Bertemu dengan cinta pertama di ajang reuni sekolah, menumbuhkan kembali cinta lama yang memang belum terkubur sepenuhnya.
Wirra yang masih berstatus sebagai seorang suami, nyatanya tidak bisa melupakan pesona seorang Meyta setelah bertemu kembali dengan wanita itu.
Bagaimana akhir kisah Wirra dan Meyta? Sudikah Meyta menjadi yang kedua dari seorang Wirra? Atau, wanita itu akan meminta Wirra untuk meninggalkan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16 - tercabik-cabik
Wirra baru kembali ke kediamannya, tengah malam. Pria itu terkejut saat mendapati Anna tertidur di sofa yang terdapat di ruang tamu rumah mereka. Wirra pun membangunkan istrinya itu.
“Mas ... Kamu sudah pulang,” ucap Anna saat dirinya terbangun dan melihat Wirra tengah duduk di sisinya.
“Iya ... Maaf ya Mas pulangnya terlambat. Kamu tidur di sini karena menungguku pulang?”
Anna menatap jam yang menempel di dinding. Saat itu hampir pukul 00:00 WIB. Anna terkejut. Untuk pertama kalinya Wirra kembali ke rumah selarut itu.
“Kenapa kamu lama sekali, Mas? Dari mana saja?” tanya Anna.
Wirra terlihat berdehem sebelum menjawab pertanyaan Anna. “Aku mengantarkan Meyta ke rumahnya,” jawab Wirra. Pria itu memang sudah merancang kebohongan sejak perjalanan pulang menuju kediamannya. Karena dia tak mungkin memberitahu yang sebenarnya pada Anna. Dia tak mungkin mengatakan dengan gamblang bahwa dia baru saja selesai bersenang-senang dengan Meyta.
“Sejak siang tadi?” tanya Anna lagi.
“Maksudku, siang tadi, aku mengantarkan Meyta pulang, kemudian bercengkrama dengan keluarganya. Walau bagaimanapun kan Meyta mempunyai anak. Aku harus mengakrabkan diri dengan anaknya kan?”
Anna hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Dia tak tau harus bersikap bagaimana. Ucapan Wirra tak lagi bisa dia percayai. Namun, Anna masih tetap bersikap lembut pada suaminya itu. Anna bahkan sudah menyiapkan makan malam untuk sang suami dan mengajak suaminya itu untuk makan malam terlebih dulu.
“Kamu memasak untuk makan malam?” tanya Wirra tak percaya.
“Iya ... Karena biasanya Mas kan makan malam di rumah. Jadi, aku selalu menyiapkan makan malam. Hari ini juga seperti itu. Ayo, aku temani makan, Mas,” ujar Anna.
Wirra merasa tak enak hati. Saat dirinya tengah sibuk melampiaskan hasratnya dengan wanita lain, sang istri malah menyiapkan makan malam untuknya. Pria itu menghela napas berat. Di tatapnya Anna dengan pandangan iba.
Wirra pun berjanji pada dirinya untuk tak lagi menyakiti Anna. Untuk tak lagi mengkhianati wanita yang merawatnya dengan baik itu.
“Ayo! Kebetulan Mas juga sangat lapar,” balas Wirra.
Malam itu, seperti biasanya. Anna menemani Wirra menyantap makanannya. Wanita itu menyajikan makanan dan terus berada di sisi Wirra hingga pria itu menyelesaikan makannya.
“Meyta bagaimana Mas? Apa dia sudah bersedia untuk menjadi istri kedua?” tanya Anna penasaran. Setelah pertempuran sang suami dengan calon madunya itu, Anna begitu penasaran mengenai takdir mereka bertiga.
“Ya. Meyta setuju. Dia sudah bersedia untuk menikah denganku. Untuk jadi madumu,” ujar Wirra sumringah.
Melihat wajah Wirra yang berbinar, taulah Anna jika suaminya itu benar-benar sangat menggilai Meyta. Pria itu mencintai Meyta.
“Aku akan membantu acara kalian semampuku, Mas.”
Wirra tersenyum canggung. Dan Anna menyadari perubahan mimik wajah sang suami.
“Kenapa Mas?”
“Meyta tidak ingin kamu hadir di acara resepsi pernikahan kami. Dia ingin merahasiakan statusnya sebagai istri kedua. Termasuk pada anak semata wayangnya.”
Anna tertegun. Dirinya tersadar, Meyta ingin merebut suaminya. Wanita itu ingin menguasai Wirra.
Sebenarnya Anna tak setuju dengan syarat yang diajukan oleh Meyta. Dia adalah istri pertama. Wirra bisa menikahi Meyta secara resmi, itu semua atas seizin dirinya. Harusnya dia juga ikut andil dalam perayaan acara pernikahan sang suami.
“Bukan resepsi besar-besaran kok, An. Kita hanya mengadakan jamuan makan untuk saudara dan teman-teman kerja Mey,” jelas Wirra.
