Setelah terjebak di dalam novel "B&A," Putri menemukan bahwa dimensi ini lebih kompleks daripada yang dibayangkan. Ada kekuatan misterius yang mengancam stabilitas dunia di dalam novel, dan Alena, tubuh yang ditempati oleh Putri, memiliki peran kunci dalam menghentikan bencana tersebut.
Saat Putri berusaha memahami dinamika hubungan di dalam novel, ia menemukan bahwa karakter yang dulu ia anggap konyol, ternyata memiliki alasan mendalam di balik tindakannya. Sementara itu, percintaan yang terlibat semakin rumit dengan terungkapnya rahasia yang tidak terduga.
Di tengah konflik yang meruncing, Putri menyadari bahwa keputusannya untuk kembali ke dunianya sendiri dapat berdampak besar pada nasib karakter-karakter dalam novel. Sehingga, Putri dihadapkan pada dilema antara harus memilih melanjutkan hidupnya atau mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan dunia dalam novel tersebut.
NB : NO PLAGIAT🚫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yana syahputriy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
...Jangan lupa like & komen jika kamu suka ceritanya💖✨...
...*****...
Disuatu ruangan dengan pencahayaan yang redup, terdengar suara geraman laki-laki yang tengah menatap layar komputernya.
Brak
Suara meja yang dipukul dengan amat keras hingga tangan laki-laki tersebut memerah.
"Argh! kenapa jadi begini?!". Nampak pemuda tersebut sedang frustasi. Lalu pandangannya beralih menatap sebuah papan catur yang berada di samping komputernya.
Dimana yang menjadi objek atau biji caturnya adalah karakter-karakter dari novel "B & A". Dengan pose karakter Bagas memegang pistol, disampingnya ada Salsa yang berdiri dan Alena berada dalam posisi berbaring. Papan catur itulah yang dinamakan panggung.
"Ceritanya harus berakhir sama, jika tidak...."
"Bang Altarel!". Panggil seseorang berulang kali hingga suaranya terdengar mendekat. Ya! laki-laki yang diceritakan tadi adalah Altarel.
"Bang Altarel masih marah kah?".
Ucap gadis yang merupakan adik sepupu milik Altarel.
"Ya, keluar sana". Ujar Altarel dengan suara yang dibuat kesal.
"Aaa kan Siska udah minta maaf". Rengek gadis yang bernama Siska itu di dekat pintu masuk.
"Bodo". Jawab Altarel tak acuh.
"Lagian bang Alta kan gk suka novel, daripada numpuk disini ya Siska jual".
"Heh tau apa lo?! Gk berdosa gitu lagi mukanya".
"Lah! emang iya kan? tugas review cerpen aja Siska yang buatin karna bang Alta gk suka baca". Balas Siska memborbardir mental Altarel.
Altarel menatap sinis Siska namun gadis tersebut malah membalas dengan cengiran.
"Keluar sono keluar!! buat makin badmood aja".
Kesal Altarel lalu kembali fokus menatap komputernya.
"Bang.." Panggil Siska lagi dari arah pintu.
"Apaan!". Jawab Altarel tanpa menoleh.
"Abang udah masak kah? laper nih".
Altarel menghembuskan nafas kasar.
"Abang gk kasian kah liat Siska? baru pulang sekolah, panas-panasan, jalan kaki lagi. Mana mama sama papa ke luar negri, bik Iyem pulang kampung. Ya Allah and-"
"Dapur". Potong Altarel, tak ingin mendengar ocehan Siska yang sedang mendramatisi kehidupannya.
"Hihi okey bang!". Antusias Siska lalu berjalan menuju dapur.
"Huh". Altarel kembali menghela nafas panjang.
"Gue harus ketemu sama Bagas".
Gumam Altarel, lalu mengunci pintunya rapat-rapat sebelum akhirnya ia berteleportasi ke dalam dunia fiksi.
...*****...
"Ma Alena berangkat ke sekolah dulu ya".
Pamit Alena yang sudah siap berangkat ke sekolah.
"Iya hati-hati. Oh iya, dimana Bagas?". Tanya Raisa.
"Gk tau ma".
"Apa kalian tidak berangkat bersama?".
"Mm mungkin Bagas ada janji sama Salsa". Jawab Alena terlihat biasa saja meski hatinya sedikit terganggu memikirkan hal yang ia katakan itu.
Raisa yang mendengar itu menampakkan raut sedih.
"Alena berangkat dulu ya ma". Ucap Alena lalu berbalik hendak menuju pintu keluar namun sebelum itu..
"Maafin mama ya Lena, mama tidak bisa melawan keinginan Bagas". Ujar Raisa menghentikan langkah Alena membuat Alena kembali menoleh ke arahnya.
"Itu bukan salah mama, Lena yang salah karna suka sama Bagas. Tapi mama gk usah khawatir, mulai sekarang Lena bakal berusaha lupain perasaan Lena ke Bagas". Jawab Alena diiringi senyum yang dipaksakan.
Usai mengatakan itu Alena pun segera keluar dari rumah tersebut agar Raisa tak dapat melihat butiran air yang sedari tadi tergenang di kelopak matanya.
"Hiks".
Suara isakan tangis Alena.
"Ih kok gue jadi cengeng gini sii!". Putri merutuki kebodohannya saat ini sambil mengusap kasar air matanya.
"Goblok! Putri goblok!!". Putri mencaci maki diri sendiri sambil terus melangkah menuju gerbang.
Tin Tin
Suara klakson mobil dari belakang mengagetkannya.
Kini mobil tersebut sudah berada di samping Alena yang tengah berdiri mematung, dan perlahan jendela mobil tersebut terbuka memperlihatkan wajah Bagas yang dipenuhi aura dingin. Putri menatap ke arah lain.
"Masuk". Ujar Bagas terdengar seperti perintah.
"Gk usah".
"Masuk!". Pinta Bagas tanpa bantahan.
Putri menghela nafas lalu masuk ke dalam mobil Bagas.
Diperjalanan menuju sekolah baik Bagas maupun Putri tidak ada yang membuka suara, mereka sibuk dengan dunianya masing-masing.
Setibanya di sekolah, Bagas segera mengambil ancang-ancang untuk keluar terlebih dahulu, namun ucapan Alena menjeda pergerakannya.
"Lo gk perlu menghindar lagi, mulai sekarang gue sendiri yang bakal jauhin lo".
Ucap Alena lalu keluar dari mobil Bagas.
"Shiit!". Umpat Bagas sambil memukul stir mobilnya.
..._______________...