ig : @es.pucil
_____________
Ada banyak alasan mengapa Karina dengan sangat mudah diterima di keluarga Eduardo. Ia seorang aktris terkenal yang selalu sukses menjadikan filmnya selalu laris di bioskop, serta memiliki karakter dan budi pekerti yang sangat baik.
Namun, ada juga beberapa alasan yang sangat kuat mengapa Karina harus memilih Erik Eduardo sebagai kekasih meski usia mereka terpaut 19 tahun. Selain kaya raya serta sukses di bidang bisnis, Karina juga harus memilih Erik untuk ... balas dendam. Demi menebus kematian dirinya dan sang kakak 19 tahun silam, karena keserakahan Erik untuk memiliki sang anak hasil hubungannya dengan sang kakak: Bella ... yang membuahkan gadis kecil bernama Eliza dengan fisik sangat menyerupai mendiang Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Es Pucil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Malam Pertama Menegangkan
Malam pertama menjadi seorang nyonya Eduardo, Karina tidak berekspektasi apa pun selain memikirkan caranya untuk menghancurkan Erik. Gadis itu tampak sangat sibuk mengenakan perawatan malamnya untuk menjaga kesehatan kulit, sementara pikirannya menerawang jauh.
Di saat melamun itulah, sepasang tangan kekar tiba-tiba saja melewati kedua bahunya, disusul sebuah dagu yang bertengger di salah satu pundaknya. Menghirup aroma manis Karina dalam-dalam, dan tidak lupa memberikan sedikit kecupan di leher gadis itu.
"Kamu cantik sekali," puji Erik ketika melihat bayangan Karina di cermin. "Saya merasa sangat beruntung memiliki kamu, Sayang. Manusia sesempurna kamu."
Karina memaksakan bibirnya untuk membentuk senyuman tipis, sekadar basa-basi.
"Mungkin ini anugerah Tuhan karena kamu sudah setia di status lajang selama puluhan tahun, dan mengurus anak seorang diri. Kamu orang yang sangat hebat, dan itu yang membuat aku mudah menerima lamaranmu," jawab Karina, kemudian merotasi tubuhnya menghadap langsung pada Erik.
Sebagai seorang aktris yang sudah memerankan beberapa jenis tokoh, Karina bisa dengan mudah beradaptasi untuk menjadi seorang gadis penggoda. Ia balas mengalungkan tangannya ke leher Erik dengan gerakan sensual.
Hal itu membuat Erik dengan cepat menggendong Karina ke tengah-tengah ranjang mereka yang sudah dihiasi mawar indah.
Pria itu sama sekali tidak mengurangi jarak kedekatan antara mereka, dan membiarkan salah satu tangannya sebagai penopang sehingga bisa tetap berada di atas tubuh Karina, membayangi gadis itu.
"Bisa jadi." Erik menjawab ucapan Karina beberapa detik yang lalu. "Jika iya, kamu benar-benar anugerah paling indah yang pernah saya punya."
Erik berbisik dengan suara rendah bercampur serak. Pria itu berniat memajukan wajah tetapi tangan Karina yang memegang wajahnya menjadi penahan. Agar Erik tidak curiga bahwa Karina sangat jijik dicium oleh si tua bangka itu, jemari gadis itu bergerak mengusap lembut wajah sang suami.
"Aku perempuan ke berapa dalam hidup kamu?" tanya Karina, dengan nada sensual secara sengaja hanya demi menyamarkan tatap malasnya untuk pria ini.
"Pertama. Kamu tahu jawabannya."
"Aku cuman jadi istri yang pertama. Tapi jelas bukan wanitamu yang pertama. Katakan dengan jujur, aku wanita yang ke berapa, agar aku bisa tahu ... seberapa hebat pria ini di ranjang."
Erik sempat meneguk ludahnya secara kasar, tergiur dengan pertanyaan istrinya yang terdengar sangat menantang. Ia melirik bibir kenyal Karina yang setengah terbuka, sesekali bergantian menatap lurus pada mata indah gadis itu.
"Saya tidak tahu," jawab Erik jujur. "Terlalu sering melakukannya. Saya pikir, kamu bukan gadis yang terlalu polos, jadi ya ... kamu seharusnya bisa sedikit mengerti jika laki-laki memiliki kebutuhan yang sulit ditekan seperti perempuan."
"Apa kamu mencintai mereka?" tanya Karina lebih lanjut. Bukannya apa, ia sedang mengulur waktu sampai pesanannya datang. Selama itu, ia enggan disentuh pria ini.