“Tapi, saat akad nikah, kamu boleh datang, kok,” ucapnya lagi.
Anna yang tidak berani mengungkapkan rasa tidak sukanya hanya bisa mengangguk pasrah. Suaminya sudah dibutakan oleh cinta Meyta. Pastilah pendapat dirinya tak akan dipertimbangkan oleh pria itu. Menyetujui apa pun ucapan Wirra adalah satu-satunya cara agar suaminya itu tak meninggalkan dia nantinya. Dia masih ingin menjadi istri Wirra. Dia sangat mencintai pria itu
Sementara itu, melihat anggukan kepala Anna, wajah Wirra kembali sumringah. Anna memang seorang istri yang baik. Dia tak pernah sekalipun membantah ucapan Wirra. Wirra merasa beruntung karena istri pertamanya adalah Anna.
Selesai menyantap semua makanan yang disajikan oleh Anna, pria itu pun membantu ana merapikan meja makan dan mencuci piring. Sesekali Wirra memang suka melakukan hal itu sebagai bentuk rasa terima kasihnya pada Anna karena telah merawatnya dengan baik. Tapi, kali ini Wirra membantu Anna karena rasa bersalahnya.
Anna dan Wirra pun lanjut beristirahat setelahnya. Namun, tentu saja Wirra tak langsung memejamkan matanya. Layaknya seorang yang tengah dimabuk cinta, Wirra pun mengirimkan pesan kepada Meyta. Pria itu juga memberitahukan perihal persetujuan Anna atas permintaan Meyta. Tentu saja Meyta tak membalasnya. Karena wanita itu merasa tubuhnya begitu lelah karena berjam-jam dijamah Wirra..
“Mungkin dia sudah tidur,” gumam Wirra. “Dia pasti kelelahan sangat kelelahan karena tak aku beri waktu istirahat,” lanjutnya sembari tersenyum. Pria itu bahkan kembali mengingat adegan demi adegan yang dia lakukan bersama Meyta.
Sementara itu, Anna yang juga belum terlelap ternyata mendengar gumam sang suami.
“Kelelahan? Apa yang mereka lakukan setelah meninggalkan rumah ini?”
Begitulah pertanyaan yang ada di benak Anna saat mendengar ucapan Wirra. Air mata Anna kembali menetes. Terlebih saat Wirra bergumam bahwa dirinya tak membiarkan Meyta untuk beristirahat.
“Di mana mereka melakukannya? Apa mereka melakukannya di kediaman Meyta? Atau mereka menyewa kamar hotel? Padahal mereka sudah bergumul di sini, siang tadi. Jadi, Mas Wirra terus bergumul dengan wanita itu hingga larut malam seperti ini? Apakah dia begitu menyukai tubuh wanita itu hingga tak pernah merasa puas bergumul dengannya?”
Hati Anna kembali tercabik-cabik. Sepanjang malam, wanita itu menangis dalam diam. Dan keesokan paginya, mata wanita itu pun membengkak.
“Mata kamu bengkak sekali,” ucap Wirra sebelum dirinya berangkat bekerja.
Anna tak mau memberikan alasan yang sebenarnya pada sang suami. “Tidak tau, Mas. Padahal sebelum tidur tidak begini. Mungkin digigit serangga,” jawab Anna. Ini adalah pertama kalinya wanita itu berbohong pada sang suami.
“Mau periksa ke dokter?”
“Tidak perlu lah Mas. Nanti aku bisa minta Bi Iyah untuk mengompresnya. Hari ini kan Bi Iyah bekerja,” jawab Anna. Wirra hanya menganggukkan kepala lalu berpamitan pada Anna.
Sepeninggalnya Wirra, wanita itu kembali menangis di kamarnya. Setelah merasa puas meratapi kepedihan hatinya. Anna pun mengompres matanya. Dia tak mau wajahnya terlihat jelek. Anna merasa khawatir jika Wirra akan meninggalkan dirinya jika wajahnya terus terlihat sembab. Dia akan memperbaiki penampilan dirinya.
Anna bahkan pergi ke pusat perawatan yang berada tak jauh dari rumahnya. Dia melakukan perawatan mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wanita itu juga mengunjungi pusat perbelanjaan, lalu membeli beberapa potong gaun tidur yang berbahan tipis, hingga sedikit menerawang.
Anna bertekad, dia akan kembali merebut perhatian Wirra. Bahkan, Anna ingin membuat pria itu melupakan keinginannya untuk menikahi Meyta. Dia harus melayani Wirra seperti Meyta.
Dan, saat Wirra pulang bekerja, Anna sudah berbaring di atas ranjang dengan menggunakan gaun tidur menerawangnya.
“Mas, aku merindukanmu,” lirih Anna, saat Wirra baru saja masuk ke kamar tidur mereka.
siapa tau meya bisa didepak
ngapain inget dia terus