"Single itu pilihan"
Usia 26 tahun, masih sendiri? Disaat semua sahabatmu sudah berstatus istri seseorang. Parahnya lagi adik sepupumu yang paling bungsu bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya bulan depan. Nah kamunya kapan?
Lavanya pusing dengan berbagai pertanyaan yang silih berganti datang kepadanya. Kenapa semua orang meributkan masalah asmaranya? Lavanya sih santai. Iya santai (dulu). Orangtuanya tuh, apalagi para ibu-ibu keluarga Ayahnya yang selalu menyindirnya gak laku. Kan kesal. Ditambah perilaku atasannya yang mendadak berubah menjadi seorang stalker. Bayangkan kemanapun Lavanya pergi pasti dan pasti ketemu si singa itu lagi.
Demi Tuhan Lavanya tidak mau menjadi pelakor. Pak Bosnya itu sudah punya istri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KHskyLine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Singa
Fiks, bau ruangan ini sudah terkontaminasi total oleh aroma Pak Singa.
Lavanya meletakkan kartu akses kamar hotel di atas nakas dengan gerakan sepelan mungkin. Ia melirik jam tangan. Sudah dua jam lebih ia sengaja mengulur waktu setelah mengurus segala keperluan atasannya—mulai dari check-in, memesan makanan, hingga membereskan koper lelaki itu. Namun, sang Bos masih saja terlelap.
Benar-benar pulas.
"Kurang kerjaan banget ya, Pak, di Jakarta sampai nyusul ke sini segala? Padahal satu hari lagi saya pulang," gerutu Lavanya pelan sambil mengamati wajah lelah Leo.
Baru kali ini ia bisa melihat wajah atasannya sedekat ini tanpa perlu merasa terintimidasi. Alis tebal, bulu mata lentik, hidung yang terpahat sempurna, dan rahang yang dihiasi brewok tipis. Vibes-nya benar-benar seperti aktor latin.
Namun, mata Lavanya mendadak melotot saat Leo mengubah posisi tidurnya. Selimut putih itu merosot jatuh hingga ke perut, mengekspos dada bidang yang...
"Astaga naga bonar! Pak Singa topless!" cicitnya panik.
Lavanya langsung berbalik dan lari terbirit-birit menuju pintu. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Seumur-umur, ia belum pernah melihat pemandangan "live" seperti itu. Jantungnya berdegup kencang, merutuki kebodohannya yang sempat terpana.
Bahaya! Lavanya, ingat, dia itu singa jantan yang lapar, dan kamu cuma kacung yang otaknya mulai korslet gara-gara parfumnya!
Baru saja ia membuka pintu sedikit, sebuah penampakan mengejutkannya. Wanita bergaun hijau berdiri di sana dengan senyum lebar yang mencurigakan.
"Halo, Mbak Lavanya!"
Lavanya ingin sekali mengunyah wanita ini. "Ngapain kamu di sini?"
Cita, si penipu yang mengaku manajer itu, malah merangsek maju. Lavanya spontan mundur, membuat pintu kamar yang belum tertutup sempurna itu terbuka lebar. Cita mencoba melongokkan kepalanya ke dalam.
Lavanya segera menahan pintu. "Kamu mau apa?!"
"Aduh, Mbak, aku mau observasi kamar tahu! Setiap hari Kamis, semua kamar diperiksa secara berkala untuk meminimalisir... perzinaan," ujar Cita dengan wajah sok serius.
Lavanya mengerjap. Di dalam sana, Pak Bos sedang tidur tanpa atasan. Gawat!
"Oh ya?" tanya Lavanya, berusaha tenang meski lututnya lemas.
"Iya, Mbak. Kalau ketahuan ada cowok, nanti dikawinin paksa. Eh, maksudnya dinikahin. Kebetulan KUA dekat dari sini," Cita menyipitkan mata, mencari celah. "Mbak nggak lagi nyembunyiin cowok, kan?"
"Ya nggak lah!" Lavanya memegang gagang pintu dengan erat. Ia belum sempat menutup rapat pintu kamar ini.
"Kalau gitu, biar aku pastiin!" Cita mencoba mendorong pintu, tapi Lavanya menahannya kuat-kuat.
"Kamu kira saya bodoh?" bentak Lavanya yang sudah di puncak emosi. "Saya tahu kamu bukan manajer resort ini. Daripada saya adukan ke polisi, lebih baik kamu pergi dari sini!"
"Mbak, jangan galak-galak, nanti nyesel lho sudah ngasarin aku..."
"Lebih nyesel saya pernah baik sama penipu kayak kamu! Pergi sana!"
