng The Eve's girl itu.

Dhezia kemudian melanjutkan langkah kakinya pulang kerumah. Matahari mulai menampakkan sinarnya, jalanan mulai ramai. Barusaja ia berjalan kurang lebih lima menit, terdengar suara motor mengikuti dengan pelan do belakangnya. Dhezia sontak meleleh kearah belakang. Dan itu Allen.

Tetapi, Dhezia tidak mempedulikannya meski ia tau itu adalah Allen. Dhezia mempercepat langkah kakinya.

"Naik! Saya antar kamu pulang!" perintah Allen.

Kini motornya melaju pelan di samping Dhezia yang sedang berjalan.

"Gausah, Len. Makasih!" tolak Dhezia dingin.

"Saya gak terima penolakan!"

"Kalo ada apa apa sama kamu, bagimana saya akan tanggung jawab! Sebagai cowok yang nyuruh kamu ke balai desa temuin saya!" imbuhnya.

“Cih! Tanggung jawab? Sebagai cowok? Kamu bahkan tidak tau tadi aku dikeroyok oleh para geng The Eve's girl yang sangat memuja dirimu,” batin Dhezia.

Allen yang tidak sabar dengan gadis itu langsung melajukan motornya ke depan dan berhenti tepat didepan Dhezia yang hendak melangkah.

"Naik!!" perintah Allen

"T-tapi.....,"

"Saya bilang naik!" tegasnya.

Allen yang dengan kasar menyentak tangan Dhezia membuat cewek itu mengikutinya dengan langkah terseok.

Dhezia kini membonceng Allen. Ia hanya terdiam dibalik punggung cowok itu.

"Kenapa si, Len? Bahkan setelah gue nampar lo sekeras tadi, lo masih peduliin gue? Lo bahkan cium gue seakan akan gue ini cewek lo Len, lo suka gue? Atau apa maksud semua ini?" batin Dhezia.

"Kenapa juga tadi gue harus nyebut lo itu takdir gue, lo cuma main main

sama gue atau apa? Kenapa lo gak jadi cowok gue aja si, Len?" batinnya lagi.

Bagimana bisa ia begitu plin plan ketika berhadapan dengan Allen. Padahal, tadinya Dhezia merasa begitu kecewa dengan perbuatan Allen, tapi kini Allen menyusulnya dan lagi lagi mengantarkannya pulang.

Allen yang merasakan Dhezia hanya diam terpaku kemudian melirik Dhezia dari kaca spion motornya.

"Wajah kamu pucat banget! Kamu sakit?"

Dhezia hanya menggeleng sekilas, ia memalingkan mukanya tidak ingin Allen memantaunya dari pantulan kaca spion. Dhezia belum bisa dikatakan sakit, ia hanya syok dengan apa yang menimpanya sejak ia pulang ke Indonesia.

***

1
Wati Watipristika
Luar biasa
suka_baca
ndak ada sequel kak?
Devi Handayani
aaahhhh... akhirnya nya the end😍😍😍😍
Devi Handayani
itu baru anak pintar👍👍🥰🥰🥰
Devi Handayani
ya Allah ga masuk angin neng...kok ya telanjang bulat gitu sih🤨🤨🤨🤨
Devi Handayani
ya ampun neng blom halal.....kok ya bisanya badanmu diobral untung Allen tabah dan tawakal klo ada setan lewat habis kamu neng Zia🫣🫣🫣🫣🫣🫣🫣🫣
Devi Handayani
borong makanan mas'e😁😁😁😁
Devi Handayani
tadi ziazia.....kenapa sekarang jadi Rere 🤔🤔🤔
Rosalinda Dua mano
mba ko lama sekali upx.. seru ceritax
Tri Winarni
mana nih thor kok lama ngak up ditgg kelanjutannya🙏👍👍👍💪💪
Rosalinda Dua mano
mba up lagi yahh
Devi Handayani
PD bgt tuh si Novia.... kayak aliennya mau aja😏😏😏😏😏
Devi Handayani
wow... mari kita belajar pengetahuan umum bersama thorrr/Bye-Bye//Bye-Bye//Bye-Bye/
Devi Handayani
hayolohhh allen.... kamu ketauan/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Devi Handayani
aahh udah jatuh cinta kamu.... kenapa pelet bibirnya si allen yaa zia.... jadi ga bisa kelain hati lagi/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Devi Handayani
waduhh dingin dingin empukkk/Smirk//Smirk//Smirk//Smirk/
Devi Handayani
wiihh pasti tlp dari si tukang sosor/Slight//Slight//Slight/
Devi Handayani
dhezia tinggal binggung pilih tentara yg suka nyosor apa tuan muda yg dengan label polisi berkharisma/Slight//Slight//Slight//Slight/
Devi Handayani
lanjut thorr/Determined//Determined//Determined/
Devi Handayani
woww.... amazing kata kata terakhirnya/Sneer//Sneer//Sneer//Sneer/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!