Usia Alexius Calandra memang sudah tidak lagi muda. Dan dia dijodohkan dengan seorang gadis yang pemarah dan arogan. Bagaimana cara dia menghadapi gadis muda itu yang punya sikap sangat menjengkelkan menurutnya.
Beberapa kali Sarah dan Alex berusaha menggagalkan perjodohan tetapi selalu gagal karena Ibu Alex sangat pintar dan berpendirian teguh.
Dengan sangat terpaksa akhirnya mereka menikah agar tidak dicoret dari daftar warisan keluarga.
Selalu ada pertengkaran kecil dalam rumah tangga Alex dan Sarah di setiap harinya, tetapi mereka tidak menyadari bahwa hal itu justru semakin mendekatkan hubungan mereka.
Sebuah rahasia terungkap saat Alex mulai mencintai Sarah begitupun sebaliknya. Bagaimana jika tiba-tiba mereka harus bercerai karena anak kandung Adolf Chavali yang hilang telah kembali dan mengambil semua haknya yang dipinjam Sarah selama ini, termasuk perjodohannya dengan Alex.
Bagaimana sikap Alex selanjutnya? Dan akankah kedua orang tua Sarah tetap menyayangi gadis itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyaeva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Jika bicara tentang kata terlambat, apakah akan bertemu dengan penyesalan? Mungkin itu benar, terlambat menyadari perasaan akan mendatangkan rasa sesal.
Penyesalan tidak selalu sia-sia, terkadang hal itu membawa pada sesuatu yang lebih baik dan lebih indah.
🍁🍁🍁
🍁🍁🍁
Alex dan Sarah menuju kediaman keluarga Chavali. Setelah selesai dengan resepsi yang dirasa tidak berjalan dengan baik mereka memutuskan untuk segera pulang.
Selama perjalanan tidak hentinya Alex melihat kecemasan Sarah. Gadis itu tampak gelisah dan tidak nyaman. Mereka memang pulang terlebih dahulu hanya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Pukul 02:00 dini hari ...
Alex melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Pria itu menghela napas, sebenarnya dia meminta Sarah untuk menemui ibunya besok pagi, tetapi gadis itu bersikeras ingin segera menemui keluarga Chavali.
Alex memahami perasaan Sarah. Bagaimana sulitnya menerima kenyataan bahwa keluarga yang selama ini gadis itu sayangi ternyata hanyalah orang asing.
"Jika kau lelah sebaiknya kau tidur saja! Aku akan membangunkanmu setelah kita sampai," ucap Alex sambil mengemudi.
Sarah menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak mengantuk," jawabnya tanpa mengalihkan perhatian dari pemandangan luar mobil yang mereka kendarai.
Alex hanya bisa terdiam, dia tahu Sarah sedang gugup dan cemas. Seharusnya saat ini mereka beristirahat di atas tempat tidur yang hangat dan melepas lelah setelah pesta yang menguras emosi dan tenaga.
"Kau ingin pergi ke suatu tempat?" tawar Alex, pria itu hanya berusaha mencairkan suasana.
"Tidak, aku tidak ingin pergi kemanapun," jawab Sarah datar, Alex hanya melirik pada isteri kecilnya itu.
"Aku tahu kau lelah. Apa tidak bisa kita temui mereka besok saja," ucap Alex dengan suara yang membujuk.
"Tidak bisa! Bagaimana bisa aku menolak permintaan Mama yang sudah membesarkanku selama ini," jawab Sarah, ada sedikit emosi pada ucapan gadis itu.
"Aku mengerti, mungkin saat ini mereka semua juga sedang beristirahat," ucap Alex, Sarah kembali menggeleng, kali ini air matanya terjatuh, gadis itu segera mengusapnya.
Alex yang melihat Sarah menangis segera menepikan mobil dan mematikan mesinnya. Dia membiarkan Sarah kembali menangis untuk kedua kalinya.