🦁🦁🦁
"Aku penipu ya, Mbak?"
Lavanya mendengus, selera makannya hilang tak berbekas.
Ternyata, dunia ini memang jahat. Wanita yang ia usir tadi siang—yang ia maki-maki penipu—ternyata benar-benar manajer resort ini. Dan yang memperkenalkannya secara resmi adalah Pak Leo sendiri.
Syalan, syalan, syalan! Lavanya ingin menenggelamkan diri di dasar kolam renang sekarang juga.
"Lavanya," tegur Leo.
Malam itu, Leo terlihat santai dengan kaus dan celana selutut. Tapi tatapannya? Jauh dari kata santai. Lavanya menggigit bibir, rasa malunya sudah sampai ke ubun-ubun.
"Maaf Pak, Bu... atas ketidaksopanan saya tadi siang," cicit Lavanya.
Cita malah tertawa. Tawa yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Lavanya. "Mas Leo jangan galak-galak, Mbak Vanya makin takut tuh. Mbak, santai aja. Panggil nama kayak biasa."
"Maaf, saya panggil Mbak Cita saja. Rasanya kurang sopan kalau cuma nama."
Leo berdecak. "Ikuti saja kemauannya, Lavanya."
"Baik, Pak." Lavanya menunduk patuh. Di depan Leo yang sedang dalam mode "siap menguliti orang", Lavanya lebih memilih menjadi hamba yang penurut.
"Senyaman Mbak saja. Perempuan nggak suka dipaksa lho, Mas Leo. Bukannya jadi suka, malah bisa jadi benci," sindir Cita sambil melirik sepupunya itu.
Leo hanya diam, menganggap ucapan Cita seperti angin lalu.
"Mbak Vanya ini pintar, aku salut. Dia satu-satunya perempuan yang nggak mudah dibodohi. Pantas saja dia minta bantuan aku untuk—"
"Lavanya, kamu bisa kembali ke kamar sekarang." Leo memotong ucapan Cita dengan suara dingin yang mutlak.
Lavanya tidak perlu diperintah dua kali. Ia langsung berdiri. "Saya permisi, Pak, Bu."
"Mbak, makanannya belum habis!" seru Cita, lalu menatap Leo tajam. "Dasar pengecut."
"Diam, Cita."
🦁🦁🦁
Lavanya berjalan gontai di jalan setapak taman resort. Ia memukul kepalanya sendiri berkali-kali. Resign saja apa ya? Gimana caranya ia tetap bekerja setelah mengusir klien besar yang ternyata sepupu bosnya sendiri?
"Aduh, tapi kalau pengangguran, nyinyiran Ibu bakal lebih parah dari neraka," gumamnya frustrasi.
"Vanya."
Lavanya tersentak kaget, hampir saja tersandung batu. Ia berbalik dan... Oh, luar biasa. Hari Kamis memang hari tersialnya. "Pohon pisang"-nya Vani alias Farel sudah berdiri di sana.
"Dari tadi aku mencarimu," ujar Farel.
Lavanya tidak peduli. Ia berbalik untuk pergi, tapi Farel menahan tangannya. Lavanya tertegun melihat gaya rambut Farel. "B-berponi?"
Farel tersenyum malu. "Sengaja, supaya kamu mau bicara denganku lagi, Vanya. Seperti dulu."
Lavanya berdecak, melepaskan tangannya dengan paksa. "Nggak ada hubungannya, Bang!"
"Beri aku kesempatan untuk menjelaskan kesalahpahaman enam tahun lalu, Vanya," mata Farel menatap penuh permohonan.
"Kesalahpahaman?" Lavanya memijit keningnya. Seharian ini otaknya sudah dihajar banyak informasi. Ia butuh oksigen, bukan nostalgia pahit. "Lebih baik Bang Farel ajak Vani nongkrong. Aku ngantuk."
Farel menghela napas. "Baiklah, masih ada hari esok. Aku harap kamu nggak menghindar lagi."
Farel mencoba menepuk puncak kepala Lavanya—kebiasaan lamanya—tapi Lavanya dengan sigap mundur dua langkah.
"Jangan pegang-pegang!" ketus Lavanya sebelum melangkah pergi dengan cepat.
Lavanya tidak tahu, bahwa dari balkon lantai atas, sepasang mata hazel milik Leo sedang mengawasi interaksi mereka dengan rahang yang mengeras.
🦁🦁🦁
love you author....
ditunggu kelanjutannya ya author yg cantik dan baik hati.jgn kelman ya?
semangat...
semangat...
semangat....