Haikal, anak SMA yang tak sengaja mabuk dan tidur dengan Valeri. Sampai Valeri hamil. Dia ke rumah Haikal tapi Johnny, bapaknya tak mau masa depan anaknya itu hancur. jadi dia yang bertanggung jawab dan menikah dengan Valeri.
Bagaimana kisahnya nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 16
Karyawan johnny masuk, sesuai permintaan johnny, tapi mereka mencoba sedemikian rupa agar tidak terlalu dekat dan mendorong Valeri yang ada di belakang mereka.
Sampai liftnya terbuka. Mereka keluar lebih dulu. Mereka menunduk dan mengucapkan terima kasih kepada dua bos pemilik perusahaannya itu.
“ayo.”
Johnny mengulurkan tangan kepada Valeri. Dia menggandeng Valeri keluar. Valeri pun meraih tangan johnny. Mereka jalan bergandengan menuju ke ruangan johnny. Ada beberapa karyawan yang menyapa keduanya. Sebagai tuan dan nyonya johnny.
Johnny membukakan pintu ruangannya untuk Valeri. Valeri menata makanannya di meja. Johnny melepas jasnya agar lebih santai.
“haikal gimana di rumah?” tanya johnny kepada Valeri.
“Baik. Tadi sudah bisa jalan, turun ke lantai satu dan nonton tv.” Ujar Valeri kepada johnny sambil mengambilkan makanan untuk johnny.
“Ini tuan, sebagai terima kasih cemilannya tadi.” Ujar Valeri memberikannya kepada johnny.
“iya. Sama-sama.” Johnny mengambil piringnya dari Valeri. “kamu sudah makan siang?” tanya johnny ketika dia akan makan.
Valeri menggeleng, dia lupa belum makan siang sendiri karena asik masak untuk johnny, “aak.” Tiba-tiba johnny menyuapi Valeri. Valeri bingung menatapnya.
“kamu kan harus makan, kamu ada dia.” Johnny menunjuk perut Valeri. Valeri mengangguk.
Dia pun menerima suapan johnny, sebagai gantinya, Valeri juga ingin menyuapi Johnny, “tuan, saya boleh gantian menyuapi tuan?” tanya Valeri dengan sangat hati-hati kepada Johnny.
Johnny mengangguk, Valeri mengambil sendok lain dan menyuapi johnny. Mereka malah saling suap-suapan.
“Tuan, saya sudah. Gak mau lagi, gak mau makan nasi.” Katanya.
“Mau makan apa?” tanya johnny, Valeri hanyanmakan tiga suap.
“nanti saja, tuan kan harus meeting lagi. Saya bisa jajan di jalan dengan supir nanti.” Valeri menyuapi johnny lagi.
“gak apa-apa. Meetingnya gak terlalu penting kok. Mau jajan di kantin kantor?” tanya johnny kepada Valeri.
“Ada apa saja memangnya disini?” tanya Valeri balik.
“banyak, kebab, burger. Banyak sih, mau makan apa memang?” tanya johnny kepada Valeri.
“itu semua.” Valeri menggigit bibirnya karena malu. Pasti johnny kaget karena banyak sekali yang ingin dia makan.
Johnny mengangguk, “mau pergi sekarang? Ke kantin kantor?” tanya johnny kepada Valeri.
“Gak, nanti saja. Ini tuan habiskan saja.”
Johnny mengangguk. Johnny menghabiskan makanan yang dibawa Valeri. Sampai habis mereka baru ke kantin. Keduanya kembali turun dengan lift. Karena ini mereka menuju ke kantin. Johnny menggandeng tangan Valeri sepanjang jalan. Beberapa karyawan yang berpapasan juga menyapa keduanya.
“mau pesan apa Bu bos?” pelayan kantin datang. Dia memberikan menu kepada Valeri dan johnny yang sudah duduk di salah satu kursi di sana.
“Tunggu ya.” Johnny menatap Valeri yang masih diam melihat menu.
“satu burger, kebab, donat, sosis bakar, bakso bakar, satu porsi satu porsi semuanya.”
“minumnya?” tanya johnny kepada valeri. Valeri mengangguk. Dia sampai lupa pilih minum.
“es jeruk.”
“Gak boleh banyak es kata dokter.” Johnny melarangnya. Pelayan itu tersenyum melihat johnny yang kalau di kantor terkenal dingin tapi ternyata bisa manis di depan istrinya. Beberapa karyawan juga melihat itu tadi, dari masuk lift, gandengan tangan dan ini.
“Ahh, ternyata bisa juga manis ya bos kita.”
“mana manis banget lagi.”
“ahh so sweet.”
Beberapa karyawan membicarakan johnny. Johnny memesankan air jeruk hangat kalau Valeri mau. Valeri menurut saja karena untuk bayinya.
