Diseret paksa oleh ayahnya untuk menggantikan kakaknya yang kabur sehari sebelum pernikahan, membuat hidup Aneska berubah 360 derajat.
Aneska yang membutuhkan uang untuk biaya berobat ibunya, yang sudah bercerai dengan ayahnya itu, akhirnya menerima perintah tersebut dengan berat hati.
Dan saat Danish mengetahui kalau sebenarnya yang dia nikahi bukan Aresha, melainkan Aneska, membuat ia menjadi sangat marah, dan bahkan tidak mempedulikan Aneska. Terlebih setelah fitnah yang Aresha lakukan pada adiknya sendiri.
Sementara Aneska menjalani kehidupan terburuknya setelah pergi dari Danish, dan ditinggal sang ibu untuk selamanya, tiba-tiba teman masa kecilnya datang. Pria itu juga membawa Aneska jauh dari kota tersebut, membuat Aneska meninggalkan kenangannya dengan sang suami, membawa benih cinta yang tertanam di rahimnya.
***
Original story by MYLIHU
Image from Freepik
Edited by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EgaSri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebahagiaan dan kebencian
Saat matahari sedang naik ke puncaknya, pesawat yang membawa Danish dan juga Aneska ke Lombok, mendarat dengan sempurna di Bandara internasional Zainuddin Abdul Madjid, Praya, Lombok.
Dengan kedatangan mereka yang sudah ditunggu oleh pihak hotel tempat mereka menginap, Danish dan Aneska kini sudah duduk didalam mobil, sedang dalam perjalanan ke tempat mereka menginap.
Aneska melihat keluar jendela mobil, suasana baru yang cukup berbeda dengan kondisi ibu kota negara, membuat kedua sudut bibir itu terangkat, menjadi sebuah senyuman indah.
"Kamu suka?" tanya Danish, yang kedua sudut bibirnya ikut tersenyum saat melihat senyuman sang istri.
Aneska menoleh ke arah Danish, dan kemudian ia mengangguk.
Danish tersenyum, dan tetap membiarkan Aneska dengan kebahagiaannya. Kini ia sedang bermain ponsel, lebih tepatnya sedang mengabari mamanya dan juga Liam, kalau mereka sudah tiba di Lombok, dan kini sedang dalam perjalanan menuju ke Golden Palace Hotel Lombok.
Memasuki kawasan hotel, Aneska takjub saat melihat tinggi bangunan tersebut. Yang terlihat sangat mewah, dan juga berkelas. Aneska tahu, kalau Danish mengeluarkan banyak uang untuk trip bulan madu mereka ini.
Lagipula, Danish memilih untuk menginap di hotel ini, karena lokasinya yang strategis dan juga dekat dengan Gili Trawangan dan juga air terjun benang kelambu.
Selesai cek in, pihak hotel membawakan semua barang-barang Danish dan juga Aneska menuju kamar yang mereka pesan.
Kamar presiden suite yang Danish pesan, kembali membuat Aneska takjub. Walaupun kamar mereka yang ada di rumah Danish juga besar, tapi kamar ini lebih besar.
Aneska berjalan sekeliling kamar, memperhatikan setiap sudut kamar, dengan tatapan takjub. Setelah sekian lama hidup kekurangan dengan ibunya, kini Aneska dapat merasakan mewahnya hidup sebagai istri Danish.
Danish mengucapkan terima kasih pada orang-orang hotel yang sudah membantunya membawa semua barang-barangnya dan juga Aneska.
Sedangkan Aneska, kini terdiam saat memandang tempat tidur yang akan dia tempati bersama dengan Danish. Kasur yang berukuran besar itu dihias sedemikian rupa dengan taburan kelopak mawar, yang menyebarkan wangi semerbak.
Dengan perlahan, Aneska duduk diatas tempat tidur itu, lalu ia menunduk karena merasa malu.