"Hey, dengarkan aku!!" Alex menggeser posisi duduknya untuk lebih dekat kepada Sarah. Pria itu menyentuh dan merangkum wajah isteri kecilnya. "Tenanglah, hm?!"
Alex mengusap air mata Sarah secara perlahan. Mata mereka saling menatap, Alex melihat banyak luka pada tatapan Sarah yang semakin memerah. "Semua akan baik-baik saja," ucap Alex.
"Tidak ada yang bisa mengubah apapun, kau akan tetap menjadi Sarah, anak dari Rose dan Adolf," ucap Alex sambil menyentuhkan kening mereka berdua.
"Sudah kukatakan aku tidak peduli tentang siapa dirimu, dari mana kau berasal atau siapa orang tuamu," bisik Alex, kali ini tanganya menelusup ke bawah telinga Sarah supaya wajah mereka semakin dekat.
Alex mencium kening Sarah dengan lembut, dia tahu gadis itu sangat membutuhkan seseorang untuk menjadi sandarannya. Alex merasa tidak keberatan justru dia ingin sekali melindungi gadis itu.
"Sudahlah! Aku tidak butuh belas kasihan, aku sangat menghargai niat baikmu, tapi harus kau tahu aku tidak suka dikasihani," ucap Sarah sambil mendorong dada Alex sedikit menjauh.
Alex terkejut saat mendengar ucapan Sarah. Mungkin gadis itu hanya menganggap Alex merasa iba dan kasihan padanya.
"Aku memang bukan puteri kandung keluarga Chavali, tidak perlu menunjukkan rasa kasihanmu itu," lanjut Sarah. Gadis itu segera keluar dari dalam mobil.
Alex membuang nafas kasar, sungguh bukan itu yang dia rasakan saat ini. Dia memang terkejut saat mengetahui bahwa Sarah bukan puteri kandung Rose, perasaan yang dia rasakan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah tersebut.
🍁🍁🍁
Pada akhirnya Alex dan Sarah kembali melanjutkan perjalanan setelah Sarah lebih tenang. Alex melirik Sarah yang tertidur, mungkin gadis itu benar-benar kelelahan.
Setelah sampai, mereka hanya disambut Rose. Ternyata benar apa yang diucapkan Alex, anggota keluarga Chavali sedang beristirahat.
Sarah dan Alex menempati kamar lama milik Sarah saat mereka belum menikah. Sebuah kamar yang rapi dengan ornamen ciri khas seorang gadis muda yang ceria.
"Istirahatlah!!" ucap Alex, "besok pagi kita bisa temui wanita bernama Sierra itu."
Sarah terdiam gadis itu kemudian berkata. "Lalu sedang apa kau di sini? Masih ada kamar tamu untukmu," ucap Sarah yang semakin memancing emosi Alex.
"Apa maksudmu? Aku suamimu, kau lupa itu? Bukankah kita selalu berbagi tempat tidur?" tanya Alex dengan emosi yang tertahan.
"Keadaan sudah berbeda, lagipula tidak perlu berakting lagi, karena semua akan berakhir," ucap Sarah dengan nada suara yang dingin.
"Lihat aku saat kita bicara!!" Alex yang merasa kesal menarik tubuh Sarah yang sebelumnya berdiri membelakangi.
"Dengar!! Kita sudah menikah secara sah, tidak ada yang bisa mengubah itu, kau paham, 'kan?" geram Alex sambil mencengkram bahu Sarah, dia ingin meyakinkan gadis itu bahwa pernikahannya dengan gadis itu bukanlah lelucon.
"Jangan memberiku harapan palsu!! Kenapa? Bukankah ini sangat bagus, supaya kau bisa kembali pada kekasih tercintamu itu?!" Sarah menahan suara agar tidak berteriak.
Alex terdiam, dia lupa akan hal itu. "Satu hal yang membuatku kecewa, kau bahkan mengundang kekasihmu di pesta tadi setelah kau menghabiskan waktu bersamanya, apa itu tidak cukup membuatmu merasa puas??" Sarah mengeluarkan emosi yang tidak bisa dia tahan lagi.