“Baik Bu bos. Tunggu sebentar ya, pak bos tidak mau pesan?” tanya pelayan kepada johnny.
“saya minum saja. Kopi.” Ujar johnny kepada pelayannya.
“baik.”
Pelayan itu pergi. Johnny dan valeri diam. Valeri asik main hp. Johnny juga. Banyak yang melirik mereka.
“Kok kayak jadi diam-diaman sih ya.”
“sibuk main hp sendiri.”
Johnny tak sengaja mendengar itu. Dia menyimpan ponselnya dan langsung menggenggam tangan Valeri. Valeri bingung johnny kenapa. Johnny berbisik di telinganya. Valeri melihat sekeliling. Dia mengangguk.
Valeri memperlihatkan apa yang sedang dia lihat di ponselnya. Johnny baru sadar kalau ponsel valeri, “nanti ganti ponsel ya?” kata johnny kepada valeri.
“Memang ponselnya kenapa?” tanya Valeri balik. Johnny malah memberikan ponselnya. Dia mengambil ponsel valeri.
“pakai ini dulu.” Ujar johnny kepada Valeri. Dia menyimpan ponsel valery.
Valeri mengangguk. Dia mencari beberapa gambar bayi perempuan yang lucu. “emang anaknya cewek?” tanya johnny tak lepas menggenggam satu tangan Valeri.
“Gak tahu.”
“Ini Bu bos, pak bos.” Pelayan datang mengantarkan makanan.
“Cewek kayaknya. Nyonya keliatan cantik dan manis aja. Rapi. Biasanya kalau ibunya rapi cantik, cewek. Kalau cowok kan agak cuek sama penampilan.” Timpal pelayan kantin kantor itu kepada Valeri.
“iya ya Bu, gitu ya?” johnny hanya mengangguk-angguk saja. Dia mengangguk juga.
“selamat ya pak bos. Sebentar lagi akan jadi seorang ayah. Semoga lancar sampai melahirkan nanti.” Kata pelayan itu kepada keduanya.
“Amin, makasih ibu doanya.” Valeri yang menjawab.
“sama-sama. Silakan di makan.” Kata ibu pelayan kantin kantor itu. Dia pamit pergi.
Valeri mengembalikan ponselnya. Dia Mengambil makanan yang ada di depannya. Memakannya satu persatu. Johnny hanya diam dan memandang Valeri yang makan dengan sangat lahap. Dia hanya minum kopi disana.
“ini habis semua?” tanya johnny kepada Valeri yang sedang menggigit burgernya.
Valeri mengangguk. “Iya bagus. Habiskan saja.” Johnny ikut mengangguk. Dia menikmati kopinya.
Sampai jam dua siang, Valeri baru selesai. Sekertaris menemui johnny, harusnya dia sudah berangkat meeting.
“tuan.” Kata sekertaris menemui johnny di kantin.
“Tunggu sebentar, saya akan mengabari kamu nanti.” Ujar johnny mengusir sekertarisnya.
“sudah harus meeting ya? Aku sudah kok.” Kata Valeri, mulutnya belepotan saos.
Johnny mengambil tisu dan mengelapnya. Valeri mengambil tisu itu dari johnny dan mengusap bibirnya sendiri.
Johnny meminta sekertarisnya untuk mengambilkan kotak makan di ruangannya. Dia dan valeri menunggu di bawah. Johnny juga sudah menelpon supirnya untuk membawa mobilnya ke depan kantor.
“ini tuan.” Sekertaris Johnny datang. Dia memberikan kotak makan Valeri.
“makasih ya. Kamu tunggu di ruangan meeting saja. Saya akan kesana setelah ini.” Ujar johnny kepada sekertarisnya.
Dia mengangguk dan pergi. Johnny memberikan kotak makannya kepada valeri.
“Pak, hati-hati bawa mobilnya ya? Cari jalan yang bagus.” Kata johnny kepada supirnya.
“iya tuan.” Supir johnny mengangguk.
Johnny membukakan pintu mobil untuk Valeri. “hati-hati, kabari kalau sudah sampai rumah.”
Valeri mengangguk. Ketika dia akan masuk mobil, johnny menahan tangannya, johnny mencium kening Valeri begitu saja. Dia berbisik di kantor.
Padahal johnny juga suka melakukannya. Valeri masuk ke mobil. Johnny membantu mengecek sabuk pengamannya. Setelah itu menutup pintunya dan melambaikan tangan kepada valeri. Valeri juga melambaikan tangannya dari dalam.
Valeri tak henti tersenyum di dalam mobil. Bagaimana dia bisa seperti ini kepada Johnny. Jatuh cintakah dia kepada johnny.