"Tidak." Erik menjawab lugas pada awalnya. "Ya, kecuali satu: Bella, ibunya Eliza."
Tangan Karina mendadak kaku mendengar hal itu. Ia memaksakan tersenyum pada sang suami untuk menyembunyikan guncangan di jiwanya setiap kali nama kakaknya disebut.
"Maka, apa aku sudah menggantikan posisi wanita itu di sini?" tanya Karina lagi, sembari membawa telapak tangannya ke depan dada kiri Erik, dan merasakan detak keras di dalam sana.
"Ya. Kamu sudah memilikinya: hati saya." semakin lama, suara Erik semakin berubah rendah. Bersama dengan posisi wajahnya kian merunduk.
Karina masih ingin berusaha untuk mengelak, tetapi ucapan Erik membuatnya tidak bisa berkutik.
"Kenapa harus tanya ini-itu buat tahu, Karina? Kita bisa buktikan langsung di sini, seberapa hebat saya bisa puaskan kamu, gadis liarku ...."
Karina memejam sensual, sejujurnya benci jika disentuh pria ini, tetapi demi sebuah pembalasan dendam....
Tok tok!
Kedua ujung hidung mereka sudah bertemu ketika suara ketukan di pintu terdengar. Erik menggeram rendah ketika Karina buru-buru melepaskan diri dari bawah kungkung pria itu.
"Aku yang akan buka pintunya," kata Karina menawarkan diri.
Gadis itu berjalan menuju pintu. Bukannya tanpa alasan ia ke sana. Karina melepaskan sebuah kertas pembungkus kecil dari dalam saku kimono tidurnya secara samar. Kemudian menerima makanan dan minuman yang diberikan pelayan. Sebelum berbalik, ia sempatkan menuang serbuk dari kertas pembungkus kecil itu ke salah satu minuman.
Nampan diletakkan di atas ranjang, dan ketika Erik berusaha bangun, gadis itu buru-buru memasukkan lagi pembungkus tadi di dalam sakunya.
"Minuman khusus, untuk persiapan malam pertama kita," kata Karina, sembari mengedipkan sebelah matanya ketika menyerahkan gelas berisi cairan krem kental tersebut pada Erik, Sementara dirinya mengambil piring berisi makanan serta segelas air putih. "Aku mau banyakin stok energi dulu."
Erik tersenyum geli saat mendengarkan ucapan Karina. Ia gegas memenuhi apa yang gadis itu pinta, sementara Karina akan mengulur waktu dengan memperlama makannya.
Hanya dengan sekali tuang dan beberapa tegukan, seluruh isi gelas habis. Erik menyerahkannya pada Karina untuk diletakkan kembali di atas nakas, sementara gadis itu tetap sibuk menyendokkan makanan secara hati-hati sambil menunggu respons obat.
Seharusnya tidak lama, menurut Karina. Gadis itu harap-harap cemas, karena tidak mau jika disentuh lagi oleh Erik seperti tadi. Pria itu harus segera dilumpuhkan agar ia bebas mencari banyak informasi di rumah ini.
Dan yeah, entah berapa menit berikutnya, Erik mendadak tumbang di tempat tidur. Mata pria itu setengah terbuka, ketika ia berbicara setengah melantur.
Karina tidak peduli. Makanan setengah habis itu diletakkan di atas nampan begitu saja, disisihkan ke atas nakas. Ia beralih ke Erik untuk memastikan pria itu sudah tidak sadarkan diri, lalu mulai menyelimutinya.
Bermodalkan ponsel, Karina keluar dari kamar mewah utama sang pemilik rumah. Ia berjalan di lorong-lorong, sembari membuka setiap pintu yang ia temui untuk mencari sebuah ruangan.
Namun, Karina malah menemukan kamar Eliza. Seharusnya ia bersikap tidak peduli, apalagi suasana di antara mereka tidak terlalu baik. Namun mengetahui bahwa gadis itu sedang belajar ditemani oleh Angga, Karina tidak bisa tenang begitu saja. Ingatan tentang kesalahan Bella dahulu membuatnya segera mendorong pintu dengan keras.
"Ngapain kamu masih di sini, Ngga?" tanya Karina.
Pasangan itu menoleh, menunjukkan raut bingung dan tidak suka.
"Masih jam delapan malam," jawab Angga santai. "Saya diizinin di sini sampai jam sembilan."
"Tapi saya yang tidak izinkan laki-laki berada di kamar seorang gadis di atas jam lima sore! Keluar dari rumah ini sekarang!" pinta Karina dengan tegas.
sekarang, Eliza yang berdiri seolah ingin maju membela sang kekasih.