"Kamu suka?" tanya Danish mendekat. Ia duduk di samping istrinya itu, dan kemudian merangkulnya.
Dengan wajah yang memerah membayangkan apa yang akan terjadi di atas tempat tidur ini, Aneska kemudian mengangguk.
"Baguslah. Apa sekarang kamu lapar?" Danish mengalihkan pembicaraan, saat dia melihat wajah Aneska yang memerah bagai kepiting rebus.
Aneska mengangguk.
"Mau makanan hotel, atau kita jalan-jalan cari makanan disekitar sini?" tanya Danish.
Aneska kemudian berpikir sejenak. Walaupun selama lebih dari dua Minggu ini dia sudah terbiasa untuk makan makanan orang kaya, tapi tetap saja lidahnya menginginkan makanan biasa yang dulu sangat dia sukai, yang selalu ia makan bersama dengan ibunya.
"Mau cari makanan khas sini?" tanya Danish lagi saat Aneska terlihat ragu-ragu.
Mendengar perkataan Danish, lekas Aneska mengangguk mengiyakan. Dan kemudian mereka membersihkan diri di kamar mandi, sehingga setelah ini bisa mencari makanan di luar.
Danish mengemudikan motor yang disiapkan oleh pihak hotel untuknya. Dan itu semua diurus oleh Liam. Itu bertuan agar Danish dan Aneska bisa lebih dekat lagi.
Sebenarnya Liam juga sudah menyiapkan mobil, tapi Danish lebih memilih motor, karena menurutnya itu lebih romantis.
Dengan sepoi angin yang menyerbakkan rambut Aneska, kedua manusia yang masih sedikit malu-malu itu sama-sama tersenyum.
Kebahagiaan yang dirasakan oleh pasangan baru itu terasa sangat fresh. Terlebih dengan status pernikahan mereka yang awalnya dijodohkan. Apalagi bagi Aneska yang tiba-tiba diseret paksa oleh papanya untuk menggantikan Aresha.
Saat keduanya terlihat asik memperhatikan sekitar, akhirnya Danish memilih berhenti didepan sebuah restoran dengan menu utama Ayam Taliwang. Dan keduanya turun dari atas motor.
Aneska berjalan disamping Danish, hingga dengan sengaja, Danish mengaitkan jemari tangan mereka. Membuat kedua orang itu sama-sama bersemu merah.
Tapi saat keduanya masuk, seseorang yang terlihat sangat mirip dengan Aneska tak sengaja melihat kedatangan keduanya. Ia yang kebetulan seorang diri berdiri di sana memperhatikan interaksi kedua orang itu.
Hingga akhirnya dia mengeluarkan ponselnya.
"Pa, kenapa Aneska ada di Lombok?" tanya Aresha. Ya, orang itu adalah Aresha, kakak kembar Aneska.
"Mereka pergi bulan madu," jawab papanya singkat.
Mendengar hal itu, Aresha menggertakkan giginya. "Papa sudah menyuruh aku pergi sejauh ini, tapi dia sendiri yang datang kemari. Jangan salahkan aku nanti, jika kami bertemu secara tidak sengaja lagi! Aku akan membongkar semuanya!" bentak Aresha dengan suara kesal bercampur amarah.
Dan setelah itu, ia memutuskan sambungan telepon, membuat Aryo diseberang sana menggeram kesal.
"Jangan sampai kamu membuat sesuatu yang merugikan kita, Aresha! Jika sampai kamu berbuat itu, kita akan hancur!" batin Aryo kesal.
Sementara itu, Aresha memperhatikan Aneska yang tampak bahagia dengan Danish. Hingga pandangan tidak suka itu semakin terlihat dan berubah dengan kebencian yang mendalam.
"Kamu selalu saja menjadi perusak kebahagiaanku, Anes! Akan aku pastikan, jika nanti kamu tidak akan bisa tersenyum lagi seperti ini! Aku akan merebut semua yang kamu miliki, termasuk Danish!"
***
Happy reading!