Alex menatap Sarah dengan emosi yang tidak terbaca. Sejujurnya Alex juga tidak tahu kenapa Dilia bisa hadir padahal dia sama sekali tidak mengundang wanita itu.
Alex bahkan terkejut saat Dilia langsung mengenali Sarah, wanita itu ingat Sarah adalah gadis pemarah tempo hari.
"Katakan padaku!! Apakah pernikahan ini tidak berarti bagimu?" tanya Alex, "jika memang kau menganggap ini omong kosong, kenapa kau begitu terganggu dengan semua itu?"
Kali ini Sarah kehilangan kata, dia tidak menyangka Alex akan menyakan hal itu. Jawaban apa yang harus dia berikan?
Jika benar Sarah menganggap Alex tidak berarti kenapa dia merasa sakit saat Alex bersama wanita lain? Bukankah dia menyadari perasaannya saat Alex memeluknya tadi di pesta?
"Jawab aku!!" Alex menarik tubuh Sarah, sekarang wajah mereka begitu dekat, bahkan Sarah bisa merasakan deru napas Alex yang menerpa wajahnya.
"Kenapa? Tidak bisakah hatimu merasakan sesuatu? Aku- ...."
"Apa yang kau harapkan dari hubungan kita, huh? Bukankah kau juga tau bahwa aku bukan jodohmu yang sebenarnya?"
Alex mengepalkan tangan dengan kuat sampai buku jarinya memutih, sungguh dia ingin sekali menghajar seseorang saat ini.
"Begitu? Apa kau pikir aku ini barang yang bisa kau pinjam dan kembalikan pada pemiliknya sesuka hatimu? Apakah kau merasa puas sekarang? Kalian semua sudah mempermaikanku," ucap Alex dengan suara sarat emosi yang dia tahan.
Siapa yang tidak marah? Alex merasa dipermainkan oleh semua orang, bahkan oleh Sarah. Bagaimana bisa gadis itu tidak memiliki sedikit perasaan pun kepada dirinya. Hati Sarah memang keras seperti batu dan Alex tidak suka karena justru hatinya yang semakin melunak. Dia suka pada gadis keras kepala itu. Alex jatuh cinta pada Sarah.
"Maaf, apa lagi yang lebih buruk dari ini?" Suara Sarah melunak. "Aku hanya tidak ingin mengambil apa yang bukan milikku," ucapnya.
...
Cup ...
Sarah merasa tidak tahu apa yang sedang terjadi, semua berjalan dengan cepat tanpa dia sangka sama sekali.
Gadis itu mematung dengan mata berkedip beberapa kali. Saat ini bibirnya tengah dipagut lembut oleh Alex, perutnya terasa berdesir dan melilit, degup jantungnya bertalu saat Alex memperpendek jarak pada tubuh mereka.
Tidak hanya sekali, Alex terus mencium bibir Sarah yang sedikit terbuka. Sampai akhirnya dia merasa ada rasa yang menggelitik di dadanya saat ciumannya terbalas.
"Semua sudah benar tidak ada yang salah dengan hubungan kita!" tegas Alex saat dia melepas ciumannya.
Mereka berdua terlena sampai lupa berapa lama mereka berpagutan. Ciuman Alex tidak bisa Sarah tolak karena dia menyukai cumbuan lembut yang dilakukan Alex padanya.
To be continue
See u next chapter
I Love you all 💓💓💓
dan lihat 37 bab
ku pikir
berhenti di tengah jalan atau Hiatus atau pindah ke aplikasi lain nya karena ada tulisan end
eh ternyata emang bener di bab 37 tamat
keren bisa tamat
walaupun hanya 37 bab
semoga bisa berkarya lagi ya Thor 🤲 Aamiin 🤲
tetap semangat berkarya yah thor....🤟💪💪💪👍👍👍👍👍🎉🎉🎉🎉