"Kamu baru jadi istri papa aku beberapa jam! Jangan sok berkuasa di rumah ini! Kapan peraturan itu ada, hah?! Kamu itu cuman bocah nggak tau diri yang ngandelin kecantikan buat ambil hati papa aku! Jadi, jangan ngelunjak!" balas Eliza dengan tegas.
Karina menatap nanar gadis itu. Padahal, apa yang Karina lakukan adalah demi kebaikannya. Karina sempat merasa cemas jika hubungan mereka semakin memburuk, tetapi... toh sudah terlanjur. Karina harus menomorsatukan keamanan gadis itu daripada perbaikan hubungan antara mereka.
"Saya mama kamu sekarang, Eliza, dan kapan pun saya mah ubah aturan, saya tinggal buka suara!" kata Karina, dengan dagu sedikit terangkat. "Dewangga Aryanto, keluar kamu dari ruangan ini! Saya sebagai istri pemilik rumah sekaligus atas kamu, mengusir kamu dari rumah ini! Pergi sekarang juga!"
Karina menaikkan ketegasannya, sehingga pasangan itu hanya bisa menahan protes di ujung lidah masing-masing tanpa bisa mengutarakannya. Angga masih sempat menatap sang kekasih untuk meyakinkannya, lalu pamit pergi.
Setelah tubuh Karina dilewati oleh Angga, gadis itu memasuki kamar sang anak tiri dan berhenti tepat di depan Eliza. Memberikan tatapan penuh peringatan.
"Aturan ini akan disahkan oleh papa kamu besok. Adaptasi mulai malam ini. Kalian tidak bisa bertemu di atas jam lima sore, dan kamu tidak bisa keluar di atas jam lima sore kecuali atas izin dari saya!" kata Karina penuh penekanan.
Gadis itu beranjak pergi diiringi entakkan kaki tanda protes dari Eliza.
Tidak peduli dengan hal itu, Karina memilih lanjutkan kegiatannya mengecek seluruh ruangan usai menutup pintu kamar Eliza. Setelah hampir menyerah menyusuri lantai dia yang luas ini, ia akhirnya menemukan sebuah ruangan yang Karina yakini sebagai tempat Erik bekerja. Ia mulai masuk dan menutup pintu.
Rak-rak buku berjejeran, diisi oleh map-map tebal, Buku-buku ribuan halaman, dan lainnya. Karina hanya membaca setiap pinggiran sampul untuk tahu isinya.
Gadis itu membuka laci-laci dalam ruangan itu, dan dari banyaknya yang dibuka, hanya satu yang membuat Karina tertegun sebentar.
Gadis itu menemukan sebuah laci di rak bagian sudut ruangan. Berisi beberapa barang yang amat Karina kenali dan foto-foto kakaknya di sana.
Namun anehnya, Karina bukan melihat foto Bella bersama Erik—kekasihnya. Ia masih sangat ingat wajah muda Erik, karena selalu memimpikan pria itu.
Beda. Lelaki yang memeluk bahkan mencium wajah Bella bukanlah Erik Eduardo.
Karina semakin memicingkan mata kebingungan, mencoba menerka maksudnya. Ia ingat betul bahwa kakaknya hanya memiliki satu kekasih, dan itu adalah Erik.
Siapa pria ini?
Di saat gadis itu sedang sibuk bertanya-tanya pada pikirannya sendiri, suara kenop pintu dibuka terdengar. Seketika membuatnya menoleh ke sumber suara dengan tubuh mematung kaku, serta mata melotot ketika melihat pria jangkung dewasa berdiri di sana memegang kenop pintu. Tidak lupa memamerkan sebuah senyum menyeringai yang terlihat menakutkan.
"Kamu tidak polos, tapi sedikit... bodoh, Sayang. Obat tidak pernah berhasil bereaksi jika disandingkan dengan susu, dan seharusnya kamu tahu, bahwa kamu yang kamu berikan itu mengandung banyak susu," kata pria itu, Erik.
Karina gemetar hebat, dengan bibir yang terbuka kaku. Sementara Erik sedikit memiringkan kepala seolah menantang sang istri.
"Mau coba bermain dengan suamimu, Sayang?"
...****************...
jam 12.10 WIB
jam 00.10 WIB
info cerita :
ig : es.pucil
fb : Es Pucil III
#Menarik 😳
Sugar Daddy nya cakep bner kak Chil..mau dah w jg klo bgtu mh 🙈